Lelaki tua berjubah putih seketika melenting ke udara dengan cepat, lalu sepasang kakinya hinggap di atas atap kereta bagian depan dengan ringan. Sejurus kemudian orang tua itu segera mengamati keadaan hutan di kiri kanan jalan.
Sedangkan sepasang perwira tinggi itu sejenak memeriksa enam orang bertopeng hitam lawan mereka tadi. Di dada masing-masing mereka terdapat rajutan bergambar dua pedang bersilang warna putih. Di tengah atas terdapat gambar kepala tengkorak warna merah. Di ujung gagang pedang mereka juga ternyata terdapat bentukan kepala tengkorak. Sejenak sepasang suami istri itu saling pandang, seolah mereka saling bertanya siapa orang-orang bertopeng hitam itu.
Sementara empat orang pengawal yang telah gugur dinaikkan di atas kuda mereka oleh sisa pengawal yang masih hidup. Lalu dibuat sedemikian rupa agar tidak jatuh. Rencananya empat pengawal yang telah gugur itu akan dikubur di pemakaman kota. Kemudian sisa pengawal yang tinggal enam kembali bersiaga di dekat kereta.
"Siapa mereka, Jenderal Kenzie?" tanya lelaki tua yang masih di atas atap kereta.
"Kami tidak tahu siapa mereka, Guru Zeroun," sahut perwira lelaki yang dipanggil Jenderal Kenzie. "Tapi...," lalu dia menyebutkan ciri-ciri khusus yang dilihatnya tadi.
"Gerombolan Pedang Tengkorak...," gumam orang tua yang dipanggil Guru Zeroun sambil menatap langit. Tak lama dia segera melompat turun ke tanah.
"Siapa itu Gerombolan Pedang Tengkorak, Guru Zeroun?" tanya perwira wanita ingin tahu. Karena dia maupun suaminya belum pernah mendengar gerombolan itu sebelumnya.
"Kelompok pembunuh bayaran," sahut Guru Zeroun.
Bersamaan dengan itu kepala Aneska dan Aliesha muncul dari balik tirai jendela kereta. Lalu berseru memanggil perwira wanita itu.
"Ibu...!"
"Bibi Elaina...!"
Serta merta tiga orang yang berbincang itu segera menoleh ke arah kedua gadis kecil itu. Lalu perwira wanita yang ternyata bernama Jenderal Elaina berseru melarang kedua gadis itu untuk keluar kereta.
"Kalau mereka kelompok pembunuh bayaran," kata Jenderal Kenzie setengah bergumam, "berarti ada yang menyewa mereka untuk membunuh Tuan Putri Lavina tentunya."
"Itu yang harus kita selidiki siapa di belakang mereka," kata Guru Zeroun seakan menggagas kerja sama.
"Ya, itu pasti," kata Jenderal Kenzie bernada mantap. Dan disetujui oleh istrinya.
"Sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini," kata Guru Zeroun selanjutnya.
Lalu dia melangkah. Dan pada langkah yang ke empat tubuhnya langsung melesat bagai menghilang. Tahu-tahu dia sudah ada di tempat yang jauh di depan sana. Lalu kembali melesat, dan bayangannya sudah sirna.
Sedangkan Jenderal Elaina masuk ke dalam kereta bagian depan. Sementara Jenderal Kenzie duduk di samping kusir kereta bagian depan. Tak lama kemudian, rombong Tuan Putri Aneska kembali melanjutkan perjalanan dengan dihantar oleh udara panas yang menggarang.
★☆★☆
Sementara itu di Kota Pendar di Kerajaan Amerta....
Farrel, bocah perempuan yang menyamar sebagai laki-laki, kini tidak terlunta-lunta lagi di Kota Pendar. Tidak lagi hidup sebagai pengemis. Bocah yang sebenarnya bernama asli Ariesha Divya itu kini ikut dengan Dhafin dan tinggal bersama-sama di penginapan.
Saat Dhafin meminta agar Ariesha tidak usah lagi menyamar sebagai laki-laki, Ariesha masih kurang setuju. Alasannya karena nanti orang-orang yang setahun yang lalu pernah menangkapnya untuk dijual, akan mengetahuinya. Dan besar kemungkinan akan menemukannya lagi kalau penyamarannya dibuka.
Namun Dhafin meyakinkannya kalau orang-orang itu tidak akan menangkapnya lagi. Karena dia pasti akan melindunginya. Dan dia akan membuat rencana nanti agar pedagang manusia itu ditangkap oleh keamanan kota.
Untuk lebih meyakinkan Ariesha kalau Dhafin bisa melindunginya, Dhafin memintanya untuk mengantarnya ke markas dua beradalan pasar yang hampir menangkapnya.
Awalnya Ariesha tidak setuju sekaligus takut. Karena berandalan pasar itu bukan cuma dua, tapi empat orang. Dan bossnya lebih hebat lagi ilmunya dari ketiga anak buahnya. Ariesha khawatir sekaligus takut Dhafin celaka oleh mereka. Tapi Dhafin tetap memaksanya agar Ariesha mau mengantarnya, dan akhirnya pada malam harinya Ariesha mengantarnya.
Maka di sini Dhafin benar-benar menunjukkan kemampuannya. Perlu diketahui di dalam tubuh bocah itu telah bersemayam dua energi inti kekuatan, 'Inti Api' dan 'Inti Es', yang mana dua energi itu didapat dari berguru kepada Siluman Kalyan, guru sekaligus temannya semasa dia tinggal di gua persembunyiannya.
Dhafin benar-benar menunjukkan kemampuannya kepada Ariesha. Bukan berarti ingin menyombongkan diri. Dhafin benar-benar menghajar semua berandalan pasar itu sampai babak belur.
Mereka yang hanya punya ilmu bela diri yang masih di bawah standar dan cuma mengandalkan tenaga fisik jelas tidak mampu menghadapi Dhafin yang sudah memiliki kekuatan batin yang boleh dibilang hebat untuk anak seusianya.
Dan untuk boss berandalan pasar, Dhafin menunjukkan pada Ariesha kekuatan batinnya yang bisa mengendalikan udara. Dengan agak cepat dan keras Dhafin menyentak telapak tangan kanannya ke arah sang boss berandal. Maka melesatlah serangkum hawa bening dan padat, terus membungkus badan si boss berandal tanpa disadari.
Ketika Dhafin mengangkat tangannya ke atas, maka boss berandal ikut terangkat setinggi hampir satu tombak. Jelas saja si boss menjerit-jerit ketakutan sambil meronta-ronta, sekaligus membuat ketiga anak buahnya tercengan ngeri.
Saat Dhafin mengepalkan telapak tangannya, sang boss berandal bukan lagi menjerit karena ketakutan tapi menjerit karena kesakitan. Karena hawa atau udara yang berubah padat itu meremasnya dengan cukup kuat.
Setelah merasa cukup memberi siksaan pada boss berandal itu, lalu telapak tangan Dhafin yang tadi mengepal seketika dibuka. Maka hampir bersamaan hawa bening yang tadi membungkus tubuh sang boss langsung terlepas. Dan sang boss langsung jatuh ke lantai dengan keras dan cukup menyedihkan. Saat itu juga boss berandal langsung pingsan.
Sebelum meninggalkan markas berandalan pasar, Dhafin memberikan ancaman kepada mereka.
"Bawa boss kalian dan tinggalkan kota ini! Jika aku melihat muka kalian di kota ini lagi, aku akan mengirim kalian ke akhirat!"
Ketiga berandalan pasar itu tambah ketakutan. Dan tanpa banyak pikir mereka menggotong boss mereka, lalu meninggalkan tempat ini dengan segera.
Setelah melihat kehebatan Dhafin yang mengagumkan itu, akhirnya Ariesha percaya kalau Dhafin bisa melindunginya.
★☆★☆
Hari-hari mereka lalui dengan terus bersama-sama. Mencoba peruntungan Dhafin sebagai tabib muda, dimana Ariesha sebagai asistennya. Pada awal-awalnya jelas mereka mengalami kesulitan mendapat kepercayaan orang-orang kota. Banyak yang meragukan kemampuannya sebagai tabib, karena Dhafin masih anak kecil anggapan mereka. Hal itu telah jelas.
Tapi Dhafin tidaklah putus asa. Dan Ariesha, sang asisten yang sudah dianggapnya adik terus menyemangatinya tanpa bosan. Hingga pada akhirnya mereka berhasil mendapatkan kepercayaan orang-orang dalam pengobatan setelah berjuang selama sebulan lebih. Dalam masa itu Dhafin bisa mengobati beberapa penyakit berbahaya, termasuk orang yang terkena racun.
Tak lupa pula Dhafin terus mengasah kekuatan batinnya dengan bersemedi hampir setiap malamnya. Dan mengajari Ariesha ilmu bela diri. Karena Ariesha sendiri memintanya tanpa Dhafin menawarkan.
Dasarnya Ariesha memang anaknya cerdas dan mempunyai tekad yang kuat. Dia bisa memahami pelajaran dasar ilmu bela diri yang Dhafin sampaikan dan bisa mempraktekkan dengan cukup baik. Dan Ariesha terus melatih setiap hari ilmu yang sudah Dhafin ajarkan.
Tidak lupa Dhafin memberikan obat ramuan kebugaran padanya agar Ariesha tidak mudah lelah. Dan juga Dhafin memberikan obat pil dan ramuan lain pada Ariesha tiga kali dalam sepekan. Ketika Ariesha tanya itu obat dan ramuan apa. Dhafin menjawab itu obat dan ramuan khusus.
Ariesha tak bertanya lagi, karena dia begitu percaya kepada orang yang sudah dianggap kakak itu. Padahal obat dan ramuan itu adalah resep kecantikan. Dhafin masih malu juga untuk berterus terang pada Ariesha kalau itu obat kecantikan. Tapi suatu saat nanti Dhafin akan memberitahukannya.
Tanpa terasa sudah dua bulan lebih Dhafin dan Ariesha melalui hari-hari mereka dengan kebersamaan. Dhafin sudah mulai banyak pasien yang diobati. Uang mereka bertambah banyak. Tak lupa mereka sumbangkan sebagian pada para pengemis.
Ariesha terus berlatih ilmu bela diri, dan sudah dua jurus yang dipelajari. Sedangkan Dhafin juga terus melatih kekuatan kebatinannya dengan bersemedi. Dan tak lupa juga terus melatih semua jurus bela diri yang telah dipelajarinya. Meskipun tidak tiap hari seperti yang dilakukan Ariesha.
Pada suatu malam setelah mereka makan malam dan sudah masuk ke kamar penginapan. Mereka tidur satu kamar tapi beda tempat tidur. Dan pemilik penginapan tidak mempermasalahkan, karena mereka mengaku adik kakak. Lagipula pemilik penginapan melihat mereka masih kecil.
"Kak Dhafin, ada yang mau aku omongin," kata Ariesha sambil baring-baring (belum tidur). Posisi baringnya miring ke kiri, alias menghadap Dhafin yang lagi duduk bersemedi di tempat tidurnya. Gaya bicaranya sedikit manja.
"Mau ngomon apa, Ariesha?" tanya Dhafin tanpa membuka matanya. Ketika bicara mulutnya nyaris tak bergerak. Tapi suaranya begitu jelas, lembut dan tenang.
"Empat bulan lagi akan diadakan pendaftaran penerimaan calon prajurit, baik laki-laki maupun wanita...," tutur Ariesha berhenti sejenak menunggu tanggapan Dhafin.
"Kamu 'kan masih kecil," kata Dhafin menanggapi. Dia segera membuka matanya membatalkan semedinya. Terus menoleh dan memandang gadis imut itu yang juga memandangnya. "Sekarang umurmu baru genap sembilan tahun. Yang diterima pastinya umur belasan tahu."
"Tidak, Kak," sanggah Ariesha cepat. "Justru yang diterima dari umur sembilan tahun hingga sepuluh tahun. Di bawah sembilan tahun atau di atas sepuluh tahun justru tidak diterima."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Dhafin heran.
Ariesha bangun dari berbaringnya. Lalu turun dari tempat tidur dengan membawa selimutnya. Terus menghampiri Dhafin dan berbaring manja di pangkuannya.
Tidak jarang Ariesha bermanja-manja pada Dhafin. Dan Dhafin tidak mempermasalahkannya karena Dhafin amat menyayanginya. Apalagi Dhafin sudah tahu kalau Ariesha sejak kecil sudah kehilangan orang tua.
Hingga umur tujuh tahun dia diasuh oleh neneknya. Setelah itu neneknya menyusul kedua orang tuanya. Wajarlah kalau anak seusianya masih haus akan kasih sayang dan ingin bermanjaria kepada orang yang menyayanginya.
"Karena kalau di bawah sembilan tahun jelas belum memenuhi persyaratan," sahut Ariesha kemudian. "Nah, kalau di atas sepuluh tahun, sudah masuk ke jenjang calon prajurit jenis yang lain, dan itu khusus laki-laki."
"Sepertinya calon prajurit yang kamu akan mendaftar ini tergolong calon prajurit istimewa," tebak Dhafin sambil membelai lembut kepala Ariesha, "atau mungkin lebih tepatnya calon prajurit khusus?"
"Aduh... kakakku yang pintar ini lagi-lagi pandai menebak!" kata Ariesha seolah memuji. "Benar, calon prajurit yang aku ingin mendaftar adalah calon prajurit khusus. Lebih tepatnya, kalau laki-laki calon Pengawal Pangeran, dan kalau wanita calon Pengawal Putri Raja."
"Pendaftarannya di mana?" tanya Dhafin ingin tahu. "Apa khusus di kotaraja?"
"Selain di kotaraja, dibuka juga pendaftaran pada empat kota di Kerajaan Amerta ini, termasuk di Kota Pendar ini."
"Sepertinya kamu tahu banyak tentang hal ini?" kata Dhafin agak curiga dari mana Ariesha tahu tentang hal ini.
"Ya iya lah, aku 'kan selalu mengikuti perkembangan berita tentang hal ini," kata Ariesha antusias. "Tempat pendaftarannya di Gedung Keamanan Kota. Letaknya di tengah kota, tidak jauh dari Gedung Jawatan Kota...."
"...Lagipula memang cita-citaku ingin menjadi Pengawal Putri Raja," lanjut Ariesha. "Aku amat mengagumi Tuan Putri Aurellia. Aku amat berharap dan berdoa semoga nantinya aku menjadi Pengawal Putri Aurellia."
"Kamu sudah berbicara begitu banyak," kata Dhafin bernada seakan-akan menegur, tapi sambil tersenyum hangat. "Apa kamu sudah minta ijin padaku apa boleh apa tidak kamu mendaftar?"
★☆★☆
Ariesha seketika tercekat dan langsung bangun terduduk dan menghadap Dhafin. Terus menatap bocah tampan itu yang juga menatapnya sambil tersenyum. Lalu bocah cantik itu tampak tersenyum polos.
"Kakak..., boleh ya aku mendaftar?" rengek Ariesha manja. "Boleh ya ya...?"
Dhafin tidak segera menjawab. Sikut tangan kirinya ditopangkan pada paha kiri. Sedangkan dagunya bersandar pada jari-jari tangannya yang merapat dan setengah mengepal. Senyumnya terus saja memgembang sambil terus memandang Ariesha. Dhafin merasa punya hiburan tersendiri menggoda gadis kecil ini.
"Iiih, Kakak! Kok belum dijawab?" rengek Ariesha lagi sambil meraih cepat tangan kanan Dhafin dan menaruhnya di dadanya. "Ayolah, Kak, boleh ya?"
"Boleh," sahut Dhafin yang tidak suka lama bercanda.
"Terima kasih, Kakakku yang baik hati," kata Ariesha sambil tersenyum girang. Lalu dia mencium punggung telapak tangan kanan Dhafin beberapa kali.
"Eh, tunggu!" kata Dhafin saat tersadar akan sesuatu. "Kenapa kamu sudah membicarakannya sekarang? Sedangkan pendaftaran itu empat bulan lagi."
"Sengaja aku memberitahukan dari sekarang," ungkap Ariesha, "agar kakak lebih sungguh-sungguh lagi mengajari aku ilmu bela diri. Karena salah satu syaratnya harus punya dasar ilmu bela diri. Dan... ajari aku juga ilmu kebatinan ya, Kak?"
"Aku pasti akan sungguh-sungguh mengajarimu," kata Dhafin meyakinkan. "Bahkan semua ilmu yang aku punya aku akan mengajarkannya padamu pula. Dan mengenai ilmu kebatinan, aku sudah memikirkannya untuk mengajarimu pula. Kamu tenang saja."
"Terima kasih, Kak."
Lalu Ariesha tidur di tempat tidur Dhafin, seakan malas pergi ke tempat tidurnya. Rupanya dia sudah mengantuk. Dhafin yang hendak menegurnya, jadi tidak tega.
Dirapikan letak selimut Ariesha, lalu mengecup kening Ariesha dengan lembut. Dan Ariesha masih merasakannya, terus tersenyum bahagia.
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Putra_Andalas
sayangnya cerita ttg sedikit saja Proses berguru nya tidak ada..baik ttg kesaktiannya atau gmna Guru nya.
2023-12-12
1
Harman LokeST
masih kecil kecil sudah punya murid
2022-09-17
1
Anonymous
di masa sekarang masih seorang adik, tidak tahu di masa depan siapa tahu malah jadi suka, kan dia anak polos si Ariesha ini
2022-04-29
3