Meski kata maaf tidak bisa menenangkan hati Ian, Julliane ingin mengucapkannya karena kesalahan rakyatnya. Tidak ada seorang pun yang tahu akan tindakan Julliane. Para bangsawan sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Raja dan Edgar khawatir menoleh ke arah ruang tunggu yang dipakai oleh Ellaine, mereka berharap Putri Kedua Kerajaan baik-baik saja.
Ian yang tiba di taman terhenti karena teriakan Julliane.
"Ian, tunggu Ian," teriak Julliane berlarian sambil mengangkat gaunnya.
Julliane terengah-engah mengambil napas. Ia mendongak menyadari Ian mengernyitkan dahi seolah-olah bertanya kenapa bersikap sok dekat seperti ini.
Apa seharusnya aku memanggilnya dengan sebutan Pangeran? Sudah terlanjur, mau bagaimana lagi.
"Aku minta maaf atas keributan tadi di pesta." Julliane menunduk merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf, memang biasanya seperti ini. Walaupun tingkah laku bangasawan Kerajaan Yuvinere keterlaluan. Perbuatan Pangeran Kerajaan Lortamort juga tidak mencerminkan sikap pangeran," jawab Ian ketus.
"Jangan bersedih Ian. Kamu harus semangat menjalani hidup," kata Julliane sambil menepuk bahu Ian.
Kata-kata penyemangat Julliane malah membuatnya kesal. Ian menyingkirkan tangan Julliane. "Bukan urusanmu."
Ucapan saja tidak bisa menenangkan hati Ian. Julliane menarik Ian menuju istana selir.
"Kita mau ke mana?" tanya Ian. Anehnya kakinya terus mengikuti Julliane. Ia tidak menyentakkan tangan Putri Pertama Kerajaan Yuvinere.
"Ikut saja, aku akan membuatmu bersemangat," jawab Julliane riang.
Ian penasaran dengan sikap Julliane yang berubah drastis. Orang yang suka menyendiri di kamar sekarang ikut campur pada urusan orang lain. Mungkin karena kutukan yang hilang.
Mereka telah tiba di ruang tamu istana selir. Julliane meminta Ian duduk. "Tunggu sebentar aku akan kembali."
Julliane dengan semangat mengambil peralatan perangnya. Tak lama ia kembali ke ruang tamu. Ian menatapnya dengan kebingungan.
Alat kecantikan sudah tertata rapi di meja. Julliane tersenyum lebar. "Aku akan mengajarimu merias diri agar terlihat tampan."
Salah satu alis Ian terangkat tinggi sambil memegang dagunya. "Laki-laki tidak sepantasnya memakai riasan. Lagipula bagaimana caranya aku terlihat tampan dengan luka ini." Jari Ian menunjuk bekas lukanya.
"Kamu harus mencobanya. Aku akan meriasmu, setelah itu kamu bisa berkomentar," ucap Julliane percaya diri.
Ian mendengus kesal. Pada akhirnya, ia menurut. Matanya ditutup. Sentuhan demi sentuhan Ian rasakan.
'Rasanya aneh,' batinnya.
Sentuhan itu berhenti. "Selesai," kata Julliane.
Ian membuka matanya. Julliane mengambil cermin lalu menyodorkannya pada Ian. Dalam hati Ian tidak berharap banyak, tetapi begitu melihat hasilnya ia tercengang.
Tangannya tanpa sadar menyentuh bekas luka di wajahnya yang telah hilang. Wajahnya terlihat tampan kembali. Wajah yang hilang sebelas tahun yang lalu kini menampakkan diri.
"Bagaimana? Kamu mau berguru padaku? Dalam semalam kamu pasti bisa," jawab Julliane penuh kebanggaan.
Ian menggangguk cepat. Julliane menghapus riasan Ian. Lantas, mengajarinya perlahan sampai Ian bisa. Awalnya ia mengira akan menghabiskan waktu lama untuk mengajari Ian, ternyata salah.
Otak pangeran memang hebat. Sekali kuajari dia langsung menguasainya.
Ian tersenyum. Senyum pertamanya hari ini tidak mungkin sejak sebelas tahun yang lalu. Kesenangan memenuhi hatinya karena rasanya ia terlahir kembali.
"Terima kasih, Julliane."
"Sama-sama. Kamu bisa membawa ini semua. Tidak perlu khawatir, aku masih punya cadangannya."
"Aku akan sering-sering mengunjungimu, Julliane. Kalau perlu bantuan kamu bisa menghubungiku." Ian menelan kembali kata-katanya dalam hati beberapa menit yang lalu. Ia ingin membalas budi perbuatan Julliane.
"Tentu saja."
Ian tersenyum cerah mencium tangan Julliane. Julliane mengantar Ian sampai di depan istana. Mereka saling melambaikan tangan. Kereta kuda Ian perlahan hilang dari pandangan Julliane. Kesenangan memenuhi hati Julliane. Membantu orang lain dengan tangan emasnya menjadi cita-citanya sejak dulu.
Julliane mengetuk kepalanya.
Aku lupa tentang Ellaine. Setidaknya aku harus akrab dengan adikku di dunia ini.
Julliane berlarian menuju tempat adiknya. Pesta masih berlangsung dengan meriah tanpa bintang utamanya. Ia melewati aula istana hingga sampai ke ruang istirahat. Ellaine terlihat kelelahan. Ophelia masih mendampingi putri keduanya.
“Bagaimana dengan pesta debutante, Julliane?”
“Masih berjalan dengan lancar, Ibu. Aku akan menemani Ellaine. Ibu bisa kembali bersama Ayah dan Edgar.”
“Tidak perlu aku akan pesta. Aku sudah baikan. Tidak baik Kak Julliane meninggalkan pesta demi aku,” ucap Ellaine sambil bangkit berdiri.
Kakinya masih gemetaran. Dia ingin terlihat kuat tetapi ternyata sangat rapuh.
“Istirahatlah dulu, Ellaine,” kata Julliane khawatir.
Ellaine menggeleng melewati kakaknya. Ia kembali menuju ke aula pesta bersama dengan ibunya. Julliane menghela napas panjang mengikuti Ellaine.
Sifatnya sedikit berbeda dengan di novel. Ellaine terlihat lebih kuat meski memang penakut. Mungkin ini gara-gara kejadian "itu".
***
Dengan datangnya Ellaine dan Julliane, pesta berlangsung lebih meriah melupakan kedatangan tamu tak diundang. Namun, pesta itu hanya berlangsung singkat karena Raja tidak ingin putri-putrinya merasa kelelahan. Julliane kembali ke kamarnya menuliskan nama lelaki yang diingatnya di Novel Bunga Istana. Bahasa yang digunakan dalam tulisannya berasal dari dunia ini. Dia bisa tahu tanpa mempelajarinya terlebih dahulu karena pengetahuan dari pemilik tubuhnya. Hanya saja ingatan Julliane tidak membaur dengan ingatan miliknya.
“Bagaimana pesta debutante milikmu dan Ellaine?” tanya Letta yang muncul tiba-tiba.
“Kacau,” jawab Julliane singkat.
Letta terbang mendekati kertas itu. Rambut biru dengan potongan bob menutupi pandangan Julliane. Sebenarnya, Julliane ingin memeluk tubuh mungil Letta, ia tidak menyangka roh satu ini terlihat menggemaskan. Namun karena sifat Letta sedikit pemarah Julliane mengurungkan niatnya.
“Apa ini?” tanya Letta.
“Daftar nama lelaki yang mungkin menjaid cinta sejatiku. Mereka mungkin dapat mematahkan kutukan. Dalam novel Julliane juga mendekati mereka tetapi tidak berhasil, karena mereka lebih tertarik pada adiknya. Kali ini kupastikan mereka akan lebih menyukaiku.”
"Baguslah, kamu sudah punya persiapan jadi aku tidak perlu berpikir. Kalau butuh bantuanku panggil saja. Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu." Letta mengangguk-angguk. Lalu terbang di samping telinga kanan Julliane, bertengger di bahunya.
"Nama asliku Olivia, tetapi panggil aku Julliane saja agar kelepasan saja," jawab Julliane mengingatkan.
"Baiklah, sebagai pembeda aku akan memanggilmu Julliane, kalau pemilik tubuh itu yang asli akan kupanggil Juli." Letta melebur bersama udara.
Hampir tidak ada bedanya, tetapi akan kuingat. Dia datang dan pergi seenaknya sendiri, tetapi berkatnya Julliane mempunyai teman. Mulai sekarang dia adalah temanku juga.
***
Julliane melakukan kesehariannya seperti biasa, merias diri dan makan bersama keluarganya. Kali ini ia menuju gerbang istana. Ada alasannya.
Aku tidak sabar melihat orang-orang yang mendekatiku.
Langkah kaki Julliane terhenti begitu sampai di depan gerbang istana. Roh berambut biru pun muncul bertengger di bahu Julliane. Ia terbelalak melihat lautan manusia yang ada di depannya bersama dengan Julliane.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Bzaa
wah wah ada apa nih?
2022-12-01
0
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Semua org akan melihat dr Cover bukan dr hati
2022-03-18
1