Putri berusia 19 tahun. Ayahnya seorang pelaut yang pulang hanya sekali dalam satu tahun. Sehari hari Putri tinggal bersama Shirley-ibunya,Prisa-saudara perempuan yang berusia setahun dibawahnya dan Raja- satu satunya adik lelaki yang masih SMA.
Sebagai saudara paling tua, Putri hidup dalam tekanan batin yang keras. Ia harus selalu menjadi contoh yang baik bagi adik adiknya. Terlebih ia tak memiliki sosok ayah yang utuh, hanya setahun sekali mereka bertemu.
Dalam keseharian Putri, ibunya memperlakukannya berbeda dengan saudaranya yang lain. Putri harus bangun lebih pagi, membersihkan rumah dan mencuci baju adik-adiknya. Sementara kedua adiknya masih tidur dengan lelap, Putri harus mengosek kamar mandi atau menyapu halaman. Itulah mengapa, ia merasa ibunya pilih kasih. Putri merasa sudah lelah dengan semua ini. Ia hanya bisa bebas saat pergi ke sekolah.
Di awal lulus SMA, ibunya tak setuju saat Putri ingin melanjutkan kuliah. Baginya kuliah hanya membuang uang dan tak menjamin masa depan. Beruntung Putri lolos tes beasiswa, sehingga mau tidak mau pada akhirnya ia di ijinkan untuk kuliah.
Pernah sekali waktu Putri berpikir, apakah ia bukan anak kandung orang tuanya?? Mengapa ia diperlakukan berbeda dengan adik adiknya??
"Mbak Put, dicari ibu di suru ke Toko," teriak Raja dibalik pintu kamar Putri.
Putri menghembuskan nafasnya lelah dan berdiri. Keluarganya memiliki toko sembako di depan rumah.
Sesampainya di Toko, ia melihat ibunya menghitung beberapa lembar uang ratusan ribu di meja.
"Ibu manggil Putri??" tanya Putri tak bersemangat, ia baru saja selesai menjemur pakaian saat Raja memanggilnya tadi.
"Iya, ini uang ibu kok hilang ya dua ratus ribu."
Putri mengawasi ibunya dengan bingung, "terus??"
"Kamu yang ngambil??" cecar ibunya cepat.
Putri menghembuskan nafasnya tak percaya, ia tersenyum masam. Seharian ia bahkan tak masuk ke dalam Toko, dan selama ini tak sekalipun Putri berniat untuk mencuri uang orang tuanya meski ia mendapat uang saku pas pasan.
"Bener kamu ya, Put??"
"Bu, buat apa Putri mencuri uang ibu?"
"Ya mana ibu tau, terakhir kemarin malam kan, kamu yang jaga toko!"
"Kalo Putri mau, buat apa Putri cuma ambil 200 ribu."
"Terus siapa yang nyuri? Masak uangnya bisa jalan sendiri keluar dari laci meja ini," sungut ibu Putri dengan nada tinggi.
Putri menahan air matanya yang hampir merembes keluar. Sungguh perlakuan ibunya bagaikan ibu tiri…
"Bukan Putri yang ambil, Bu. Putri berani sumpah."
"Hallah, sumpah sumpah!! Kamu jangan main main sama sumpah, kualat nanti."
"Bukan Putri yang ngambil, Bu. Kenapa sih, selalu saja Putri yang disalahin!" cetus Putri kesal, air matanya lolos setetes dan lekas ia menghapusnya.
"Kamu berani bentak bentak sama orang tua!Belom juga jadi orang."
"Putri capek, Buk, seharian Putri kerja kaya babu dirumah ini, sementara Prisa dan Raja enak enakan nonton tivi, dan sekarang Putri difitnah nyuri uang??, kenapa ibu jahat banget sama aku!" cecar Putri berapi api, nafasnya tertahan penuh emosi.
Ibu Putri berdiri dan mengebrak meja di hadapannya dengan kasar. Ia menghampiri Putri dan mengawasinya marah.
"Plak!"
Sebuah pukulan mendarat di pipi kanan Putri. Seketika pipinya terasa panas dan sakit, air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi.
"Kamu mengeluh, hah?? Kamu nggak suka bantu ibu dirumah?? Kalo kamu nggak suka yaudah pergi sana, rasakan hidup di luar yang lebih kejam daripada hidup sama ibumu yang jahat ini!"
Putri mengawasi ibunya dengan pandangan nanar. Ia beringsut pergi dan kembali masuk ke dalam kamar. Tanpa di komando, Putri mengeluarkan travel bagnya dan memasukkan beberapa bajunya kedalam tas besar berwarna merah itu.
Tekad Putri sudah bulat untuk pergi dari rumah. Tidak ada alasan baginya untuk terus bertahan, terlebih setelah ibu mengusirnya seperti tadi. Ia ingin segera bebas dan tidak lagi sakit hati dengan perlakuan ibunya.
Jam 8 malam, Putri sudah selesai membereskan baju bajunya dan memasukkan beberapa barang penting kedalam tas. Ia juga membawa dokumen dokumen pribadinya untuk berjaga jaga. Nanti Putri akan menyelinap pergi saat semua penghuni rumahnya sudah tidur. Sementara ini, ia akan tetap bertingkah seolah tak terjadi apa apa.
Jam 11 malam, semua penghuni rumah sudah terlelap dikamar masing masing. Putri yang sudah bersiap untuk pergi, menyelinap keluar dari kamarnya dengan berjingkat-jingkat. Tak sampai 10 menit, ia berhasil keluar dari rumahnya yang sederhana dan berjalan cepat menuju jalan raya.
Suasana yang sepi karena malam yang sudah larut membuat Putri bergidik takut. Sesekali, ia menoleh ke sekeliling hanya untuk memastikan tidak ada orang yang membuntutinya. Ia tidak punya tujuan lain selain tempat Reza. Satu satunya orang yang bisa dia andalkan hanyalah kakak tingkatnya itu. Lekas Putri mempercepat langkahnya agar sampai di kos Reza sebelum malam semakin larut. Jarak antara rumah Putri dan kosan Reza hanya terpaut 500 meter. Tak begitu jauh, namun juga tak dekat.
Saat melihat bangunan rumah susun tempat kos Reza sudah nampak, Putri tersenyum lega dan meletakkan travel bagnya lelah. Setidaknya malam ini ia mempunyai tempat untuk numpang tidur yang aman. Meskipun Reza tak mau menemaninya kabur tak apa, ia akan pergi sendiri besok pagi. Kemanapun, asal jauh dari ibunya.
Putri menarik travel bagnya lagi dan berjalan memasuki pagar rumah kos Reza. Kamar Reza ada di ujung lantai 3, ia harus naik tangga untuk sampai kesana. Dengan keringat yang mulai membasahi baju dan keningnya, Putri menggotong travel bagnya menaiki tangga yang sedikit curam dengan lelah. Tenaganya sudah cukup terkuras seharian ini, emosinya juga.
Beberapa kamar yang ada di lantai 3 masih kosong, hanya dua kamar yang terisi yaitu kamar Reza dan kamar laki laki lain seusia Raja yang masih SMA. Lampu di kamar Reza masih menyala, Putri mempercepat langkahnya.
Tiba di depan pintu kamar Reza, ragu Putri mengetuknya perlahan. Dua kali ketukan, tak ada sahutan dari dalam kamar. Putri mulai gelisah. Ia mengusap peluh di keningnya ragu.
Knop pintu kamar Reza diputar, wajah Reza muncul dari balik pintu yang berdecit saat dibuka. Putri tersenyum kikuk saat tatapan Reza terbalalak melihatnya.
"Putri??" Reza mengawasi travel bag besar berwarna merah yang teronggok di samping tubuh Putri yang basah oleh keringat.
"Hay, Kak…" sapa Putri malu,
Reza menatap Putri seolah ingin menelannya, lantas membuka pintu kamarnya lebih lebar. Ia menarik Putri untuk masuk dan membantu membawakan travel bag itu dengan sigap.
Putri masuk kedalam kamar Reza dengan gugup, kemarin saat ia masuk ke dalam kamar ini, rasanya tak segugup hari ini. Entah mengapa, sekarang suasananya terasa berbeda.
"Kamu serius, Put??" tanya Reza, ia masih tak percaya dengan keputusan Putri untuk kabur dari rumah.
Putri mengangguk ragu, ia tak berani menatap Reza.
"Ada apa sih? Kamu bisa cerita sama aku, Put, tapi jangan kabur kaya gini."
"Kak Reza tuh nggak tau rasanya hidup sama orang tua yang pilih kasih! Aku sudah capek, Kak, diperlakukan berbeda sama orang tuaku sendiri."
"Berbeda kaya gimana sih, Put? Kan semua bisa di omongin baik baik.”
"Nggak, Kak Reza nggak akan paham, dari kecil aku udah hidup selayaknya anak tiri, ibuku sendiri bahkan nggak seneng ngeliat aku seneng!"
Reza menghembuskan nafasnya sedih, ia mengawasi Putri yang terlihat tertekan.
"Terus, kamu mau kabur kemana?"
"Kemana aja, asal nggak ketemu lagi sama ibuku," sahut Putri berapi api, ia menahan air matanya dengan susah payah.
"Aku cuma numpang tidur semalam disini, besok pagi pagi sekali aku akan pergi kok, aku nggak akan ngerepotin Kak Reza lebih lama," lanjutnya lirih.
Reza melepas kacamatanya lantas mengusap wajahnya frustasi, ia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Terlebih di kamarnya hanya ada satu ranjang kecil. Tidak mungkin ia tidur berdua dengan Putri disitu.
"Yaudah, kamu istirahat aja dulu, aku akan tidur dikamar Sigit. Besok jangan keburu pergi dulu, kita akan bahas ini lagi besok, oke??"
Putri tak menyahut, ia melirik ranjang Reza yang memang sangat kecil.
Reza beranjak dari hadapan Putri dengan ragu, tadinya ia sedang sibuk menulis untuk cerbung yang ia kirim ke sebuah tabloid. Cerbung karyanya sudah terbit sejak 2 minggu yang lalu, dan sekarang ia sedang menyelesaikan bagian akhir ceritanya.
"Kak Reza," panggil Putri ragu saat ia melihat tubuh jangkung Reza berlalu.
Reza menolehi Putri cepat.
"Terimakasih."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
sebutir debu
ceritanya bagus kak,
2022-03-22
1