Pendeta Noman segera berdiri dari kursinya. Lalu melesat dengan cepat. Saking cepatnya seolah-olah tubuhnya bagai menghilang. Dan tahu-tahu sudah ada di dekat Pangeran Adrian. Lalu dengan cepat dia menangkap tubuh pangeran itu yang terlempar.
Kemudian Pendeta Noman memandang ke arah Dhafin berdiri. Tidak tampak kemarahan di raut wajahnya, tetap arif bijaksana. Matanya pun juga tidak menyorot tajam, tetap memancarkan keteduhan.
Dilihatnya Dhafin tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri. Tapi di sekitar kedua kaki anak itu lantai ubin pada retak. Benar-benar pertemuan dua kekuatan tenaga sakti yang cukup dahsyat, hingga membuat lantai Balairung Istana yang amat keras itu bisa retak.
Sementara itu Jenderal Felix sempat khawatir saat kekuatan tenaga sakti Dhafin beradu dengan Pangeran Adrian. Tapi dilihatnya pangeran itu terlempar jauh dan Dhafin tetap berdiri di tempatnya, dia kembali lega. Apalagi dilihatnya Dhafin tidak kurang suatu apa.
Tampak Pangeran Brian berdiri cepat dari kursinya. Lalu melangkah dengan cepat. Kemudian melompat dengan indah dari panggung singgasana. Lalu mendarat ringan tidak jauh dari anak tangga pertama. Dari adegan itu Pangeran Brian jelas punya isi.
Kemudian dia melangkah lagi dengan cepat menyusul Dhafin yang sudah melangkah menghampiri Pendeta Noman yang masih menggendong tubuh Pangeran Adrian yang kepayahan, meski pangeran itu tidak sampai pingsan.
Begitu Dhafin sampai di depan Pendeta Noman yang disusul Pangeran Brian, Pangeran Adrian yang tadinya wajah angkuhnya sudah kembali biasa, bahkan kepayahan, begitu melihat Dhafin langsung kembali beringas sambil mendelik. Tapi dia tidak bisa apa-apa, karena tubuhnya lemas.
"Tuan Pendeta! Tolong berikan dua pil obat ini kepada Pangeran agar kondisinya kembali normal!" pinta Dhafin sambil mengajukan telapak tangan kanannya yang berisi dua pil obat.
"Aku tidak butuh kasihan darimu!" dengus Pangeran Adrian tapi bernada lemah. "Apa kamu pikir tabib istana tidak bisa menyembuhkan lukaku?"
"Pangeran..., Pangeran," kata Pangeran Brian menyesalkan ucapan kakak seayahnya itu dengan nada kesal. "Sudah syukur Saudara Dhafin ini tidak membuatmu mati seketika. Kamu itu mau ditolong masih juga tidak bersyukur, malah masih membencinya."
"Tuan Pendeta," kata Dhafin lagi menerangkan tanpa menggubris penolakan kasar Pangeran Adrian. "Kalau Pangeran tidak meminum salah satu obat yang saya berikan ini selama satu kali penanakan nasi, dia akan lumpuh selama tiga bulan. Setelah itu seluruh ilmu bela diri serta tenaga saktinya hilang."
Sebenarnya Pangeran Adrian terkejut bukan main mendengar ucapan Dhafin itu. Dia tadi merasakan ada hawa aneh yang amat dingin keluar dari telapak tangan Dhafin. Lalu hawa aneh itu menjalar cepat ke seluruh tubuhnya melalui kedua telapak tangannya. Dan berakhir pada kedua kakinya yang hingga kini masih terasa dingin.
"Huh! Kamu pikir aku percaya ucapan murahanmu?" dengus Pangeran Adrian masih berlagak gengsi. "Bualanmu itu tidak mempan buatku!"
"Sudahlah, Saudara Dhafin," kata Pangeran Brian sambil menoleh pada Dhafin. "Tidak usah bermurah hati kepada pangeran angkuh yang tidak tahu diri itu. Biarkanlah dia dengan nasib buruknya, agar membuatnya sadar nanti. Entah kalau mau sadar."
"Tidak bisa begitu, Pangeran," ucap Dhafin tidak menerima saran pangeran berpembawaan santai itu dengan santun. "Biar bagaimanapun Pangeran Adrian harus disembuhkan. Terserah mau diterima atau tidak."
"Cepatlah, Tuan Pendeta!" kata Dhafin beralih pada Pendeta Noman yang sudah menyandarkan Pangeran Adrian pada pangkuannya di lantai. "Pukulanku sudah bereaksi lagi. Tubuh pangeran sudah berubah dingin dan kedua kakinya semakin dingin dan ngilu."
Benar saja, sekujur tubuh Pangeran Adrian seketika dingin. Dan pangeran angkuh itu merasakan kedua kakinya hingga paha semakin dingin dan ngilu. Segera Pendeta Noman mengambil kedua pil yang masih di tangan Dhafin, lalu memasukkan paksa ke dalam mulut sang pangeran.
Tampak Pangeran Adrian hendak menyemburkan kedua pil itu dari dalam mulutnya. Namun Pendeta Noman cepat membekap mulutnya dengan telapak tangan kiri. Sedangkan tangan kanan mengurut leher pangeran angkuh itu hingga kedua pil obat tertelan dengan terpaksa.
★☆★☆
Rupanya kedua pil obat itu cepat sekali bereaksi. Tidak beberapa lama sekujur tubuh Pangeran Adrian kembali normal berikut kedua kakinya yang kini sudah bisa digerakkan.
Setelah itu seketika dia berdiri angkuh seraya mata sombongnya menatap nyalang ke sekelilingnya. Tapi dia sudah tidak melihat lagi keberadaan Dhafin. Adiknya juga tidak ada di Balairung Istana.
"Pangeran! Kembali ke kursimu!" perintah Raja Darian saat melihat gelagat Pangeran Adrian hendak menyusul keluar.
"Bocah Rendah itu menipuku, Ayahanda Yang Mulia," Pangeran Adrian mau mengelak. "Dan juga Brian sepertinya berpihak padanya."
"Dia tidak menipumu, Pangeran," kata Pendeta Noman meluruskan. "Apa yang Dhafin ucapkan itu benar."
"Aku tidak percaya, Paman," bantah Pangeran Adrian masih tidak terima. Dia merasa Dhafin telah menipunya. "Buktinya aku baik-baik saja."
"Itu karena obat yang kamu minum tadi," Pendeta Noman masih sabar menerangkan.
"Huh, cuma obat murahan!" dengusnya masih keras kepala.
"Pangeran Adrian! Kembali ke kursimu!" perintah Raja Darian lagi saat melihat Pangeran Adrian seperti tidak mengindahkan perintahnya.
Pangeran yang hendak melangkah keluar tidak jadi karena perintah ayahnya. Dilihatnya Raja Darian yang kini berwajah serius. Mau tidak mau dia turuti juga perintah sang ayah, kembali ke kursinya dengan hati yang geram. Geram atas perbuatan Dhafin yang seperti sudah menghinanya. Geram terhadap Pangeran Brian yang tiba-tiba berpihak pada Dhafin.
Sementara itu Pendeta Noman menlangkah ke tempat di mana lantai ubin retak. Diperhatikan lantai di sekitar situ tampak basah bagai berembun. Tampak raut wajahnya seperti memikirkan sesuatu. Kemudian dia kembali ke kursinya.
★☆★☆
Dhafin dan Pangeran Brian sudah cukup jauh dari Gedung Balairung Istana, tapi masih di areal Istana Kerajaan. Tampak mereka tengah berjalan beriringan sambil ngobrol.
"Kenapa kamu menarikku keluar?" tanya Brian tidak tersinggung, tapi cukup heran.
"Pangeran Adrian tidak lama akan segera sadar," sahut Dhafin menjelaskan. "Aku khawatir setelah siuman dia akan menyerangmu juga. Aku lihat tadi matanya menyorot tajam kepadamu saat kamu mengatainya."
"Pangeran angkuh itu tidak usah dipikirkan," kata Pangeran Brian bernada santai. "Akan sia-sia waktu kita kalau memikirkannya. Aku yakin dia pasti tidak terima pemberian bantuanmu tadi, bahkan merasa terhina. Sebenarnya aku lebih senang kamu tidak menolongnya tadi."
"Hal itu aku sudah pikirkan, Pangeran," kata Dhafin bijaksana. "Aku sudah bisa membaca tabiatnya. Tapi aku seorang tabib yang tidak bisa membiarkan orang sakit atau terluka. Sepanjang aku bisa menolong, aku akan tetap menolong, meskipun itu seorang musuh."
"Kamu seorang tabib, Saudara Dhafin?" tanya Pangeran Brian cukup dibuat heran dan sedikit merasa aneh sekaligus takjub.
Belum pernah dia mendengar seorang tabib dari kalangan anak kecil. Yang dia tahu tabib itu biasanya dari kalangan orang dewasa atau orang tua. Mendengar Dhafin mengaku sebagai tabib membuatnya heran. Juga merasa takjub kepada Dhafin dan semakin menambah kekagumannya terhadap seorang Dhafin.
"Tidak usah merasa heran dan takjub padaku, Pangeran," kata Dhafin tahu apa yang dipikirkan Pangeran Brian.
"Maaf, tunggu sebentar," kata Pangeran Brian menyela sebentar ucapan Dhafin. "Namaku Brian, Brian Darel. Tapi cukup kamu panggil Brian atau Darel. Tidak usah pakai pangeran. Karena bagiku gelar pangeran tidak ada gunanya."
"Tapi kamu tetaplah seorang pangeran, Pangeran Brian."
"Kebetulan aku ditakdirkan terlahir sebagai anak seorang raja yang disebut pangeran," desah Pangeran Brian mengungkapkan keluh kesahnya. "Seharusnya dengan gelar pangeran aku bisa mendapat kawan baik yang banyak. Tapi nyatanya.... Ah sudahlah...."
"Silahkan lanjutkan ucapanmu yang tadi terputus, Dha.... Boleh aku memanggilmu Dhafin saja? Maksudku biar keakraban di antara kita lebih sempurna."
"Tidak masalah, Brian," ucap Dhafin seraya tersenyum tulus.
"Hahaha...," Pangeran Brian langsung tertawa senang. Lalu dia meminta Dhafin melanjutkan ucapannya.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, Brian," kata Dhafin bernada bijak. "Jika takdir langit sudah menentukan, tidak ada yang bisa menentangnya. Meski hal itu tidak lumrah di kalangan keumuman manusia."
"Ya, betul, aku setuju dengan ucapanmu," tanggap Brian sependapat. "Lagi pula, kepandaian dan kehebatan tidak melulu diukur berdasarkan usia seseorang. Aku pernah mendengar Guru Noman berkata seperti itu."
Dhafin tersenyum mendengar ucapan Brian yang pertengahan. Dia pernah mendengar kalimat itu diucapkan oleh seseorang yang amat baik padanya, Pelayan Galina. Entah bagaimana kabar pelayan baik hati itu?
"Aku ingin membahas sesuatu padamu, Dhafin," kata Pangeran Brian selanjutnya.
"Membahas apa?"
"Tiga jurus yang kamu ajukan pada Pangeran Adrian, itu cuma taktik kamu 'kan?"
"Jelaskan pertanyaanmu itu!"
"Pada jurus pertama sebenarnya kamu sudah bisa mengalahkannya. Cuma, tampak kamu seperti kewalahan, padahal sesungguhnya kamu mempelajari inti pokok semua jurusnya dan pola serangannya. Betul 'kan?"
"Aku tidak menyangka kamu jeli juga dalam mengamati," kata Dhafin memuji seraya tersenyum. "Kalau begitu aku tidak boleh meremehkanmu."
"Hahaha...!"
Brian langsung tertawa mendenar kalimat terakhir Dhafin. Dan mereka terus saja berbincang-bincang sambil berjalan. Tapi entah sadar atau tidak mereka malah berjalan menuju ke arah Istana Kristal Biru, kediaman Permaisuri Chalinda Davira.
★☆★☆
Begitu kedua anak yang sudah cukup akrab itu berjalan sudah mencapai halaman kediaman yang amat megah itu, para prajurit yang menjaga halaman depan kediaman itu langsung menunduk hormat pada mereka. Tepatnya kepada Pangeran Brian.
Seketika Brian berhenti melangkah dan dikuti Dhafin yang terkejut, kenapa tiba-tiba berhenti.
"Kenapa kita bisa sampai di sini?" gumam Brian seakan bertanya pada diri sendiri.
"Memangnya kenapa kalau kita sampai disini?" tanya Dhafin heran. "Apa tempat ini berbahaya?"
Belum sempat Brian menjawab pertanyaan Dhafin, tiba-tiba pintu Istana Kristal Biru yang cukup besar itu terbuka lebar. Tak lama pintu besar itu terbuka, muncullah lima orang wanita cantik yang langsung segera melangkah sambil bercakap-cakap.
Tiga di antaranya adalah Permaisuri Chalinda Davira dan Nyonya Carrisa. Sedangkan yang satu berseragam perwira tinggi, yaitu Pengawal Permaisuri.
Dua wanita cantik yang lain yang berjalan di belakang, tepatnya gadis kecil masih berusia di bawah sepuluh. Mereka tidak lain adalah Nona Ariesha Divya, putri Nyonya Carrisa, dan putri ke dua Permaisuri Chalinda yang bernama Putri Faniza Elvira.
Begitu sudah dekat dengan kedua anak itu, kelima wanita itu segera berhenti. Dan terhenti pula percakapan mereka dengan pasangannya.
"Pangeran Brian," sapa Permaisuri Chalinda seraya tersenyum hangat. "Tumben hari ini ke sini? Kesasar apa sengaja mengantar Pangeran Tampan di sampingmu itu?"
Pangeran Brian sedikit salah tingkah dibuatnya. Tapi cepat-cepat menguasai diri dan bersikap santai. Lalu dia menoleh pada Dhafin dan berkata, "ini...."
"Itu keponakanku, Permaisuri," kata Nyonya Carrisa sambil tersenyum seolah memotong ucapan Brian. Nyonya Carrisa memang sudah menganggap Dhafin sebagai keponakannya. "Namanya Tuan Muda Dhafin."
"Berarti ini keponakanmu yang kamu ceritakan itu, Carrisa?" duga Permaisuri Chalinda sambil memandang Nyonya Carrisa dan Dhafin bergantian.
"Benar, Permaisuri."
Begitu menyadari kalau wanita cantik yang bersama wanita yang sudah dianggapnya bibi itu adalah permaisuri, Dhafin langsung menyembah takzim, lalu mengucap salam.
"Kesejahteraan dan keselamatan atas Yang Mulia Permaisuri."
"Tuan Muda Dhafin, tidak usah melakukan penghormatan berlebihan begitu," tegur Permaisuri Chalinda yang memang tidak suka dihormati berlebihan begitu sambil tersenyum lembut. "Aku dan bibimu adalah teman baik. Jadi, tidak usah terlalu resmi begitu."
Lalu Permaisuri dan Nyonya Carrisa saling memperkenalkan Brian dan Dhafin dengan Putri Faniza dan Nona Ariesha.
Saat Dhafin memandang Putri Faniza, dia tersenyum ramah seraya menundukkan kepala sedikit, memberi penghormatan kecil.
Sedangkan yang dipandang langsung terkesan akan semua yang ada Dhafin. Kesopanan, ketampanan, senyumnya yang menawan, dan.... Beberapa saat seperti dia terkesima. Tapi buru-buru dia langsung merubah sikap menjadi putri yang anggun lemah lembut nan elegan. Tak lupa membalas senyum Dhafin.
Sementara Ariesha menapilkan sikap anggun penuh elegan pada Brian seraya tersenyum sopan. Namun dalam hatinya tak ada getaran melihat ketampanan pangeran itu.
Sedang Brian begitu agak lama menatap Ariesha, seketika timbul suka dalam lubuk hatinya. Namun seketika itu juga wajahnya tampak menegang seperti menahan sesuatu yang terasa sakit.
Orang lain melihat Brian seakan terkesima akan kecantikan Nona Ariesha. Tapi Dhafin langsung melihat kalau terjadi sesuatu pada Brian.
Perkenalan itu tidak terlalu lama. Kemudian Nyonya Carrisa pamit hendak pulang.
"Aku berharap bisa bertemu lagi denganmu," kata Brian sambil menjabat tangan Dhafin penuh persahabatan.
"Kita pasti bertemu lagi," sambut Dhafin tersenyum hangat.
Lalu Dhafin berajak pergi menyusul Nyonya Carrisa dan Nona Ariesha yang sudah melangkah pergi. Disaksikan oleh Brian yang terus menatap kepergian Dhafin. Begitu beralih menatap Ariesha, kembali dia merasakan kesakitan di dadanya.
Sedangkan Putri Faniza juga terus menatap kepergian Dhafin sambil senyum-senyum. sebelum menyusul Permaisuri masuk bersama pengawalnya.
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Ulun Jhava
jgn lebay deh dafin klu menolak diobati ya sudah biarkan sj ngaapain bersikap seolah2 malaikat penuh drama sekali
2024-06-09
1
Aki Lama
cerita ini bukan dari Nusantara ya klo melihat nama tokoh yg kelihatan asing
2023-08-04
2
Harman LokeST
up up up up up up up up up ⭐⭐⭐⭐⭐
2022-09-17
2