Edgar memacu kudanya untuk mengikuti Julliane. Tingkah kakak pertamanya yang aneh. Ia takut jika kakak pertamanya terlalu gegabah mencari kakak keduanya sendirian tanpa pengawalan sedikit pun. Tak tahu sebesar apa kekuatan roh kakaknya, atau pun seberapa banyak anggota kompolotan yang menculik Ellaine membuatnya khawatir. Ia takut malah kakak pertamanya ikutan diculik.
Edgar memarkirkan kudanya di salah satu pohon begitu melihat kereta kuda Julliane berhenti. Ia membuntuti kakaknya tanpa menimbulkan suara. Tanpa bantuan Edgar kakaknya telah mengalahkan penculik-penculik itu. Namun, hatinya masih tidak tenang sebelum kakaknya keluar dengan selamat.
Ia berjalan memasuki gubuk itu dan mendapati salah satu penculik yang bersembunyi hendak menyerang kakaknya. Tangan Edgar terkepal sudah siap memukul penculik itu, tetapi air memecut kepala penculik hingga tubuhnya terpelanting. Sayangnya, Edgar ikut terkena serangan air itu.
Julliane berbalik melihat penyerangnya. Betapa terkejutnya ia mendapati Edgar yang tersungkur di lantai sambil memegangi pipinya. Ia menurunkan Ellaine terlebih dahulu lalu menghampiri adik laki-lakinya.
"Kamu tidak apa-apa, Edgar?" tanya Julliane.
"Sedikit sakit tetapi tidak apa-apa Kak Julliane." Edgar menggeser-geser rahangnya ke kiri dan kanan.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu juga ada di sini."
"Ini juga salahku mengikuti Kak Julliane diam-diam."
"Baiklah kalau begitu. Bantu aku mengangkat Ellaine ke kereta kuda."
Julliane bangkit diikuti oleh Edgar. Mereka mengangkat Ellaine hingga sampai ke kereta kuda. Julliane memalingkan kepala ke gubuk tadi.
Siapa orang yang mendalangi penculikan Ellaine?
"Kenapa Kak Julliane?"
"Kamu ke sini naik apa?"
"Naik kuda."
Julliane meminta kusir kereta kudanya kembali ke istana membawa Ellaine sendirian. Ia berpesan agar kusir itu segera memberitahu Leroy dan Ophelia bahwa Ellaine telah selamat. Dengan cepat kusir melajukan kereta kudanya mematuhi perintah majikannya. Julliane akan pulang bersama adik laki-lakinya menggunakan kuda.
Julliane berpaling ke arah Edgar yang sedikit kebingungan dengan tingkah kakaknya ini. "Ayo kita introgasi penculik-penculik itu."
Edgar pun mengangguk. Mereka kembali menuju gubuk itu. Penculik-penculik itu dikumpulkan pada satu tempat. Tali dililitkan ke tubuh penculik-penculik itu dengan erat.
Julliane mengambil kursi dan duduk sambil menganati mereka. Rasa semangat memenuhi hatinya, menikmati peran yang dimainkannya sekarang.
Rasa seperti di film-film penculikan saja. Aku seperti jadi penculiknya.
Tak mau menunggu lama Edgar menepuk-nepuk wajah salah satu penculik itu. Mata penculik itu terbuka perlahan. Ia mengedarkan pandangan di ruangan untuk meresapi kejadian yang menimpanya tadi. Setelah ingatan merasuki otaknya ia berusaha melepaskan diri. Tentu saja tidak bisa karena dirinya terikat dengan teman-temannya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menculik Ellaine?" tanya Julliane dengan nada mengintimidasi.
"Aku tidak tahu," jawab penculik itu sambil membuang muka.
Edgar menampar wajah penculik lantas mengarahkannya untuk menatap Julliane. "Cepat katakan."
"Aku benar-benar tidak tahu. Tiba-tiba ada surat berisi perintah menculik putri kerajaan disertai bayaran. Orang itu hanya membayar sebagian saja, sisanya akan dilunasi setelah kami berhasil melaksanakan tugas," aku penculik itu gemetaran.
Julliane bersendekap sambil mengetuk-ngetukkan jari ke lengannya. "Apa tidak ada nama pengirimnya?"
"Hanya ada inisialnya namanya 'O'"
"Apa kamu berkata jujur?" tanya Edgar sambil menekan kedua pipi orang itu dengan satu tangan.
Penculik itu mengangguk keras-keras. Ia mulai ketakukan. "Apa aku akan di penjara?"
Julliane menyeringai. "Menurutmu bagaimana?"
Edgar segera membuat penculik itu pingsan. Ia menolehkan kepala pada Julliane. "Apa kita perlu memastikannya dengan omongan penculik lain, Kak Julliane?"
"Kurasa tidak perlu, kita serahkan saja sisanya pada pasukan istana. Ayah pasti akan mencari dalang dari penculikan ini. Kita kembali saja."
Mereka pun kembali ke istana. Sepanjang perjalanan banyak pikiran yang berputar di kepala Julliane.
Siapa orang dengan inisial O ini? Di novel tidak diceritakan siapa dalang penculikan Ellaine. Meski alur cerita novel ini sama, ada kebenaran yang tidak diungkapkan.
***
Leroy bergembira karena putri keduanya sudah ketemu. Ellaine diperiksa oleh dokter istana. Keadaannya baik-baik saja. Ophelia berada di sisi Ellaine selagi Leroy menyambut Julliane dan Edgar dengan bangga.
"Kalian hebat. Bagaimana cara kalian menemukan Ellaine?" tanya Leroy.
"Soal itu Kak Julliane lebih tahu, Ayah," kata Edgar sambil melirik ke arah Julliane.
"Ini berkat roh yang memberitahuku," ujar Julliane berbohong.
Leroy menepuk bahu putra dan putrinya "Kalian beristirahatlah, kalian pasti lelah."
"Baik, Ayah," jawab Edgar dan Julliane secara bersamaan.
Mereka kembali ke kamarnya masing-masing. Julliane yang teringat sesuatu berbalik lagi. "Penculik-penculik itu sudah kami ikat, Ayah bisa mengintrogasi dan menghukum mereka."
"Tentu, mereka akan diberi hukuman setimpal," jawab Leroy geram.
Julliane melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Ia berbaring tak lama pun tertidur karena kelelahan.
Kesatria-kesatria membawa penculik-penculik itu di hadapan Leroy. Walau mereka sudah disiksa, Leroy tidak mendapatkan informasi tentang orang yang memerintahkan penculikan putrinya. Semuanya mengatakan hal yang sama, orang berinisial O adalah dalangnya. Pencarian dalang penculikan Ellaine semakin mengendur karena masalah yang Leroy tutupi dari putra dan putrinya, bahkan pencarian ini mulai terlupakan.
***
Mata Ellaine terbuka perlahan. Kepalanya terasa pusing. Tangannya digenggam oleh ibunya yang menangis penuh kebahagiaan. Ia berusaha mengingat kejadian sebelumnya.
Di gerbang istana banyak lelaki yang ingin menemui Ellaine. Ia menemui tamu-tamu itu sekadar bercakap-cakap. Tak ada percakapan yang menarik atau pun menjurus pada kebencian hingga seseorang tega menculiknya. Karena lelah, Ellaine hanya menemui tiga orang saja. Saat perjalanan kembali ke kamar, ada tangan yang membekap mulutnya. Tubuhnya terasa lemas dan pandangannya semakin kabur. Ia tak sadarkan diri. Setelah itu tak ada ingatan apa pun.
"Apa yang terjadi Ibu?" tanya Ellaine sambil berusaha bersandar di dipan kasur.
Ophelia menjelaskan kejadian yang menimpa putrinya. Bagaimana seisi istana panik dan orang-orang mencari Ellaine. Tak lupa ia menceritakan keberanian dari Julliane dan Edgar saat melawan penculik untuk menyelamatkan Ellaine.
Ellaine berusaha beranjak dari kasurnya bersusah payah. "Kak Julliane dan Edgar sekarang di mana, Ibu?"
Ophelia menghentikan dan mendudukkan putrinya kembali ke kasur. "Mereka sedang istirahat, sebaiknya kamu memulihkan diri terlebih dahulu sebelum menemui mereka, Ellaine."
Mau tak mau, Ellaine menurut. Namun, keinginannya untuk bertemu dengan Julliane dan Edgar terkabul. Keduanya sebenarnya menguping dari tadi di luar. Mereka masuk menemui Ellaine.
"Ibu bisa beristirahat sekarang. Biar kami yang menjaga Ellaine," saran Julliane kepada Ophelia.
Ophelia mengangguk sembari bangkit meninggalkan ketiga anaknya. Senyum Ellaine merekah. Ia tertunduk.
"Terima kasih, Kak Julliane, Edgar karena telah menyelamatkanku."
"Tidak perlu berterima kasih kepada kami, Ellaine." Julliane mengibas-ngibaskan tangannya.
Edgar pun mengangguk. "Benar, Kak Ellaine."
"Bagaimana kalau kita memanggil dengan nama panggilan saja?" Saran Julliane yang ingin mendekatkan diri dengan saudara-saudarinya.
"Ide bagus, Kak Juli," timpal Edgar.
Ellaine terkekeh pelan. "Baiklah, kalian bisa memanggilku Elle."
"Kalau begitu Edgar dipanggil Ed," tambah Julliane.
Tawa penuh kegembiraan memenuhi kamar Ellaine. Kekhawatiran dan ketakutan Ellaine akibat penculikannya perlahan sirna.
***
Para kesatria berjajar di lapangan latihan. Mereka kedatangan putri kedua yang akan memilih pengawal baru. Semuanya membusungkan dada berharap dipilih.
Ellaine berjalan dari kesatria ke kesatria lain. Kesatria yang dilewati tertunduk kecewa. Hampir seluruh kesatria terlewati. Langkah Ellaine terhenti. Ia menatap kesatria berambut biru dan bermata hijau. Senyumnya merekah. Tangan disodorkan ke arah kesatria itu.
Kesatria itu bersujud dan mencium tangan Ellaine sambil bersumpah setia kepadanya.
"Saya Carlos Illian akan melayani Tuan Putri."
Carlos mendongak tersenyum ke arah tuannya. Orang yang membawanya dari tempat kumuh itu.
Sedangkan di tempat lain.
"Berhentilah mengeluh seperti itu tiap hari. Aku bosan mendengarnya," ujar Letta yang lelah mendengar gerutuan Julliane.
Julliane memilah-milah suratnya. Tiap hari surat kunjungan mendatanginya. Ia mulai bosan terlebih lelaki yang mendekatinya sama sekali tidak sesuai dengan kriterianya. Beckett yang manja, kemarahan Kyler, yang berbeda adalah Lioney tidak datang, meskipun memberikan surat dan dibalas oleh Julliane. Kiriman hadiah menggantikan ketidakhadiran Lioney. Ketiga kandidat tokoh utama ini pantang menyerah mendekati Julliane. Sedangkan lelaki lain yang tidak ia kenal sudah disingkirkan karena benar-benar tidak menarik hati Julliane.
Julliane mengirim surat pada Beckett untuk menemuinya. Ia berharap sikap Beckett mulai berubah. Namun, dugaan Julliane salah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Hwaiting Kk
3 Cogan dan Ry mampir
2022-03-22
2
Aerik_chan
Semangat kak
2022-03-21
2