Hari ini sudah hari ke tiga. Pengiriman sepuluh anak perempuan malang itu ke pelabuhan untuk diperdagangkan tinggal sebentar lagi. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 6. Berarti tinggal 4 jam lagi kesepuluh anak perempuan itu akan segera dikirim. Sementara Dhafin maupun Ariesha belum menemukan solusi untuk mengatasi hal ini.
Kini kedua anak itu tengah duduk menikmati makan malam di kedai di penginapan mereka. Selagi asyik-asyik makan, Ariesha iseng mengangkat kepalanya. Tanpa sengaja dia melihat lima orang pelanggan lelaki yang baru masuk kedai. Dia terus menatap kelima orang itu hingga mereka duduk mengelilingi meja makan di sudut sebelah kanan kedai.
Dhafin yang melihat kelakuan Ariesha yang agak aneh itu lantas menatapnya heran. Lalu ikut memandang ke mana gadis kecil nan cantik itu memandang. Terus bertanya.
"Ada apa dengan orang-orang itu, Ariesha? Kenapa kamu terus memandangi mereka?"
"Kakak lihat bapak yang berbaju coklat gelap itu?" malah Ariesha bertanya seraya terus menatap orang yang dimaksud.
Dhafin kembali beralih memandang ke arah lima tamu yang baru masuk itu lalu menatap lelaki berumur 33 tahun itu. Cukup lama dia menatapnya, lalu beralih menatap Ariesha. Dhafin sedikit merasa aneh dengan penglihatannya ini. Wajah lelaki tampan itu dengan Ariesha cukup mirip. Tapi dia tidak mau menduga macam-macam dulu.
"Apakah bapak itu yang pernah menemuimu?" tanya Dhafin menduga.
"Ya, dialah orangnya," sahut Ariesha. Lalu kembali menyantap hidangannya.
"Kamu masih ingat namanya?"
"Dia menyebutkan namanya Felix Damian."
"Kita habiskan hidangan dulu, baru kita ketemu mereka," kata Dhafin memutuskan.
Setelah Dhafin dan Ariesha menghabiskan makannya, mereka segera menghampiri meja kelima pelanggan yang baru masuk tadi. Sedangkan kelima lelaki yang lagi asyik bersantap sambil ngobrol itu, begitu menyadari kehadiran dua bocah itu mereka serentak berhenti.
Sebelum salah seorang dari mereka ada yang berkata, Dhafin langsung bertanya dengan penuh kesopanan dan tata krama.
"Maaf, Tuan-tuan, saya mencari seseorang yang bernama Tuan Felix Damian. Adakah yang bisa menunjukkan kepada saya tuan tersebut?"
Kelima lelaki tersebut tidak langsung menjawab atau setidaknya menanggapi pertanyaan Dhafin itu. Mereka masih saja memandang Dhafin dan Ariesha bergantian. Lalu mereka saling menatap dengan keheranan. Ada apa bocah ini mencari Jenderal Felix, Pejabat Penyelidikan Rahasia Kerajaan?
Sedangkan lelaki yang Ariesha duga bernama Felix Damian, memandang Dhafin cuma beberapa saat. Sepasang matanya yang tajam kini menatap Ariesha begitu lama. Sementara Ariesha cuma memandang lelaki itu sesaat, lalu kepalanya tertunduk.
"Saya orang yang kamu cari, Nak," kata Jenderal Felix setelah terdiam cukup lama. "Maaf, kamu siapa? Ada perlu apa mencari saya?"
"Nama saya Dhafin," Dhafin memperkenalkan siapa mereka. "Dan ini adik saya bernama Ariesha."
"Adapun urusan saya mencari tuan," lanjutnya, "tidak bisa saya bicarakan di tempat umum begini. Mohon tuan ikut dengan saya ke kamar saya di atas."
"Hei, Bocah!" seru salah seorang teman Jenderal Felix agak jengkel. "Kamu tidak tahu kalau kami sedang membicarakan masalah penting di sini. Sebaiknya kalian pergi dari sini, jangan ganggu kami!"
"Ya, sudah, saya ikut denganmu," putus Jenderal Felix seolah mengabaikan hardikan temannya.
"Jenderal Felix!" kata orang yang tadi menegur. "Kamu mengabaikan pembicaraan penting kita demi meladeni dua bocah ingusan ini?"
"Aku memang ada urusan yang lebih penting dengan mereka," kata Jenderal Felix seraya berdiri. "Aku tinggal sebentar ya."
"Ayo, Nak."
★☆★☆
"Kamu sudah bersedia ikut dengan saya, Nak?" tanya Jenderal Felix langsung kepada Ariesha saat mereka sudah ada di kamar Dhafin. Dia duduk di kursi dekat tempat tidur.
Ariesha tidak menjawab. Dia malah menata Dhafin yang duduk di sampingnya di tepi tempat tidurnya dengan wajah bingung. Maka Dhafin segera menyanggah ucapan Jenderal Felix itu dengan berkata sopan.
"Maaf, Tuan Felix, bukan untuk masalah itu saya mengajak tuan berbicara secara pribadi begini."
"Oh, lantas masalah apa, Dhafin?" tanya Jenderal Felix sedikit agak kecewa. "Saya kira kamu sudah meyakinkan Ariesha untuk ikut dengan saya ke kotaraja. Dia masih meragukan saya kalau saya memang benar-benar pejabat istana."
"Untuk masalah itu kita akan bicarakan nanti, Tuan Felix," kata Dhafin memberi harapan agar Jenderal Felix tidak kecewa. "Kita selesaikan dulu masalah penting ini, karena waktunya tinggal sedikit."
"Coba katakan masalah apa itu, Dhafin!"
"Ini menyangkut masalah perdagangan manusia seperti yang tuan sedang bicarakan tadi dengan rekan-rekan tuan." Dhafin memang sempat mendengar perbincangan Jenderal Felix dengan keempat rekannya tadi.
"Kamu tahu dimana markas mereka, Nak?" tanya Jenderal Felix heran sekaligus penasaran.
"Bukan hanya tahu, Tuan Felix, tapi saya tahu juga siapa juragan perdagangan manusia di kota ini."
"Coba ceritakan apa yang kamu ketahui!"
"Maaf, sebelumnya saya ingin memastikan dulu kalau tuan benar-benar pejabat istana," kata Dhafin tidak lantas memberikan informasi yang dia ketahui begitu saja yang membuat Jenderal Felix makin penasaran.
Jenderal Felix segera mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Benda itu berupa kartu plat dari logam berwarna merah. Di kartu plat itu tampak tiga baris tulisan tertera di dalamnya. Lantas kartu itu diberikannya kepada Dhafin yang duduk dekat jangkauan tangannya.
Dhafin segera membaca tulisan di dalam kartu plat itu setelah menerimanya dari Jenderal Felix. Ariesha yang cuma diam saja ikut membaca juga. Di kartu itu tertera identitas Jenderal Felix yang memang bernama Jenderal Felix Damian, Pejabat Penyelidik Rahasia Istana Kerajaan Amerta.
"Itu lencana identitas saya," terang Jenderal Felix. "Lencana seperti itu cuma khusus diberikan kepada pejabat istana."
Kemudian Dhafin menceritakan kejadian yang dia alami tiga malam yang lalu setelah menyerahkan kembali lencana identitas Jenderal Felix, di mana pada kejadian itu tanpa sengaja dia menemukan markas penyimpanan 'barang' yang akan dikirim ke kapal untuk dijual. Termasuk Dhafin memberitahukan keterlibatan Pejabat Kota dan Kepala Keamanan Kota.
"Kami memang sudah lama menyelidiki kasus ini," kata Jenderal Felix setelah Dhafin selesai berbicara panjang lebar tanpa diinterupsi. "Tapi belum berhasil menemukan markas para pedagang kotor itu. Karena mereka selalu berpindah-pindah. Tak disangka kamu menemukan markas mereka."
"Saya memang sudah mencurigai keterlibatan Pejabat Kota Pendar dalam perdagangan kotor ini," lanjutnya, "tapi belum menemukan bukti kuat untuk menangkapnya."
"Kalau begitu sebaiknya kita segera bergerak cepat sebelum barang bukti dikirim ke kapal," kata Dhafin mengusulkan.
"Kamu masih mengingat letak markas mereka 'kan?" tanya Jenderal Felix ingin memastikan.
"Masih, Tuan," sahut Dhafin mantap.
"Baiklah, ayo!"
Jenderal Felix segera berdiri hendak meninggalkan kamar. Dhafin juga berdiri yang diikuti oleh Ariesha. Lalu Dhafin menoleh menghadap Ariesha yang juga menghadapnya dan menatapnya dengan miris.
"Kak, aku takut," ucap Ariesha bernada sedih campur risau.
Dhafin memegang pundak Ariesha, lalu mengecup lembut kening gadis itu dengan penuh kasih sayang. Jenderal Felix yang sudah sampai di pintu melihat hal itu tersenyum haru.
"Kamu tenang saja di sini," kata Dhafin lembut, "tidak usah takut ya."
"Aku takut kakak kenapa-napa," Ariesha lantas memeluk Dhafin dengan erat. Hatinya begitu khawatir akan keselamatan Dhafin. Soalnya yang dihadapi sekarang bukan lagi berandalan pasar, tapi para penjahat yang berhati kejam.
"Percayalah, kakak tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir."
Setelah Dhafin meyakinkan Ariesha kalau dia akan baik-baik, barulah Ariesha bisa tenang. Dan Dhafin meninggalkannya dengan tenang pula.
★☆★☆
Seekor kuda dipacu oleh pengendaranya cukup kencang, membelah gelapnya malam, menerobos dinginnya cuaca. Kurang lebih satu mil lagi pengendara itu sampai ke markas para pedagang 'barang terlarang' itu.
Selagi asyik-asyik berlari, seketika kuda itu meringkik aneh bagai kesakitan. Larinya langsung kacau membuat seorang lelaki pengendaranya terkejut heran. Tak lama kuda itu langsung ambruk. Sedangkan si pengendara lantas melenting ke udara dengan cepat. Kemudian mendarat di tanah agak sedikit limbung.
"Keparat!" makinya setelah memperhatikan kudanya yang telah terbaring mati akibat tertancap belati di leher kirinya. "Siapa yang berani bermain-main denganku?"
"Aku!"
Sebuah suara mengejutkan datang dari belakang lelaki itu, membuatnya tercekat bukan main. Dengan cepat dia membalikkan badan menatap orang yang datang dengan mengejutkan itu. Belum sempat dia melihat baik-baik muka orang yang mengejutkannya itu, seketika muncul lagi dua sosok bayangan dari kegelapan malam dengan berkelebat cepat. Lalu dua sosok bayangan itu tahu-tahu sudah berdiri di kiri kanannya agak ke belakang. Kini posisi lelaki itu terkepung dari tiga jurusan.
"Siapa kalian?" bentaknya seraya mencabut pedang. "Jangan coba-coba bertingkah dengan Kepala Keamanan Kota!"
"Tangkap!"
Hardikan lelaki yang ternyata Kapten Darius itu tidak digubris. Orang yang pertama muncul langsung memerintahkan penangkapan tanpa basa-basi. Belum hilang bunyi suara memerintah itu, dua orang yang berdiri di kanan kiri Kapten Darius langsung menyerangnya dengan cepat. Menyusul orang yang memerintahkan tadi.
Sepertinya penangkapan terhadap Kapten Darius ingin sesegera mungkin terlaksana. Tiga orang yang merupakan anggota Pasukan Penyelidikan Rahasia langsung maju sekaligus.
Perlu diketahui bahwa semua anggota Pasukan Penyelidikan Rahasia adalah salah satu kelompok pasukan elit yang dimiliki oleh Kerajaan Amerta. Semua anggotanya merupakan prajurit pilihan yang kehebatannya tidak diragukan lagi.
Sehingga melawan satu orang saja sudah amat merepotkan. Apalagi sekaligus tiga orang yang maju. Meskipun Kapten Darius juga mempunyai kehebatan yang tinggi, tetap tidak bisa berdaya menghadapi mereka. Sehingga tidak sampai sepeminum teh Kapten Darius sudah terkapar tidak sadarkan diri.
★☆★☆
Sementara itu pula, di markas para pedagang....
Enam orang lelaki dewasa tampak sibuk mengemas 'barang' mereka. Kesepuluh anak itu dimasukkan ke dalam sepuluh peti cukup besar yang sudah siap di atas dua kereta barang yang cukup besar. Masing-masing kereta barang itu memiliki roda berjumlah empat. Dan kuda yang menariknya dua ekor. Adapun jumlah peti wadah anak-anak itu, kereta depan empat peti, sedangkan belakang enam peti. Masing-masing kesepuluh peti itu terdapat lubang di kedua sisinya.
"Ke mana ini Kapten Darius?" kata lelaki brewok bernada gemas ketika sudah agak lama selesai mengemas 'barang'. "Barang sudah mau dikirim dia belum juga datang!"
"Mungkin lagi memeriksa pakaian dalam wanita simpanannya dulu, Boss," celetuk salah seorang anak buahnya sambil tersenyum menyeringai.
Lelaki brewok yang dipanggil boss tidak menanggapi ucapan iseng anak buahnya itu. Dia terus saja berjalan mondar-mandir di samping kereta penumpang. Anak buahnya tampak sudah siap berangkat. Tapi Kapten Darius tidak juga kunjung datang. Ya jelas tidak akan pernah datang karena sudah diringkus Pasukan Penyelidikan Rahasia.
"Yang kalian tunggu tidak akan pernah datang."
Tiba-tiba terdengar sebuah suara orang berkata. Suaranya tidak keras tapi bernada dingin, membuat enam penjahat itu langsung terkejut bukan main. Serta merta mereka langsung menoleh ke samping kanan rumah di mana suara itu berasal. Hampir bersamaan keluar dari situ Jenderal Felix dan Dhafin.
Tidak ada yang komando, lima orang anak buah si brewok langsung bersiaga satu. Senjata berupa pedang langsung mereka hunus. Tinggal tunggu perintah boss.
"Siapa kalian?" bentak sang boss saat Jenderal Felix Damian sudah berada cukup dekat dengan sang boss.
"Tidak usah bentak-bentak," kata seseorang lagi bernada santai. Dia muncul di samping kiri rumah dan langsung mendekati enam penjahat itu. "Nanti tenagamu berkurang saat bertarung nanti."
"Keparat! Serang!!!"
Enam pedagang manusia itu, tanpa mau basa-basi lagi langsung menyerang tiga orang yang baru datang itu. Lelaki yang muncul di samping kiri rumah langsung menyambut serangan tiga orang penjahat itu setelah mencabut pedangnya. Sedangkan Jenderal Felix, setelah menyuruh Dhafin mundur, dia langsung menyambut serangan sang boss dan dua anak buahnya.
Namun belum juga lama pertarungan berlangsung, tiga anggota Pasukan Penyelidik Rahasia telah muncul. Dan tanpa banyak bicara mereka langsung terjun ke kanca pertarungan tanpa kesulitan memilih lawan.
Sementara Dhafin, setelah memperhatikan agak lama jalannya pertarungan, dia segera menaiki kereta barang bagian depan. Terus membuka penutup bagian atas keempat peti yang ada di situ. Maka muncullah empat gadis berusia belasan tahun. Mulut dan tangan mereka terikat oleh kain. Air mata mereka tampak berderai.
Dengan cepat Dhafin membuka kain yang menutup mulut salah seorang gadis kecil yang terdekat, lalu membuka kain yang mengikat tangannya. Setelah menyuruhnya melepas ikatan pada tiga temannya yang lain, Dhafin langsung melompat ke kereta barang yang satunya. Dan melakukan hal yang sama seperti kereta barang yang tadi.
Setelah kesepuluh gadis kecil itu terbebas dari penderitaan, Dhafin memasukkan mereka kembali ke dalam rumah yang ternyata belum dikunci. Lalu Dhafin membujuk mereka agar tenang dan tak usah menangis lagi. Mereka kini sudah aman, sudah ada penjahat istana yang menolong mereka. Dhafin terus membujuk mereka hingga bisa tenang meski masih agak takut.
Sementara itu di halaman depan rumah pertarungan masih berlangsung. Namun sepertinya tidak akan lama lagi berakhir. Meski keenam penjahat itu memiliki kehebatan di atas rata-rata, tapi yang mereka hadapi adalah Pasukan Penyelidikan Rahasia. Apalagi jenderalnya ikut turun tangan.
Tampak keenam penjahat itu sudah mulai terdesak hebat. Tinggal menunggu saat saja mereka tumbang satu demi satu. Dan benar saja, tidak lama kemudian keenam penjahat itu langsung terkapar tidak berdaya.
★☆★☆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Purwanto aza
lanjut thoe 👍👍👍
2023-11-15
2
Diah Susanti
pejabat istana thor
2023-08-16
1
Sri Bayoe
lanjuttt
2023-04-11
0