Semakin malam suara di luar kamar Fang Yin semakin gaduh karena para murid yang sakit semakin parah. Hao Yu sudah tertidur pulas. Jika sudah begitu, walaupun ada hujan petir sekalipun dia tidak akan terganggu.
'Dasar kerbau! Kalau sudah tidur, tidak peduli gunung Feng meletus tetap tidak akan terganggu.' Fang Yin melirik ke arah Hao Yu sambil menggeleng.
Dengan rasa malas, Fang Yin mengambil mantel dan berjalan keluar kamarnya. Tampak Dewan Akademi yang terdiri dari Tetua Song, Tetua Ming, dan Tetua An berkeliling ke kamar-kamar murid yang sakit. Mereka bertiga melihat ke arah Fang Yin yang terlihat segar bugar. Hampir saja mereka melupakan Fang Yin dan Hao Yu.
Ketiga tetua itu berjalan menghampiri Fang Yin yang berdiri santai di dekat taman.
"Xiao Yin! Kau kah itu?" sapa tetua An.
Di antara tujuh tetua, hanya Tetua An yang bersikap baik. Tetua Song memang terlihat baik tetapi kebaikannya tidaklah tulus. Bisa dikatakan jika dia mirip seorang penjilat.
"Salam hormat untuk para Dewan!" Fang Yin memberi hormat pada ketiga tetua itu.
"Apa yang kamu lakukan di luar malam-malam begini? Kamu tidak melihat jika teman-temanmu terserang penyakit yang aneh? Menyingkirlah agar kamu tidak tertular!" seru Tetua Song.
"Penyakit itu tidak menular."
Pernyataan Fang Yin membuat ketiga tetua itu tercengang. Mereka bertiga saling pandang mendengar ucapan Fang Yin. Antara percaya dan tidak pada Fang Yin yang mereka anggap bodoh. Hanya Tetua An yang merasa jika apa yang dikatakan Fang Yin mungkin ada benarnya karena dia tau jika sebenarnya Fang Yin bukanlah gadis bodoh seperti yang mereka kira.
"Apa kamu tahu sesuatu tentang penyakit ini?" tanya Tetua An.
"Sudahlah Tetua An, jangan membuang-buang waktu lagi. Mari kita bantu tetua yang lain untuk menyalurkan energi kepada para murid agar mereka lekas membaik," ucap Tetua Ming memandang sinis ke arah Fang Yin.
Fang Yin tersenyum sinis, tetapi mereka tidak ada yang melihatnya karena tertutup oleh cadarnya. Merasa tidak di hargai, Fang Yin pun berbalik untuk pergi meninggalkan para tetua itu. 'Buat apa capek-capek membantu orang yang tidak membutuhkan bantuannya,' pikirnya.
"Tunggu!" panggil Tetua An.
Fang Yin menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ketiga Dewan Akademi itu.
"Apa kamu tahu tentang penyakit itu dan cara mengobatinya?" tanya Tetua An.
Sebenarnya Fang Yin sangat malas, tetapi melihat murid-murid akademi ini mati konyol tentunya sangat menyedihkan sekali. Sebagai seorang kultivator dia akan membenci ini. Namun, sebagai seorang dokter jiwa sosialnya memintanya untuk menolong.
"Sedikit. Kalau tetua percaya, bawa seorang murid yang sakit ke sini. Aku akan mengobatinya." Fang Yin duduk di tepi lantai seperti kebiasaannya ketika menyendiri.
"Baiklah!" seru Tetua An.
"Tapi ...!" Tetua Song terlihat ragu-ragu, dia terus menatap Fang Yin tajam setelah kepergian Tetua An.
Tetua Ming tidak banyak berkomentar. Dia hanya menjadi penonton saja dan tidak punya inisiatif apapun. Menurutnya, Fang Yin tidak mungkin bisa menyembuhkan murid yang sakit karena selama berlatih dengannya dia tidak memiliki kemampuan yang bisa dibanggakan.
Tetua An datang membawa seorang murid yang sedang sakit ke hadapan Fang Yin.
"Duduklah di hadapan Xiao Yin!" seru Tetua An.
Murid itu ragu-ragu melakukan apa yang diminta oleh Tetua An. Dia terlihat sangat ketakutan seperti sedang dihadapkan pada pilihan antara hidup dan mati. Matanya tak berkedip menatap ke arah Fang Yin.
"Berbaringlah!" seru Fang Yin ketika murid itu sudah berada di sampingnya.
Murid itu menurut. Tidak ada gunanya dia memberontak. Toh para tetua berada di sini, jika Fang Yin berbuat yang mencelakainya tentu mereka tidak akan tinggal diam.
Fang Yin meletakkan telapak tangan kirinya di perut murid itu lalu mengetuk-ngetuknya dengan tangan kanannya. Suara gas di dalam perut murid itu terdengar bung ... bung ... bung ... yang menandakan gas itu terperangkap di saluran pencernaannya. Reaksi tubuh masing-masing orang berbeda-beda ketika mengalami keracunan makanan. Murid ini mengalami kembung dan sakit kepala karena racun itu tidak sampai membuatnya muntah dan diare seperti yang lainnya.
"Ketahanan tubuhmu cukup bagus. Kamu hanya mengalami gejala ringan saja. Tapi tetap saja racun ini harus dikeluarkan dari tubuhmu agar tidak membahayakan." Fang Yin mengeluarkan sebuah kantong yang berisi beberapa butir pil.
Fang Yin mengambil sebutir lalu memberikannya pada murid itu, "Telan pil ini!" perintah Fang Yin.
"Tapi ... tapi ...." Murid itu terlihat ragu-ragu dan ketakutan saat menerima pil itu.
"Telan saja. Kamu tidak akan mati hanya karena menelan pil ini."
Murid itu menelan pil itu setelah Tetua An mengangguk sebagai isyarat memperbolehkannya.
Pil yang diberikan oleh Fang Yin memiliki reaksi dingin dan nyaman di perutnya. Perlahan seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam ususnya. Gerakan itu semakin cepat dan keluarlah gas yang sangat bau.
Semua orang yang ada di sana spontan menutup hidungnya.
Murid itu tersenyum senang karena kepalanya tidak terasa pusing lagi dan perutnya terasa nyaman.
"Saya sudah sembuh Tetua!" Murid itu berdiri dan tersenyum senang.
Ketiga tetua itu saling berpandangan lalu menatap Fang Yin tidak percaya. Mereka akhirnya percaya jika Fang Yin memiliki kemampuan dalam ilmu pengobatan. Satu persatu murid yang sakit di bawa ke hadapan Fang Yin. Pengobatan yang dilakukan oleh Fang Yin berbeda-beda sesuai dengan gejala yang dialami oleh setiap murid.
Fang Yin tidak tidur sampai hampir dini hari demi mengobati murid-murid akademi yang sedang sakit. Semuanya berhasil disembuhkan olehhnya tanpa campur tangan orang lain.
"Terimakasih, Xiao Yin. Kami berhutang budi padamu." Tetua Song selaku ketua Dewan Akademi mengucapkan terimakasih pada Fang Yin diikuti oleh Tetua An dan Tetua Ming.
"Ini bukan hal yang besar, Tetua. Jika tidak ada hal lain, perkenankan saya untuk beristirahat." Fang Yin meminta diri.
"Pergilah! Persiapkan dirimu untuk melakukan ujian fisik besok!" Tetua Song mengingatkan tentang materi pembelajaran besok pagi.
Fang Yin hanya mengangguk lalu pergi dari hadapan para tetua itu.
Malam begitu cepat berlalu karena Fang Yin tidur saat hari sudah hampir pagi. Dia masih terlihat mengantuk saat Hao Yu membangunkannya. Terpaksa Fang Yin bangun dengan malas dan terus menguap saat berjalan ke kamar mandi.
Hao Yu merasa aneh dengan perubahan sikap para murid di akademi itu yang tiba-tiba berubah sangat ramah pada Fang Yin. Mereka tidak lagi malu-malu untuk menawarkan makanan mereka untuk Fang Yin. Ada pula yang datang membawakan hadiah untuk Fang Yin. Tidak ada satu pun yang Fang Yin terima. Prinsip Fang Yin tidak berubah, dia tidak ingin menjalin pertemanan dan dekat dengan siapapun karena itu akan menghambatnya dalam membalaskan dendamnya kelak.
Dalam ujian fisik, masing-masing murid diperiksa oleh seorang tetua. Dengan kata lain ujian ini akan dibagi menjadi tiga gelombang. Masing-masing gelombang terdiri dari tujuh orang murid.
Kali ini Fang Yin berada di gelombang terakhir dan diperiksa oleh Tetua Han.
Fang Yin terlihat memejamkan matanya ketika Tetua Han memanggilnya dan memintanya untuk duduk dengan posisi yang sempurna.
'Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan kekuatanku lagi. Aku tetap harus meminum pil ini agar seluruh kekuatanku tidak mudah terdeteksi.' Fang Yin menelang pil itu sebelum masuk ke dalam barisan beberapa waktu yang lalu.
Tetua Han mulai mengeluarkan energi Qi Lotus Merah di telapak tangannya untuk memeriksa kedelapan titik meridian Fang Yin dan mengaktifkannya jika belum aktif.
Tubuh Fang Yin menolak ketika energi Qi Lotus Merah milik Tetua Han mencoba untuk menerobos masuk melalui sebuah titik meridian. Qi Kristal Naga Hijau miliknya memancar keluar hingga membuat tubuh Fang Yin mengeluarkan cahaya kehijauan. Tetua Han tidak menyangka jika hal ini bisa terjadi. Dengan cepat dia menghentikan pancaran Qi-nya karena di tekan oleh Qi milik Fang Yin.
Kejadian itu menarik perhatian semua orang yang berada di sana dan membuat Fang Yin kembali menjadi pusat perhatian.
"Apa yang terjadi tetua?!" tanya Tetua Song setengah berteriak.
"Kedelapan titik meridian Xiao Yin telah aktif dan telah terbentuk kolam Qi di dalam dantiannya," jelas Tetua Han.
"Apa?!" pekik seluruh tetua hampir bersamaan.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
K4k3k 8¤d¤
👏👏👏👏👏👏👏
2023-05-08
0
K4k3k 8¤d¤
mantab mantab thor terus lanjutin update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-05-08
0
art
Osi
2023-04-23
0