Setelah bocah itu memasukkan obat penurun panas dan obat luka dalam ke dalam mulut sang juragan, barulah juragan itu dibaringkan kembali. Tentunya dibantu oleh si nyonya muda.
Sebelumnya si bocah cukup kesulitan juga memasukkan kedua obat pil itu ke dalam mulut sang juragan. Masalahnya kedua rahangnya seakan terkunci dan mulutnya terus terkatup, susah dibuka. Namun setelah bocah lelaki itu memberikan beberapa totokan di kedua pangkal rahangnya, barulah mulut juragan itu terbuka. Dan kedua pil obat itu dimasukkan oleh bocah itu.
Setelah dirasa pekerjaannya selesai, dan salah seorang pelayan memberikannya kursi, barulah bocah itu duduk dan berkata penuh kesopanan dan tata krama.
"Maaf, Nyonya, kalau tadi saya sempat mengabaikan Nyonya. Soalnya tadi saya sedikit panik. Masalahnya juragan harus cepat diberikan pertolongan. Saya takut nanti terlambat bisa mengakibatkan hal yang fatal."
"Ah, tidak mengapa, Nak," kata nyonya muda itu sambil tersenyum ramah. "Saya juga minta maaf, sempat meragukanmu tadi. Oh iya, sebenarnya suami saya sakit apa, Nak? Tadi sore tiba-tiba langsung lemas dan pingsan. Tiba-tiba badannya kaku dan tidak sadar hingga sekarang."
"Juragan sebenarnya terkena penyakit 'Kejang Kaku'. Penyakit ini diakibatkan oleh luka yang diderita juragan," jelas bocah itu. "Luka itu bukan luka biasa, Nyonya, meski kecil. Karena di dalam luka itu terkandung kuman berbahaya yang bisa menyebabkan kematian. Luka itu akibat dari goresan benda tajam yang mengandung karat. Nah di dalam karat itu terkandung kuman berbahaya."
"Suami saya bisa sembuh 'kan, Nak?" tanya nyonya muda itu amat berharap.
"Kita doakan saja, Nyonya, semoga juragan tidak apa-apa. Menurut pemerikasaan saya tadi juragan tidak sampai mengalami kritis. Apalagi lukanya itu belum ada setengah hari. Besar kemungkinan juragan bisa sembuh. Saya tadi memberikan obat dengan takaran tinggi. Hasilnya bisa dilihat dengan cepat."
Mendengar ucapan anak lelaki itu, nyonya muda sedikit banyak merasa lega. Meski dia tidak terlalu paham dengan penyakit yang disebut anak itu, tapi dia cukup besar menaruh harapan kalau anak itu bisa menyembuhkan suaminya. Kini dia tidak bertanya apa-apa lagi kepada anak itu. Dia mulai fokus lagi mengamati keadaan suaminya sembari berdoa semoga suaminya baik-baik saja.
Bersamaan dengan itu kesunyian langsung menyergap kamar ini. Hanya deru ombak lautan lamat-lamat terdengar. Sesekali bocah itu menengok ke luar jendela yang hanya didapati hamparan kegelapan. Lalu kembali mengamati keadaan sang juragan. Sementara dua pelayan tadi sudah sejak tadi duduk di tempatnya sambil terkantuk-kantuk.
Setelah beberapa saat berlalu, bocah lelaki itu memeriksa nadi juragan itu. Beberapa helaan nafas kemudian, tampak bibirnya yang agak kemerahan menarik senyum agak lebar. Senyum kepuasan atas hasil kerjanya sebagai tabib pertama kali. Apalagi langsung mengatasi penyakit yang berbahaya. Dan nyonya muda itu langsung memperhatikan senyum bocah itu.
"Bagaimana, Nak?" tanya nyonya muda itu penuh harap.
"Obat yang saya berikan tadi sudah bereaksi dengan baik," sahut bocah itu masih tersenyum. "Semoga juragan bisa lekas sembuh. Setidaknya bangun dari pingsannya."
"Oh ya, Nyonya, mungkin saya tinggal sebentar," kata bocah itu seraya bangkit dari kursinya. "Kalau ada apa-apa dengan juragan, cari saja saya di geladak kapal. Besok pagi saya kesini lagi untuk memberikan obat lagi."
"Ya, Nak, terimakasih. Eh, bayarannya bagaimana?"
"Nanti dulu, Nyonya. Saya 'kan kesini lagi besok pagi."
"Oh iya."
★☆★☆
Langit begitu cerah di pagi ini, nyaris tak ada awan yang bergantung. Matahari yang menyebarkan senyum hangat penuh kelembutan sudah menanjak ke cakrawala satu tombak. Sementara kapal besar itu terus saja melaju membelah lautan yang maha luas ini.
Sepanjang penglihatan hanya hamparan laut yang terlihat. Belum ada tanda-tanda kalau daratan bakal tampak. Entah kapan kapal besar ini tiba di daratan, sepertinya masih sangat lama.
Sementara itu, di sebuah kabin cukup luas dan mewah tampak seorang gadis kecil terbaring di tempat tidur. Wajahnya cantik tapi tampak pucat. Seperti mengidap suatu penyakit. Duduk di dekatnya di samping kiri tempat tidur seorang gadis kecil pula. Wajahnya juga cantik, sama cantik dengan gadis kecil yang terbaring itu tapi dengan rupa yang berbeda.
"Tahu tidak, Nona, tadi aku sempat mendengar kalau juragan yang kemarin terjatuh pingsang di geladak depan kini sudah sembuh," ungkap gadis kecil yang yang duduk di samping tempat tidur. Dia berpakaian ringkas lengan panjang agak ketat warna muda tua. Rambutnya yang panjang sepundak dikuncir bagai ekor kuda.
"Memang ada tabib di kapal ini, Kak Aliesha?" tanggap si nona kecil yang terbaring yang masih berpakaian tidur.
"Sepertinya begitu, Nona. Buktinya juragan kaya itu sembuh. Berarti ada tabib 'kan?" kata gadis kecil yang ternyata bernama Aliesha, lengkapnya Jessica Aliesha. Ucapan Aliesha ini tentu mengandung maksud.
"Apa kamu pikir penyakitku ini bisa disembuhkan oleh tabib itu?" tebak si nona kecil yang mengetahui maksud Aliesha.
"Nona Aneska. Apa salahnya kita coba. Janganlah putus asa," Alisha tetap memberi semangat nonanya itu.
"Hhh... entahlah. Sudah banyak tabib yang mencoba menyembuhkan penyakitku, tapi semuanya sia-sia," desah nona kecil yang ternyata bernama Aneska bernada masygul. Nama lengkapnya Lavina Aneska.
"Sekarang kamu tenang saja di sini. Aku akan mencari tabib itu dan mengajaknya ke sini."
"Tidak usah, Kak Aliesha," tolak Lavina Aneska. "Hasilnya pasti sama saja...."
Jessica Aliesha segera bangkit dari kursi dan berniat untuk mencari tabib itu meski Lavina Aneska tidak setuju. Sebelum dia beranjak pergi, dia menoleh dulu pada nonanya itu dan berkata, "aku akan berbuat apapun agar kamu sembuh. Makanya kamu harus semangat untuk sembuh."
"Kak Aliesha...."
Setelah memberitahukan kepada empat pelayan yang ada di kamar ini juga, Jessica Aliesha segera meninggalkan kamar ini yang diikuti oleh pandangan Aneska yang sebenarnya masih tidak setuju. Dia sudah hampir berputus asa kalau penyakitnya ini bakalan sembuh. Tabib yang terakhir mengobatinya hanya bisa menekan penyebaran racun di dalam tubuhnya dan menghilangkan rasa sakit yang dia derita. Belum bisa menyembuhkan penyakitnya yang katanya terbilang langka.
★☆★☆
Ternyata tidak susah bagi Aliesha mencari tabib yang telah menyembuhkan juragan kaya itu. Setelah menanyakan ciri-ciri si tabib, dia tidak menyangka kalau si tabib masih seorang bocah seusianya.
Setelah menemukan dimana bocah itu berada segera timbul keraguan di dalam hatinya apakah dia mampu menyembuhkan Putri Lavina Aneska?
Penyakit yang diderita juragan kaya dengan nonanya amat jauh berbeda. Penyakit juragan kaya bukan karena racun, sedangkan penyakit Aneska karena racun.
Cukup lama dia memikirkan hal itu sambil memandang si tabib yang ternyata berada di buritan. Bocah lelaki itu tampak tengah duduk mencangkung di atas bangku cukup lebar sambil memandang lautan luas. Tangan kirinya memegang bungkusan kue kering, sedangkan tangan kanannya menyuap kue itu ke mulutnya.
"Apa salahnya dicoba," gumamnya seolah memutuskan.
"Tapi alangkah baiknya aku jahili dulu anak ini," gumamnya sambil tersenyum aneh.
Segera dia mendekati bocah itu sambil melangkah pelan-pelan. Ilmu meringankan tubuhnya digunakan agar suara langkahnya tidak terdengar. Dia semakin percaya diri manakala si bocah belum menyadari kehadirannya. Apalagi posisi bocah itu membelakanginya.
Begitu dia sudah amat dekat di belakang bocah itu, langsung saja kedua tangan Alisha menyentak pundak bocah lelaki itu sambil berseru cukup keras, tapi sungguh mengagetkan.
"Hiyaaa...!"
"Huuuaaa...!"
Bocah itu langsung terkejut tidak tanggung-tanggung. Tubuhnya langsung jatuh dan terguling di geladak kapal. Sedangkan bungkusan kue di tangan kirinya dengan amat malang terlontar ke udara dan terus jatuh ke laut. Sungguh menyedihkan!
Sedangkan Aliesha dengan usahanya yang berhasil itu langsung tertawa terpingkal-pingkal bagai habis menonton lawakan. Sungguh menyebalkan!
Sementara si bocah yang tidak merasakan sakit yang berarti di tubuhnya segera bangun. Terus melangkah ke pinggir kapal dan menengok ke bawah, mana tahu kuenya tadi sempat terhenti di udara dan terus diambilnya kembali. Tapi kenyataannya kuenya itu, bayangannya pun sudah tak ada sama sekali.
Kemudian dia cepat menoleh ke Aliesha yang masih tertawa terbahak-bahak. Terus ditatapnya gadis itu dengan tajam dengan mimik wajah yang menguarkan kemarahan.
Tapi itu cuma beberapa saat saja. Setelah itu mimik wajah tampannya kembali seperti biasa, wajah yang penuh duka. Seolah dia tidak tersinggung dengan keusilan Alisha.
"Berhentilah tertawa, Nona, nanti kamu tersedak," ujar si bocah mengingatkan sambil melangkah mengambil tas besarnya yang disimpan di samping bangku yang diduduki tadi.
Mendengar suara bocah itu, seketika Aliesha langsung diam, berhenti tertawa. Sepasang matanya yang indah langsung menatap bocah itu dengan penuh keheranan. Siapa bocah ini? Diusili malah tidak menunjukkan ketersinggungan apalagi marah. Yang nyata-nyatanya perbuatannya tadi itu jelas membuat hati panas.
"Hei, tunggu!" cegatnya ketika bocah itu melangkah hendak meninggalkannya.
Bocah lelaki itu segera berhenti melangkah, tapi tidak menoleh. Terus menanggapi ucapan gadis kecil itu. Suaranya terdenar datar dan dingin. "Hati-hati dengan orang asing, Nona. Kita tidak saling kenal."
"Aku ada perlu denganmu," kata Aliesha sambil menghampiri bocah lelaki itu tanpa perduli dengan ucapan si bocah.
"Oh, ada perlu apa ya?" tanya bocah itu masih bernada datar, masih tanpa menoleh.
Bukannya menjawab pertanyaan orang, Aliesha langsung meraih pundak bocah itu, terus memutar badan si bocah agar menghadapnya. Lalu berucap dengan suara ketus, "kalau bicara dengan orang itu saling berhadapan, bukannya memunggungi, Bocah Tengik!"
"Katakan saja cepat, Nona, ada perlu apa?" suara si bocah masih terdengar dingin.
"Beberapa hari ini kepalaku sering pusing dan badanku lemas, sering mual, bahkan muntah-muntah," ungkap Alisha jelas berbohong. Tapi nadanya sudah agak lembut. "Bisakah kamu menyebutkan aku sakit apa dan menyembuhkannya?"
Bocah itu tidak langsung menanggapi keluhan ngawur Aliesha. Sejenak dia menatap wajah cantik Aliesha, tepatnya mengamati dengan teliti. Tapi ditatap sedemikian itu membuat Aliesha tercekat. Jantungnya berdebar cukup kencang. Ada desiran harus dirasakan di dalam hatinya.
"Ke... kenapa kamu malah menatapku?" ketus Aliesha tapi dengan agak salah tingkah. Wajahnya langsung melengos ke lain arah.
Lagi-lagi bocah itu tidak menanggapi. Dia malah meraih tangan kanan Aliesha, hendak memeriksa nadinya. Tapi ditanggapi lain oleh Alisha dan langsung menarik kasar tangannya itu.
"Kamu mau apa, Bocah Tengik?" berangnya bernada ketus sambil menatap tajam si bocah.
"Bisakah Nona tenang barang sejenak?" si bocah masih bersikap sabar atas tingkah gadis rusuh ini. "Saya hendak memeriksa nadi Nona demi kepastian atas keluhan yang Nona ajukan."
"Ya sudah, nih periksa!"
Dengan segera Aliesha menganjurkan tangan kanannya ke bocah itu. Terus tangan kiri si bocah meraihnya dan siap memeriksa nadinya. Tapi....
"Tangannya dibuat lemas saja, Nona, jangan dibuat kaku!"
Aliesha langsung mendelik mendengar ucapan dingin itu. Tapi dia mengikuti juga permintaan si bocah. Dan tak lama, bocah itu telah diam dalam memeriksa nadinya. Sedangkan Aliesha sempat melirik ke wajah tampan si bocah yang kebetulan tidak memandangnya.
Melihat wajah dingin tapi tenang itu membuat bibir manisnya menarik sedikit senyum. Entah apa arti senyum manis itu, dia sendiri yang tahu.
★☆★☆
"Bagaimana?" tanya Aliesha masih ketus setelah bocah itu selesai memeriksa nadinya.
"Keluhan Nona itu adalah gejala atau kondisi wanita yang positif hamil...."
"Apa...?"
Plaaak!!!
Terang saja Aliesha dibuat tercengang bukan main mendengar ucapan bocah itu. Entah sadar atau tidak telapak tangan kirinya terangkat dan langsung menampar pipi kanan si bocah dengan telak, keras dan pedas. Sehingga wajah tampan nan imut si bocah terputar ke kiri. Dan juga terjajar ke samping kiri satu langkah. Si bocah cuma mengeluh pelan, padahal tamparan itu pastilah sakit.
Menyadari tindakan brutalnya itu, Aliesha langsung menyesal. Tidak menyangka sampai bisa berbuat kelewat batas pada si bocah. Matanya langsung menatap sendu pada bocah lelaki itu.
Apalagi melihat di pipi kanan bocah itu telah tercetak jemari tangannya yang kecil. Dia baru sadar kalau dia punya ilmu bela diri yang tentu sudah memiliki tenaga dalam yang cukup kuat dan terlatih.
Dia tadi begitu kaget atas jawaban bocah itu. Sungguh tak disangka keluhan main-mainnya itu yang dia tidak tahu sama sekali, ternyata adalah kondisi wanita hamil. Padahal dia sendiri tidak hamil. Niatnya cuma mengetes tingkat ketabiban bocah lelaki itu. Sungguh kasihan.
"Saya belum selesai bicara, Nona," masih bersikap sabar bocah itu berbicara meski bernada dingin. "Kenapa sudah diberi upah?"
"Oh, ma... maaf, maaf, a...aku tidak sengaja menamparmu," ucap Aliesha terbatah-batah. "Soalnya tadi aku kaget atas jawabanmu. Sungguh, pertanyaanku tadi itu cuma main-main saja. Aku tidak hamil kok, sungguh."
"Nona memang tidak hamil, kenapa mesti panik?" kata si bocah. "Saya juga tahu tadi kalau pertanyaan Nona tadi itu cuma pertanyaan bohongan."
"Sudahlah, sekarang aku serius," kata Aliesha akhirnya mengutarakan maksud utamanya. "Nonaku sedang sakit, bisakah kamu menyembuhkannya?"
"Saya harus periksa dulu keadaannya, baru saya bisa memastikan apakah bisa menyembuhkan atau tidak."
"Ayo, aku antar kamu ke kamarnya," ajak Aliesha seraya meraih tangan kiri bocah itu, laku membawanya berjalan bersama.
"Saya bisa jalan sendiri, Nona, tidak perlu ditarik layaknya kambing," protes bocah itu.
"Alaaah, sudah, tidak usah bawel!"
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
abdillah musahwi
kejang kaku wah authornya ngerti bahasa lawas dari Tetanus👍
2024-11-07
2
Rykho Faiq
bru juga baca udh buat mua
k bacany.by
2023-09-13
2
Calon_MasaDepanMu:D
tetanus kan
2023-06-03
1