Jam 10 lewat 15 menit,
Reza memarkir motornya perlahan. Ia mengamati sekelilingnya yang mulai sepi. Beberapa lampu di kamar kos lantai 1 dan lantai di atasnya sudah mati, penghuninya pasti sudah tidur. Ia mengawasi lampu kamarnya yang masih terang benderang dari bawah, apa Putri belum tidur??
Sambil menenteng kresek berisi kotak kue yang tadi diberi oleh kakek Nun, Reza menaiki tangga dengan ragu. Sejak memutuskan untuk tinggal bersama dengan Putri rasanya hidupnya semakin berat. Bukan materi yang Reza permasalahkan, hanya saja perasaannya semakin tak bisa dikontrol di saat saat tertentu. Reza tak masalah dengan uang yang entah sudah berapa juta ia habiskan hanya untuk membayar kos selama setahun, belum untuk makan dan lain lain, ia tak pernah keberatan dengan itu.
Saat sudah berdiri di depan pintu kamarnya, sayup sayup Reza mendengar suara isak tangis seseorang. Lekas ia merogoh kunci kamar di saku celana dan memasangnya di pintu. Saat pintu telah terbuka, ia melihat Putri sudah lelap tertidur di ranjangnya. Lalu suara tangis siapa tadi?? Bulu kuduk Reza berdiri. Lekas ia masuk dan menutup pintu kamarnya lagi.
Syukurlah Putri sudah tidur, jadi Reza tak perlu berdebat atau berpura pura tak terjadi apa apa diantara mereka. Telah terjadi sesuatu, Reza paham itu. Namun ia lebih memilih untuk mengabaikan perasaannya dan bertingkah seolah semua baik baik saja. Reza sadar akan statusnya yang hanya seorang kakak bagi Putri, ia tak ingin melewati batas itu karena sudah jelas Putri berulang kali mengatakannya.
Dengan sigap Reza melepas jaketnya usai meletakkan kresek kue di meja. Ia ingin mandi dan segera tidur. Seharian ini entah mengapa energinya terasa cepat terkuras habis, ia bahkan tak berselera untuk makan. Sepulang dari rumah kakek Nun tadi Reza memilih untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan kota. Beruntung Reza sempat melewatinya tempo hari saat sedang keluar bersama Putri. Reza membaca 2 buku hingga tamat, tapi rasa kesalnya tak juga pergi.
Gemericik air dingin dari shower membasahi rambut dan seluruh tubuh Reza. Ia butuh rileks sejenak. Reza memejamkan matanya dan menikmati setiap hembusan nafasnya yang teratur. Wajah Putri tiba tiba melintas dalam bayangannya, Reza menghembuskan nafasnya sedih dan membuka mata. Andai sejak awal ia tidak melibatkan diri dalam pelarian Putri, mungkin ia tidak akan segalau ini dengan perasaannya. Ada rasa kecewa, marah dan entah mengapa juga ada cemburu di hatinya. Semua ia rasakan hanya karena Putri..
Reza mematikan shower yang masih membasahi tubuhnya dan menarik handuk di gantungan. Usai mengenakan kaos dan celana tidurnya Reza keluar dari kamar mandi. Ia menarik karpet yang ia gulung dan letakkan di belakang lemari lantas menggelarnya di bawah jendela, jauh dari ranjang Putri. Biasanya Reza tidur di samping ranjang itu namun kali ini ia sedang tidak ingin berdekatan dengan Putri. Ia ingin mulai membiasakan diri untuk tidak terlalu dekat dengannya. Perlahan Reza merebahkan tubuhnya di karpet dan mencoba memejamkan mata, tak butuh waktu lama ia pun terlelap.
Paginya..
Sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela memantul tepat mengenai wajah Reza. Tubuhnya terasa tak bertenaga, Reza membuka matanya yang masih terasa berat. Perlahan ia beranjak duduk dan bertopang pada tangan kirinya, Putri sudah tidak ada di ranjangnya. Reza menghembuskan nafasnya yang masih terasa berat, ia melirik jam tangannya sekilas. Jam 8 lewat 10. Pantas saja sinar matahari masuk dari jendela, rupanya ia bangun kesiangan. Sedikit gontai Reza berdiri dari karpet tempatnya tidur dan masuk ke kamar mandi. Tubuhnya terasa nyeri di beberapa bagian, ia seperti kedinginan. Mungkin mandi air hangat akan membuat moodnya membaik.
Usai mandi dan mengganti pakaiannya, Reza melongok keluar jendela untuk mencari Putri. Namun tak ada siapapun di luar. Mungkin Putri sedang sarapan dirumah bu Mirna lagi.. batin Reza getir. Ia mengenakan jaketnya dan bergegas pergi. Ia sudah terlambat kerumah kakek Nun, hari ini ia akan super sibuk karena mempersiapkan buku yang akan dibawa ke pameran budaya beberapa hari lagi.
Reza memanasi motor sambil mengawasi sekelilingnya, berharap melihat Putri lewat agar ia bisa berpamitan namun tak ada siapapun selain pak Ali yang sedang mencabuti rumput di halaman. Reza mengawasi jam tangannya, jam 9. Lekas ia menaiki motornya dan melajukannya perlahan.
Saat baru keluar dari pagar kos, Reza menghentikan motornya yang hendak masuk ke bahu jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Entah mengapa pandangannya tiba tiba tertuju pada warung di depan kos Pelangi yang biasa ia datangi. Perutnya lapar.., ia tak makan apapun sejak kemarin.
Tapi kemudian samar samar pandangan Reza menangkap sosok Putri berada di warung itu sedang sarapan, dan ia tak sendirian ada seorang lelaki di sampingnya.. Reza memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas, Toriq!!
Dada Reza bergemuruh lagi, ia menutup kaca helmnya dan melajukan motornya masuk ke bahu jalan. Baiklah sepertinya Putri nampak baik baik saja meski tanpa dirinya..
Saat acara pameran budaya selesai nanti Reza memutuskan akan kembali ke tempat kosnya yang lama. Toh ada dan tidak ada dia pun tak berarti apa apa bagi Putri. Ia seperti bayangan yang tak nampak. Tekadnya sudah bulat untuk pulang. Mungkin sementara ia akan tinggal dirumah kakek Nun hingga pameran selesai. Sepulang kerja nanti ia akan membereskan semua pakaiannya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments