Menjadi seorang Reza bukanlah hal yang mudah. Sejak kecil mendapat perlakuan istimewa dari keluarga, serta pelayanan yang tiada henti dari semua orang dirumahnya, membuatnya harus beradaptasi dengan keras ketika memutuskan untuk kabur dari rumah.
Tidak ada lagi masakan yang selalu tersaji hangat, tidak ada lagi pakaian yang selalu bersih dan siap dipakai, tidak ada mobil yang bisa ia kendarai kemanapun ia pergi, tidak ada pelayan yang siap sedia membuatkan kopi ditengah malam saat ia sedang sibuk menyelesaikan cerpen atau karya ilmiahnya. Saat ini ia harus melakukannya sendiri, dengan tangannya sendiri. Tidak ada orang lain yang peduli dan bisa membantunya dikala sedang kesusahan, Reza harus benar benar hidup mandiri selama dalam pelarian.
Melihat Putri tiba tiba mengetuk pintu kamarnya seperti tadi, membuat Reza kembali dejavu. Ia seperti melihat dirinya yang dulu. Dirinya yang putus asa pergi dari rumah tanpa tahu tujuan. Beruntung Putri masih berpikir logis untuk menumpang bermalam di tempatnya, entah apa yang terjadi bila Putri nekat pergi sendiri. Reza bergidik takut.
Sigit sudah tidur pulas saat Reza mengetuk pintu kamarnya tadi. Beruntung Sigit bangun dan membukakan pintu untuknya. Bila tidak, mungkin Reza akan tidur di depan kamarnya ditemani para nyamuk dan semut betina.
Entah apa yang akan ia lakukan besok. Menemani Putri kabur sama saja dengan membongkar identitasnya perlahan lahan. Ia khawatir akan bertemu orang orang suruhan papanya. Bisa saja nanti papanya akan menyeretnya pulang, bila sampai Reza bertemu salah satu diantara orang kepercayaan papanya tersebut. Reza menghembuskan nafasnya galau.
Membiarkan Putri pergi sendiri pun Reza tak tega. Gadis itu terlalu lugu dan polos. Putri terlalu naif dan menganggap semua orang baik, ia juga penakut. Bagaimana kalau nanti ada orang jahat yang memanfaatkannya?? Reza mengusap wajahnya sedih, entahlah ia akan memikirkan itu besok saja, hari ini ia lelah.
Esok paginya…
Reza terbangun saat mendengar suara Sigit membuka pintu kamar. Reza beringsut duduk dan mengusap matanya yang masih terasa perih, ia masih mengantuk.
Perlahan Reza segera berdiri dan beranjak keluar dari kamar Sigit dengan langkah gontai, sukmanya masih belum menyatu sempurna.
"Makasih ya, Git, sudah dikasi numpang tidur semalam," ucap Reza sambil menepuk bahu Sigit pelan,
Sigit tersenyum dan mengangguk, lantas berlalu ke kamar mandi sambil menenteng handuknya.
Reza berjalan menuju ke kamarnya dan berdiri mematung di depan pintu. Ia ragu-ragu untuk masuk ke dalam, bagaimana kalau Putri masih tidur dan posisi tidurnya tak etis untuk dilihat ??? Bagaimana kalau bajunya tersingkap?? Bagaimana kalau Reza melihat yang tidak seharusnya ia lihat??
Reza menggeleng cepat, ia harus segera menyelesaikan masalahnya.
Ragu Reza menyentuh knop pintu kamarnya namun tiba-tiba pintu terbuka sebelum Reza memutar knopnya. Putri muncul dengan wajah terkejut. Reza juga.
"Kak Reza, ngagetin aja! Aku pikir kak Reza belum bangun," cetus Putri gugup, tadinya ia ingin kabur sebelum Reza bangun namun sepertinya rencananya gagal total.
Reza mengawasi travel bag di tangan Putri, ia menghembuskan nafasnya kesal. Putri benar benar keras kepala!
"Aku akan temani kamu pergi!" putus Reza dengan yakin.
Kedua mata Putri terbelalak surprise, ada binar bahagia yang bisa Reza tangkap dari tatapan itu. Senyum gadis itu tersungging lebar.
"Kamu masuk aja dulu, aku mau mandi di kamar mandi bawah," perintah Reza cepat sambil mendorong Putri masuk lagi ke dalam kamarnya.
Tak butuh waktu lama bagi Reza untuk mandi dan kembali lagi ke kamarnya. Ia menghemat waktu dan khawatir Putri akan kabur bila ia terlalu lama.
Putri sedang asyik dengan ponselnya, saat kemudian Reza masuk dengan tubuh basah dan segar. Wangi sabun khas pria semerbak seketika memenuhi kamar. Suasana pun menjadi kikuk dan dingin. Putri yang tadinya asyik membaca berita terkini artis di akun gosip Instagram, sontak memasukkan ponselnya kedalam tasnya lagi. Ia jadi canggung berduaan dengan Reza seperti ini, padahal kemarin kemarin ia tak pernah setakut ini bila berduaan dengan kakak tingkatnya itu.
"Aku ganti baju di kamar Sigit, kamu jangan kemana mana," desis Reza setengah berbisik,
Putri mengangguk paham. Reza mengambil celana dan kemeja dari dalam lemarinya lantas keluar lagi dari kamar.
Sigit yang melihat tingkah aneh Reza mulai penasaran, mengapa semalam Reza sampai numpang tidur dikamarnya, bahkan ganti pakaian pun juga masih menumpang lagi di kamarnya.
"Di kamar Bang Reza ada siapa sih??" tanya Sigit sambil tetap menyisir rambutnya,
Reza menolehi Sigit dan tersenyum ragu,
"Owh, itu sepupu dari kota, semalam numpang nginap disini," sahut Reza sekenanya.
Entah mengapa ide itu muncul begitu saja di benaknya.
Sigit mengangguk percaya, Reza sudah selesai mengenakan pakaiannya dan lekas beranjak keluar dari kamar Sigit.
Saat Reza kembali ke dalam kamarnya, Putri tidak lagi duduk di ranjang. Ia terlihat mengamati rak lemari yang penuh dengan buku-buku.
"Kak Reza, suka baca buku??" tanya Putri konyol, sudah jelas jawabannya namun ia masih saja bertanya.
"Iya," sahut Reza singkat, mengeluarkan travel bagnya dari dalam lemari lantas memasukkan beberapa baju ke dalamnya.
"Jaman sudah canggih tapi Kak Reza masih suka koleksi buku?? padahal buku sekarang udah ada versi onlinenya, loh!"
"Bukan buku namanya kalo versi online, buku ya buku, nggak akan terganti oleh teknologi," sahut Reza menjelaskan,
Putri tak menyahut, ia kini beralih mengamati Reza yang nampak memasukkan beberapa baju kedalam travel bag.
"Jangan lupa dokumen dokumen pentingnya juga dibawa."
"Buat apa?" tanya Reza menghentikan tangannya sesaat, ia mengawasi Putri.
"Yaaaa, buat jaga-jaga aja!" sahut Putri sekenanya.
Reza menghembuskan nafasnya pelan.
"Kita nggak akan lama, Put, kita pergi hanya sampai kamu sadar bahwa pilihan kamu ini salah."
"Yaudah, Kak Reza aja yang pulang sendiri nanti, aku akan tetap dengan keputusanku."
"Put, jangan keras kepala, walau bagaimanapun mereka tetap keluarga kamu."
"Kalo Kak Reza nggak mau pergi, yaudah nggak usah pergi sekalian, aku nggak mau ya nanti ada paksaan untuk pulang atau gimana gimana."
Reza kembali menghembuskan nafasnya berat, baiklah untuk sementara turuti saja kemauannya…batin Reza lirih.
Usai membereskan baju dan membawa beberapa dokumen serta peralatan menulisnya, Reza membawa travel bag dan ransel biru miliknya dan milik Putri.
"Yuk berangkat!" ajak Reza seraya menarik kunci kontak motornya.
Putri menurut dan mengekor di belakangnya. Reza dengan sigap mengunci pintu kamar kosnya dan kemudian turun ke bawah.
Entah kemana tujuannya namun yang pasti Reza akan membawa Putri ke tempat yang lebih terpencil dari kota kecil ini. Kota yang jauh dari akses orang tuanya maupun orang tua Putri. Dan ia mungkin akan memulai hidup barunya disana. Entahlah, masih tak terpikirkan oleh Reza…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments