Pagi pagi sekali Reza sudah bangun dan bersiap siap untuk membeli sarapan. Putri masih tidur dengan lelap usai semalam suntuk menonton drama korea. Sungguh hobi yang berbeda diantara Reza dan Putri.
Saat menuruni tangga, sekilas Reza melihat Toriq keluar dari sebuah kamar. Apa kamarnya disana? Batin Reza penasaran. Ia tak menghiraukan Toriq yang menyadari keberadaannya.
" hay bro, ketemu lagi.." sapa Toriq sambil berlari dan menjajari langkah Reza.
Reza tak menyahut, ia tetap melangkah seolah tak ada siapapun di sampingnya.
" kok sendiri? Mana istrimu??" Tanya Toriq lagi penasaran, biasanya Reza selalu muncul sepaket bersama Putri.
"Kenapa kamu tanya istriku??" Tanya Reza acuh meski ada sedikit emosi dari suaranya.
Toriq tersenyum dan menolehi sekitarnya.
"Kalian kan selalu bersama, tumben sekarang muncul sendiri? Apa lagi berantem?"
Reza menghentikan langkahnya dan mengawasi Toriq dengan serius. Ia menarik nafasnya dalam dalam, sepagi ini Toriq sudah menguji emosinya.
" jangan campuri urusan kami, aku gak kenal siapa kamu... dan begitu juga sebaliknya! Jadi jangan berpura pura akrab denganku.." cecar Reza kesal, nafasnya tertahan.
Toriq menatap Reza dengan santai. Bahkan seolah tak ada sedikitpun rasa menyesal atau takut.
"Aku gak peduli kamu keponakan bu Mirna atau siapapun, aku gak takut!" Lanjut Reza lagi sebelum kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Toriq yang masih termanggu sendiri. Mengapa semua orang selalu emosi tiap mengobrol dengannya??
Reza mempercepat langkahnya dan mengatur nafasnya yang masih memburu karena kesal. Setiap melihat Toriq entah mengapa ia jadi ingat tatapan laki laki itu pada Putri. Tatapan binal penuh nafsu yang Reza benci.
Di sebuah warung depan kos Pelangi Reza membungkus dua nasi untuk ia dan Putri sarapan. Ia ingin segera bertemu dengan kakek yang kemarin ia temui. Semalam Reza sudah tamat membaca buku yang ia beli saat Putri masih asyik menonton drama koreanya.
Begitu kembali ke rumah kos, Reza sudah tak menemukan mobil sedan Toriq di tempat parkir. Ia menghembuskan nafasnya lega. Laki laki pengganggu itu bisa jadi akan selalu menyulut emosinya. Reza harus bersiap bila sewaktu waktu bertemu lagi dengan Toriq.
Di dalam kamar, Putri masih terlelap. Reza tersenyum gemas melihat ekspresi Putri saat sedang tertidur. Selama dua malam ini ia mulai terbiasa mendengar igauan dari Putri saat gadis itu terlelap.
Perlahan Reza mengeluarkan nasi bungkus dari dalam kresek dan menaruhnya di piring untuk Putri sarapan nanti. Ia pun mengeluarkan nasi miliknya dan memakan sambil mengecek ponselnya. Ponsel yang jarang ia buka karena tak ada seorang pun yang bisa ia hubungi. Sejak kabur dari rumah, Reza mengganti nomor ponselnya dan tidak mengaktifkan semua akun sosmednya. Tapi sekarang ia tinggal bersama Putri, mau tidak mau mereka harus berkomunikasi. Reza menyobek sebuah kertas dan menulis pesan untuk Putri.
Usai suapan terakhirnya habis, segera Reza beranjak dan meneguk air mineral botolannya. Ia memasang jaket dan bergegas pergi. Putri masih terlelap dan Reza tak sampai hati membangunkannya.
Sesampainya di toko buku, Reza dengan bersemangat memasuki rumah toko kecil itu. Seperti biasa tak nampak siapapun di dalam, bahkan mungkin maling bisa saja keluar masuk kedalam rumah ini dengan bebas.
"Siang kek..permisi.." sapa Reza sopan sambil mengawasi pintu tempat kakek itu muncul kemarin.
Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki perlahan lahan mendekat lantas membuka pintu. Wajah tua namun masih tampan itu tersenyum melihat Reza.
"Selamat siang nak..." sapa kakek itu ramah.
Reza mengangguk sopan dan menghampiri kakek.
"Kali ini kamu mau melihat lihat lagi atau mau mengobrol santai saja dengan kakek?"
"Saya mau dua duanya boleh kan kek??" Tanya Reza cepat.
Kakek tertawa kecil dan menarik Reza agar duduk di kursi kayu yang memang tertata di tengah tengah toko. Reza mengikutinya dan duduk di kursi berhadapan dengan kakek.
" siapa namamu nak??"
"Reza kek, Syahreza.."
"Syahreza?? Hmmm, nama yang bagus.., kamu bukan berasal dari sini kan??"
Reza tersenyum dan mengangguk, ia menggaruk rambutnya yang tak gatal karena kakek bisa menebak dengan benar asal usulnya.
" yang kemarin gadis bersamamu ituuu... kekasih atauuu??"
"Hmmm, diaaa.. istri saya kek.."
"Oh ya? Wah, kalian pasangan muda yang berani.., hahaha.." tawa kakek renyah, ia menepuk pundak Reza pelan.
" seusia kamu bahkan kakek masih sibuk mencari jati diri.., sampai akhirnya terlalu nyaman dengan diri sendiri dan di tinggal nikah sama wanita yang kakek sukai.." kakek menerawang sejenak.
Reza memperhatikan dan menyimak.
"Oh iya, saya bahkan belum memperkenalkan diri.., nama saya kakek Syahnun, panggil saja kakek Nun.., orang orang disini manggil kakek gitu.." Lanjut Kakek berapi api,
Reza tersenyum dan mengangguk, ia mempunyai nama awalan yang sama dengan kakek Nun..hobi mereka pun sama.
"Apa yang bernama awalan 'syah' memang ditakdirkan untuk gila buku ya kek??" Tanya Reza penasaran,
Kakek Nun tertawa dan menepuk bahu Reza lagi, " itulah mengapa tadi kakek bilang nama kamu bagus! Karena nama awalan kita sama hahahahaa..."
Reza tertawa mendengar penjelasan kakek Nun,
"Apa kakek Nun tinggal sendiri disini? Ato bersama nenek??"
Kakek Nun menggeleng cepat, " kan sudah kakek bilang tadi, kakek ditinggal nikah sama wanita yang kakek sukai.., jadi sampe sekarang pun kakek masih jomblo kalo anak muda jaman sekarang bilang hahahaha.."
Reza terhenyak lagi, "serius kek?? Kakek gak nikah??"
Kakek Nun menghentikan tawanya dan menarik nafasnya dalam dalam, " mungkin bagi sebagian orang ini keputusan konyol, tapi buat kakek ini adalah prinsip.., bahwa mencintai wanita itu cukup sekali... selebihnya itu bukan cinta tapi pelarian.."
Reza menghembuskan nafasnya syok, baru kali ini ia bertemu dengan orang yang memegang prinsip sedemikian teguhnya.
"Kakek bertemu wanita itu sejak masih SD, menyukainya sampe SMA, lantas kuliah dan masih sibuk dengan jati diri sampe kemudian pas kembali ke kota ini lagi... wanita itu sudah menikah sama orang lain..."
"Kakek gak pernah menyukai wanita lain selain dia??"
Kakek Nun menggeleng mantap, " jatuh cinta itu mudah nak, yang susah adalah mempertahankan... bagaimana bertahan mencintai wanita yang sejak kecil kita kagumi itu ada sensasinya tersendiri.."
"Lalu sekarang kakek tinggal sendirian disini??"
Kakek Nun mengangguk dan tersenyum,
"Sudahlah bahas yang lain yok biar kamu gak ikut bersedih dengan cerita masa lalu kakek...oiya sejak kapan kamu pindah ke kota ini??"
Reza menghembuskan nafasnya yang entah mengapa jadi terasa berat.
"Baru beberapa hari ini sih kek, baru banget..."
"Kamu kerja??"
Reza mengawasi kakek Nun dan menggeleng, "saya penulis freelance kek, penulis lepas.."
"Owh? Hebat... lanjutkan nak! Bila itu menjadi kesukaanmu.."
Reza tersenyum getir dan mengangguk,
"Saya senang pada akhirnya ada yang mengapresiasi hobi saya kek.." desis Reza sedih,
Kakek Nun memperhatikan raut Reza yang berubah kelam, tidak mungkin anak muda dihadapannya ini akan terbuka secepat ini pada orang asing. Reflek kakek Nun menepuk bahu Reza lagi.
" tidak semua orang berada di kacamata yang sama dengan kita nak, jadi lakukan saja apa yang menurutmu baik selama itu tidak merugikan dirimu sendiri dan orang lain.."
Reza menyentuh tangan kakek Nun yang masih menepuk pundaknya dan tersenyum.
"Boleh saya kerja disini kek??"
"Hah??"
Reza terkekeh melihat ekspresi kakek Nun yang mendadak syok.
" kakek gak usah membayar saya, cukup dengan mengijinkan saya membaca satu buku setiap hari disini maka saya anggap itu gaji buat saya.."
"Lantas istrimu mau kamu kasih makan apa Reza??" Cecar kakek Nun heran,
" jangan pikirkan itu kek, saya sebenarnya kaya raya hanya saja selama ini berakting jadi orang susah hahahaha.." tawa Reza melucu,
Kakek Nun mengawasinya serius, " kakek serasa berkaca setiap melihat kamu.."
Reza menghentikan tawanya dan terdiam, "apa jangan jangan kita kakek dan cucu yang terpisah ya kek?? Hahahahaa..." tawa Reza lagi menggelegar,
Kakek Nun tersenyum dan ikut tertawa, ia menepuk bahu Reza lagi dengan keras.
"Anak bandel!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
NAZERA ZIAN
aduh kakek Nun, kata katanya ngena banget...
2022-11-16
0