"Kamu bukan lagi anak papa!!"
"Reza, aku mama kamu meski kamu gak lahir dari rahimku.., kamu tetap anakku Reza!"
"Pergi kamu dari sini.., sebelum kamu berubah pikiran jangan pernah kembali kerumah ini lagi..!!"
"Apa jadi penulis itu dosa ma? Reza cuma pengin mewujudkan impian Reza.."
"Jangan dengerin papa kamu nak, papa lagi emosi, Reza anak baik...,"
"Aku gak pernah suka sama kamu Reza.."
"Pergi kamu!!!"
"Paaa..!"
••••••••••
"Jangan!!"
Reza membuka mata cepat. Ia sudah duduk dengan tubuh basah oleh keringat. Reza tidak sedang bermimpi, itulah kenyataan pahit yang pernah ia alami beberapa waktu silam.
Reza mengawasi sekeliling kamar yang nampak sepi, kemana Putri pergi?? Apa dia sedang sarapan bersama Toriq lagi??
Reza merebahkan badannya ke tempat tidur lagi dengan sedih dan mencoba memejamkan mata. Ada handuk basah di nakas, sepertinya semalam Putri mengompresnya. Perut Reza mulai keroncongan, ia tak makan apapun sejak beberapa hari terakhir. Ia hanya minum air, kopi atau teh. Ia tak sekalipun berselera untuk makan. Mungkin karena itulah ia jadi masuk angin dan sakit. Saat kemarin muntah sebenarnya Reza malu karena harus muntah di depan Putri, ia khawatir Putri akan jijik dan meninggalkannya tapi ternyata Putri malah merawatnya dengan baik. Putri malah membantu membersihkan sisa muntahan di bibir Reza dan mengganti bajunya yang basah.
Dan semalam entah jam berapa Reza sempat terbangun dari tidurnya, ia merasakan tubuhnya hangat dan ternyata Putri sedang memeluknya. Reza terkejut bukan main saat itu, ia hampir saja bangun dan pindah tidur di karpet tapi entah mengapa pelukan itu seperti menghipnotis dirinya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia dipeluk oleh seseorang di masa lalu. Dan pelukan Putri semalam ternyata jauh lebih menenangkan untuknya, lebih hangat dan lebih membuatnya nyaman. Reza tersenyum sendiri bila mengingat kejadian semalam, andai saja ia bisa merasakan pelukan itu setiap hari..
"Kak Reza udah bangun??" suara Putri mengagetkan Reza yang melamunkan pelukan si empunya suara.
Reza menolehi pintu dan aroma masakan yang sangat nikmat terendus indra penciumannya. Putri membawa sebuah mangkok entah berisi apa.
"Sarapan ya, tadi aku buatin bubur buat kak Reza.." cetus Putri seraya meletakkan mangkuk berasap itu di meja nakas.
Reza menelan salivanya cepat, ia amat sangat kelaparan dan aroma bubur buatan Putri sangat menggodanya.
Putri membantu Reza untuk duduk dan meletakkan beberapa bantal di belakang tubuh lelaki sekamarnya. Ia lantas mengambil mangkuk berisi bubur yang sepertinya sangat enak.
"Aaaaaa"
Reza membuka mulutnya pelan, bubur lembut dan gurih itu masuk ke mulutnya dengan mulus. Enak sekali.. Reza baru kali ini merasakan masakan buatan Putri.
Dua suapan, tiga.., dan hingga isi mangkuk itu habis ternyata Reza masih saja merasa lapar.
"Udah habis ya, Put??"
"Kak Reza mau lagi??" tanya Putri heran, biasanya orang sakit tak bernafsu untuk makan.
Reza mengangguk cepat, berharap masih ada bubur tersisa untuknya.
"Masih ada kok di panci, aku ambilin lagi ya."
Reza tersenyum senang dan mengangguk, Putri berdiri dan keluar dari kamar. Tak berapa lama ia masuk lagi dan membiarkan pintu terbuka agar udara bersih bisa masuk. Meski kamarnya ber AC namun Putri lebih suka udara terbuka.
"Biar aku makan sendiri, Put,kamu pasti capek seharian ngurus—-"
"Aaaaaaa..."
Reza membuka mulutnya cepat, bubur itu mendarat lagi di mulutnya. Reza belum pernah makan bubur seenak ini. Sekalipun ia pernah makan di restoran-restoran mahal. Apa karena Putri yang memasaknya? Atau memang karena Reza kelaparan sejak kemarin?
"Jangan cerewet! Makan aja.." perintah Putri sambil terus menyuapi Reza.
Reza menurut dan pasrah saat Putri menyuapinya dengan sabar. Toh sejak kemarin ia sudah merepotkan Putri bukan?
Saat bubur di mangkuk kedua sudah habis, perut Reza masih terasa lapar. Tapi ia malu untuk meminta tambah lagi..
"Kak Reza masih laper??" tanya Putri saat ekspresi Reza nampak kecewa melihat mangkuk ditangannya sudah kosong.
Reza tak menyahut, ia malu bila Putri tahu sebanyak apa porsi makannya.
"Aku buatin lagi yah buburnya, aku pikir tadi kak Reza gak akan mau banyak makan karena masih masa pemulihan."
"Gak usah, Put, ini sudah cukup kok, makasih banyak.." tukas Reza tak enak hati, ia tak pernah ingin merepotkan orang lain.
"Gapapa aku buatin lagi, gak lama kok. 1 jam selesai," cetus Putri seraya bersiap untuk berdiri tapi dengan cepat Reza menarik tangannya.
"Gak usah, nanti siang aja, aku sudah kenyang kok," ucap Reza meyakinkan Putri.
Putri melirik tangan Reza yang menggenggam tangannya dan reflek Reza melepas tangan itu secepat kilat. Putri tersenyum..
"Kak Reza mau mandi? Biar aku siapin handuknya.." tawar Putri seraya meletakkan mangkuk di meja.
"Iya biar nanti aku aja..., kamu istirahat gih.."
"Istirahat gimana? Masa suami lagi sakit tapi istrinya leha-leha," tukas Putri menggoda Reza.
Reza tertegun mendengar ucapan Putri, suami istri??
"Kan kita suami istri?? Iya kan??" lanjut Putri sambil mendekat ke tempat tidur, menatap Reza serius.
Reza tersenyum sumbang, andai bisa menikahi Putri, mungkin ia akan melakukannya hari ini juga.
"Kok kak Reza diem sih?? Aku gak layak ya jadi istri kak Reza??" desis Putri merengut.
Reza menggeleng cepat, meski Putri masih labil namun ia ternyata pintar memasak. Salah satu impian Reza adalah memiliki istri yang pintar memasak agar ia bisa punya rumah tangga seperti papanya dan Putri sudah masuk di salah satu kriteria itu.
"Memangnya kamu mau jadi istriku??" tanya Reza spontan, tadi detik berikutnya ia menyesal sudah mengeluarkan kata kata itu. Sial!
"Kan sekarang aku sudah jadi istri kak Reza!!" sahut Putri tertawa.
Reza tersenyum lirih, padahal tadi ia serius untuk mengajak Putri menikah betulan.
"Yaudah, aku mau mandi dulu deh, kak Reza tidur lagi gih!" perintah Putri seraya menarik handuknya dan melenggang masuk ke kamar mandi.
Saat tubuh Putri menghilang di balik pintu, Reza menghembuskan nafasnya gugup. Hal yang paling ia benci bila harus tinggal di dalam kamar berdua dengan Putri adalah menahan perasaan gugup dan khawatir. Itulah mengapa Reza selalu keluar meski tak melakukan apapun di Toko kakek Nun. Ia hanya takut bila lebih lama tinggal berdua bersama Putri di dalam kamar ini maka nafsunya tidak bisa ia kontrol.
Reza merapikan lagi bantal-bantal yang tadi tertata di sandaran ranjang dan berebah, mungkin sebaiknya ia tidur lagi agar waktu berlalu dengan cepat. Suara gemericik shower di kamar mandi membuat dada Reza berdesir hangat, pikirannya mulai melantur kemana mana… lekas Reza memejamkan mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
agnes gulo
udh. brp kali baca cerita ke uwu an reza n putri , d tunggu terus UP nyaa
2022-04-10
1