Suara gemericik air kran dikamar mandi membangunkan Reza yang masih mengantuk. Semalam ia tak bisa tidur lagi usai kejadian itu. Menjelang pagi ia baru bisa terlelap. Matanya perih dan berat, namun ia harus bangun karena Putri pasti tak nyaman berada di kamar dengan lelaki di dalamnya.
Ragu Reza beranjak duduk, ia mengusap matanya pelan. Putri sudah tidak ada di tempat tidurnya, ia sedang mandi. Reza lekas berdiri dan membuka jendela kamar agar udara segar bisa masuk. Ia melirik jam tangannya sekilas, jam 9 pagi. Reza beranjak keluar dari kamar dan berdiri mematung memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalan depan kos Pelangi.
Saat Putri keluar dari kamar mandi, ia tertegun melihat Reza sudah tidak ada lagi didalam kamar. Kemana dia? Batin Putri bingung seraya menarik handuk yang menutup rambutnya yang basah.
Namun kemudian ia menemukan Reza berdiri diluar kamar dari jendela kamar yang terbuka, Putri menghembuskan nafasnya lega. Syukurlah desisnya senang. Tadinya Putri takut bila Reza pergi tanpa pamit.
Putri menyisir rambutnya cepat cepat dan bergegas keluar kamar menghampiri Reza yang masih mematung.
"Kak.."
Reza tersentak dan menolehi Putri yang sudah berdiri di sampingnya. Sepertinya tadi ia melamun.
"Pagi pagi udah ngelamun aja sih.." goda Putri terkekeh melihat ekspresi kaget di wajah Reza.
Reza tak menyahut, ia kembali mengawasi jalanan di depannya.
"Selamat pagi.... waaah manten baru ya pagi pagi sudah keramas.."
Reza dan Putri sontak menoleh bersamaan, bu Mirna muncul bersama dengan laki laki yang semalam mabuk bernama Toriq itu dibelakangnya.
Reza menarik Putri agar berdiri di belakangnya. Wajah Putri berubah tegang dan takut.
"Toriq, minta maaf sama mereka berdua.." cetus bu Mirna sambil menolehi Toriq yang mematung di sampingnya.
Toriq menghampiri Reza ragu, terlebih tatapan Reza begitu tajam seolah ingin membinasakannya. Saat sudah berdiri di hadapan Reza dan Putri, ia mengulurkan tangannya perlahan.
"Maaf atas kejadian semalam.." desis Toriq lugu,
Reza masih mengawasinya tajam, ia berjaga jaga khawatir tiba tiba Toriq masih hang over.
" tapi istrimu, benar benar mirip dengan mantan istriku.."
"Toriq!.." seru bu Mirna di belakang Toriq,
Toriq menolehi bu Mirna dan menunduk.
"Maaf bro.., tanganku pegal by the way.." ucap Toriq sambil menunjuk tangannya yang masih terulur.
Reza menghembuskan nafasnya kesal dan menyalami tangan Toriq. Hanya karena ia tak ingin bermasalah lagi dengan laki laki pemabuk ini.
Toriq tersenyum senang dan mengawasi Putri yang bersembunyi dibalik punggung Reza.
Saat menyadari Toriq mencuri pandang pada Putri, Reza menghalangi pandangan Toriq dengan tubuhnya yang menyamai tinggi Toriq.
Bu Mirna menghampiri mereka dan menepuk bahu Toriq pelan.
"Toriq tinggal bersama saya di rumah utama, tapi terkadang dia menginap di kamar kos lantai 1, sebagai tantenya saya minta maaf pada kalian berdua atas perbuatan Toriq yang membuat kalian tak nyaman..." cetus Bu Mirna halus,
Reza ganti mengawasi bu Mirna, namun Toriq ternyata lebih menyita perhatiannya.
"Maaf mas Reza.., mbak Putri... kami benar benar minta maaf.."
"Gapapa Bu Mirna, tapi mungkin lain kali perlu diberlakukan jam malam, agar rumah kos ini aman.., tidak ada yang keluar masuk dengan bebas.."
"Ohh gak bisa, sebagai penghuni baru kalian gak bisa menentukan peraturan seenaknya.."
"Toriq diam!" Seru bu Mirna cepat, " tapi mungkin ide itu bagus juga, biar kamu gak kelayapan kemana mana dan pulang tepat waktu!!"
"Tanteee, mana bisa begitu.." tukas Toriq kesal,
"Apa yang gak bisa tante lakukan di Rumah Kos ini?? Kalo kamu gak mau nurut silahkan pulang kerumah orang tuamu.."
Toriq menolehi bu Mirna tak percaya, hanya karena laki laki baru ini mengusulkan ide gila lantas tantenya menyetujui begitu saja??
"Ahhh tauk lah!!" Sungut Toriq kesal lantas beranjak pergi meninggalkan bu Mirna, Reza dan Putri yang masih meringkuk dibalik punggung Reza.
Bu Mirna menarik nafasnya berat dan tersenyum melihat Reza.
"Sekali lagi saya minta maaf mas Reza... semoga kejadian ini menjadi yang pertama dan terakhir.." ucap bu Mirna tulus,
Reza mengangguk dan tersenyum dibalik rasa kesalnya.
Di dalam kamar..
Putri duduk meringkuk di atas tempat tidur sementara Reza mengawasinya serius.
"Kamu bisa pilih, pindah kos atau tetap disini dan diganggu laki laki tadi.."
"Aku sudah nyaman disini kak.."
"Tapi disini ada laki laki gila itu... kamu dengar sendiri kan dia bilang kalo kamu mirip mantan istrinya, bukan gak mungkin dia akan ganggu kamu lagi seterusnya.."
Putri tak menyahut, Reza menghembuskan nafasnya kesal.
" yaudah kalo gitu kak Reza jangan pergi.." desis Putri seraya menarik kaos Reza pelan,
Reza menolehinya ragu, wajah memelas itu adalah senjata andalan Putri untuk membuat Reza luluh padanya.
"Aku harus pulang Put... aku gak bisa disini.."
"Apa bedanya sih kak, kak Reza kan juga bisa melanjutkan kuliah disini.." tukas Putri cepat,
"Kita tinggal sekamar, itu gak baik.., kita juga gak ada ikatan apa apa.."
"Yaudah kalo gitu ayo ikat aku.." tukas Putri lagi cepat,
Reza mengawasinya kaget dan menghembuskan nafasnya frustasi.
"Kak Reza sayang gak sama aku?? Selama kita bareng pasti ada kan rasa rasa sayang.."
"Jangan bercanda kamu Put..!"
"Aku serius!," potong Putri cepat,
"Kamu sendiri apa yang kamu rasakan..?" Tanya Reza penasaran,
Putri tersenyum dan mengawasi Reza serius.
"Akuuuuu, sayang sama kak Reza..." desis Putri lirih, "kak Reza udah kaya kakakku sendiri..,"
Reza membuang muka mendengar kalimat terakhir yang Putri ucapkan.
" sejak kecil aku gak punya sosok ayah yang utuh, kak Reza adalah laki laki pertama yang membuat aku nyaman..." lanjut Putri menerawang, "aku selalu tenang kalo bersama kak Reza, aku ngerasa aman.."
Reza menolehi Putri terharu, entah mengapa ia malah menjadi iba.
"Plisss, jangan pergi ya..," pinta Putri memohon.
"Tapi orang orang taunya kita menikah, kamu gak takut sekamar dengan laki laki asing??"
"Kak Reza bukan orang asing, aku percaya kak Reza orang baik....aku lebih takut sama laki laki tadi daripada sama kak Reza!"
"Kalo aku ngapa ngapain kamu gimana?? Kamu gak takut?"
"Ngapa ngapain gimana maksutnya??" Tanya Putri bingung.
Reza menggaruk rambutnya keki, "yaaa, ngapain kek.., kamu gak takut kalo aku tiba tiba meluk kamu ato.."
Belum selesai Reza berkata kata, Putri sontak memeluknya dengan erat. Tubuh Reza menegang seketika.
"Meluk kaya gini??" Tanya Putri polos, mendongah mengawasi Reza yang tak bergerak karena syok.
"Aku malah suka di peluk tauk!" Cerocos Putri riang lantas bersandar di dada Reza yang berdetak tak beraturan.
Reza melepas pelukan Putri di tubuhnya dan mencekal bahunya pelan.
"Berhati hatilah dengan tubuhmu Put, kamu gak tau apa yang bisa terjadi dengan kontak fisikmu yang selalu spontan kaya gitu.." terang Reza lugas.
Putri menyimaknya serius, ia mengangguk paham.
"Baiklah.." Reza menghembuskan nafasnya yang terasa semakin berat. "Kita buat perjanjian dulu sebelum memutuskan untuk tinggal bersama.."
Putri terbelalak senang, reflek ia mendekat untuk memeluk Reza lagi. Namun Reza lebih dulu menghindar dan menahan tubuh Putri agar menjauh.
"Upsss.., maaf kak.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
NAZERA ZIAN
hahaha, Putri buat jantung reza kembang kempis...
2022-11-16
0