"Saya memberi Anda kesempatan untuk memulihkan harga diri besok. Jika Anda menang, saya akan mengakui bahwa Anda lebih hebat, tetapi tetap saja Anda curang. Jika kalah, itu artinya Anda memang lebih lemah dari saya, tidak perlu membuktikan siapa yang lebih hebat dengan perburuan lagi," ejek Ian.
Beckett yang dipermalukan di depan umum, menatap Ian dengan geram. "Baiklah, saya terima tantangan Anda." Ia segera turun dari panggung menuju tendanya. Semua pandangan mengarah padanya. Bisikan yang membicarakan Pangeran yang curang ini terdengar meriah.
Prang...
Beckett membanting segala sesuatu yang dapat dipegangnya di dalam tenda. Pengawalnya masuk sambil tertunduk.
"Maafkan saya Pangeran."
Tinju Beckett segera melayang ke sisi kiri wajah pengawal itu. Pengawal itu masih berdiri tegak. Ia kesakitan, tetapi tidak berani menunjukkannya karena amarah tuannya akan semakin menjadi-jadi.
"Dasar bodoh." Tangannya menunjuk-nunjuk pengawalnya.
Beckett mengatur napasnya bersusah payah. Kedua tangannya memegang pelipisnya. Sorot matanya mengisyaratkan akan membunuh seseorang.
"Lihat saja akan kubuat wajahmu lebih hancur lagi, Pangeran Buruk Rupa."
***
Pertarungan kedua pangeran diadakan di lapangan latihan istana utama. Sebagian besar bangsawan yang hadir pada pesta berburu kemarin ikut menyaksikan duel ini. Mereka penasaran siapa yang lebih kuat di antara kedua pangeran ini.
Keluarga Kerajaan duduk di dekat lapangan latihan, sebagai saksi. Julliane tersenyum lebar melihat banyaknya bangsawan yang datang. Kabar pemenang dari pertarungan ini akan semakin cepat tersebar. Rencananya untuk mempermalukan Beckett akan terwujud.
Ian dan Beckett berdiri berhadapan di tengahi Pemimpin Pasukan Istana. Pengawas dalam pertarungan ini menanyakan kesiapan kedua peserta. Mereka mengangguk. Pemimpin Pasukan memberi aba-aba untuk memulai pertarungan.
Beckett dengan cepat menghunuskan pedang ke wajah Ian. Ian terkesiap menepis serangan dari musuhnya. Beckett menyeringai lebar. Ia melancarkan serangan dengan cepat, terutama mengincar wajah Ian.
Serangan yang dilancarkan terus-menerus mojokkan Ian. Dari tadi Ian hanya bertahan, tidak mampu membalas serangan musuhnya.
"Sepertinya Pangeran Beckett akan menang."
"Pangeran Ian kewalahan."
"Tanpa bantuan pengawalnya sekali pun, Pangeran Beckett pasti akan menang kemarin."
Bangsawan yang menonton mendukung Beckett. Kebencian mereka pada Ian masih belum sirna. Bukan cuma mereka tetapi Keluarga Kerajaan Yuvinere juga yakin Ian akan kalah. Tentu saja kecuali Julliane. Ia yakin Ian hanya menunggu kesempatan untuk membalas Beckett. Membuat musuh lengah terlebih dahuli adalah cara meraih kemenangan. Ia sering membacanya di novel.
Ellaine membisikkan sesuatu pada kakaknya. "Sepertinya pemenangnya sudah ditentukan, Kak Juli."
"Itu benar," jawab Julliane yang masih memandang duel kedua Pangeran.
Ian melihat celah di sisi kanan Beckett. Tebasan pedang segera dikerahkan ke lengan kanan musuhnya.
Meski terkejut dengan serangan Ian, Beckett dapat menghalaunya. Ia menyerang balik, tetapi semua serangannya ditangkis dengan mudah.
Keduanya melihat cahaya yang akan membawa mereka pada kemenangan. Mereka saling mengayunkan pedang menuju cahaya itu.
Brak...
Salah satu pedang terbang. Semua penonton ternganga melihat akhir pertarungan ini. Tak ada tepuk tangan, hanya suara ketidakpercayaan dengan penglihatan mereka.
"Pemenangnya adalah Pangeran Ian," teriak Pemimpin Pasukan Istana mengakhiri duel ini.
Ian tersenyum miring melihat tatapan kekesalan Beckett. Ia segera menurunkan pedangnya. Beckett yang tidak terima meminta pertandingan ulang.
"Anda curang. Anda menyembunyikan kemampuan Anda dari awal. Mari kita bertarung sekali lagi."
Itu adalah strategi tidak termasuk curang. Menyedihkan sekali dirimu, Beckett.
Julliane memejamkan mata tidak mampu melihat pertunjukan bodoh di depan matanya.
"Jika itu mau Anda saya akan menyanggupinya," jawab Ian.
Mereka berdua bertarung lagi. Ian segera mengakhiri pertarungan dengan cepat, sebelum Beckett sempat berkutik. Pedangnya kini berada di samping leher Beckett. Pengawas segera mengumumkan pemenangnya lagi.
Beckett mengertakkan giginya. Ketika ia hendak membuka mulut, Ian mendahuluinya. "Saya akan meladeni Anda berapa kali pun, bahkan jika bertarung dengan dua orang." Ian melirik pada pengawal Beckett.
Beckett yang tak mampu lagi menahan amarahnya, segera menerjang ke arah Ian. Pemimpin Pasukan Istana menghalanginya. Pengawal Beckett ikut menghentikan tuannya, sebelum Pangeran Kerajaan Lortamort ini semakin mempermalukan dirinya sendiri.
"Cukup!"
Semua pandangan tertuju pada orang yang berteriak itu. Julliane melangkah menghampiri Beckett.
"Lebih baik hentikan saja, Pangeran Beckett. Mencari perhatian ada batasnya juga. Jika ingin mengambil hatiku jangan pakai cara ini. Aku tidak menyukai orang yang berbuat curang."
Julliane menanamkan pemikiran pada orang yang melihat bahwa Beckett tertolak di depan umum dan sebagai pencari perhatian. Beckett melepas tangan yang melingkari tubuhnya. Ia segera meninggalkan tempat pelatihan sambil bergumam tidak jelas.
Penonton berhamburan kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka puas dengan kejadian yang telah terjadi karena mendapat bahan pembicaraan bagus.
Keluarga Julliane telah kembali melanjutkan pekerjaan. Mereka tak mampu berkata apa pun tentang duel yang telah disaksikan.
Julliane berbalik ke arah Ian mengangkat roknya. "Selamat atas kemenangan Anda, Pangeran Ian."
"Terima kasih, Putri Julliane." Ian menyilangkan salah satu tangannya ke bahu sambil menunduk.
Hanya mereka berdua yang tersisa di lapangan latihan ini. Keduanya saling tersenyum bahagia. Terutama Ian. Rasa malu yang diterimanya di pesta debutante, terbalaskan berkali-kali lipat kepada Beckett. Tinggal membalas pada bangsawan lain.
"Untuk merayakan kemenangan kita, apa kamu mau menghabiskan waktu denganku besok, Juli?"
"Boleh saja, Ian."
Julliane tidak menyadari bahwa Ian memanggilnya dengan nama panggilan. Lebih tepatnya dia tidak peduli dipanggil seperti apa oleh Ian. Lagipula itu bukan nama aslinya. Berbeda dengan Ian yang merasa hubungan mereka semakin dekat.
Julliane mencoret nama Beckett dari daftar orang yang mungkin adalah cinta sejatinya. Menyisakan beberapa kandidat yang dapat mengambil hatinya.
Kyler Orsin
Lionel Crowley
Di paling bawah ia baru saja menambahkan Ian Constain.
Tanpa Julliane sadari hatinya menantikan pertemuannya dengan Ian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Citra Ayu
mampir Thor...
2022-06-05
1
Mentari.f.v
mampir lagi dan aku fav juga yaa.. mari saling mendukung 🙏
2022-05-13
1
IG: Saya_Muchu
sudah ku fav ya othor sayang
2022-04-29
1