19

Satu jam sebelum Reza masuk ke kamar dalam keadaan panik, saat itu Putri sedang melamun memikirkan hubungannya yang entah mengapa jadi semakin jauh dengan Reza. Komunikasi Putri dengan laki laki pelindungnya itu amat buruk belakangan ini.

Sedikit banyak Putri merasa menyesal, padahal dikontrak perjanjiannya dengan Reza sudah tertulis jelas bahwa 'Dilarang untuk membahas hal menyangkut privasi masing masing dan ikut campur' namun Putri mengabaikannya.

Putri terlalu sibuk dengan rasa penasarannya tentang jati diri Reza sebenarnya??

Dan sekarang saat Reza sudah tidur dengan tubuh menggigil dan panas di ranjangnya, Putri merasakan sesal yang amat dalam. Putri sibuk mengabaikan Reza hingga Reza sendiri pun abai pada kesehatannya.

Ragu Putri menyentuh kening Reza yang masih terasa panas, ia lantas berdiri dan mencari saputangan di dalam travel bagnya. Putri hanya menemukan handuk kecil dan dengan sigap ia membasahi handuk itu lantas meletakkannya di kening Reza.

Baru kali ini Putri merawat orang sakit, semoga Reza hanya masuk angin biasa dan bukan sakit sesuatu yang parah. Putri bergidik takut bila membayangkan Reza ternyata punya penyakit bawaan yang harus ditangani oleh dokter. Darimana Putri bisa dapat uang untuk biaya berobat?? Uang di dompetnya hanya tersisa 2 lembar ratusan ribu saja.

Pelan Putri membalik handuk basah tadi yang kini sudah menghangat karena terkena suhu tubuh Reza yang tinggi. Kedua mata Reza masih terpejam rapat, tubuhnya mengigil dibalik selimut. Tak ada yang bisa Putri lakukan selain mengompres keningnya.

Sesekali Putri membasahi handuk kecil tadi di wastafel dan mengompres Reza lagi. Terus begitu hingga malam tiba dan Putri mulai mengantuk. Masih ada tempat di ranjang berukuran queen size itu, Reza pun tak terlalu banyak bergerak sejak tadi. Putri tak terbiasa tidur di karpet, lagipula ia takut tak bisa mengontrol keadaan Reza bila tidur terpisah. Mungkin malam ini saja tak apa mereka tidur seranjang, besok pasti Reza sudah membaik. Tadi Reza bilang bila ia hanya butuh tidur bukan??

Dengan ragu Putri menaiki tubuh Reza yang tinggi besar dan beringsut tidur di sampingnya. Reza sudah tidak mengigil lagi, tidurnya mulai tenang dan tak gelisah. Putri mengawasi wajah Reza yang tampak tenang saat sedang tidur. Putri tak pernah sedekat ini menatap Reza. Mata bulat dengan bulu mata lentik itu terpejam rapat, entah mengapa tiba tiba Putri rindu di tatap oleh mata itu. Reza selalu menatapnya diam diam, saat Putri memergokinya maka Reza akan berpaling atau menunduk malu. Hidung yang tinggi dan mancung, bibir yang penuh dan merah. Bila Reza perempuan mungkin ia akan menjadi sangat cantik dan di sukai banyak lawan jenis. Sayang Reza tak seperti laki laki kebanyakan yang hobi nampang dimana mana agar semua orang tau bahwa ia tampan, Putri jarang sekali melihat Reza nongkrong dikantin kampus atau di aula.

Hampir setahun mereka dekat sejak Putri menjadi maba di Universitas yang sama dengan Reza. Tapi tak sekalipun hati Putri berdebar saat menatap Reza seperti malam ini. Ragu tangan Putri terulur untuk menyentuh wajah Reza yang sempurna, ada rambut tipis di sepanjang rahangnya karena tak sempat bercukur. Putri menarik nafasnya dalam dalam saat tangannya mengelus pipi Reza yang mulai menghangat. Dan tiba tiba tubuh Reza bergerak mendekat ke arah Putri, meringkuk tepat di dadanya. Putri tertegun dan menahan nafasnya yang terhenti karena kaget. Posisi Reza tidur saat ini tepat berada sangat dekat dengan tubuh Putri, lebih tepatnya meringkuk di bagian ***********. Entah Reza sengaja atau sedang mengigau Putri tak paham. Tapi dilihat dari posisinya sepertinya Reza sedang butuh pelukan, Putri juga pernah merasakan itu bila ia sedang sakit akan tapi tak pernah ada seorang pun yang memeluknya.

Ragu Putri mengangkat tangannya dan memeluk tubuh Reza yang masih hangat. Sesekali Putri menepuk nepuk lembut punggung Reza yang bidang. Tubuh tinggi besar itu sekarang sedang berada dalam pelukannya. Betapa ringkihnya tubuh ini disaat sedang sakit, dan Putri seolah paham apa yang harus ia lakukan.

Sepertinya besok Putri harus memasak bubur untuk sarapan Reza. Di sekitar kos Pelangi tak ada yang berjualan bubur. Meski skill memasak Putri tak seberapa namun ia ingin Reza memakan sesuatu yang ia masak sendiri. Ia ingin melayani Reza seperti selama ini Reza selalu melayaninya. Putri berhutang budi banyak pada laki laki yang meringkuk di pelukannya ini.

Paginya..

Putri membuka mata saat ia merasa sebuah tangan yang berat memeluknya dari belakang. Ini kali pertama Putri merasakan sebuah pelukan, hangat..tentram..

Kedua mata Putri memanas, air matanya menetes tiba tiba. Inikah rasanya di peluk?? Sehangat ini??

Bila tak ingat harus membuatkan bubur untuk sarapan Reza mungkin Putri tak rela untuk bangun. Ia masih ingin menikmati pelukan Reza yang seperti ini. Andai boleh ia merasakannya setiap hari...

Dengan pelan dan hati hati Putri mengangkat tangan Reza yang merangkulnya lantas beranjak bangun. Suhu tubuh Reza sudah stabil. Sepertinya ia sudah membaik. Lekas Putri membasuh wajah dan menyikat giginya. Ia harus lekas ke dapur umum di lantai 3 untuk membuatkan Reza sarapan. Tapi sebelum itu ia harus belanja dulu di tukang sayur depan kos. Bergegas Putri memasang sweaternya dan mengawasi jam diatas pintu, jam 6 pagi. Semoga Toriq tak mengganggunya hari ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!