18

Sepanjang perjalanan menuju toko buku Kakek Nun pikiran Reza terasa kosong. Ia tak bisa lagi berpikir jernih. Emosinya seperti terkuras selama dua hari ini. Mengapa ia jadi amat marah melihat Putri bersama Toriq?? Mengapa ada rasa tidak rela melihat Putri tertawa bersama laki laki itu? Apa karena Putri selama ini selalu menempel dan bergantung padanya? Apa karena diam diam Reza mulai mencintai gadis belia itu??

Akhhh, Reza seperti mau gila. Ia bahkan tak paham dengan perasaannya sendiri. Putri masih 19 tahun, wajar bila gadis itu masih labil dan selalu ingin tahu. Sementara Reza sendiri sudah berada di usia matang 28 tahun. Harusnya ia bisa membimbing Putri dan tidak membuatnya kebingungan.

"Selamat pagi Reza..!" Sapa kakek Nun begitu melihat Reza masuk,

Reza tersenyum dan berjalan melewati kakek Nun tanpa bersuara. Entah mengapa tubuhnya melemah, ia sedikit pusing. Reza duduk di kursi perlahan.

"Kamu sakit??" Tanya Kakek Nun yang tiba tiba sudah berdiri di samping Reza.

Reza menoleh dan menggeleng cepat. "Saya gapapa kek... sepertinya cuma lelah.."

"Sepagi ini sudah lelah?? Memangnya kamu habis di apain sama istrimu hahahaha.." tawa kakek Nun lepas,

Reza tersenyum sumbang, Putri sudah memporak porandakan hatinya.

"Wajah kamu pucat Reza, kenapa kamu memaksa datang kalo gak enak badan.."

"Saya gak papa kakek Nun, saya gak sakit.."

"Gak papa gimana? Liat itu bibir kamu biru gitu.., pulang sana! Istirahat.."

"Tapi kan kita mau beres beres buku buat dibawa pame—"

"Jangan mikir pameran dulu, kesehatan kamu lebih penting... sana pulang dan istirahat. Lusa kamu boleh masuk kalo sudah sehat.."

"Keeekkk, saya gapapa.."

Kakek Nun menatap Reza serius, ia seperti akan marah. Reza menunduk lesu, ia memang sedang tidak baik baik saja. Dan kakek Nun bisa melihat semua itu tanpa Reza berkata apa apa.

"Sana pulang, cepat istirahat dan minum obat..,semakin cepat kamu istirahat maka semakin cepat kamu sembuh..,baru setelah itu kita memikirkan pameran.." cetus kakek Nun tegas,

Reza tak bisa berkutik lagi, kepalanya mulai berdenyut denyut pening. Tubuhnya kedinginan.

"Yaudah Reza pulang dulu ya kek, maaf Reza gak bisa bantuin kakek hari ini.." desis Reza tak rela, ia masih ingin lebih lama berada di toko buku ini. Pulang ke kos sama saja dengan bertemu sumber masalahnya.

"Awas kalo kamu gak pulang, jangan kelayapan kemana mana!"

"Iya kek,.." sahut Reza lemas, lantas berdiri dan menyalami kakek Nun.

Kakek Nun mengawasi Reza yang berjalan pelan keluar dari tokonya. Anak keras kepala seperti Reza mengingatkan ia pada dirinya sendiri di masa muda dulu.

Motor Reza melaju pelan karena ia sedikit pusing saat sinar matahari menerpa matanya. Ia ingin sekali tidur, sepertinya tidur di ranjang akan membuatnya merasa lebih baik. Tapi bagaimana bisa ia tidur di ranjang milik Putri? Tabu baginya tidur di ranjang yang sama dengan lawan jenis. Ia takut tak bisa mengontrol diri.

Tak butuh waktu lama Reza tiba di kos Pelangi, aroma kasur membuatnya ingin cepat sampai dan berebah. Ia benar benar sudah tidak kuat membuka mata.

"Hay bro.." sapa Toriq yang sudah berdiri di belakang Reza saat ia hendak naik tangga menuju lantai 2.

Reza berhenti dan menoleh, Toriq yang tampan dan setinggi dirinya nampak sangat gagah. Sayang Reza tak pandai merawat diri sejak ia kabur dari rumahnya dulu.

"Ada apa Riq?" Tanya Reza dingin,

Toriq tersenyum dan menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Apa ada lowongan di tempatmu kerja? Bosen nih nganggur.."Tanya Toriq antusias,

"Gak ada, mending kamu kerja di tempat lain.." sahut Reza seraya berbalik hendak menaiki tangga,

"Gak ah, mending kerja di tempatmu kayanya enak tuh.., seminggu bisa dapet puluhan juta..!"

Reza mengawasi Toriq bingung, apa maksutnya??

"Kan gajimu gede bro, masa gak mau bagi bagi rejeki sih.."

"Maksut kamu apa sih? Aku lagi males ribut ya.." tukas Reza seraya berbalik dan mengawasi Toriq serius.

"Duh, emang siapa yang mau ngajak ribut? Aku cuma nanya lowongan kerja kan.."

" tapi kamu gak perlu bahas soal uang puluhan juta juga kan?? Bukan urusan kamu loh, mau aku dapat uang dari kerja kek, dari nyolong kek ato dari jual diri sekalipun!" Cecar Reza tak suka, Toriq mulai mengintervensi dirinya.

" aku cuma penasaran aja sih bro, kerja dimana sih sampe dapet gaji segede gitu.."sela Toriq tak berdosa,

Reza menarik nafasnya yang mulai tak teratur, peningnya semakin menjadi jadi. Tubuhnya bergetar menahan emosi karena tingkah Toriq.

"Jangan ikut campur urusanku, dan jangan sekali kali kamu mendekati Putri... aku tau apa yang selama ini kamu lakukan dibelakangku, jadi jangan membuat emosiku naik karena aku gak bisa jamin apa apa kalo kamu sampai melewati batas itu lagi.." rutuk Reza serius.

Toriq tersenyum masam dan menatap Reza lekat lekat.

"Kamu tau kan bro, aku gak takut apapun!" Sahut Toriq santai, ia mulai tertarik menggoda Reza yang temperamen bila membahas jati dirinya.

Reza berpaling dan lekas beranjak. Akan membuang energi lebih banyak bila meladeni Toriq yang tak waras.

"Hey cemen.., jangan mengancamku ya.., aku gak takut sama kamu!!" Seru Toriq saat melihat Reza berlalu dan tak menggubrisnya.

Reza menghembuskan nafasnya berkali kali untuk membuang emosinya pada Toriq. Ia tak ingin terpancing dan membuat masalah semakin runyam. Masalahnya sendiri sudah cukup membuatnya pusing berkepanjangan.

Toriq masih meneriakinya di bawah, Reza menutup telinganya dan terus berjalan menuju kamarnya. Ia ingin segera tidur, sepertinya bukan hatinya saja yang sakit tapi juga fisiknya.

Saat sudah tiba di depan kamar lekas Reza membuka pintu dan menemukan Putri sedang duduk mengawasinya. Reza menutup pintu pelan dan beranjak mengambil karpet yang ia gulung dibelakang lemari. Putri masih mengawasinya dengan bingung.

"Kak Reza aku mau ngomong.." cetus Putri begitu melihat Reza sudah bersiap untuk tidur dan merapikan bantalnya.

"Nanti ya Put, aku lagi gak enak badan sekarang.." desis Reza seraya berebah dan meringkuk. Sekujur tubuhnya terasa dingin, sepertinya ia masuk angin.

"Sebentar aja, aku pengin kak Reza jelasin sesuatu.."

Reza tak menyahut, ia memejamkan matanya yang terasa panas dan perih. Perutnya sakit seperti di iris iris, seluruh sendinya terasa ngilu.

"Kak..!!" Seru Putri kesal saat Reza tak meresponnya, ia berdiri dan menghampiri Reza.

"Kak Reza jawab dong!!" Cecar Putri lagi sambil duduk di samping Reza dan hendak menarik tangannya, namun ia tertegun saat tangan itu terasa panas.

Reza membuka matanya yang masih terasa berat, Putri duduk di hadapannya.

"Nanti ya Put, aku istirahat dulu sebentar.." sahut Reza serak,

"Kak Reza kenapa gak bilang kalo sakit sih! Kenapa suka sekali menyimpan sesuatu sendiri.." sentak Putri khawatir, ia menggenggam tangan Reza yang panas.

Reza tak menyahut, ia memejamkan matanya lagi. Tadi dia sudah bilang bila sedang sakit tapi Putri tak menggubrisnya..jadi siapa yang sebenarnya bersalah??

"Kak Reza tidur di kasur atas aja ya biar gak tambah masuk angin.."

"Nggak usah Put, tidur disini sama aja kok.."sahut Reza lemas,

"Kak Reza sudah makan? Aku suapin ya.., tadi aku sudah bungkus sarapan buat kak Reza tapi kak Reza keburu berangkat.."

Reza membuka matanya lagi, Putri sudah berdiri dan tergesa gesa mengambil nasi yang ia bungkus untuk sarapan Reza.

"Aku lagi gak pengen makan Put, aku pengen tidur.." ucap Reza menolak saat Putri duduk kembali di hadapannya dengan membawa piring lengkap dengan nasi dan lauk pauknya.

"Makan dulu, habis gitu minum obat dan tidur..!" Perintah Putri seraya menyendokkan nasi dan bersiap untuk menyuapi Reza.

Reza menghembuskan nafasnya yang terasa panas saat keluar dari hidungnya. Sepertinya ia sedang sekarat.

"Ayok, aaaaaaakkk..."

Reza membuka mulutnya dan menuruti kemauan Putri. Setidaknya bila ia menuruti Putri maka emosi gadis itu akan mereda nanti.

Dua suapan, tiga... lima.. mendarat mulus di lambung Reza. Tapi kemudian tak berapa lama ia mulai mual, perutnya bergejolak. Lekas Reza beranjak duduk sambil menahan mualnya dan sekuat tenaga mencoba untuk berdiri,

"Kak Reza mau kemana??" Tanya Putri bingung saat melihat Reza berdiri kebingungan dan berlari ke kamar mandi.

"Whuekkk..., whuekkk, uhuk uhuk..whueekk" Reza memuntahkan seluruh makanan yang Putri suapi tadi di wastafel.

Putri berdiri di belakang Reza dan memijat lehernya pelan. Ia jadi merasa bersalah sudah memaksa Reza untuk makan. Dan bodohnya mengapa Reza selalu menurut padanya.. !!

5 menit berlalu..,

Tubuh Reza terasa semakin ringan, ia berdiri di wastafel dengan lunglai. Putri masih berdiri di belakangnya dan menggandeng lengan Reza khawatir bila sewaktu waktu Reza pingsan.

Reza menolehi Putri pelan, dulu setiap Reza sakit ia selalu sendiri di kosan...kini tak lagi karena disampingnya sudah ada Putri yang menemani.

"Udah? Yuk.." ajak Putri saat Reza termenung menatapnya.

Reza menghembuskan nafasnya pelan dan melangkah dengan hati hati keluar dari kamar mandi. Putri masih menggandeng lengannya khawatir Reza terjatuh.

"Kak Reza tidur di atas aja..," perintah Putri seraya mengambil bantal Reza yang tergeletak di karpet dan menaruhnya di ranjang atas.

Reza tak bergeming, ia sudah kehabisan tenaga untuk menolak dan berselisih dengan Putri. Setidaknya ia akan tidur di ranjang sampai ia sembuh besok. Biasanya bila dibawa tidur dan istirahat maka sakit Reza pasti cepat pulih. Reza merebahkan tubuhnya perlahan di kasur empuk yang sudah 2 minggu ini tak pernah ia rasakan. Ia sedikit terharu saat memejamkan mata di atas ranjang yang dulu bisa ia nikmati kapanpun ia mau.

Terpopuler

Comments

NAZERA ZIAN

NAZERA ZIAN

waahh ternyata Reza udah tua ya, kirain masih 22 atau 23 thn loh thor.

2022-11-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!