Fang Yin tidak lantas tertidur setelah selesai melakukan kultivasinya. Sepertinya malam sudah hampir pagi, celah-celah gubuk Fang Yin mulai menunjukkan suasana luar yang berangsur terang. Binatang malam yang semula berisik kini tidak terdengar lagi, berganti suara burung berciccit di pepohonan.
Perut Fang Yin terasa sangat lapar. Dia segera bangkit dari atas dipannya dan mencari-cari di seluruh penjuru ruangan itu, mungkin saja ada sesuatu yang bisa di masak. Nihil.
Pandangan mata Fang Yin tertuju pada setumpuk pakaian yang ada di atas meja rotan. Dengan cepat dia mengambil baju-baju itu dan membawanya ke dipan. Satu persatu dia buka untuk mencari mana yang sesuai dengan seleranya.
Pilihannya jatuh pada sebuah hanfu putih yang tidak banyak hiasan. Di kehidupan keduanya ini Fang Yin tidak ingin seseorang mengenalinya sebagai seorang putri dari Kaisar Gu. Dia harus menyembunyikan identitasnya jika ingin selamat dari kejaran para kultivator yang bersekutu dengan para pemberontak.
Fang Yin memutar otaknya untuk membuat dirinya tidak mudah dikenali. Dia terus berjalan mondar-mandir untuk mendapatkan ide. Akhirnya dia mulai berpikir untuk memakai penutup wajah saja.
Dia mencari-cari topeng atau apapun yang bisa digunakan, namun tidak menemukannya. Di dalam cincin penyimpannya juga tidak ada. Hanya ada dua buah kain trasnparan berwarna silver di antara tumpukan baju-baju itu.
Fang Yin mencoba memakainya untuk menutup wajahnya.
"Sepertinya ini cukup lumayan." Rasanya memang sedikit aneh dan tidak nyaman karena dia belum terbiasa memakainya.
"Setidaknya dengan begini, aku tidak akan mudah untuk dikenali." Fang Yin merapikan penampilannya.
Saat ini dia bukan lagi Agata yang di rumahnya tersedia makanan empat sehat lima sempurna, juga dua orang asisten rumah tangga yang bersedia melayaninya 24 jam. Fang Yin harus berusaha sendiri untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sebelum keluar, Fang Yin memakai alas kaki model kuno yang menurutnya sangat tidak nyaman. Apa mau di kata, dia harus memakainya agar kakinya tidak lagi terluka.
Udara sejuk di tengah Hutan Bintang Selatan membuat Fang Yin merasa lebih tenang. Dia melakukan gerakan ringan untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku sambil terus berjalan. Matanya terus melihat ke sekeliling untuk mencari buah atau tumbuhan yang bisa di makan.
Fang Yin terus berjalan, hingga matanya menangkap sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Bunga Dara Wangi, Rumput Tapak Dewa, Daun Lima Jari, dan banyak lagi tanaman obat lainnya.
"Waahhh! Banyak sekali tanaman obat langka di sini!" Mata Fang Yin berbinar senang.
Selain sebagai dokter, Agata merupakan ahli pengobatan tradisional dan akupuntur. Sejak kecil dia sudah dilatih oleh neneknya untuk mengenali berbagai macam tanaman obat yang berkhasiat. Agata juga mengingat beberapa resep dari Kitab Sembilan Naga tentang jenis-jenis tanaman yang bisa dijadikan pil penguat jiwa. Ada juga resep yang bisa digunakan untuk mendukung tubuh seseorang yang mampu meningkatkan ranah kultivasi lebih cepat.
Fang Yin tersenyum lebar sambil mengambil beberapa tanaman obat yang sangat berguna itu. Saking senangnya dia sampai melupakan rasa laparnya dan terus memenuhi cincin penyimpanannya dengan berbagai tanaman obat. Selain untuk dibuat menjadi pil, Fang Yin juga bisa menjualnya nanti.
"Lumayan." Fang Yin berjalan meninggalkan tempat itu dengan hati yang riang lalu kembali melihat sekeliling untuk mencari makanan.
"Huhh, tidak ada buah-buahan di sini. Banyak sekali jamur tapi aku takut beracun." Wajah Fang Yin tampak kecewa.
Merasa tidak ada yang bisa diambilnya untuk di makan, Fang Yin berjalan gontai menuju ke tepi sungai dengan rasa laparnya.
"Minum air sungai sajalah. Setidaknya akan sedikit menunda lapar."
Fang Yin menggabungkan kedua telapak tangannya untuk mengambil air sungai yang sangat jernih itu. Sekelebat ikan yang cukup besar berenang di dalam air. Sebuah senyuman terbit di wajah Fang Yin.
"Aku dapat makanan."
Fang Yin membuka jalur energi qi di ujung jarinya lalu mencelupkannya ke dalam air. Ikan itu mengelepar-mengelepar di atas permukaan air karena tubuhnya tersengat oleh energi yang dikeluarkan oleh Fang Yin. Dengan mudah ikan itu ditangkap karena sudah setengah mati.
Hal itu diulangi oleh Fang Yin beberapa kali hingga mendapatkan ikan yang cukup. Setelah ikan dibersihkan, Fang Yin mencari dahan kecil untuk menusuknya serta dahan-dahan kering untuk membuat perapian. Lagi-lagi Fang Yin memakai energi qi-nya untuk menyalakan kayu bakar.
Kini dia mulai menikmati kehidupan barunya yang menurutnya cukup menyenangkan. Tidak memerlukan korek api, kompor, atau gas LPG untuk memasak, dia hanya perlu menjentikkan jari maka semuanya akan beres. Beruntung dia telah mempelajari tentang ilmu beladiri dan kultivasi sewaktu berada di dunia manusia meskipun energi yang dia miliki sebelumnya tidak sebesar di sini. Mungkin alam di mana dia berada juga mempengaruhi besarnya energi yang tersedia.
Fang Yin berpikir untuk mencari jalan keluar dari Hutan Bintang Selatan. Jiwa petualangnya tidak akan terima jika dia hanya berdiam diri di gubuk reyot itu. Sebelum berkemas untuk melakukan perjalanan, Fang Yin ingin berkultivasi sekali lagi. Ada beberapa meridiannya yang terkunci dan Fang Yin berniat untuk membukanya.
Untuk mempercepat kultivasinya, Fang Yin mengeluarkan kristal energi yang dia dapatkan semalam. Kini Fang Yin bisa melihatnya dengan jelas bentuk dari kristal energi berwarna hijau itu. Bentuknya tidak beraturan dan memiliki sisi runcing yang tajam.
"Aarrghhh!" pekik Fang Yin yang tergores ketika mengelus kristal energi itu.
Darah Fang Yin menetes dipermukaan kristal dan hal yang tidak terduga pun terjadi. Darah itu terserap ke dalam kristal dan membuat kristal itu berubah menjadi cahaya energi berwarna hijau. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh Fang Yin tanpa permisi dan membuat tubuhnya bergejolak.
"Aaahhh, panas ... panas sekali ... aaahhh!" Kedua tangan Fang Yin meremas bajunya sambil merapatkan kedua gerahamnya untuk mengurangi rasa panas di tubuhnya.
Kristal energi itu masuk dan mengalir di seluruh jalur meridiannya dan bergerak berputar-putar dengan cepat. Keringat Fang Yin mengalir membasahi wajah dan tubuhnya saat menahan panas dan rasa terbakar di dalam tubuhnya. Dengan sisa-sisa tenaganya, Fang Yin menggerakkan kakinya dan melipatnya untuk bersila.
Fang Yin harus berusaha untuk menjinakkan energi liar itu dan menyimpannya di dalam kolam energinya yang dikenal dengan dantian.
Butuh konsentrasi untuk bisa masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan mengendalikan energi qi itu lalu menyimpannya bersama energi-energi yang lainnya.
Bagi seorang kultivator memiliki lebih dari satu jenis qi itu adalah hal yang lumrah. Beberapa qi itu jika disatukan bisa menjadi energi yang luar biasa dasyat dan mematikan. Efek menghancurkannya mampu meledakkan tempat dengan jangkauan yang luas.
Fang Yin mengeluarkan energi Awan Saljunya untuk mengikat energi Kristal Naga Hijau itu. Kedua energi itu saling berkejaran di dalam meridiannya. Tubuh Fang Yin semakin bergejolak hingga membuatnya harus tersiksa menahan rasa panas dan dingin dari kedua energi itu yang masih berputar-putar.
Merasa jika energi Awan Salju saja tidak cukup, Fang Yin akhirnya juga melepaskan energi Cahaya Emasnya untuk menangkap Kristal Naga Hijau.
Tubuh Fang Yin bergetar hebat dengan keringat yang mengucur deras. Pergumulan ketiga energi itu membuat tubuhnya serasa seperti menjadi landasan rel kereta api. Meskipun terasa menyakitkan namun Fang Yin juga merasakan efek baiknya. Seluruh jalur meridiannya terbuka dengan sendirinya setelah dilalui oleh ketiga energi itu.
Fang Yin mencoba untuk menahan rasa panas terbakar dan nyeri di ulu hatinya. Perlahan-lahan dia kembali berkonsentrasi dan menguasai alam bawah sadarnya. Kini Fang Yin mengambil jalan dengan membuka meridiannya untuk menyerap qi alam sebanyak-banyaknya.
Usahanya membuahkan hasil. Qi Kristal Naga Hijau berhasil di tekan masuk menuju dantian. Gejolak yang ditimbulkannya perlahan memudar. Di antara ketiga energi inti yang ada di dalam tubuh Fang Yin, memang kekuatan Kristal Naga Hijau yang paling besar.
Energi alam terus masuk ke dalam tubuhnya, hingga pada akhirnya energi Kristal Naga Hijau berhasil tersimpan di dalam kolam energi.
Bukan cuma tubuhnya saja yang bertambah kuat, rupanya efek dari energi Kristal Naga Hijau juga membuat luka-luka di luar tubuh Fang Yin hilang tak berbekas dan kulitnya menjadi lebih halus.
"Aku mengalami masa remaja untuk yang kedua kali." Fang Yin tersenyum setelah melihat kedua lengannya.
Sesuai rencananya, Fang Yin mengemasi barang-barang yang perlu dia bawa. Hari itu juga dia ingin meninggalkan gubuk yang menjadi ruang tahanannya. Bisa saja kultivator yang membunuhnya datang kembali ke sana untuk memeriksanya.
Fang Yin berharap akan segera bertemu seseorang yang masuk ke dalam hutan itu dan membawanya keluar.
Berjalan tanpa arah di tengah hutan yang lebat membuatnya lelah. Di sepanjang perjalanan dia mengambil buah yang bisa di makan, juga apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk stok bahan obat. Sesekali Fang Yin berteduh di bawah pohon untuk beristirahat melepas lelah.
Tanpa terasa sudah beberapa hari Fang Yin tinggal di hutan itu dan terus berjalan mengikuti arah kakinya melangkah karena tidak tahu arah. Selama menunggu seseorang yang masuk ke hutan itu, Fang Yin meningkatkan kultivasinya dan berlatih membuat pil obat. Saat ini Fang Yin berada di ranah bumi tingkat 9. Meskipun begitu, energi dan kecepatan yang dia miliki lebih besar dari itu.
Tingkatan dalam kultivasi di alam Fang Yin terbagi dalam 5 kategori yaitu, ranah bumi tingkat 1 sampai 9, ranah langit tingkat 1 sampai 9, ranah suci tingkat 1 sampai 9, ranah surgawi tingkat 1 sampai 9, dan ranah dewa tingkat 1 sampai 9.
Butuh waktu yang panjang untuk naik setingkat demi setingkat jika hanya mengandalkan latihan saja tanpa sumber daya yang mendukung.
Seseorang yang kaya rela membeli sumber daya seperti pil, kristal energi dan artefak lain yang bisa mempercepat mereka dalam menaikkan tingkatan kultivasinya. Tidak heran jika mereka semakin kuat dan berkuasa. Namun tidak menutup kemungkinan orang biasa terlahir dengan struktur tubuh yang membuatnya cepat meningkatkan ranah kultivasinya. Mereka biasa di sebut dengan kultivator jenius dan berbakat.
Kultivator jenius juga pantas disematkan untuk Fang Yin mengingat usianya yang baru 13 tahun sudah mampu menembus kultivasi ranah bumi tahap akhir.
Tekad Fang Yin yang kuat untuk membalas dendam membuatnya ingin segera menembus ranah langit. Selama berada di dalam Hutan Bintang selatan dia terus berkultivasi dan memakan pil penguat jiwa agar tubuhnya bisa menyerap energi alam sebanyak-banyaknya untuk mempermudahnya menembus tingkat lanjut. Fang Yin berharap dia bertemu lagi dengan binatang roh untuk diambil intinya. Sebelum mendapatkan Kristal Naga Hijau, tubuhnya masih berada di ranah bumi tingkat 3 dan energi Kristal Naga Hijau membuatnya melompat 6 tingkat sekaligus.
Kemampuan Fang Yin dalam membuat obat pun juga meningkat. Hutan Bintang Selatan ternyata menyimpan banyak sekali tanaman obat langka yang berlimpah. Fang Yin yakin jika dia akan bertemu seorang alkemis di tempat ini.
****
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
Sefira Arrum
Keren bangeedd/Determined//Determined/
2024-11-11
0
K4k3k 8¤d¤
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
2023-05-07
1
K4k3k 8¤d¤
semangat semangat terus semangat thor lanjutin update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-05-07
0