Makanan tertata rapi di meja. Meski yang duduk di sana hanya dua orang, makanan yang tersaji tidak sanggup dihabiskan oleh dua orang. Julliane menatap makanannya dengan terheran-heran.
"Seharusnya kita mengundang orang lebih banyak," gumam Julliane melihat makanan yang berada di depannya.
Ian dapat mendengarnya menjawab, "Aku datang ke Kerajaan ke sini sendirian dan kita sama sekali tidak punya teman, mau bagaimana lagi, Juli." Ia mengangkat kedua bahunya.
Sebenarnya bukan itu maksud Julliane. Ian telah salah paham. Namun, Julliane tertohok pada kata tidak punya teman. Ia punya teman, yaitu Letta. Tetapi roh itu berteman dengannya karena sekarang ia adalah Julliane, tidak lebih. Selain Letta, tidak ada yang pantas disebut teman kecuali Ian.
Akan kucoba mencari teman setelah ini.
"Kita coba habiskan ini." Julliane mengalihkan pembicaraan. Mulutnya terbuka memasukkan makanan yang ada di depannya. Ia tersenyum karena rasa daging yang melumer di mulutnya.
Ian yang dari tadi memandang Julliane tersenyum melihat tingkahnya. Ini pertama kalinya ia makan bersama dengan Julliane. Dulu saat mereka bertunangan, Julliane meminta makanannya diantar ke kamarnya. Ian berulang kali meminta Julliane bergabung saat makan bersama. Permintaan tulus itu ditolak Julliane demi kepentingan semuanya. Sang Putri Terkutuk tidak ingin melukai orang lain, meski sebenarnya telah menyakiti perasaan Keluarga Kerajaan Constain. Jadi pemandangan yang di depan Ian saat ini sangat menarik.
Lelaki berbaju hitam memasuki restoran. Langkahnya terhenti di depan meja Julliane dan Ian. Tangan lelaki itu menggebrak meja makan. Piring-piring tersentak. Beberapa makanan yang masih utuh berserakan di meja dan lantai.
Semua orang yang ada di restoran menoleh ke arah lelaki itu. Pegawai restoran tak berani mendekati lelaki itu, karena terkenal sebagai bangsawan yang bengis.
Julliane menatap tajam lelaki yang telah merusak makan siangnya. "Apa maumu Kyler Orsin?" Sikap sopan tidak diperlukan dalam meladeni orang yang tahu apa arti kesopanan.
Kyler mengabaikan Julliane. Matanya tertuju pada Ian yang sama sekali tidak melihatnya. Merasa keributan yang ia buat belum cukup, Kyler membalikkan meja.
Prang... Prang... Prang..
Piring-piring pecah berhamburan. Julliane yang tidak tahan lagi ingin melontarkan kata-kata kasar pada lelaki lancang ini. Sebelum Julliane bertindak, Ian yang daritadi diam berdiri mencengkeram kerah Kyler. Ia dari tadi menahan amarahnya agar tidak memukul orang yang menghancurkan suasana makan siang yang sangat menyenangkan tadi. Tali pengekangnya sudah terputus.
"Mari bertarung Pangeran Ian. Kita lihat siapa yang lebih kuat," tantang Kyler.
Cengkeraman tangan Ian semakin kuat hingga uratnya menonjol. Sorot kemarahan berkobar semakin tinggi. "Aku terima tantanganmu Kyler Orsin."
"Hentikan!" teriak Julliane.
Julliane berdiri menatap Ian dan Kyler secara bergantian. "Apa kalian sudah gila? Apa di kepala lelaki hanya ada bertarung dan bertarung untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat? Pikirkanlah orang-orang yang datang ke sini untuk makan dengan tenang," omel Julliane.
Ian mengedarkan pandangan ke sekitar. Seluruh mata menatap dirinya dan Kyler dengan ketakutan. Terutama gadis-gadis bangsawan, tangan mereka gemetaran. Bahkan ada yang meninggalkan restoran ini.
Ian melepas tangannya lalu berbalik. Ia menyesal karena telah meledak. Bahunya naik turun mengatur napasnya.
"Saya akan menantang Anda kembali bila bertemu, Pangeran Ian," ucap Kyler sambil menjauhi Ian. Dengan santainya Kyler keluar tanpa rasa bersalah sedikit pun pada orang yang berada di sana.
Helaan napas lega terdengar di seluruh penjuru ruangan. Pengganggu telah pergi.
"Saya minta maaf atas keributan barusan. Sebagai gantinya, saya akan membayar seluruh makanan kalian." Julliane tersenyum. Tidak ada kebohongan atau keengganan di dalam ucapannya.
Ian segera menghentikan tindakan Julliane. Membiarkan orang untuk menanggung kesalahannya sama sekali tidak membuatnya senang. "Tidak ini semua salah saya. Saya yang akan mengganti semuanya."
Semua orang yang ada di restoran itu tampak gembira. Mereka segera menyantap makanan dengan lahap melupakan keributan yang baru saja terjadi.
Pegawai restoran segera mengantar Ian dan Julliane ke meja yang baru. Ian menunggu Jullaine duduk duluan, tetapi Putri ini bergeming. Sadar bahwa Julliane marah, Ian segera meminta maaf. "Maafkan aku, Juli. Makan siang kita jadi berantakan. Aku akan menebusnya berkali-kali lipat."
Julliane menggeleng. "Itu tidak perlu, Ian. Sekarang aku sudah kenyang. Lebih baik kita ke tempat lain untuk melepas kepenatan ini."
"Baik, ke mana pun itu aku akan menemanimu." Ian tersenyum. Ternyata perkiraannya salah. Hatinya dipenuhi kelegaan. Tangannya merogoh kantong berisi koin emas yang jumlahnya mampu membayar makanan seluruh pengunjung yang berada di sini. Ia menyerahkan kantong itu pada bagian kasir dan memintanya menagih kekurangan ke penginapan yang ditinggali oleh Ian selama berada di Kerajaan Yuvinere.
Julliane mengajak Ian ke pantai yang berada di pinggir ibu kota. Sudah lama sekali Julliane ingin melihat keindahan alam. Di kehidupannya yang lalu ataupun sekarang yang dilihatnya hanyalah suasana perkotaan. Ia ingin menikmati seluruh waktunya di sini.
Tak ada lima detik Julliane melepas sepatunya. Kakinya tercebur merasakan hangatnya air. Air memejamkan mata mendongak ke atas. Angin laut menerpa wajahnya. Rambutnya yang bergelombang terbang diterpa angin. Kecantikan wajahnya semakin bersinar.
Mata Ian sama sekali tidak berkedip memandangi keindahan yang ada di depannya ini. Bukan laut. Tetapi Julliane. Ini pertama kalinya ia tidak mampu memalingkan wajah dari seorang gadis.
Julliane segera membuka matanya. Menyadari Ian yang masih berdiam diri, Julliane menariknya.
"Ayo kita bersenang-senang hari ini." Senyum lebar merekah di bibir Julliane.
Ian melangkahkan kaki untuk mengikutinya. Ia masih terpukau dan tidak bisa memikirkan apa pun. Tangan Julliane mulai lepas perlahan dari pergelangan tangan Ian. Karena terlalu bersemangat, Julliane mulai goyah hampir terjatuh ke air. Dengan sigap Ian menopang tubuh Julliane. Jarak mereka hanya beberapa centi saja.
Syukurlah, kalau sampai terkena air riasanku akan luntur.
"Maafkan aku. Seharusnya aku lebih berhati-hati," ucap Julliane sambil tertawa lepas menutupi ketakutannya.
Ian melepaskan pelukannya. Ia pun tertawa lepas menutupi jantungnya yang berdebar keras di dadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Elwi Chloe
Seru pertarungannya
2022-04-16
2
Mom FA
next tor🥰😍
2022-04-05
1