"Reza...!"
Kakek Nun berdiri di samping Reza dan mengawasinya heran, sejak datang tadi pagi raut wajah Reza nampak sangat suram. Tidak biasanya kakek Nun melihat ekspresi Reza yang seperti itu.
Pun sekarang di panggil berkali kali tak ada respon apapun dari Reza, kakek Nun mulai yakin lelaki ganteng di hadapannya ini sedang ada masalah.
"Reza!!" Kakek Nun menepuk bahu Reza untuk menyadarkannya dari lamunan.
Reza tersentak dan menoleh cepat, kakek Nun sudah berdiri di sampingnya dengan pandangan menyelidik. Reza tersenyum kikuk, ia bahkan tidak tau sedari kapan kakek Nun berada di dekatnya.
"Ada apa? Kamu ada masalah??" Tanya kakek Nun khawatir,
Reza menggeleng cepat, ia meletakkan buku yang sedari tadi ia pegang dan beranjak pergi dari samping kakek Nun.
"Jangan berbohong, ekspresi kamu menjelaskan semuanya..!" Cecar kakek Nun seraya membuntuti Reza,
"Gak papa kek, kayanya saya cuma ngantuk aja sih, semalam gak bisa tidur gara gara istri saya merintih terus karena kakinya sakit.." sahut Reza berbohong,
"Kenapa istrimu? Sakit apa dia??" Tanya kakek Nun penasaran,
"Kemarin siang dia jatuh pas dari minimarket, lutut kakinya lecet lecet, katanya sempat terkilir juga.."
"Terus kenapa kamu sekarang disini? Bukannya nemenin istrimu yang sakit.."
Reza tertawa sumbang, "duh kek, ngapain di temenin segala, dia cuma luka biasa kok.."
"Kalo terluka biasa gak akan merintih kesakitan Reza, kamu tidak peka jadi laki laki..!" Cecar kakek Nun lagi,
Reza tersenyum masam, sepertinya begitu.., ia bukan lelaki peka seperti yang diharapkan oleh Putri.
" kamu pulang sana! Temani istrimu.., daripada disini tapi pikiranmu dimana mana.."
"Kek, Putri baik baik aja.., dia bahkan tadi pagi sudah ngerumpi di kos sebelah.." tukas Reza berdusta, ia tidak ingin pulang dan bertemu Putri..
"Kalo kamu butuh istirahat bilang saja Reza, jangan sungkan sungkan sama kakek.., dirumah belakang ada kamar kosong kalo kamu mau tidur sebentar.."
"Boleh kek??"
"Tentu saja!.., kamu sudah kakek anggap seperti cucu kakek sendiri.."
"Kalo menginap juga boleh..?"
"Boleh!!.., hah, apa?? Menginap sendirian maksutmu??" Kakek Nun mengawasi Reza kaget,
Reza terkekeh dan menggeleng cepat, "'nggak kek, saya cuma bercanda!" Sahut Reza menahan tawa,
"Kalo kalian kesepian dan bosan di rumah kos, menginaplah disini sekali kali.., kakek senang kalo rumah ini rame.." terang kakek Nun lugas,
Reza mengangguk dan tersenyum. Ponsel di dalam saku celananya tiba tiba bergetar, ragu Reza merogoh dan mengawasi nomor asing di layar ponselnya. Sepertinya ia pernah tau nomor ini tapi siapa ya..
"Kenapa gak diangkat?" Tanya kakek Nun bingung, suara nada dering ponsel Reza yang jadul memekakkan telinganya.
"Nomor asing kek, biarin lah paling juga operator leasing ato bank mau nawarin kredit motor.."sahut Reza sambil memasukkan ponselnya lagi kedalam saku celananya.
"Ponselmu kenapa gak beli yang terbaru kayak anak anak muda lainnya?" Tanya kakek Nun heran melihat ponsel Reza yang nampak usang.
"harusnya kakek yang pake ponsel seperti itu.., jadul kaya orangnya..!" Tawa kakek Nun lepas,
Reza tertawa dan mengawasi ponsel di tangannya, kakek Nun benar..,
Sejak memutuskan untuk kabur dari rumahnya dulu Reza menjual semua barang barang miliknya. Mobil, ponsel, bahkan beberapa koleksi sepatunya yang mahal. Semua itu ia lakukan agar bisa membunuh sosok Reza Purnama yang kaya raya, ia tidak ingin semua orang perhatian padanya hanya karena ia bergelimang harta.
" kakek mau ponsel ini??" Tanya Reza hati hati,
Kakek Nun menolehi Reza cepat, " ponsel kakek lebih bagus daripada ponselmu Reza!!" Tawa kakek Nun,
"Oh ya? Kok saya gak tau kakek punya ponsel.." tanya Reza heran,
"Hahaha, buat apa pamer sama kamu? Toh ponsel kamu aja lebih jadul dari punya kakek, lagian siapa yang mau telepon kakek tua ini?" Terang kakek Nun sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel smartphone merk korea yang lumayan up to date.
Reza tertawa kecil, ia meraih ponsel kakek Nun dan memeriksanya dengan seksama. Ponsel itu masih mulus tanpa cacat.
" kalo kamu mau pake aja, biar kakek yang pake ponsel kamu.."
"Gak usah kek, Reza gak butuh ponsel bagus..laptop aja cukup buat kerja.." tolak Reza sungkan,
"Gak papa, toh kakek gak bisa membayar kerjaan kamu ini pake duit, jadi kakek bayar pake hape dan kontrak kerjamu disini berlaku seumur hidup gimana??" Goda kakek Nun
Reza tertawa dan menggeleng, " gak perlu kek, tanpa di tuker ponsel pun Reza akan tetap kerja disini sampe kapanpun.."
"Janji ya kamu, nanti kakek panggilkan notaris biar kita tanda tangan kontrak.."
Reza mengangguk mantap, " boleh siapa takut!!" Sahutnya cepat,
Kakek Nun tertawa, Reza juga. Paling tidak ia sedikit terhibur meski sebentar. Kakek Nun selalu bisa mencairkan suasana, meski ia tau Reza berbohong namun ia tak pernah memaksa Reza untuk bercerita. Ia tau Reza anak yang tidak mudah membuka diri, butuh sabar dan pengertian untuk membuatnya nyaman dan bercerita.
Sore harinya,
Reza masih membersihkan rak buku di bagian atas. Ia bahkan tak berniat untuk siap siap pulang. Sengaja Reza menyibukkan diri agar tak buru buru pulang.
Bila perlu ia akan membersihkan semua rak, meski hingga malam tak apa asal Reza tak pulang.
"Reza kamu belum pulang??"
"Iya sebentar lagi kek, nanggung ini.." sahut Reza sambil menggosok rak dengan lap.
Padahal sejak tadi pun rak itu sudah bersih namun Reza sengaja mengulang pekerjaannya.
"Cepat pulang sana, sudah hampir gelap ini.., istrimu pasti sudah nungguin.." perintah kakek Nun cepat,
Reza menghembuskan nafasnya kesal, ia masih betah berada di tempat ini.
"Reza!!"
"Iya kek, saya turun.." sahut Reza lesu, lantas turun dari tangga perlahan. Sengaja mengulur waktu agar tak pulang.
Usai mengembalikan tangga ke tempat semula, Reza memasang jaketnya malas malasan.
"Sampaikan salam kakek buat istrimu ya, ini ada sedikit makanan buat istrimu.., semoga dia lekas sembuh.."
Reza mengawasi kotak yang kakek Nun sodorkan dengan tak enak hati,
"Kek gak perlu repot repot begini.."
"Gak papa, bawa aja sana pulang.., ini tadi kakek pesen makanan ini ke tetangga sebelah.., semoga istrimu suka ya!"
Reza mengangguk cepat dan tersenyum, usai memakai helm lekas ia melajukan motornya pergi. Kemana pun yang pasti tidak lekas pulang kerumah kosnya seperti biasa..ia ingin kabur sejenak.
Kakek Nun mengawasi Reza yang berlalu dengan motor maticnya. Semoga anak itu baik baik saja, perasaan Kakek Nun berkata Reza sedang ada masalah dan sedang berusaha melarikan diri dari masalahnya. Andai anak itu mau sedikit terbuka..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments