Setelah pertikaian yang panjang dengan batinnya, akhirnya Reza memutuskan untuk menemani Putri pergi. Setidaknya untuk memastikan Putri berada di tempat yang aman selama ia melarikan diri dari orang tuanya. Setelah itu Reza akan kembali ke kosnya lagi dan melanjutkan hidupnya.
Dengan mengendarai motor maticnya Reza dan Putri menyusuri jalanan yang asing bagi mereka berdua. Entah kemana, Reza hanya melajukan motornya tanpa tau arah dan tujuan. Yang ada di pikirannya hanyalah pergi ke kota kecil yang jauh dari akses apapun. Tapi dimana??
"Kak Reza aku laper.." ucap Putri sedikit berteriak di telinga Reza yang tertutupi helm.
Reza menepikan motornya saat melihat sebuah rumah makan. Ia baru ingat mereka belum makan apapun sedari pagi.
Putri turun dari motor saat Reza mematikan mesin. Ia menyerahkan helmnya pada Reza dan merapikan rambutnya yang berantakan. Reza tersenyum melihat Putri yang nampak sangat lugu ketika menyisir rambutnya yang awut awutan dengan jemarinya. Ia membuka helmnya juga dan turun dari motor.
"Kamu mau makan apa??" Tanya Reza saat pelayan mendekat ke meja mereka berdua ketika sudah berada di dalam rumah makan.
Putri mengamati buku menu di hadapannya dengan teliti, " pecel aja deh mbak... sama teh hangat ya.."
Reza tertawa kecil mendengar menu yang dipesan oleh Putri,
"Kamu gak bosan makan pecel??" Tanya Reza penasaran.
Putri menggeleng cepat, "dirumah hampir setiap hari ibu masak, tapi aku selalu gak kebagian jadi seadanya bahan dikulkas aku makan, dan karena ibu selalu nyetok bumbu pecel jadinya malah doyan sampe sekarang.." tawa Putri lugu,
Entah mengapa Reza malah sedih mendengarnya. Apakah sesedih itu kisah hidup Putri?? Bahkan untuk makan saja sampai tak kebagian??
"Yaudah pecel dan teh hangatnya 2 ya mbak..," putus Reza sambil menyerahkan kembali buku menu pada pelayan.
"Kak Reza sendiri doyannya makan apa??" Tanya Putri memecah suasana.
"Aku sih makan apa aja doyan Put.." sahut Reza sekenanya, ia membuka jaket bombernya dan meletakkan di sandaran kursi.
"By the way makasih ya kak Reza sudah mau nemenin.." ucap Putri mengawasi Reza yang duduk di depannya.
Reza menahan nafasnya gugup, sudah lama ia tak di tatap seperti itu oleh perempuan. Ia bahkan hampir lupa bagaimana rasanya bila saja Putri tak sedang menatapnya tajam seperti sekarang.
"Jangan senang dulu, aku cuma mengantarmu sampai ke tempat yang aman..,setelah itu aku akan kembali.." sahut Reza berusaha tenang.
Putri tersenyum dan mengangguk paham.
"Gapapa, begini aja aku sudah seneng banget kok, aku jadi berasa punya kakak yang selalu melindungiku.." desisnya tulus.
Reza menghembuskan nafasnya berat, bagaimana bisa ia ke Ge-er an di tatap seperti tadi padahal Putri hanya menganggapnya seperti seorang kakak. Tidak lebih.
Putri mengawasi raut Reza yang berubah suram dan gelisah. Laki laki yang pertama kali dekat dengannya hanyalah Reza. Hanya dialah yang Putri miliki saat ini.
Makanan yang mereka pesan pun datang, Putri melahapnya dengan antusias hingga habis tak bersisa dalam waktu kurang dari 10 menit saja. Reza bahkan belum menghabiskan separuh nasinya.
Usai makan dan beristirahat sebentar, Reza dan Putri memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Menurut rute google map yang Putri lihat tadi beberapa kilometer dari rumah makan itu ada kota kecil yang sepertinya aman untuk mereka datangi. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kesana.
Satu jam perjalanan, mereka tiba disebuah kota kabupaten yang ternyata padat penduduk. Hari sudah sore saat mereka tiba disana. Reza mencari hotel namun ternyata tak ada satupun hotel disana.
"Kita kemana nih enaknya??" Tanya Reza bingung, hari mulai petang.
Putri mengawasi rumah rumah dipinggir jalan yang ia lewati. "Terima Kos Pasutri dan umum"
Putri menepuk bahu Reza pelan dan menunjuk plang nama Rumah susun di depannya.
"Kita kesana aja yuk kak.." pinta Putri lekas,
"Kamu yakin mau kos di sini? Gak mau cari kota yang lebih kecil lagi??"
"Gak perlu lah kak, disini kayanya juga udah jauh dari rumah..," sahut Putri sedikit berteriak di telinga Reza.
Reza menurut dan menepikan motornya memasuki halaman rumah susun itu. Hari sudah gelap dan mereka pun sudah lelah.
Rumah Kos Pelangi Senja.
Sebuah rumah susun berlantai 4 yang sepertinya lumayan privat. Tidak banyak penghuni yang tinggal karena beberapa lampu dikamar masih gelap.
Reza memarkir motornya di halaman yang sudah di fasilitasi tempat parkir. Usai mematikan motor mereka berdua turun dan memasuki rumah utama yang sepertinya rumah pemilik Rumah Kos ini.
"Cari siapa mas??" Sebuah suara lelaki mengagetkan Reza dan Putri.
"Ehh pak, bikin kaget aja..!" Desis Putri gugup.
"Ehehehe, maaf mbak, sepertinya pak Ali belum pernah melihat kalian berdua, ada keperluan apa ya??"
"Kami mau kos pak, sepertinya masih banyak kamar kosong ya?"
"Kamar yang kosong tinggal kamar pasutri Mas, kalian pengantin baru kan ya??" Cetus bapak paruh baya bernama Ali itu lugu.
Reza mendadak gugup dan menggaruk keningnya yang tak gatal. Pengantin katanya?
"Yaudah gapapa pak kami ambil kamar itu.." sahut Putri cepat.
Reza sontak menolehinya kaget, Putri mengisyaratkan Reza untuk diam.
"Baik, saya panggilkan bu Mirna dulu biar kalian bisa registrasi ya.."
Putri mengangguk cepat dan mengikuti Pak Ali yang beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Reza menarik tangan Putri dan menahannya,
"Kamu gimana sih Put, kok malah pesen satu kamar..!" Sungut Reza kesal.
"Kak Reza kan gak lama disini, toh nanti juga aku sendirian kan.." sahut Putri santai seperti biasa.
Reza menghembuskan nafasnya lelah, terlebih ia membawa dua travel bag yang beratnya pasti melebihi berat badannya.
Putri meninggalkan Reza yang masih berdiri mematung, ia menghampiri pak Ali yang masuk ke dalam rumah utama. Mau tak mau Reza akhirnya harus mengalah.
Tak sampai satu jam, Putri keluar dari rumah itu dan menghampiri Reza yang duduk di kursi taman depan.
"Yuk kak.." ajak Putri seraya menarik travel bag miliknya,
Reza menepis tangan Putri cepat, "Biar aku aja yang bawa, kamu tunjukin aja dimana kamarnya.." sahut Reza suntuk.
Putri menurut dan berjalan lebih dulu menaiki tangga. Reza menarik nafasnya yang semakin terasa berat dan mengikutinya.
Kamar mereka berada di lantai 2. Semua kamar pasutri berada di sana. Pak Ali mengantar mereka sambil menjelaskan bahwa di lantai 1 adalah kamar laki laki, lantai 2 dan 3 khusus pasutri dan lantai 4 adalah lantai khusus perempuan.
Putri memasangkan kunci di kamar bernomor B14.
" sudah ya mbak.. mas.., selamat beristirahat, semoga malam pengantin kalian berdua lancar.." cetus Pak Ali sebelum kemudian beranjak pergi.
Putri tertawa saat pak Ali sudah pergi. Ia membuka pintu kamar dan menyalakan lampu.
Reza mengamati seisi kamar yang berisi lemari, meja belajar, kamar mandi dan ranjang berukuran queen size. Benar benar sebuah kamar untuk pasangan. Reza mulai frustasi.
" kak Reza tau nggak, tadi tuh aku di introgasi sama ibu kosnya, diminta surat nikah dan lain lain, aku bilang kalo kita kawin lari.. hahahaa"
Tawa Putri sambil membuka jaketnya dan menggantungnya di balik pintu.
Reza tak menyahut, apa itu berarti malam ini ia akan tidur berdua dikamar ini dengan Putri?? Apa apaan..!!
"Aku akan cari penginapan lain di daerah sini, kamu istirahat aja Put.." cetus Reza sambil meletakkan travel bag milik Putri di dalam lemari.
"Ihhh, kak Reza gimana sih! Bisa bisa Putri di usir kalo kak Reza gak tidur disini..!"
"Jangan becanda Put, kita bahkan bukan sepasang kekasi.."
"Apa salahnya berpura pura.., cuma sampai kak Reza kembali nanti aku akan jelaskan sama bu kos kalo kita cuma teman.."
Reza mengusap wajahnya kesal, ia sungguh lelah hari ini. Tubuhnya mulai terasa pegal.
"Plis kak, aku capek banget hari ini pengin cepet tidur..," mohon Putri memelas.
Reza membuang muka dan menghembuskan nafasnya berat.
"Gapapa ya kak? Pliss, kita sudah sejauh ini.."
Pinta Putri lagi sambil mendekat ke tempat Reza berdiri dan menarik tangannya.
Reza menahan degubnya yang mulai berantakan. Dua mata bulat Putri yang menatapnya penuh harap membuat hatinya luluh.
"Yaudah, tapi besok aku kembali ke kota.."
"Yeaaayyyy!!" Sontak Putri memeluk Reza dengan erat, membuat jantung Reza berhenti berdetak dan nafasnya mendadak tertahan.
Baiklah hanya malam ini saja... setidaknya ia bisa tidur di lantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments