5

"Kak..kak Reza..."

Reza membuka matanya perlahan, gelap. Sepersekian detik ia masih hang dan tidak menyadari dimana ia sekarang. Ia sedikit kaget saat melihat kepala Putri muncul dari tempat tidur di atasnya namun setelah itu barulah Reza sadar ia sedang berada di kamar yang sama dengan Putri.

"Ya Put??" Sahut Reza mengusap matanya yang perih, ia melirik jam tangannya sekilas. Jam 2 dini hari.

"Aku laper kak..." desis Putri lirih, "aku gak bisa tidur daritadi.."

Reza beranjak duduk bertopang pada kedua tangannya. Dini hari begini dimana ada orang jual makanan?

"Kamu mau makan apa?" Tanya Reza bingung.

Ia bahkan tidak tau apa masih ada rumah makan yang buka di jam 2 dini hari seperti ini.

"Apa yaaa.., hmm...kita jalan dulu aja deh yuk.."

"Gak usah kamu tunggu sini aja, biar aku yang beliin diluar.."

"Tapi aku takut sendiri disini kak.." tukas Putri berbisik. "Daritadi kayanya ada suara suara aneh deh.."

Reza menarik nafasnya berat, ia masih mengantuk namun Reza tak tega melihat Putri kelaparan. Ia sendiripun sebenarnya lapar namun pada akhirnya lebih memilih untuk tidur.

"Yaudah ayo.."

Putri menyibak selimutnya dan lekas beranjak duduk. Reza mengambil jaket yang ia gantung dibalik pintu dan memakainya.

Tak berapa lama Reza dan Putri sudah berjalan keluar dari kamar kos dan menuruni tangga. Saat hampir sampai di lantai bawah sebuah mobil memasuki halaman, sinar lampunya membuat Reza dan Putri silau seketika. Mobil itu berhenti di tempat parkir di ujung rumah.

Sepertinya itu penghuni kamar kos seperti mereka berdua.

Reza melanjutkan langkahnya lagi, Putri mengekor di belakang. Saat sampai di pagar depan Reza menarik Putri agar berjalan di sampingnya. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang tidak tidak. Dengan Putri berjalan di sampingnya maka Reza bisa menjaga Putri lebih dekat.

"Kak Reza gak ngantuk??"

Reza menolehi Putri yang tak lebih tinggi dari bahunya dan tersenyum masam.

"Ngantuk sih..." sahutnya sambil kembali mengawasi jalanan di depannya.

"Maaf ya kak, aku jadi gak enak sudah banyak ngerepotin kak Reza.." desis Putri sambil menggandeng tangan Reza cepat.

Reza menahan nafasnya gugup, tingkah Putri selalu diluar kontrolnya. Dia selalu melakukan kontak fisik yang membuat Reza mendadak jantungan.

Sementara Reza sibuk dengan degupnya, Putri malah menikmati hangatnya tangan Reza diantara hawa dingin yang menusuk tulang.

Entah sudah seberapa jauh mereka berjalan menyusuri jalan raya yang sepi. Tak ada satupun rumah makan yang buka kecuali toko waralaba.

"Kita beli roti aja ya Put, sementara ganjal perutmu pake roti dan susu, besok pagi baru cari sarapan.." putus Reza sambil menunjuk pada toko waralaba.

Putri menarik nafasnya berat dan mengangguk pasrah. Reza tersenyum lega dan menarik tangan Putri untuk menyeberang jalan menuju toko waralaba tersebut.

Usai membeli roti, susu dan beberapa snack, Reza memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang di sediakan di teras dan membiarkan Putri menyantap rotinya.

"Kak Reza mau??" Tawar Putri sambil memberikan sepotong roti yang sudah ia belah,

Reza mengambil roti berisi selai coklat itu dan memakannya perlahan. Sesekali Reza memperhatikan Putri yang asyik memakan rotinya dengan khusyuk. Setiap makanan yang ia makan terasa sangat nikmat, Reza menyukai ekspresi Putri saat sedang makan.

"Oiya, kak Reza gak pernah cerita sama aku tentang keluarga, kak Reza punya adik?" Tanya Putri tiba tiba,

Reza menelan roti yang baru saja ia kunyah dengan cepat. Entah mengapa ia merasa tak nyaman dengan pertanyaan Putri.

"Gak ada.., aku yatim piatu.."

"Oh ya?? Ya ampun maaf kak..," seru Putri terbelalak. Ia merasa bersalah saat mendengar jawaban Reza.

Reza tak menyahut, ia membuang muka dan membuka botol air mineral yang tadi ia beli lantas meminumnya hingga habis.

Putri tak berkata kata lagi, ia kembali fokus memakan roti dan meminum susu beruang yang tadi dibeli oleh Reza.

"Udah selesai? Yuk balik.." ajak Reza saat roti dan susu milik Putri sudah habis.

Putri menurut dan berdiri mengikuti Reza yang berjalan cepat di depannya. Suasana hati Reza mendadak buruk saat Putri membahas keluarganya. Ia tidak suka bila harus mengingat ingat tentang orang tuanya.

Saat tiba di Rumah Kos Pelangi, Reza lebih dulu naik tangga tanpa menolehi Putri dibelakangnya. Tanpa ia sadari di ujung tangga ada seseorang yang berdiri mengawasinya dan Putri. Reza melewati laki laki yang sedikit menghalangi jalannya dan tanpa sengaja menyenggol tubuhnya saat berpapasan. Aroma manis dan kuat semerbak tiba tiba. Reza terkesiap, bau alkohol.

Reza menghentikan langkahnya dan menolehi Putri yang masih berjalan menaiki tangga dengan perlahan. Laki laki itu masih berdiri di tempatnya, ia mengawasi Putri lekat lekat. Perasan Reza tiba tiba tak nyaman.

Putri menaiki tangga terakhir dan sedikit terkejut saat melihat seorang lelaki tinggi besar menghalangi jalannya.

"Permisi.." desis Putri sopan agar lelaki itu menyingkir. Namun ternyata ia tak bergeming.

Putri menolehi Reza yang juga sedang mengawasinya khawatir.

"Mas, permisi saya mau lewat.." ucap Putri lagi,

Reza menghembuskan nafasnya jengkel dan berbalik menghampiri Putri. Ia menarik tangan Putri dan mendorong lelaki yang menghalangi jalannya.

Lelaki itu sontak menangkis tangan Reza dan berbalik mendorongnya. Reza kehilangan keseimbangan dan terjerembab membentur dinding dibelakangnya. Putri yang masih dalam genggaman tangannya pun ikut terdorong dan membentur tubuh Reza.

"Brengsek lu!!" Seru laki laki itu keras.

Reza menarik Putri agar bersembunyi di belakang tubuhnya cepat. Lelaki bertato itu menghampiri Reza dan Putri sambil mengacungkan tinjunya.

"Toriq!!!" Teriak sebuah suara memecah sunyi,

Reza dan Putri menoleh cepat, seorang ibu ibu paruh baya muncul dari tangga dan menghampiri lelaki mabuk itu.

"Bu Mirna.." desis Putri lirih,

Reza berpikir sejenak, ia pernah mendengar nama bu Mirna. Apakah ia pemilik rumah kos ini??

Lelaki bernama Toriq itu terdiam seketika, ia mengawasi bu Mirna lesu.

"Masuk ke kamarmu!, jangan ganggu mereka.."

"Tapi Virsa bareng laki laki lain tante.."

"Dia bukan Virsa!!, sadarlah dari mabukmu anak bodoh!" Cetus Bu Mirna keras,

Reza menahan nafasnya bingung begitu juga dengan Putri.

Toriq menurut, ia turun ke lantai 1 dan menghilang. Bu Mirna mengawasi Reza dan Putri lantas menghampiri mereka.

"Maaf ya, itu tadi Toriq keponakan saya, dia punya sedikit bad habit setelah bercerai dengan istrinya setahun yang lalu.." ucap Bu Mirna seraya tersenyum sopan.

Reza mengangguk pelan,

"Kembalilah ke kamar kalian.., biar besok saya suruh Toriq untuk minta maaf.." lanjut Bu Mirna halus,

Putri menarik Reza perlahan.

"Selamat malam bu Mirna, selamat beristirahat.." ucap Putri sambil tetap menarik Reza.

Reza membungkuk untuk memberi salam dan mengikuti Putri.

Di dalam kamar, Putri masih belum bisa menghilangkan rasa syoknya. Wajahnya masih memucat. Reza jadi merasa bersalah tidak bisa melindunginya.

"Yaudah kamu tidur lagi sana.." perintah Reza cepat. Ia membuka jaket dan menggantungnya lagi.

Putri menarik nafas pelan dan naik keatas ranjang. Ia memasang selimutnya ragu.

Reza mematikan lampu dimeja dan ikut berebah di lantai yang sudah beralas karpet. Entah mengapa kejadian tadi membuatnya semakin berat untuk meninggalkan Putri ditempat seperti ini. Lelaki pemabuk itu bisa saja kembali lagi kapan pun. Bagaimana bila saat itu Putri sedang sendirian?? Reza memejamkan matanya galau.

Tidak mungkin juga bila ia tinggal disini, terlebih sekamar berdua seperti ini. Tapi tidak mungkin Reza meninggalkan Putri sendiri disini..ahhhh lama lama dia bisa gila!!

"Kak.. udah tidur.." tanya Putri lirih

Reza tak menyahut, ia memejamkan matanya cepat. Terdengar suara berisik saat Putri beranjak duduk. Ia mengawasi Reza yang sudah terlelap.

"Hmhhhh, aku takut kak.." desis Putri lagi pelan, Reza masih tak bergeming.

Putri menghembuskan nafasnya sedih lantas kembali berebah pelan. Baru kali ini ia melihat laki laki mabuk seperti tadi. Entah apa yang terjadi bila tak ada Reza..

Seketika Putri tak ingin jauh dari Reza, ia takut lelaki itu mengganggunya lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!