Ketika hari menjelang sore Putri Lavina Aneska telah siuman dari pingsannya. Seketika dia merasakan banyak perubahan besar pada kondisinya. Tubuhnya sudah tidak lemas lagi. Saat digerak-gerakkan tidak lagi terasa kaku. Tidak lagi merasa kedinginan, malah kegerahan. Dan kata Aliesha yang selalu berada di dekatnya mengabarkan kalau wajah cantiknya sudah tidak terlalu pucat. Dan Aliesha dan empat pelayan menyambut dengan senyum gembira pada Aneska yang sudah siuman.
"Aku sudah sembuh 'kan, Kak Aliesha?" tanyanya dengan nada gembira tapi masih terselip sedikit kekhawatiran.
"Iya, kamu sudah sembuh, Nona," kata Aliesha masih tersenyum gembira. Lalu mereka saling berpelukan.
"Benar, Nona," tambah Pelayan Galina yang duduk bersimpuh di dekat tempat tidur sebelah kiri. "Kata Tabib Kecil Nona sudah dikatakan sembuh. Berterima kasihlah padanya, Nona."
Itu sudah pasti, Aneska pastilah mengucapkan banyak terima kasih pada bocah itu, karena sudah berhasil menyembuhkan penyakitnya yang sudah dua tahun dia derita. Tapi dia cuma berani mengucapkannya dalam hati. Untuk mengucapkannya secara langsung jelas dia tidak mau, lebih tepatnya gengsi.
Dia bukanlah Tuan Putri manja yang berhati sombong dan angkuh. Dia memang selalu bersikap dingin dan ketus pada orang asing, apalagi pada seorang lelaki, tak terkecuali pada si Tabib Kecil. Hal itu dilakukannya agar tidak gampang akrab pada setiap orang.
"Sekarang di mana Tikus Kecil itu, Bibi?" tanya kemudian.
"Lagi istirahat di situ," tunjuk Pelayan Galina di sisi ruangan sebelah kiri. "Kasihan dia, Nona. Dia sudah kehabisan banyak tenaga untuk mengobati Nona."
Aneska, yang diikuti oleh Aliesha, langsung memandang ke sisi kabin sebelah kiri dimana Tabib Kecil masih terbaring diam di situ. Kedua telapak tangannya masih merapat di atas dadanya. Kini sekujur tubuh bocah itu diselubungi oleh sinar putih bercampur kuning. Membuat Aneska maupun Aliesha terkejut keheranan. Sedangkan tadi sebelum Aneska siuman Aliesha belum melihatnya.
"Kenapa di tubuhnya ada sinar kuning, Bibi?" tanya Aneska tidak bisa menahan keheranannya.
"Dia sedang bersemedi, Nona," sahut Pelayan Galina.
Aneska maupun Aliesha percaya apa yang dikatakan Pelayan Galina. Karena pelayan itu bukalah pelayan biasa. Dia cukup banyak juga pengetahuannya tentang berbagai hal di dunia ini. Lalu Aneska kembali menatap bocah itu, dan ternyata kain kecil warna merah masih menutup matanya.
Tapi dia tidak mau memikirkannya hal itu. Sekarang yang dipikirkannya membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan agak lengket. Setelah itu dia makan karena perutnya terasa lapar sekarang. Baru setelah itu dia ingin berjalan-jalan di luar sambil menikmati udara sore di tengah lautan.
Setelah mandi, dan terus makan, Aneska langsung mengutarakan keinginannya berjalan-jalan kepada Aliesha. Sedangkan Aliesha setuju-setuju saja dan menyambutnya dengan senang hati.
Sementara Pelayan Galina sebenarnya tidak setuju. Namun dia amat mengenal Tuan Putri-nya itu, kalau sudah berkeinginan tidak bisa dibantah. Dan dia juga sudah melihat Aneska memang sudah benar-benar sembuh. Tapi Pelayan Galina berpesan kalau keluar nanti Aneska harus juga memakai baju tebalnya. Dan Aneska setuju saja.
Tanpa berlama-lama Aneska dan Aliesha langsung keluar, dan terus berjalan-jalan mengamati keadaan sekitar sambil ngobrol. Rasanya senang sekali selama berada di kapal Aneska baru kali ini bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitar kapal. Mereka bisa melihat pulau, daratan, dan ikan-ikan yang berloncatan di atas permukaan laut.
★☆★☆
Malam sudah membungkus mayapada dengan selimut gelapnya. Di mana-mana terhampar kegelapan di seantero laut lepas itu. Sementara kapal besar itu terus saja melaju entah kapan berhentinya.
Tampak Aneska sudah tertidur pulas hingga terdengar dengkuran halusnya. Posisi tidurnya miring ke kanan. Di sebelahnya Aliesha juga sudah tidur dengan posisi terlentang. Tiga orang pelayan muda lainnya tampak tidur berdesak-desakan di lantai beralaskan kain tebal tak jauh di bagian kaki tempat tidur. Sedangkan Pelayan Galina tidur di lantai sebelah kanan tempat tidur. Dia juga tidur beralaskan selimut tebal. Karena kasurnya di pakai oleh Tabib Kecil.
Seketika Aliesha merubah posisi tidur menyamping sebelah kiri. Lalu tampak matanya sedikit terbuka dan langsung memandang ke arah Tabib Kecil tidur. Tapi sepasang matanya tidak menangkap bocah itu ada di tempatnya. Lalu matanya dibuka lebar-lebar dan memandang ke tempat tidur si bocah. Namun tetap Tabib Kecil tidak ada. Yang ada cuma kasurnya yang tergulung.
Segera dia bangun terduduk, terus memindai keadaan kamar mencari di mana Tabib Kecil tidur. Namun tetap juga tidak ada. Kemana bocah itu batinnya. Apa dia tidur diluar?
Sejenak ditengok dulu Aneska yang masih tertidur pulas. Lalu dia turun dari tempat tidur. Setelah mengambil baju tebalnya dan mengenakannya, lalu dia melangkah hendak keluar. Belum juga mencapai pintu, Pelayan Galina menegurnya.
"Mau ke mana, Nona?"
"Tabib Kecil itu pergi ke mana, Bibi?" Aliesha malah bertanya.
"Katanya keluar sebentar," ungkap Pelayan Galina. "Nanti kesini lagi untuk memeriksa kondisi Nona Aneska."
"Apa dia sudah makan?"
"Sudah, Nona."
"Aku keluar sebentar mencarinya, Bibi."
Aliesha segera keluar tanpa menunggu jawaban Pelayan Galina. Setelah berbasa-basi dengan dua pengawal yang menjaga pintu, dia langsung melangkah lebar mencari di mana Tabib Kecil berada. Sementara keadaan di luar telah dibungkam oleh kesunyian. Hanya terdengar angin laut yang dingin yang bertiup.
Tidak lama kemudian, Aliesha sudah menemukan Tabib Kecil itu. Seperti tadi pagi saat menemukan pertama kali, bocah itu berada di buritan kapal sebelah kiri. Tengah duduk mencangkung berpeluk lutut di atas bangku sambil menatap diam hamparan kegelapan di atas permukaan laut. Bocah itu terlihat layaknya patung, tidak bergerak sama sekali.
Perlahan-lahan Aliesha bergerak mendekati si bocah dari arah belakangnya. Begitu sampai kedua telapak tangannya langsung menutup kedua mata bocah itu. Sementara si bocah tidak bereaksi yang berarti atas perbuatan Aliesha itu. Hanya terdengar tegurannya yang tenang bernada dingin.
"Kenapa kamu suka sekali mengganggu orang, Nona?"
"Ayo... Nona siapa?" goda Aliesha sambil tersenyum usil.
"Nona Aliesha yang rusuh!"
"Ih, kok kamu bisa tahu sih?" kata Aliesha tidak tersinggung atas jawaban bocah itu. "Tidak seru...."
Setelah melepas telapak tangannya yang tadi menutup kedua mata Tabib Kecil, dia langsung duduk di samping kanan si bocah begitu saja. Terus dia bertanya bernada ingin tahu, "Apa yang kamu lakukan di sini? Sendiri lagi. Memikirkan apa sih?"
"Itu urusan aku, Nona, bukan urusanmu," sahut Tabib Kecil masih bernada dingin. Tatapannya masih ke depan. "Yang jelas aku tidak memikirkan kamu."
"Kamu...?" delik Ariesha tercekat. Lalu merandek seketika seperti tersadar sesuatu. "Eh, sebentar, sekarang ngobrolnya aku kamu-aku kamu nih? Itu tandanya kita berteman sekarang. Iya 'kan?"
"Aku belum juga jadi temanmu kamu sudah menindasku. Bagaimana nanti aku jadi temanmu?"
"Kamu?" Aliesha langsung mendelik lagi, dan terlepaslah ucapan ketusnya, "O jadi perbuatanku itu ke kamu, kamu anggap aku menindasmu, begitu? Itu sebabnya kamu tidak mau berteman denganku? Padahal aku 'kan cuma bercanda."
Bocah itu diam saja, tidak menanggapi. Melirikpun tidak. Membuat Aliesha geregetan ingin mencekik. Tapi beberapa saat kemudian dia langsung terdiam seakan merenungi perbuatannya. Lalu dia duduk mencangkung berpeluk lutut mengikuti bocah itu sambil menatap ke depan.
★☆★☆
"Boleh aku ngomong sesuatu, Nona?" tanya bocah itu memecah kebisuan.
"Sebutkan dulu namamu siapa!" pinta Aliesha masih ketus sambil melirik si bocah.
"Bukankah kamu memanggilku Bocah Tengik?"
"Kenapakah kamu begitu keras kepalanya hah?" geram si gadis sambil mengkertakkan gigi. "Tinggal sebutkan saja namamu apa susahnya. Aku memanggilmu begitu karena belum tahu namamu. Huh, bikin sebal saja!"
Kemudian Aliesha duduk biasa, bukan lagi mencangkung. Lalu mengelus-elus dadanya sambil memejamkan mata dan berkata menyabarkan hatinya.
"Sabar, Aliesha, sabar. Menghadapi Bocah Tengik ini harus dengan hati yang sabar dan tenang, jangan cepat emosi."
Saat Aliesha menentramkan keadaannya sedemikian rupa, bocah itu meliriknya. Bibir kemerahannya langsung menarik senyum simpul. Menerbitkan pesona ketampanan dambaan para gadis kecil. Tapi begitu mendengar suara ketus Aliesha, wajahnya kembali biasa, datar, dingin, dan kembali menatap ke depan.
"Mau ngomong apa?"
"Aku menduga Nona Aneska sengaja diracuni," ungkap bocah itu.
"Maksudmu sengaja mau dibunuh, begitu?" tanya Aliesha ingin memperjelas.
"Ya, benar. Perlu kamu ketahui, 'Racun Es Merah' membunuh korbannya perlahan-lahan, dan tanpa segera disadari. Butuh waktu cukup lama baru korban menyadari kalau dia terkena racun itu. Dan saat dia sadari racun itu sudah bereaksi di dalam tubuhnya, maka setengah hidupnya sudah mati. Setengahnya lagi, kalau racunnya tidak ditangani dengan tepat, maka siap-siaplah menuju kematian yang sempurna."
Setelah bocah itu bicara panjang lebar, lalu dia bertanya, "Sudah berapa lama Nona Aneska sakit akibat terkena racun?"
"Kurang lebih sudah dua tahun," sahut Aliesha setelah berpikir sejenak.
"Berarti 'Racun Es Merah' mengendap di dalam tubuh Nona Aneska kurang lebih sudah tiga tahun lamanya."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Aliesha heran bercampur bingung. Mimiknya kini serius mendengarkan hal ini.
"Orang yang terkena 'Racun Es Merah' akan bereaksi kurang lebih satu tahun kemudian. Setelah itu racun itu akan bekerja secara perlahan-lahan yang diawali oleh demam tinggi dan menggigil hebat. Begitu 'kan?"
"Iya ya, kamu benar," sahut Aliesha sambil mengangguk.
"Racun itu akan mengacaukan peredaran darah dan membekukan darah secara perlahan-lahan kurang lebih selama setahun. Setelah itu korban akan menggigil hebat sebanyak lima kali dalam satu hari itu. Dan pada kali yang kelima itu korban akan mati, karena darahnya sudah membeku secara sempurna. Dan tubuhnya berubah menjadi dingin sekali laksana es. Itu kalau tidak diobati. Ataupun kalau diobati, tapi tidak dengan metode yang tepat."
Setelah Tabib Kecil berbicara panjang lebar, dia bertanya lagi, "Apa kamu tahu kenapa Nona Aneska masih hidup sampai sekarang yang seharusnya mati setahun yang lalu?"
"Ya tidak lah. Memangnya aku tabib," sungut Aliesha.
"Itu karena tabib yang menangani penyakit Nona Aneska cuma mengobati peredaran darah yang kacau dan pembekuan darah. Bukan menangani 'Racun Es Merah'. Jadi cara mereka itu bukan mengobati penyakit, tapi cuma memperpanjang masa hidup Nona Aneska."
"Dan tabib terakhir yang menangani penyakit Nona Aneska, entah dia mengetahui penyakit Nona disebabkan oleh 'Racun Es Merah' atau tidak, metode pengobatannya hanyalah menahan reaksi racun. Tapi tindakannya itu seolah menahan air bah dengan telapak tangan. Sia-sia bukan?"
Semua yang dijelaskan oleh Tabib Kecil itu didengar dengan serius oleh Aliesha. Dan dia sedikit mulai mengerti kenapa Tabib Kecil itu menduga kalau Nona Aneska sengaja diracuni. Itu menandakan ada orang yang sengaja mau membunuh nonanya itu. Itu berarti musuh. Masa' Nona Aneska punya musuh?
★☆★☆
"Bocah Tengik!" kata Aliesha memecah kebisuan yang sempat melanda mereka. "Kamu bilang tadi Nona Aneska sengaja diracuni...."
"Aku bukan mengatakan, tapi menduga diracuni," ralat Tabib Kecil cepat.
"Ya sudah, kamu menduga diracuni," kata Aliesha mengalah. Karena kalau berdebat dia pasti kalah. "Berarti ada orang yang sengaja mau membunuhnya."
"Itu kalau dia punya musuh," kata Tabib Kecil itu yang ternyata sepemikiran dengannya. "Karena tidak masuk akal temannya sengaja mau membunuhnya atau iseng-iseng mau membunuhnya. Hal itu kamu yang sebagai temannya bisa mengetahui siapa musuh Nona Aneska."
"Sebenarnya aku tidak terlalu memahami tentang orang-orang yang ada di lingkungan istana," ungkap Aliesha setelah beberapa saat tercenung. "Hanya saja aku merasa dua orang putri Yang Mulia Raja Ghanim yang lain seperti tidak suka sama Nona Aneska. Mungkin karena merasa kecantikan mereka tersaingi oleh Nona Aneska atau cemburu karena Yang Mulia lebih sayang kepada Nona Aneska menurut mereka. Tapi aku tidak berani menuduh mereka sampai tega sengaja meracuni Nona Aneska hanya gara-gara begituan."
"Aku juga belum berani menyimpulkan kalau dua orang putri raja itu berani main racun hanya karena merasa tersaingi," kata Tabib Kecil bijaksana. "Hanya saja kedepannya kalian harus lebih hati-hati lagi terhadap apapun dan siapa pun."
"Sekarang Nona Aneska itu sudah sembuh," lanjutnya. "Kedepannya harus lebih hati-hati lagi menjaga diri. 'Racun Es Merah' penyalurannya bisa melalui makanan atau minuman. Jika dua orang putri itu atau siapa saja yang tidak senang pada kalian memberi makanan atau minuman, hendaknya berhati-hati saja."
"Ya, aku akan mengingat pesanmu itu dan juga aku akan menyampaikannya kepada Nona Aneska," kata Aliesha bersungguh-sungguh.
Seketika Aliesha mengingat sesuatu, terus menanyakannya, "Kenapa matamu tadi tetap kamu biarkan tertutup kain?"
"Agar Nona Aneska merasa yakin kalau aku tidak pernah melihat tubuhnya," ungkap Tabib Kecil. "Aku tahu, saat dia sadar dari pingsannya, pasti dia menengokku. Benar 'kan?"
Aliesha cuma mengangguk. Aneska juga tadi bertanya kepadanya tentang hal itu, dan dia belum bisa menjawabnya. Sekarang dia sudah tahu jawabannya dan akan memberitahukan nanti pada Aneska.
Kemudian Aliesha mengajak Tabib Kecil untuk kembali ke kamar. Lebih tepatnya menyuruhnya mengantar. Karena dia takut pulang sendiri. Awalnya bocah itu menolak, dengan alasan karena itu bukan tempatnya. Tapi Aliesha tidak mau peduli, tetap memaksa bocah itu untuk ikut dengannya. Akhirnya mau ikut juga setelah menyampirkan tasnya di punggung belakang.
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Sofyan Muchtar
ceritanya bagus neh, cuma sibocah terlalu mengalah,
2023-12-07
1
Sri Bayoe
bagus kok ceritanya
2023-04-11
1
Dian Dian
crita ga tau alurx,,,terlalu jelek
2023-04-08
1