Tiga buah kereta melaju cukup kencang melintasi sebuah jalan berdebu yang cukup lebar di bawah terik matahari. Tiga buah kereta itu, dua kereta penumpang, sedangkan bagian belakang kereta barang. Di kiri kanan jalan adalah hamparan pepohonan yang tumbuh cukup rapat.
Tiga buah kereta itu ternyata dikawal oleh sepuluh orang yang berseragam tentara kerajaan. Lebih tepatnya sepuluh orang itu adalah pasukan Pengawal Khusus Putri Raja. Adapun posisi sepuluh Pengawal Khusus itu, tiga orang bagian depan kereta, dua orang di kiri kanan kereta bagian depan, dua orang di kiri kanan kereta bagian tengah, dan tiga orang di bagian belakang kereta barang.
Rombongan kereta itu tidak lain adalah rombongan Putri Lavina Aneska dan Nona Jessica Aliesha. Empat hari yang lalu rombongan itu bertolak dari Pelabuhan Pendar di Kerajaan Amerta. Saat ini mereka sudah memasuki wilayah Kerajaan Bentala. Dan baru tadi pagi mereka meninggalkan perbatasan.
Seharusnya rombongan itu dua hari yang lalu sudah memasuki wilayah kerajaan Raja Ghanim Altezza, ayahnya Putri Aneska. Namun karena mereka tidak melanjutkan perjalanan pada malam hari, maka baru sekarang mereka memasuki wilayah Kerajaan Bentala. Itupun masih dalam wilayah perbatasan sebelah selatan.
Ini adalah perjalanan terpanjang dan terlama pertama yang dilakukan oleh Putri Aneska dan Nona Aliesha yang suka pelesiran. Dan perjalanan laut yang pertama yang mereka alami. Namun takdir manusia memang tiada seorang pun yang bisa mengetahuinya. Siapa sangka dalam perjalanan berpelesiran ini, Putri Aneska bertemu tabib yang bisa menyembuhkan penyakitnya, tabib yang masih terbilang amat muda.
Sampai sekarang baik Aneska maupun Aliesha tidak habis pikir, kok ada seorang bocah baru berusia sepuluh tahun yang bisa menyembuhkan penyakit yang tabib terkenal, bahkan sudah tua saja tidak sanggup menyembuhkannya. Apakah Tabib Kecil adalah tabib ajaib? Belajar dimanakah sebenarnya bocah yang sudah berprilaku dewasa itu? Siapakah gurunya?
Jujur, dalam hati masing-masing mereka senang terhadap kepribadian Dhafin. Dengan sudut pandang mereka masing-masing tentunya. Namun mereka tidak berhasil menjadi teman bocah yang selalu bersikap dingin pada mereka berdua itu. Dan momen yang cukup menyakitkan bagi mereka ketika mereka akan berpisah dengan Dhafin.
Saat itu Pelayan Galina membujuk Dhafin dengan berbagai cara agar dia ikut dengan mereka. Tapi Dhafin menolaknya dengan sopan. Dan memberikan obat kebugaran yang fungsinya agar tenaga tetap prima. Juga memberikan obat kebugaran untuk wanita. Padahal itu adalah obat kecantikan. Di dalam wadahnya pula Dhafin menuliskan resep kecantikan.
Saat itu Aliesha juga membujuknya dengan gayanya yang suka memaksa, juga Aneska ikut andil membujuknya dengan gayanya sendiri. Tetapi Dhafin tetap menolaknya.
"Kenapakah kamu ini keras kepala hah?" delik Aliesha berang. "Apa alasanmu tidak mau ikut?"
"Aku tidak suka berjalan bersama gadis pemarah sepertimu," sahut Dhafin bernada dingin. "Dan juga tidak suka sama nonamu yang angkuh itu."
Lalu Dhafin berpamitan pada Pelayan Galina. Upah pengobatan Aneska sudah dibayar sang pelayan di kapal tadi. Sebelum beranjak pergi, Dhafin menatap Aneska sejenak sambil berkata dengan nada dingin.
"Tuan Putri Lavina Aneska, aku tidak pernah melihat tubuhmu yang terlarang. Aku hanya menyentuhnya dengan telapak tanganku dengan sangat terpaksa. Aku sudah mempertaruhkan nyawaku demi kesembuhanmu. Aku harap hal itu telah impas membayar kelancangan tanganku."
Lalu dia berbalik, terus melangkah dengan cepat. Tanpa menghiraukan ekspresi Aneska yang tersentuh dengan ucapannya. Namun baru empat langkah kakinya berjalan, Aliesha berseru.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi, Nona Aliesha?" tanya Dhafin masih dingin setelah berhenti.
"Baik. Kamu tidak mau ikut dengan kami tidak mengapa," kata Aliesha bernada lemah lembut, penuh pengharapan akan sesuatu pada Dhafin. "Tapi setidaknya sebutkan namamu. Siapa namamu?"
"Bocah Tengik," sahut Dhafin tanpa menoleh.
"Tikus Kecil...," kata Aneska dengan lembut, tidak lagi ketus dan angkuh. Nadanya bagai orang mau menangis. Mata indahnya sudah berkaca-kaca.
Sebenarnya dia hendak mengatakan sesuatu. Tapi Dhafin sudah memotongnya dengan cepat.
"Kamu juga cukup memanggilku dengan nama itu, Tuan Putri."
"Kalau suatu saat kami ingin bertemu denganmu," kata Aliesha tidak hanya lembut, tapi mengandung kesedihan, matanya juga sudah berkaca-kaca, "terus mencarimu. Tapi kami tidak tahu namamu. Bagaimana?"
"Aku tidak pernah berharap bertemu dengan kalian lagi," ungkap Dhafin masih tanpa menoleh, masih bernada dingin, "tidak pada diriku dan tidak pula pada takdirku."
Ucapan ini amat menyakitkan. Menyakitkan didengar di telinga kedua gadis kecil itu meski ucapan itu tidak keras. Lebih menyakitkan lagi terasa di lubuk hati mereka. Momen yang mereka harapkan tidak ingin ditolak, ketika ditolak rasanya sungguh menyakitkan. Sehingga Aneska tidak mampu lagi menahan deraian air matanya.
Kemudian Dhafin langsung pergi begitu saja dengan langkah cepat. Diiringi tatapan Aneska dan Aliesha yang mengandung kesedihan yang mendalam.
"Kenapa kamu pergi begitu saja, padahal aku belum mengucapkan terima kasih?" ucap Aneska lirih sambil terus menatap belakang Dhafin yang makin jauh. "Aku tidak lagi mempermasalahkan kalau kamu pernah menyentuh tubuhku. Tapi kenapa... kenapa kamu tidak mau berteman denganku? Kamu tahu, aku tidak suka ditolak...."
Lalu dia berlari masuk ke dalam kereta sambil menangis. Sedangkan Aliesha masih saja menatap kepergian Dhafin meski orangnya sudah hilang. Barulah air matanya tertumpah setelah Dhafin sudah pergi. Dia masih tidak mengerti kenapa dia sedih berpisah dengan Dhafin?
★☆★☆
Aliesha menatap secarik kertas di tangan kanannya. Itu adalah resep kecantikan yang diberikan Dhafin empat hari yang lalu. Lalu dia menengok Aneska yang tertidur sambil duduk di samping kanannya.
"Sepertinya resep kecantikan itu sebagai isyarat kalau Tabib Kecil ingin bertemu dengan Nona Aliesha dan Tuan Putri lagi," kata Pelayan Galina yang duduk di depannya seraya tersenyum.
Aliesha langsung beralih memandang Pelayan Galina yang menatapnya penuh kelembutan. Kemudian gadis kecil itu langsung tersenyum manis. Wajahnya tampak begitu bersemangat. Semangat akan mengusahakan sesuatu yang akan ditunjukkan pada Dhafin kelak.
Lalu Aliesha menyerahkan kertas resep itu kepada pelayan itu agar disimpan. Belum lama Pelayan Galina menyimpan kertas resep itu, seketika salah seorang Pengawal Khusus yang ada di depan berseru dengan keras.
"Berhenti...!"
Tak lama kereta yang ditumpangi Aliesha berhenti seketika. Dan sepertinya semua kereta berhenti. Beberapa saat kemudian terdengar lagi pengawal yang tadi berseru memberi perintah.
"Bersiaga! Lindungi kereta penumpang!"
Sriiing! Sriiing! Sriiing!
Belum lama seruan perintah tadi, Aliesha mendengar suara pedang dicabut dari sarangnya. Hampir bersamaan terdengar sedikit kegaduhan di luar kereta. Tentu saja Aliesha terkejut bukan main. Pelayan Galina pun demikian. Apakah yang terjadi di luar?
"Apa yang terjadi, Bibi?" tanyanya dengan nada tegang.
"Saya juga tidak tahu, Nona," sahut Pelayan Galina bernada bingung bercampur tegang.
Aliesha kemudian membangunkan Aneska yang masih tidur. Setelah terbangun dan mengucak-ngucak matanya, terus dia bertanya dengan suara agak parau.
"Ada apa, Kak?"
"Sepertinya ada kegaduhan di luar," kata Aliesha bagai berbisik.
Aneska segera mengintip dari balik tirai jendela, melihat keadaan di luar. Beberapa saat kemudian, dia segera menarik kepalanya sambil menutup cepat tirai jendela. Wajahnya tampak tegang dan pucat. Tampak aura ketakutan di wajah cantiknya.
"Kamu lihat apa?" tanya Aliesha penasaran.
"Ada perampok yang menghadang kereta," sahut Aneska. Suaranya bergetar bernada ketakutan.
Aliesha bertambah tegang. Namun Pelayan Galina segera membujuk mereka agar tetap tenang, dan tidak usah takut. Sebenarnya dia juga merasa takut akan situasi ini. Namun dia tetap tegar dan tetap meyakinkan pada kedua nona kecil itu bahwa tidak perlu khawatir.
★☆★☆
Sementara itu di luar kereta....
Sepuluh Pengawal Khusus itu sudah berposisi siaga tempur. Pedang mereka sudah terhunus. Sementara di depan dan di belakang kereta sudah berdiri tegak sekitar 12 orang yang mengenakan seragam dan topeng serba hitam. Enam di depan dan enam di belakang. Jarak mereka sekitar lima tombak dari para pengawal dengan posisi menghadang.
"Siapa kalian?" bentak pengawal paling depan sebelah tengah cukup keras. "Kenapa menghadang jalan kami?"
Bukannya menjawab, salah seorang yang menghadang bagian depan kereta seketika mengangkat tangan kirinya ke samping sejajar kepala, lalu disentak ke depan dengan cepat seraya berseru.
"Seraaang...!!!"
Setelah mendengar komando itu, 12 orang berseragam serba hitam itu langsung melesat dengan cepat meyerang para pengawal. Pedang-pedang mereka berkelebat siap menumpahkan darah.
Sedangkan 6 Pengawal Khusus yang memang sudah siap tempur, langsung menyambut serangan orang-orang serba hitam itu. Sementara 4 pengawal lain tetap menjaga dua kereta penumpang.
Tidak butuh waktu lama pertempuran cukup sengit di jalan berdebu langsung tercipta. Denting suara pedang yang saling beradu berbunyi cukup nyaring. Membuat hati tergiris, tengkuk bergidik. Membuat tiga pelayan muda yang berada di kereta kedua mengigil ketakutan. Tidak terkecuali tiga orang kusir yang wajahnya sudah pucat pasi.
Sementara Aliesha bukannya tidak ketakutan, tapi tetap berusaha untuk tegar meski wajahnya masih tegang. Sedangkan Aneska sudah gemetar ketakutan, tapi dia tidak menangis. Dia memeluk erat-erat Pelayan Galina yang terus menenangkannya.
Kehebatan enam pengawal itu cukup mengagumkan. Pantas saja mereka menjabat sebagai Pengawal Khusus Putri Raja. Menghadapi 12 orang bertopeng hitam mereka tidak gentar sama sekali. Meskipun orang-orang bertopeng itu memiliki jurus-jurus pedang yang aneh dan gerakan yang cepat, 6 pengawal itu masih dapat mengimbangi. Meski mereka belum bisa menumbangkan orang-orang bertopeng itu, tapi setidaknya mereka masih mampu mengimbangi kehebatan mereka.
Secara keilmuan masing-masing pihak berimbang. Namun secara jumlah di situlah kekalahan 6 pengawal itu. Sehingga baru sepenanakan nasi pertarungan berlangsung, orang-orang bertopeng itu sudah di atas angin. Sedikit demi sedikit enam pengawal itu mulai terdesak.
Dan tak lama kemudian, dua orang pengawal bersimbah darah tumbang ke tanah dengan nyawa terlepas. Kemudian menyusul dua lagi. Sedangkan dua pengawal yang tersisa semakin terdesak hebat.
★☆★☆
Namun di tengah keterdesakan dua pengawal itu, tiba-tiba muncul tiga sosok bayangan dengan gerakan amat cepat. Dua sosok bayangan langsung berkelebat ke arah enam orang bertopeng di bagian belakang kereta. Sedangkan sosok bayangan putih langsung menghajar enam orang bertopeng di bagian depan.
Sepertinya kemunculan tiga sosok bayangan itu tak dikira oleh orang-orang bertopeng. Sehingga pada gebrakan pertama mereka kecolongan.
Crasss! Crasss!
"Aaa....!"
"Aaakh...!"
Dua dari enam orang bertopeng bagian belakang langsung tersabet senjata pedang di leher masing-masing. Tubuh mereka segera tumbang ke tanah sambil menjerit tinggi dengan bersimbah darah.
Sedangkan di bagian depan....
Bughk! Kraaak!
Desss! Praaak!
Dughk! Kraaak!
"Aaa...!"
"Aaakh...!"
"Aaa...!"
Tiga orang bertopeng tanpa ampun terkena pukulan dan tendangan yang berisi tenaga dalam tinggi. Dua di antaranya terhantam dadanya hingga rengkah. Lalu terlontar cukup jauh ke belakang sambil menjerit tinggi, terus jatuh terjengkang. Yang seorang kepalanya pecah akibat tendangan keras. Lalu jatuh ke samping agak melintir sambil menjerit keras, terus jatuh dengan menyedihkan.
Sosok bayangan putih yang ternyata seorang lelaki tua umur 50-an tidak menghiraukan lagi tiga orang bertopeng yang meregang nyawa itu. Dia kembali bergerak cepat menyerang dua orang bertopeng lainnya.
Karena gerakan lelaki tua itu amat cepat, sulit bagi mereka melihatnya. Dan tah- tahu lelaki tua itu sudah ada di depan mereka. Saat mereka tersadar, tapi sudah terlambat. Telapak tangan kanan kiri lelaki tua itu yang terselubung sinar putih yang amat dingin langsung menghantam dada mereka dengan telak.
Dua orang itu langsung terlontar ke belakang. Hampir tidak sempat menjerit. Karena tubuh mereka langsung berubah beku bagai es. Begitu jatuh ke tanah langsung pecah berkeping-keping.
Sedangkan yang seorang, karena kawannya sudah tak ada lagi, dia hendak melarikan diri. Namun dengan cepat lelaki tua berjubah putih itu menghempas agak keras telapak tangan kanannya ke depan. Lalu sinar putih dingin terlontar dari telapak tangannya, terus menghantam belakang orang itu. Selanjutnya nasibnya sama dengan dua temannya yang tubuhnya hancur berantakan.
Hampir bersamaan waktunya terdengar dua jeritan kematian berturut-turut di bagian belakang. Dua orang bertopeng tumbang lagi dengan bersimbah darah. Sedangkan dua sosok bayangan itu tidak menghiraukan dua orang bertopeng yang meregang nyawa itu, mereka terus saja melancarkan serangan yang begitu cepat. Dan hasilnya dua nyawa lagi tumbang dengan bersimbah darah.
Setelah semua enam orang bertopeng bagian belakang terbunuh, maka dua sosok bayangan itu menghentikan gerakan dengan seketika. Maka tampaklah siapa mereka.
Yang seorang adalah lelaki berwajah tampan berusia 35 tahun. Yang satu adalah wanita berwajah cantik berusia sekitar 32 tahun. Pakaian luar mereka nyaris sama, pakaian seragam perwira tinggi istana. Lebih tepatnya yang lelaki perwira Pengawal Raja dan yang wanita adalah perwira Pengawal Selir Raja. Dan dua orang itu adalah pasangan suami istri, lebih tepatnya kedua orang tua Nona Jessica Aliesha.
Pantas saja mereka dapat mengalahkan orang-orang bertopeng itu dengan mudah, karena ternyata mereka adalah dua perwira tinggi istana. Semakin tinggi jabatan seorang perwira, menandakan kehebatan ilmu bela diri dan kedigdayaannya semakin tinggi.
Sedangkan lelaki tua berpembawaan tenang yang punya kehebatan yang amat tinggi itu, tidak punya jabatan apa-apa. Dia hanya seorang guru bagi Putri Aneska dan Nona Aliesha.
★☆★☆★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Siti Zubaidah
awak sombong sangat hmmmm
2023-09-12
2
Rahmat Tolen
bisa gak thor di ganti ke menit saja penanakan nasi mu dan tombak mu itu
2022-11-11
3
Harman LokeST
waspada terus
2022-09-17
1