Sebenarnya bocah tabib itu bukannya tidak tega mendengar tangis memilukan Putri Aneska, dan tetap memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Tapi bocah tabib itu berpikir sepertinya Aneska tidak mau tubuh yang terbungkus di dalam busananya dilihat oleh orang asing sepertinya, apalagi sampai disentuh segala. Mungkin itu sudah prinsip Putri Aneska.
Begitu bocah tabib itu sudah mencapai pintu keluar, seketika pelayan empat puluh tahunan langsung berdiri dengan cepat, lalu berseru mencegat kepergian bocah tabib.
"Tabib Kecil! Tunggu!"
Mendengar suara pelayannya yang begitu tiba-tiba, Aneska langsung terkejut. Begitupun juga dengan Aliesha. Dengan serta merta mereka segera memandang pelayan setia itu. Dan seruan itu pula berhasil menghentikan langkah bocah tabib itu.
Pelayan itu segera menghampiri dengan langkah lebar. Begitu sampai selangkah di hadapan bocah tabib, dia langsung berkata bernada memohon.
"Saya harap kamu tunggulah barang sebentar, Tabib Kecil. Saya akan membujuk Tuan Putri agar mau disembuhkan olehmu."
"Tapi, Bibi," kata bocah tabib yang sudah berdiri menghadap ke arah pelayan itu, "sepertinya Nona Aneska tidak setuju dengan cara pengobatan saya. Tapi itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang, Bibi."
"Perlu kamu ketahui, Tuan Putri bukannya tidak mau diobati," ungkap pelayan itu. "Dia hanya tidak rela tubuhnya dilihat oleh orang asing, apalagi sampai disentuh segala."
"Sebenarnya saya juga sudah memahaminya, Bibi," tutur bocah tabib itu. "Makanya saya tidak memaksakan untuk mengobati dengan cara saya."
"Kamu tenang saja, nanti saya akan membujuknya," kata pelayan itu mencoba meyakinkan si bocah. "Asal kamu bisa menunggu."
"Baiklah, Bibi."
Setelah itu bibi pelayan langsung menghampiri Aneska yang masih terduduk dalam rangkulan Aliesha. Tangisnya masih terdengar satu satu, dan air matanya pun masih berderai.
Sedangkan bocah tabib hanya diam saja di tempat berdirinya sambil menatap Aneska. Dan saat matanya beralih menatap Aliesha, gadis itu ternyata masih menatapnya sejak tadi. Saat mereka saling bertemu pandang begitu, air mata si gadis kecil yang menggenang di kelopak mata indahnya seketika mengalir melintasi pipi halusnya. Ternyata gadis rusuh itu bisa menangis juga pikir bocah itu.
Begitu sang pelayan duduk di sebelah kanan Aneska, dia langsung membelai lembut kepala gadis itu sambil berkata penuh kelemah lembutan.
"Nona Aneska. Bukankah selama ini Nona mengeluhkan kapan penyakit Nona sembuh? Nah sekarang ada tabib yang bisa menyembuhkan penyakit Nona, apalagi yang Nona tunggu? Memang Tabib Kecil itu masihlah berusia muda sekali. Tapi yang namanya kemampuan itu tidak melulu diukur berdasarkan usia saja. Nona mengerti 'kan?"
"Tapi, Bibi...."
"Nona," kata bibi pelayan memutus ucapan Aneska. "Cara pengobatan di dunia ini ada beragam bentuknya, ada yang cuma pakai pil obat, ada yang harus menyalurkan tenaga dalam, dan yang sebagainya. Adapun penyakit Nona mau tidak mau harus melalui cara seperti yang disebutkan Tabib Kecil itu. Dan itu sama sekali tidak melanggar tata krama, karena pastilah cara itu amat terpaksa dilakukan Tabib Kecil. Mengerti 'kan, Nona?"
"Aku sih mau saja diobati dengan cara begitu," kata Aneska dengan suara agak parau karena habis menagis. "Asal pakaianku dibuka cuma setengahnya, terus hanya telapak tangannya saja yang boleh menyentuh tubuhku, terakhir kedua matanya ditutup."
Bibi pelayan beralih memandang Tabib Kecil, terus bertanya, "Bagaimana, Tabib Kecil?"
"Ya, tidak mengapa," kata bocah tabib agak mendesah.
Dia tidak mau lagi banyak bicara. Putri Aneska sudah setuju mau diobati, syarat yang diajukan diterima saja. Yang ada dalam benak bocah itu bagaimana agar dia cepat-cepat melaksanakan tugasnya. Tidak mau lagi banyak bicara.
★☆★☆
Tabib Kecil itu kini sudah duduk bersila di atas tempat tidur. Matanya sudah terbungkus oleh kain warna merah. Di depannya tampak Aneska yang juga duduk bersila. Kedua tangannya berada di lututnya solah mencengkram.
Kini gadis itu sudah tanpa busana sebatas pinggang. Sesuai anjuran bocah itu Aneska kini memakai pakaian yang tidak tebal lagi. Sedangkan di depan si gadis di dekat kakinya terletak sebuah bokor perak cukup besar.
Tak lama kemudian, Tabib Kecil menyingsingkan kedua lengan bajunya yang panjang hingga sebatas siku. Setelah itu kedua tangannya direntangkan ke samping secara perlahan. Telapak tangannya terbuka menghadap ke luar dengan jerijinya sedikit merenggang.
Beberapa helaan nafas kemudian, kedua tangannya itu bergerak memutar. Tangan kanan ke atas, tangan kiri ke bawah. Juga dengan perlahan.
Begitu tangan kanan sudah mencapai kepala dan tangan kiri sudah berada di pusar, perlahan tangan kanan diturunkan dan tangan kiri dinaikkan. Ketika kedua telapak tangan itu saling bertemu dan merapat di depan dada, sejenak dia menahan gerakan.
Sekitar sepuluh helaan nafas seketika kedua tangan Tabib Kecil terselubung sinar kuning bening dan putih berbalut merah sebatas siku berhawa panas. Kemudian kedua tangannya bergerak, dan tak lama kedua telapaknya yang terbuka menempel di punggung belakang Aneska dengan perlahan, dengan lembut. Dan ketika itu bibir Aneska mendesis pelan. Sepasang matanya yang sudah tertutup tambah dirapatkan.
Beberapa helaan nafas kemudian, ketiga sinar saling berbalut berhawa cukup panas itu bergerak merambat ke permukaan tubuh Aneska dengan perlahan. Ketiga sinar itu terus saja merambat perlahan-lahan tanpa henti membungkus permukaan tubuh Aneska. Dan kejadian aneh itu terus diperhatikan oleh Aliesha yang kini duduk depan pintu. Empat orang pelayan tidak terkecuali.
Begitu hampir dua kali penanakan nasi berlalu, ketiga sinar itu sempurna membungkus seluruh permukaan tubuh Aneska, dari kepala sampai telapak kaki. Sedangkan Aneska masih terdiam laksana patung. Tapi dia merasa masih dalam keadaan sadar. Sehingga dia dapat merasakan sesuatu yang agak panas menyelusup masuk ke dalam tubuhnya dan terus mengalir ke peredaran darahnya.
Sementara itu, matahari semakin merangkak naik ke atas cakrawala. Waktu sudah hampir mencapai pertengahan siang. Sedangkan kapal besar itu terus saja melaju tanpa kenal henti. Hampir tidak ada lagi penumpang yang berkeliaran di gelagak kapal. Mereka lebih memilih berada di dalam kabin atau di bangsal kapal. Karena matahari bersinar semakin terik.
★☆★☆
Di dalam kamar Putri Aneska....
Suhu di dalam kamar agak panas sehingga melahirkan kegerahan. Apalagi jendela tertutup dan gordennya dibentang. Menjadikan keadaan ruangan agak gelap. Ditambah lagi suasananya teramat sunyi. Karena penghuninya fokus memperhatikan pengobatan aneh yang dilakukan oleh Tabib Kecil.
Lima penanakan nasi telah berlalu. Tampak sekujur tubuh Aneska bergetar halus. Sedangkan keringat sudah mulai membanjiri tubuhnya. Begitupun juga dengan bocah lelaki itu. Malah wajahnya kini tampak pucat. Dan begitu getaran di tubuh Aneska agak kencang, Tabib Kecil itu seketika berseru agak keras. Suaranya terdengar agak bergetar.
"Dekatkan bokor itu ke mulut Nona Aneska!"
Pelayan umur empat puluhan yang sebenarnya bernama Galina yang duduk cukup dekat dengan tempat tidur langsung berdiri cepat, terus meraih bokor di depan Aneska. Dan baru saja bokor itu dinaikkan sampai ke dada, Aneska sudah muntah.
Hoeeek!
Cairan merah pucat keluar begitu saja dari mulutnya dan jatuh tepat ke dalam bokor. Sementara Tabib Kecil itu dengan cepat memegang kedua pundak Aneska agar tidak sampai jatuh. Karena dia tahu Aneska kini sudah mulai lemas.
"Kenapa dengan Nona, Bocah Tengik?" Aliesha yang sudah berada di dekat Aneska langsung panik melihatnya. "Kenapa bisa muntah aneh begitu?"
Hoeeek!
Pertanyaan Aliesha dijawab dengan Aneska muntah sekali lagi. Membuat Aliesha bertambah khawatir bercampur panik. Baru saja gadis itu mau menegur Tabib Kecil lagi, Aneska muntah lagi. Tapi cairan yang keluar kali ini merah segar dan tidak sebanyak sebelumnya. Itu adalah darah. Sedangkan dua muntahan sebelumnya adalah cairan racun yang mengendap di dalam tubuh Aneska.
"Bocah tengik...!" seru Aliesha tambah panik.
"Tidak apa-apa, Nona Aliesha," kata Pelayan Galina menenangkan kepanikan Aliesha. "Nona Aneska baik-baik saja."
"Tapi Nona muntah, Bibi," Aliesha belum juga bisa tenang.
"Tenanglah, tidak usah panik!"
Beberapa saat ditunggu Aneska sudah tidak muntah lagi. Sedangkan Tabib Kecil kembali menegakkan badan Aneska. Lalu dengan cepat kembali menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Aneska.
"Apa warna cairan yang terakhir dimuntahkan Nona Aneska, Bibi?" tanya Tabib Kecil itu. Suaranya bergetar dan kedengaran lemah.
"Merah segar seperti darah," sahut Pelayan Galina setelah mengamati isi bokor.
"Tolong singkirkan bokor itu! Nona Aneska sudah tidak muntah lagi."
Pelayan Galina segera memberikan bokor itu ke salah seorang pelayan lainnya. Lalu kembali duduk bersimpuh di dekat tempat tidur.
Tak lama kemudian ketiga sinar yang saling berbalut yang membungkus sekujur tubuh Aneska telah sirna. Lalu bocah itu menarik telapak tangannya dari punggung gadis kecil itu. Dan tubuh Aneska yang sudah lemas langsung terkulai di pangkuan bocah itu. Kini gadis kecil itu telah pingsan.
Aliesha yang melihat tubuh telanjang Aneska tersentuh oleh bocah itu, hendak mendampratnya dengan keras. Tapi melihat ada sedikit aliran darah di sudut kiri bibir bocah itu, langsung tidak jadi. Apalagi melihat kondisi bocah itu yang sepertinya amat kelelahan.
Cuma dilihatnya saja bocah itu yang kini melakukan gerakan aneh lagi. Kedua telapak tangannya ditempelkan di depan dada. Lalu tangan kanan naik ke atas hingga ke kepala. Sedangkan tangan kiri turus ke bawah hingga mengenai wajah Aneska. Lalu kedua telapak tangannya itu digerakan lagi dengan gaya memutar hingga terentang ke samping. Tak lama tiga sinar yang saling berbalut langsung hilang dari kedua tangannya.
Sementara Aliesha langsung mengambil sapu tangannya, terus melap sisa muntahan yang masih menempel di sekitar mulut Aneska. Setelah itu dia melihat mulut bocah itu yang mengeluarkan darah.
Tapi baru saja dia mau memberi tahu, bocah tabib sudah menyuruhnya mengambil botol obat yang ada di atas meja di samping kanan tempat tidur yang tadi sudah disiapkannya. Tanpa banyak pikir Aliesha langsung mengambil botol yang dimaksud.
Setelah menerima botol obat itu, si bocah menyuruhnya membuka mulut Aneska. Dan Aliesha langsung menekan rahang Aneska hingga mulutnya terbuka. Lalu bocah tabib memasukkan satu butir pil obat ke dalam mulut Aneska. Lalu mengurut-urut leher gadis itu agar obat bisa lancar masuk ke lambung.
"Tolong tahan Nona Aneska, Nona!" pinta si bocah. "Saya mau turun."
Aliesha segera melakukan perintah bocah itu, mengangkat badan Aneska dari pangkuan bocah itu. Saat dia menyentuk tubuh Aneska, dia merasakan tubuh nonanya itu cukup panas. Tapi dia masih bisa menahannya. Kemudian bocah itu bergeser, lalu turun dari tempat tidur dengan kondisi kepayahan, dan matanya masih tertutup kain.
★☆★☆
Kalau saja Pelayan Galina tidak segera menangkap tubuh bocah itu, mungkin bocah itu langsung jatuh begitu saja ke lantai. Tapi tasnya terlepas dari genggaman tangan kanannya, terus jatuh.
Sedangkan Pelayan Galina, sambil memapah bocah itu, memerintahkan pelayan bawahannya untuk membentang kasur yang ada di sisi kiri dinding kabin. Setelah itu dia membawa si bocah untuk berbaring di kasur itu. Begitu sampai, Pelayan Galina membaringkan perlahan-lahan bocah itu di atas kasur. Lalu membentangkan selimut yang terletak di kaki ke tubuhnya.
"Terima kasih, Bibi."
"Sama-sama. Ada lagi yang saya bisa bantu, Tabib Kecil?"
"Tolong ambilkan tas saya, lalu ambilkan botol warna hijau dan botol warna biru."
Pelayan Galina segera mengambil tas Tabib Kecil yang kebetulan tidak jauh dari jangkauannya. Lalu mengeluarkan botol warna hijau dan biru, terus di serahkan pada bocah itu. Kedua botol diraih oleh Tabib Kecil, mengambil satu butir pil obat di botol hijau dan dua butir di botol biru, lalu memasukkan ke mulutnya sekaligus, terus ditelan.
"Nona Aneska sudah bisa dikatakan sembuh," ungkap Tabib Kecil menerangkan dengan suara lemah. "Racun yang mengendap di dalam tubuhnya sudah keluar semua. Darahnya sudah tidak membeku lagi. Tinggal menunggu peredaran darahnya berjalan dengan normal lagi...."
"Pakaian yang masih melekat di tubuhnya tolong dilepas sementara," lanjutnya, "biar hawa panas di tubuhnya cepat dingin. Dibentangkan selimut tipis di atas tubuhnya tidak mengapa. Mungkin lamanya tidak sampai dua kali penanakan nasi. Setelah itu kenakan lagi pakaiannya."
"Dua kali penanakan nasi kemudian, berikan obat ini satu butir pada Nona Aneska," lalu ditunjukkan botol warna hijau. "Dan dua butir obat pada botol ini," lalu ditunjukkan botol warna biru. "Jangan sampai salah, Bibi."
Lalu diserahakan botol warna hijau itu pada Pelayan Galina. Setelah menerima dua botol itu, lalu pelayan itu bertanya.
"Ada lagi, Tabib Kecil?"
"Itu saja, Bibi."
"O iya, Bibi. Sepertinya saya akan beristirahat hingga malam, karena tenaga saya hampir terkuras habis. Apa tidak mengapa saya pakai kasur ini sementara, Bibi?"
"Tidak mengapa, kamu istirahat saja sesuka hati kamu. Tidak usah sungkan. Eh, apa penutup matamu tidak dibuka dulu?"
"Tidak usah, Bibi."
"Oh, ya. Sekarang kamu istirahat saja ya."
"Iya, Bibi."
Kemudian Pelayan Galina meninggalkan Tabib Kecil. Sedangkan si bocah kini memulai istirahatnya dengan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Istirahat yang dia maksud di sini adalah bersemedi.
Sementara itu Aliesha sempat menolak ketika Pelayan Galina hendak menanggalkan seluruh pakaian Aneska. Tapi setelah dijelaskan apa yang diterangkan Tabib Kecil, mau tak mau Aliesha menerimanya juga. Apalagi setelah dijelaskan kalau Aneska sudah sembuh. Betapa senang hati Aliesha.
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Arya00
mantaph ceritanya. detil
2024-01-14
1
Rahmat Tolen
1 jam kemudian gitu biar gak ribet
2022-11-10
1
Harman LokeST
menjadi tabib sakti
2022-09-17
1