Matahari sudah semakin tinggi menanjaki cakrawala. Sinar garangnya amat terik seakan-akan hendak membakar seantero Kota Pendar, salah satu kota di Kerajaan Amerta yang terletak dekat pesisir. Membuat udara di kota dekat pesisir itu semakin panas. Saat ini waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari.
Tampak Tabib Kecil tengah berjalan menyusuri jalan kota yang tetap ramai meski udara amat panas. Dia sudah cukup jauh meninggalkan Pelabuhan Pendar. Sudah cukup jauh dan lama meninggalkan rombongan Putri Aneska yang entah sudah berada di mana sekarang.
Sebenarnya dia diajak untuk ikut dengan rombongan putri raja itu. Tapi bocah itu menolaknya meskipun Aliesha memaksa. Namun Pelayan Galina lumayan banyak memberinya uang sebagai upah mengobati Tuan Putri. Di samping itu pula dia juga mendapat uang cukup banyak dari juragan kaya meski tidak sebanyak yang diberikan oleh Pelayan Galina. Sehingga boleh dibilang sekarang dia punya banyak uang. Suatu awal perjalanan yang baik.
Saat ini bocah tabib itu sudah membeli barang-barang yang dia butuhkan. Tas baru yang modelnya lebih bagus, tas untuk wadah uangnya, dua setel pakaian, beberapa buah botol untuk wadah obatnya, dan beberapa barang lainnya, termasuk kasut. Penginapan juga sudah dia dapatkan yang juga merangkap rumah makan. Letaknya di pinggir kota, sesuai yang dia inginkan.
Setelah berbenah sebentar, lalu dia mandi. Terus mengganti pakaiannya yang sudah sobek di beberapa bagian dengan salah satu pakaian yang baru dia beli. Mengganti sendalnya yang sudah butut dengan kasut yang sudah dia beli tadi. Baru setelah itu beranjak turun ke bawah untuk makan siang. Tak lupa membawa beberapa keping uang.
Kini bocah itu sudah selesai mengisi perutnya. Setelah membayar makanannya, dia berajak keluar ingin melihat-lihat keadaan kota yang cukup padat penduduknya ini. Dia berniat untuk tinggal beberapa hari di kota ini, mencoba peruntungannya sebagai tabib kecil.
Sebenarnya dia masih kurang percaya diri. Pasalnya, awal kali dia hendak mengobati pasiennya, dia langsung diragukan. Alasannya karena dia masih anak kecil. Perlu meyakinkan orang dulu baru bisa percaya. Itupun belum sepenuhnya percaya. Untung dia cukup pandai meyakinkan orang. Tapi apa salahnya dia mencoba peruntungannya di kota ini yang masih amat asing sekali baginya.
Belum lama dia berjalan-jalan tidak sengaja sepasang mata hitam kelamnya menangkap seorang bocah kecil berpakaian coklat lusuh tengah berlari di tengah keramaian manusia. Sesekali bocah yang kepalanya dililit kain kusam warna merah itu menengok ke belakangnya sambil terus berlari. Sepertinya bocah itu tengah dikejar.
Dan benar saja. Sekitar tiga tombak di belakangnya tampak dua lelaki berusia remaja juga tengah berlari di tengah kerumunan mengejarnya. Tapi karena banyaknya orang yang berlalu-lalang, dua lelaki remaja itu agak terhambat dalam mengejar.
★☆★☆
Bocah yang sepertinya anak lelaki umur 8-9 tahun itu terus saja berlari tanpa henti. Wajah imutnya yang kotor, bertambah kotor akibat keringat yang membasahi wajahnya. Tampak nafasnya sudah ngos-ngosan. Tapi dia terus saja berlari. Sekali lagi dia menoleh ke belakang. Dua lelaki remaja pengejarnya tadi terus saja mengejarnya, dan semakin dekat saja ke arahnya.
Tanpa sadar dia berlari melintasi jalan agak kecil yang sunyi. Bahkan jalan itu ternyata buntu. Karena di ujung jalan itu terdapat tembok batu yang cukup tinggi. Akhirnya dia langsung berhenti saat sudah mencapai ujung jalan.
"Hehehe...! Sekarang kau tidak bisa lari lagi, Bocah," seketika terdengar suara bernada menyeringai yang membuatnya terkejut bukan main.
Dia langsung menghadap ke belakang seketika. Dan dua pengejarnya ternyata sudah berdiri sekitar dua tombak dari tempatnya berdiri. Dua lelaki remaja itu tampak menyeringai sambil terkekeh-kekeh sambil melangkah perlahan-lahan mendekatinya.
Wajah imutnya yang kotor langsung berubah pias. Ketakutan langsung menyergapnya tanpa ampun. Tubuhnya yang gemetar tanpa sadar mundur perlahan-lahan ke belakang. Tapi tak lama dia memekik kecil karena punggungnya langsung mentok ke tembok batu. Dua remaja itu semakin mendekatinya.
"Kau itu, mau dikasih enak malah cari susah!" bentak lelaki yang berdiri sebelah kiri gusar. Kulitnya hitam, wajahnya jelek, apalagi berhidung pesek. Dia berpakaian warna hijau.
"Apa kau mau dibawa baik-baik atau secara paksa?" tanya lelaki yang satu sambil tersenyum menyeringai. Wajahnya tidak terlalu jelek. Pakaiannya berwarna biru.
"Pergi!" teriak si bocah seakan mendapat kekuatan di tengah rasa takutnya. "Aku tidak mau lagi ikut dengan kalian!"
"Brengsek! Rupanya kau minta dibawa secara paksa!" geram lelaki baju hijau. "Ayo, Galih, kita seret bocah sialan ini!"
Lelaki bernama Galih makin terkekeh mendengar perintah itu. Dengan cepat melangkah ke bocah itu mengikuti temannya. Terus memegang kedua tangan bocah berwajah kotor itu dengan kuat. Lelaki baju hijau tangan sebelah kiri, temannya sebelah kanan. Lalu mereka menarik paksa bocah itu agar mengikuti mereka.
"Lepaskan! Lepaskan!" teriak si bocah keras sambil meronta-ronta. "Pergi kalian! Aku tidak mau ikut kalian!"
Dua lelaki remaja itu mana mau mengindahkan jeritan bocah itu. Mereka terus saja menarik paksa si bocah yang terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit.
"Apa kalian tidak punya kerjaan lain selain menindas orang?"
Seketika terdengar sebuah suara tidak terlalu keras namun bernada dingin. Dua lelaki remaja itu seketika menghentikan pekerjaannya, terus memandang ke sumber suara mengejutkan itu. Bocah berbaju coklat itu juga ikut memandang ke sumber suara.
Di situ, sekitar empat tombak jaraknya, berdiri seorang bocah berusia sepuluh tahun. Bajunya lengan panjang berwarna merah gelap. Rambutnya sedikit panjang berwarna hitam kelam. Sekelam warna matanya yang menatap tajam dua lelaki brengsek itu sambil kedua tangannya dilipat di depan dada. Gayanya layaknya orang dewasa saja. Yah, pemikirannya memang sudah dewasa meski tubuhnya masih seorang bocah. Dialah Tabib Kecil.
"Hah! Aku kira siapa?" decak kesal lelaki berbaju hijau dengan sikap meremehkan. Tangannya masih saja memegang kuat tangan bocah berbaju coklat. "Nyatanya seorang bocah sialan!"
"Kent! Sepertinya bocah ini masih baru di kota ini," kata Galih bernada sinis, "sehingga dia berani mengganggu kesenangan kita."
"Meskipun aku baru di kota ini," kata Tabib Kecil sambil melangkah pelan mendekat ke tempat Kent dan Galih, "bukan berarti aku membiarkan kesenangan buruk kalian."
"Besar juga nyalinya bocah ini, Kent," kata Galih bernada sinis sambil terus menatap bocah itu. Bibir tebalnya masih menyunggingkan senyum licik.
"Aku ingin lihat nyalinya sampai sebesar apa," geram Kent yang sudah naik darah. Lelaki ini memang paling tidak bisa menahan emosi. Apalagi Tabib Kecil sudah mengganggu pekerjaannya.
★☆★☆
Dengan gerakan cepat Kent menyerang Tabib Kecil yang posisi berdirinya tinggal empat langkah darinya. Kepalan tangan kanannya melaju dengan cepat siap menghantam wajah si bocah. Sedangkan Tabib Kecil tetap tenang di tempatnya, tidak menunjukkan reaksi kalau dia akan menghindar.
Namun sebentar lagi jotosan Kent samapi ke wajahnya, dengan cepat badannya sedikit di miringkan ke kiri sambil kaki kirinya digeser agak ke depan. Bersamaan dengan itu tangan kanannya menangkap tangan kanan Kent. Lalu sambil menarik tangan Kent ke belakang, lutut kanannya bergerak naik dengan cepat. Dan tanpa ampun langsung menghantam lambung Kent.
Bughk
"Ugh...!"
Kent langsung terjajar ke belakang sambil mengeluh tertahan. Dan selagi Kent terjajar, Tabib Kecil memutar tubuhnya hampir satu lingkaran sambil kaki kiri terangkat dan tubuhnya agak merendah ke belakang. Lalu kaki kiri itu melayang berputar dengan cepat mengarah ke samping kiri kepala Kent.
Karena serangan itu begitu cepat dan mendadak. Ditambah lagi dia masih terjajar sehingga kehilangan konsentrasi. Maka telapak kaki kiri Tabib Kecil dengan keras dan telak menghantam samping kiri kepala Kent.
Desss!
"Akh...!"
Terdengar mulut Kent menjerit tertahan. Tubuhnya bukan hanya terjajar. Tapi dengan bersamaan oleng ke kanan. Lalu jatuh ke tanah berpasir dengan sungguh menyedihkan.
Sementara Tabib Kecil, belum sempat istirahat lama, Galih ikut ambil bagian. Dengan gerakan cepat dia menyerang bocah itu, mengirimkan pukulan dan tendangan keras secara beruntun. Akan tetap bocah tabib dapat menangkisnya dengan mudah.
Pada satu kesempatan Tabib Kecil bisa menyerang. Dan serangan bocah itu membuat Galih cukup kewalahan. Dia tidak menyangka bocah tabib sudah memiliki ilmu silat yang hebat di usia yang masih terbilang bocah.
Sebenarnya Kent lebih hebat dari Galih. Tapi karena Kent terlalu meremehkan lawannya sehingga kurang memperhatikan pertahanannya. Sehingga dalam dua gebrakan dia sudah tumbang.
Tampak tinju kiri Tabib Kecil mengarah dengan cepat ke wajah Galih untuk kesekian kalinya. Karena tangan kanan Galih masih kebas, terpaksa serangan itu ditangkis dengan tangan kiri sambil kaki kanan dibuang ke belakang satu langkah.
Akan tetapi serangan itu cuma serangan tipuan. Karena dengan cepat Tabib Kecil menarik serangannya. Sehingga Galih cuma menangkis angin. Dan hampir bersamaan bocah tabib itu menarik serangan, kaki kanannya terangkat melakukan tendangan beruntun, di rusuk kiri Galih, terus menyusul samping kanan kepalanya. Dan kedua serangan itu mengenai sasaran dengan keras dan telak.
Deghk!
Desss!
"Ukh...! Akh...!"
Terdengar Galih mengeluh tertahan dua kali. Bersamaan dengan tubuhnya terjajar ke samping kiri. Sedangkan Tabib Kecil tidak berhenti sampai di situ. Selagi Galih terjajar, kaki kiri terangkat lalu mendupak dada Galih. Sehingga bukan lagi terjajar, tapi langsung jatuh terjengkang ke belakang sambil menjerit kecil.
Sementara itu, Kent sudah bangkit. Namun kepalanya masih pusing akibat tendangan Tabib Kecil tadi dan lambungnya masih mual. Untuk mengadakan serangan lagi rasanya tidak mungkin. Akhirnya, dengan menekan rasa malunya dia meninggalkan tempat ini. Tak lupa mengajak Galih yang nasibnya juga sama dengan dia.
"Kita belum selesai, Bocah Sialan!" ancam Kent sebelum meninggalkan tempat ini.
Dengan agak kepayahan Kent dan Galih berlari, seperti ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang membikin mereka malu bercampur kesal. Sedangkan bocah berbaju coklat ternyata masih ada di situ memandang mereka hingga hilang dari kejauhan.
★☆★☆
Setelah Kent dan Galih hampir hilang dari kejauhan, Tabib Kecil beralih memandang bocah berwajah kotor yang masih berdiri bersandar di tembok itu. Setelah menghampirinya, dia terus bertanya.
"Kamu tidak apa-apa, Dik?"
Si bocah tidak langsung menjawab. Setelah menatap kepergian dua berandalan pasar itu kini beralih menatap tajam pada Tabib Kecil dua langkah di depannya ini. Tatapannya penuh selidik dan seakan-akan melihat Tabib Kecil adalah musuhnya. Tapi lebih tepatnya, dia cuma bersikap waspada dan hati-hati. Dan sepertinya dia selalu bersikap begitu dengan orang yang tidak dia kenal.
Namun bocah tabib itu membalas sikap tidak ramah bocah itu dengan wajah tenang sambil tersenyum penuh persahabatan.
"Namaku Dhafin," ucap Tabib Kecil memperkenalkan diri setelah cuma lama bocah itu tak menjawab pertanyaannya. "Namamu siapa?"
Lagi-lagi bocah itu tidak menjawab. Dia terus saja menatap bocah tabib yang ternyata bernama Dhafin penuh curiga. Tapi Dhafin tidaklah tersinggung. Dia tetap bersikap ramah lingkungan penuh persahabatan.
"Farrel," akhirnya keluar juga suara bocah itu menyebut namanya. "Namaku Farrel."
Mendengar Farrel memperkenalkan namanya, Dhafin segera tersenyum heran. Dia tahu bocah ini adalah bocah perempuan meskipun dia berdandan layaknya laki-laki. Mengapa bocah ini berdandan layaknya laki-laki dan memperkenalkan diri sebagai Farrel?"
Tapi Dhafin tidak mau terlalu memikirkannya, biar Farrel sendiri yang menjawab. Dan ekspresi keheranannya cuma sebentar. Setelah itu dia kembali berekspresi seperti biasa.
Tapi sepertinya Farrel bisa menebak kalau Dhafin sudah mengetahuinya. Makanya langsung tersenyum lugu, bagai orang kepergok dan berkata.
"Kak Dhafin hebat, bisa tahu kalau aku bukan laki-laki."
Dhafin cuma tertawa pelan mendengar ucapan Farrel. Dalam hati dia akui kecerdasan Farrel dalam menebak ekspresi orang. Lalu dia mengajak Farrel meninggalkan tempat ini.
"Siapa dua orang tadi, Farrel?" tanya Dhafin ingin tahu sambil mereka berjalan.
"Dua orang tadi adalah berandalan pasar," ungkap Farrel. "Mereka dan beberapa orang temannya mengumpulkan anak kecil seperti aku untuk dijadikan pengemis. Hasil dari mengemis mereka yang ambil semua, kami cuma diberi makan saja. Itupun tidak selalu."
"Ini tindakan kejahatan," komentar Dhafin. "Kenapa tidak ada yang melaporkan kepada pihak keamanan kota."
"Kak...," kata Farrel tiba-tiba memutus ucapannya. "Eh..., boleh aku memanggilmu kakak?"
"Kalau kamu merasa aku lebih tua darimu, boleh saja."
"Kak Dhafin," lanjutnya, "orang miskin seperti aku ini mana ada yang memperhatikan."
Dhafin cuma mengangguk-angguk mendengar ucapan menyedihkan Farrel itu. Mungkin seperti itulah kehidupan orang-orang kota. Saling tidak perduli dengan keadaan orang lain. Mereka lebih perduli akan diri mereka masing-masing.
"Apakah Kakak mau tahu kenapa aku berdandan layaknya laki-laki begini?" tanya Farrel seolah minta ijin.
"Iya, kebapa?"
"Aku sebenarnya pernah ditangkap oleh orang-orang yang memperdagangkan manusia. Tapi aku berhasil melarikan diri. Agar aku tidak ditangkap lagi, maka mulai hari itu aku merubah semua penampilanku. Jadilah seperti sekarang ini, dandanan bocah pengemis."
Dhafin dan Farrel terus saja berbincang-bincang sambil berjalan. Sebentar saja dua anak itu sudah saling akrab. Mungkin persamaan nasib yang mempertemukan mereka. Sama-sama sebatang kara. Dhafin mengajak Farrel ke penginapannya. Farrel setuju-setuju saja. Karena dia yakin Dhafin adalah orang baik, bukan penipu yang pura-pura baik, pura-pura peduli.
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Putra_Andalas
Akhirnya setelah melewati hampir 6 Chap. ketemu juga nama si Tabib Kecil 'DHAFIN" 🤗
2023-12-12
1
AyahRum
terlalu banyak penjabaran nya
2023-12-05
1
Harman LokeST
masih kecil kecil sudah banyak bertemu dengan musuh
2022-09-17
2