Putri mengamati sebercak darah di ****** ********, periode menstruasinya memang kacau. Ia hanya memiliki 1 stok pembalut untuk hari ini, dan ia lupa tak membeli pembalut saat kemarin berbelanja bersama Reza. Dan tidak mungkin ia meminta Reza untuk membelikan pembalut..
Lekas Putri melanjutkan mandinya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sepertinya ia harus ke mini market.
Saat keluar dari kamar, Putri mengamati tempat parkir dibawah. Setelah memastikan tak ada mobil Toriq terparkir disana perlahan Putri turun ke lantai 1. Mobil sedan putih milik Toriq biasanya terparkir disana setiap pagi hingga sore, entah mengapa pagi ini tak terlihat.
Sambil berjalan dan bersenandung Putri mengamati rumah rumah di sepanjang jalan yang ia lewati. Sudah seminggu lebih ia berada di kota ini namun inilah kali pertama ia keluar sendiri di siang hari. Itupun karena terpaksa harus membeli pembalut.
Biasanya Reza akan menemani Putri kemanapun pergi saat malam hari, meski baru pulang dari bekerja pun Reza akan berangkat kemana pun Putri ingin. Terkadang Putri merasa perhatian Reza padanya amat spesial, namun Putri takut untuk menganggap perhatian itu adalah cinta karena Reza selama ini amat sangat menjaganya seperti seorang kakak menjaga adiknya. Tak sekalipun Reza menyentuh atau menggandeng tangannya kecuali di saat genting seperti sedang menyebrang jalan atau ditengah keramaian.
Reza juga tak banyak terbuka tentang dirinya, seolah ada tembok tinggi diantara mereka. Membuat Putri semakin ragu apakah mungkin Reza menyukainya..
Setiba di mini market, segera Putri memilih pembalut yang biasa ia pakai dan beberapa camilan. Ia tak menyadari sedari tadi Toriq berada di mini market yang sama dengannya.
" delapan puluh lima ribu tujuh ratus kakak.."
Terang kasir sambil memasukkan belanjaan Putri kedalam kresek.
Putri mengeluarkan selembar uangnya yang tersisa namun belum sempat ia memberikan pada kasir tiba tiba sebuah tangan terulur memberikan selembar uang seratus ribuan dari belakang Putri.
Putri menoleh cepat, Toriq!!
Ia menepis tangan Toriq dan memberikan uangnya pada kasir,
"Ini aja mbak, saya gak kenal sama mas ini.."
ucap Putri dingin, sejujurnya ia takut namun ditempat keramaian seperti ini tidak mungkin Toriq akan berbuat macam macam padanya.
Kasir menerima uang Putri dan segera memberikan uang kembaliannya. Putri memasukkan uang itu kedalam saku celana pendeknya dan lekas berlalu.
Toriq tersenyum simpul dan mengikuti Putri cepat.
" hey.., Putri.." seru Toriq saat Putri sudah berlari jauh.
Putri mempercepat larinya saat mendengar suara Toriq memanggil. Ia harus segera sampai di kos sebelum laki laki menakutkan itu tiba lebih dulu.
Dukk brukkkk!!
Pandangan Putri menghitam seketika, lututnya perih. Ia tersandung batu dan terjerembab.
"Awwwwh.." desis Putri menahan sakit saat melihat lututnya lecet dan berdarah. Kakinya sakit, sepertinya ia juga terkilir.
Saat masih termanggu dengan lukanya, sebuah sedan putih menepi dan berhenti di samping trotoar tempat Putri terjatuh.
Putri menahan nafasnya takut saat Toriq keluar dari mobil itu dan menghampirinya. Melihat Putri duduk bersimpuh dengan lutut berdarah membuat Toriq lekas berlari sigap dan berjongkok di samping Putri.
"Kamu sih, kenapa harus lari..aku bukan hantu.."
"Tapi kamu lebih menakutkan dari hantu!" Cecar Putri kesal, gara gara Toriq ia jadi terluka seperti ini.
Toriq membuka kacamata hitamnya dan menarik nafasnya berat,
"Mau aku bantu ato kamu mau pulang sendiri??"
"Aku bisa pulang sendiri..!" Sahut Putri cepat,
Ia mendorong Toriq agar menjauh dan meraih kresek yang tadi terlempar tak jauh darinya.
Toriq berdiri pelan dan mengawasi Putri yang berusaha untuk berdiri.
Dengan dua lutut yang berdarah dan pergelangan kaki terkilir membuat Putri merasakan sakit yang bukan main saat ia mencoba untuk berdiri. Ia memejamkan matanya dan meringis menahan sakit. Tubuhnya sudah berhasil berdiri meski dengan kaki tertekuk, tapi detik berikutnya ia oleng.
Beruntung Toriq berdiri tak jauh darinya jadi dengan sigap ia menahan tubuh Putri agar tidak terjerembab lagi.
"See.., kamu masih butuh aku kan??" Desis Toriq cepat.
Putri meliriknya kesal, semua gara gara laki laki sialan ini!!
Tanpa babibu Toriq membopong tubuh kecil Putri dan menggendongnya masuk ke dalam mobil.
"Mau ngapain sih kamu! Turunin aku.."
"Aku anter sampai kos, udah jangan cerewet!"
"Gak mau!! Aku bisa jalan sendiri.., lepasin ato aku teriak!!"
"Teriak aja gapapa, semua orang disini tau siapa aku kok.., dan kamu juga mirip dengan mantan istriku jadi mereka pikir pasti kita berantem biasa.."
Putri menghembuskan nafasnya kesal, Toriq membuka pintu mobilnya dengan sedikit kewalahan karena harus membopong Putri.
Usai mendudukkan Putri dan memasangkan seat belt, lekas Toriq masuk lagi ke kursi kemudi.
" aku gak akan ngapa ngapain istri orang, aku masih waras.." desis Toriq sambil menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
Putri tak bergeming, lututnya perih.. kakinya apalagi.
Saat sampai di kos pelangi, Toriq turun lebih dulu dan berlari masuk ke dalam rumah bu Mirna. Tak berapa lama ia keluar lagi bersama Bu Mirna dan pak Ali.
Putri menghembuskan nafasnya lega melihat mereka. Bu Mirna membuka pintu mobil dan saat mendapati Putri yang duduk lemas dengan kaki terluka segera ia meminta pak Ali untuk membantunya membopong Putri masuk kedalam rumah.
Satu jam kemudian..
Luka di kedua lutut Putri sudah dibersihkan oleh bu Mirna. Pak Ali ternyata juga pintar mengurut hingga kaki Putri yang terkilir tak lagi cekot cekot seperti awal jatuh tadi.
" terimakasih banyak bu Mirna.., pak Ali.." desis Putri sungkan,
" jangan begitu, sebagai keluarga besar sudah seharusnya kita saling membantu.." sahut bu Mirna lugas,
Toriq duduk tak jauh dari ruang tamu, ia mengawasi Putri dan bu Mirna serta pak Ali yang asyik mengobrol dengan iri. Mengapa hanya ia saja yang dihindari??
Ragu ia berdiri dan mendekat kearah mereka bertiga, senyum Putri yang tadi terkembang tiba tiba lenyap saat melihat Toriq.
" sudah gak sakit kakinya??" Tanya Toriq berbasa basi,
Putri menghembuskan nafasnya pelan dan mengangguk, ia tak sekalipun memandang laki laki di hadapannya.
"Lain kali kalo bertemu dan melihatku dimanapun, tolong jangan seperti itu lagi.., aku juga manusia sama seperti kalian, kenapa kalian harus takut denganku??" Ucap Toriq getir, ada sakit yang ia rasakan tiba tiba.
Semua mendadak diam membisu,
"Tante, pak Ali, dan kamu Put, tolong lain kali lebih berempati.., manusia seperti aku pun butuh teman.." sambung Toriq dingin,
Putri melirik Toriq sekilas, wajahnya tak nampak menakutkan seperti dulu. Harusnya ia tak memperlakukan Toriq sejahat itu..
Toriq beranjak pergi tanpa berkata apa apa lagi. Entah mengapa Putri menjadi sedih melihatnya pergi begitu saja. Bahkan Putri belum sempat berterima kasih..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
NAZERA ZIAN
Terima tuh seeoeri apa sih, kira kira umurnya berapa n ganteng nggak thor.jadi penasaran .
2022-11-16
0