Tidak seperti biasanya, hari ini para tetua berkumpul di halaman bersama seluruh murid di akademi yang hanya berjumlah dua puluh orang saja.
Semua murid memberi hormat pada tujuh tetua itu.
Fang Yin mencari-cari sosok Tuan Xi namun sudah tidak lagi berada di sana. Rupanya semalam dia tidak menginap dan langsung pulang dari akademi ini setelah menyerahkannya pada Tetua Song. Semuanya terasa sangat asing bagi Fang Yin.
Suasana pagi yang terang benderang membuat Fang Yin bisa melihat dengan jelas seluruh bangunan di akademi itu. Dari bangunannya saja dia bisa menilai jika akademi ini memang dikhususkan untuk para kaum bangsawan. Lalu dia? Seorang putri angkat dari bangsawan yang merupakan mantan budaknya.
Sembilan belas murid yang ada di sana saling berbisik sambil melirik Fang Yin dengan tatapan tidak suka. Setelah Fang Yin pergi ke kamarnya, rupanya ada seorang murid yang menguping pembicaraan antara Tuan Xi dan tetua Song yang menceritakan asal usul Fang Yin. Murud itu tahu jika Fang Yin bukanlah putri kandung Tuan Xi melainkan budak yang diangkatnya menjadi putrinya.
Belum selesai mendengar lanjutan cerita dari Tuan Xi, dia melihat seorang tetua tiba-tiba datang di kejauhan dan membuat murid itu buru-buru pergi dari tempatnya menguping.
Tetua song meminta Fang Yin untuk maju ke depan dan memperkenalkan dirinya pada teman-temannya. Secara resmi mulai hari ini Fang Yin menjadi murid Akademi Tujuh Bintang.
"Perkenalkan nama saya, Xi Xiao Yin. Salam hormat untuk para tetua dan terimakasih sudah menerima saya menjadi murid di akademi ini. Untuk para senior, mohon bimbingannya."
Semua teman-teman Fang Yin tetap memandang rendah dirinya meskipun memakai marga Xi di depan namanya karena mereka tahu siapa Fang Yin sebenarnya.
Semua memandang Fang Yin dengan tatapan malas ketika dia kembali ke barisan.
Hari ini pelajaran pertama untuk Fang Yin di mulai. Dua puluh murid itu dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing beranggotakan empat orang. Ketiga teman Fang Yin yang berada dalam satu kelompok dengannya terlihat acuh padanya.
Tetua An yang menjadi mentor kelompok Fang Yin hari ini, membawa mereka ke sebuah tempat yang berada di luar akademi.
Mereka berlima berjalan ke sebuah tempat yang lapang di kaki bukit yang berjarak sekitar satu kilometer dari akademi.
Ketiga teman Fang Yin yang merupakan keturunan seorang bangsawan, merasa kelelahan berjalan sebelum memulai latihannya. Berbeda dengan Fang Yin yang sudah terbiasa melakukan hal berat saat menjadi budak di tempat Tuan Xi Liang, tubuhnya masih terlihat bugar tanpa lelah sedikit pun.
"Hei, lihat dia." seorang murid dengan hanfu merah menunjuk Fang Yin dengan dagunya.
"Kenapa?" tanya murid yang memakai hanfu warna putih.
"Dia tidak merasa lelah dan malah melakukan pemanasan," jawab murid berhanfu merah.
"Jelas dia tidak merasa lelah, dia kan seorang budak yang selalu bekerja sepanjang waktu," ucap murid yang memakai hanfu kebiruan.
Fang Yin menghentikan gerakannya ketika mendengar kata-kata yang membuat telingannya panas.
'Dari mana mereka tahu jika aku seorang budak? Jadi sikap mereka seperti itu karena tahu perbedaan status diantara kami. Apakah Tuan Xi yang mengatakannya?' Fang Yin mengepalkan tangannya menahan emosi.
Fang Yin merasa salah paham dan menganggap jika Tuan Xi Liang tidak tulus menyayanginya sebagai seorang anak. Dia berpikir jika Tuan Xi mengirimnya ke akademi ini sebagaibalas budi saja setelah menyelamatkan nyawa putranya.
'Setelah aku lulus dari akademi ini, aku tidak perlu lagi untuk pulang ke villa Tuan Xi. Aku cukup sadar akan posisiku. Lebih baik aku fokus untuk memperkuat diri dan membalaskan dendamku.' Sorot mata Fang Yin dipenuhi oleh rasa kebencian.
Tetua An memanggil keempat muridnya itu dan memberikan sebuah pedang kepada mereka. Lagi-lagi ketiga murid itu merasa heran ketika melihat tangan kecil Fang Yin tidak keberatan memegang pedang yang besar itu. Mereka pikir seorang wanita sepertinya tidak akan bisa memegang pedang.
'Aku tidak boleh menunjukkan kemampuanku sekarang. Aku tidak peduli jika mereka akan menganggapku sebagai budak sampah.' Fang Yin memainkan pedangnya dan mengayunkannya untuk membuat gerakan yang salah dan tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Tetua An.
Ketiga temannya menertawakannya, tetapi tidak bagi Tetua An. Meskipun gerakan Fang Yin tidak sama dengan yang diajarkannya. Namun, Fang Yin memiliki power yang besar untuk mengayunkan pedangnya.
'Sepertinya anak ini memiliki kekuatan yang sangat besar dan dia sengaja untuk menyembunyikannya demi sebuah misi. Aku harus berhati-hati dan terus mengawasinya.' Tetua An mampu merasakan kekuatan Fang Yin dari gerakan pedangnya.
Untuk meyakinkan dirinya jika dia tidak salah menduga, Tetua An meminta murid-muridnya berlatih mengalirkan Qi ke dalam pedang lalu menyerangnya dengan pedang itu.
'Sial! Aku harus mengeluarkan Qi. Secara otomatis, Tetua An akan melihat jenis energi yang aku miliki.'
Fang Yin mengalirkan Qi Awan Salju miliknya ke dalam pedangnya. Pedang Fang Yin berkilau dan memancarkan sinar berwarna putih terang. Hawa dingin terasa di sekitar tempat di mana dia berdiri sekarang sebagai efek dari Qi Awan Salju miliknya.
Pada tingkatan kultivasi yang mencapai ranah langit energi ini punya sifat membekukan. Fang Yin tidak menyangka jika saat ini dia telah mencapai ranah langit bintang awal.
'Semoga tetua An tidak tahu dengan jenis energi ini.' Fang Yin berharap sesuatu yang tidak mungkin.
Tetua An terlihat menatap Fang Yin intens.
'Anak ini benar-benar menakutkan. Bakatnya sungguh luar biasa meskipun baru berusia lima belas tahun.' Tetua An merasakan kekuatan Fang Yin tidak hanya sebatas yang dikeluarkannya.
Untuk mengantisipasi agar tidak ada yang terluka, Tetua An tidak memberikan latihan bertarung sesama murid.
Fang Yin mendapatkan giliran terakhir dalam latihan menyerang bersama gurunya itu. Berbeda dengan ketika melatih ketiga temannya, kini Tetua An meminta Fang Yin untuk sedikit menjauh dari teman-temannya. Tujuannya cuma satu, Tetua An ingin Fang Yin menunjukkan kemampuan sebenarnya.
Rambut panjang Fang Yin berkibar ketika tertiup angin yang membelai. Dia mulai memasang kuda-kuda untuk bersiap menghadapi Tetua An. Fang Yin melihat ketiga temannya di kejauhan dan membuat hatinya merasakan bimbang.
"Tidak perlu sungkan! Mereka tidak akan melihat aksimu. Aku bisa menjaga rahasia."
Kata-kata Tetua An membuat Fang Yin terkejut. Ternyata benar dugaannya, Tetua An sudah membaca kekuatannya dari energi qi yang dia keluarkan dari pedangnya.
"Baik, Tetua."
Kali ini Fang Yin tidak main-main lagi dan menunjukkan teknik pedang yang dia kuasai dari Kitab Sembilan Naga. Seorang Agata tidak tahu jika sangat berbahaya jika menunjukkan jurus-jurus dari kitab itu. Dia akan menjadi incaran para kultivator yang menginginkan Kitab Sembilan Naga.
"Xiao Yin! Dari mana kamu mempelajari jurus ini?" tanya Tetua An di sela pertarungan mereka.
Fang Yin terlihat kebingungan untuk menjawab.
"Tidak perlu menjawab jika tidak ingin menjawab. Pesanku hanya satu. Jangan kau tunjukkan jurus ini atau jurus-jurus yang kamu pelajari dari Kitab Sembilan Naga sebelum kamu berada di ranah surga."
"Baik, Tetua."
Fang Yin tidak tahu maksud dari pesan Tetua An, tetapi jika dilihat-lihat maksudnya sangat baik meskipun dia menyampaikannya seperti sebuah teka teki.
Tetua An segera mengakhiri latihannya dan membawa mereka berempat kembali ke akademi.
Dalam diamnya, Tetua An terus berpikir tentang asal usul Fang Yin sebenarnya. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mempelajari Kitab Sembilan Naga yang terpencar. Jika tidak salah ingat, jurus pedang yang digunakan Fang Yin berasal dari Kitab Sembilan Naga bagian ketiga.
Ketiga teman Fang Yin tampak loyo ketika mereka sampai di akademi. Mereka kembali di minta untuk berkumpul karena ada seorang murid baru lagi. Mengingat siang itu cuaca sangat panas mereka berkumpul di sebuah aula.
Rupanya ada seorang murid baru lagi yang datang ke akademi untuk belajar.
Tetua Song selaku guru pembimbing sekaligus kepala sekolah itu mulai berbicara. Dalam pidato singkatnya, Tetua Song langsung pada intinya yaitu memperkenalkan King Hao Yu.
Fang Yin bersyukur karena kehadiran Hao Yu, dia mendapatkan kamar baru yang dia tinggali bersama Hao Yu saja. Sama dengan kamar-kamar yang lain, kamar baru Fang Yin memiliki dua buah tempat tidur yang membuat mereka nyaman.
Sikap Hao Yu berbeda dengan ketiga teman yang ditemui oleh Fang Yin sebelumnya. Dengan kata lain, King Hao Yu mengajak Fang Yin untuk berteman. Hao Yu tidak peduli akan asal usul Fang Yin yang menurutnya tidak jelas.
****
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
Rika_Faris
hmmm.... cm di novel mu thor main lead memilih hidup bergantung dgn orang lain sementara di novel transmigrasi yg sudah banyak ku baca malah authornya membuat main leadnya lebih mandiri, justru membuat orang lain bergantung dgn nya. padahal fang yin punya bekal uang di cincin penyimpanannya masa g pernah dipergunakan malah lebih memilih dibodohi orang lain
2023-10-16
0
~Daf r r
Thor, perasaan yang aku lihat di bab 5 , gk ada tanah surga deh? 😕🤔
2023-07-13
0
K4k3k 8¤d¤
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
2023-05-08
0