"Jangan pedulikan tatapan mereka, Xiao Yin! Kita akan segera sampai," ucap Liwei ketika melihat Fang Yin terus menundukkan wajahnya saat berjalan.
Fang Yin hanya menjawabnya dengan anggukan.
Sebenarnya Fang Yin menunduk bukan karena malu atau tidak percaya diri melainkan karena dia takut salah satu dari penduduk desa itu ada yang mengenalinya.
Jika mereka bisa melihat dengan teliti, mereka akan tahu jika pakaian yang dikenakan oleh Fang Yin adalah tenunan terbaik yang biasanya hanya bisa dimiliki oleh kalangan bangsawan dan raja-raja.
Fang Yin berharap jika mereka tidak akan mengetahuinya dan berharap Liwei dan Mao Zhan akan memberinya hanfu yang sederhana saja dan memberinya kesan sebagai orang biasa.
Mao Zhan yang berjalan paling depan, memasuki sebuah halaman rumah yang cukup luas. Di depan pintu terdapat sebuah plankan nama bertuliskan 'Keuarga Mao'. Itu berarti rumah itu adalah tempat tinggal Mao Zhan dan Liwei.
Fang Yin masih berdiri mematung di depan pintu meskipun Mao Zhan sudah membuka pintu untuknya dan masuk lebih dulu.
"Masuklah, nak." Liwei memegang bahu Fang Yin dan sedikit mendorongnya agar mengikutinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Maaf merepotkanmu, Bibi. Apakah bibi hanya tinggal berdua bersama paman saja di rumah ini?" tanya Fang Yin sambil melihat ke sekeliling ruangan.
"Tidak. Ada anak-anak kami juga di belakang. Ikutlah denganku, aku akan mengenalkanmu pada mereka."
Liwei membawa Fang Yin berjalan melewati ruang tamu dan membuka sebuah pintu yang menampakkan sebuah halaman yang dikelilingi oleh beberapa ruangan yang saling terhubung satu sama lain.
Rumah keluarga Mao terbilang sangat besar untuk kalangan penduduk desa. Bisa di bilang mereka adalah orang kaya di desanya mengingat rumaah-rumah lain di sekelilingnya yang terlihat biasa.
Samar-samar terdengar suara orang sedang bercakap-cakap di sebuah ruangan. Liwei membawa Fang Yin memasuki ruangan itu. Fang Yin menahan napas yang dihirupnya untuk sejenak lalu menghembuskannya perlahan, dalam hati dia berharap anak-anak dari Liwei bisa menerima kehadirannya di rumah itu.
"Ibu!" panggil salah seorang putri Liwei, beranjak dari duduknya dan diikuti yang lainnya.
Ada empat orang anak di dalam ruangan itu, dua anak laki-laki dan dua anak perempuan.
"Kalian duduklah. Ibu akan memperkenalkan kalian pada anggota baru keluarga kita." Liwei meminta keempat anaknya untuk duduk kembali.
Mereka berempat pun menurut dan kembali duduk lesehan di lantai.
"Xiao Yin, kamarilah!" panggil Liwei.
Fang Yin melangkah masuk lalu duduk di samping Liwei, berhadapan dengan keempat orang anaknya.
"Dia Mao Chen, anak sulungku." Liwei menunjuk seorang pemuda kira-kira berusia 17 tahun.
Fang Yin terlihat berkaca-kaca selah melihatnya karena teringat akan kakaknya Gu Qian Fan.
Fang Yin membungkuk memberi hormat pada Mao Chen dan Mao Chen membalas hormatnya.
"Dia Mao Shen, anak keduaku." Liwei kembali menunjuk seorang anak laki-lakinya yang berusia kira-kira 15 tahun.
Lagi-lagi Fang Yin kembali teringat akan kakak keduanya Gu Yu Wen.
Fang Yin kembali membungkuk untuk memberi hormat pada Mao Shen dan Mao Shen pun membalasnya.
"Dan kedua gadis ini adalah si kembar Mao Lian dan Mao Niu." Liwei menunjuk kedua anak gadisnya yang kira-kira sebaya dengan Fang Yin.
Saat Fang Yin ingin membungkuk memberinya hormat, Mao Niu bergerak seperti sedang mendorong maju ke depan untuk menghentikannya.
"Tidak perlu terlalu sopan pada kami, Xiao ... Xiao ...." Niu tampak mengingat-ingat nama panjang Fang Yin.
"Xiao Yin," ucap Liwei.
"Iya, Xiao Yin." Niu tersenyum ramah pada Fang Yin.
Lain dengan Niu, Lian terlihat pendiam dan terkesan acuh.
Setelah perkenalan selesai, Liwei meminta kedua putrinya untuk menunjukkan di mana tempat pemandian dan kamar mereka. Rumah itu tidak punya banyak ruang kosong, sehingga Fang Yin harus tidur bersama dengan Niu dan Lian. Fang Yin sangat senang karena mereka menerimanya dengan baik di sana.
Hari-hari Fang Yin di dalam keluarga Mao terasa menyenangkan. Dia lebih sering menghabiskan waktu bersama Mao Zhan dan Liwei ketimbang keempat anaknya. Fang Yin sering diajak untuk keluar mencari tanaman obat di perbukitan dan lembah yang biasa mereka kunjungi.
Di rumah itu, Fang Yin juga di minta untuk membantu Mao Zhan dan Liwei meramu obat. Keempat anak mereka tidak tertarik untuk membantu pekerjaan orang tuanya. Mereka memilih untuk mengerjakan pekerjaan lain yaitu menjual tanaman obat dan beberapa resep manjur hasil racikan orang tua mereka.
Sampai suatu ketika, seluruh keluarga itu berkumpul untuk membagi hasil penjualan tanaman obat yang mereka jual. Itu biasa mereka lakukan setelah uang hasil penjualan sudah terkumpul banyak. Keempat anak Mao Zhan biasanya akan sering berebut saat pembagian berlangsung.
Malam itu, mereka bertujuh berkumpul di ruang santai tempat biasa mereka berkumpul. Di ruangan itu ada sebuah meja, mereka bertujuh duduk melingkar mengelilingi meja itu. Tanpa banyak berbasa-basi, Mao Zhan selaku kepala keluarga, meletakkan sebuah kantong berisi uang hasil penjualan di atas meja.
Keempat anak Liwei terlihat tidak sabar untuk menerima bagian mereka.
Mao Zhan tampak sedang menghitung koin emas dan koin perak yang dia keluarkan dari dalam kantong kain yang sebelumnya dia taruh di atas meja.
Fang Yin tidak terlalu heran dengan banyaknya uang yang ada di hadapannya. Walaupun dia bukan seorang putri lagi, namun di dalam cincin penyimpannya dia memiliki lebih dari 10 kali lipat uang yang ada di hadapannya. Berbeda dengan Fang Yin, keempat anak Mao Zhan tidak berkedip melihat banyaknya uang itu.
Rupanya, hasil penjualan bulan ini jumlahnya lebih banyak dari bulan sebelumnya. Mereka berharap akan memperoleh bagian yang lebih banyak dari bulan lalu.
Mao Zhan mulai memilah koin emas dan koin perak itu menjadi 7 bagian yang berbeda-beda.
Keempat anak Mao Zhan terlihat tidak senang ketika melihat Fang Yin yang baru menjadi anggota keluarga mereka sekitar dua minggu itu juga mendapat bagian yang hampir sama dengan mereka. Bagian Fang Yin hanya selisih sedikit saja dengan bagian keempat anaknya. Kejadian ini membuat percikan-percikan api kecemburuan dan kebencian mulai tumbuh di hati keempat anak Mao Zhan.
Fang Yin belum menyadari tentang perubahan sikap keempat saudara angkatnya itu. Dia berusaha bersikap seperti biasa dalam menjalankan aktifitasnya. Mao Zhan dan Liwei terlihat semakin menyayangi Fang Yin karena berkat bantuannya, mereka bisa mendapatkan tanaman obat dengan kualitas yang bagus. Bukan itu saja, Fang Yin juga memberikan mereka trik-trik khusus dalam mengolah bahan obat agar tidak mengurangi kandungannya saat dikeringkan.
Saat Fang Yin pergi membantu Mao Zhan dan Liwei mencari tanaman obat, keempat anak Mao Zhan berkumpul untuk mengeluarkan unek-unek mereka tentang Fang Yin.
Mereka berencana untuk menyingkirkan Fang Yin dari rumah mereka dengan cara licik. Kedua orangtuanya tidak mungkin mengijinkan Fang Yin pergi dari rumah itu jika mereka tidak membuat Fang Yin melakukan kesalahan yang membuat orangtuanya marah.
Sore itu, seperti biasa, Fang Yin mengeluarkan hasil pencarian mereka dan menyimpannya dengan baik di sebuah ruangan khusus. Ada beberapa jenis tanaman obat yang memiliki sifat mudah rusak jika tidak segera diangin-anginkan. Semuanya dipilah-pilah dan diperlakukan dengan cara yang berbeda oleh Fang Yin dengan baik.
Tanpa Fang Yin sadari, Mao Shen sejak tadi mengawasi gerak-geriknya dan menunggu Fang Yin keluar dari sana. Setelah Fang Yin keluar, Mao Shen segera masuk ke ruangan itu dan memasukkan kembali semua tanaman obat yang didapatkan hari itu. Dengan begitu, seluruh tanaman obat itu akan rusak dan tidak memiliki nilai jual lagi.
Mao Shen tersenyum senang dan sangat merasa usahanya kali ini akan berhasil. Dia segera pergi menemui ketiga saudaranya dan menceritakan apa yang telah dia buat. Mereka bertiga bersorak senang ketika mendengar kabar itu dan tidak sabar lagi untuk menunggu hari esok.
Keesokan harinya, Mao Zhan memang mendapati tanaman obat yang mereka kumpulkan masih berada di dalam keranjang penampungan miliknya. Awalnya dia menduga jika Fang Yin melupakan tugasnya dan ingin marah padanya. Saat dia akan pergi menemui Fang Yin, tiba-tiba dia melihat beberapa tanaman obat tercecer di tempat biasa Fang Yin menyimpannya. Mao Zhan jadi tahu jika ada yang sengaja memasukkan kembali tanaman obat itu ke dalam keranjangnya.
Fang Yin tidak menyadari apa yang terjadi karena dia merasa telah melakukan tugasnya dengan baik.
Keempat anak Mao Zhan terlihat kecewa ketika Mao Zhan tidak memarahinya dan malah mengajaknya kembali untuk pergi mencari tanaman obat.
"Kak Shen, apakah kamu benar-benar telah melakukan tugasmu dengan baik?" tanya Lian setelah orang tua mereka pergi keluar bersama Fang Yin.
"Aku sangat yakin. Kalau tidak percaya, ayo kita periksa ke gudang penyimpanan itu!" ajak Shen pada ketiga saudaranya.
Mereka berempat bergegas pergi ke gudang dan membuktikan ucapan Shen. Di dalam gudang itu tidak ada tanaman obat hasil pencarian mereka kemarin. Mereka juga tidak menemukan di mana tanaman obat yang telah rusak, mungkin ayah mereka telah membuangnya.
"Ayah dan ibu memang benar-benar telah berubah. Mereka sangat menyayangi gadis jelek itu daripada kita sampai-sampai tidak mempermasalahkan dan mengabaikan hal sebesar ini." Mao Chen terlihat begitu marah.
Mereka berempat kembali mengatur siasat untuk menjebak Fang Yin. Kali ini mereka meminta Lian dan Niu sebagai pihak yang terlibat masalah. Mereka ingin membuat Fang Yin seolah-olah mencuri pakaian milik mereka berdua.
Meskipun kepulangan Fang Yin masih lama, mereka segera memulai rencana jahatnya. Niu dan Lian meletakkan pakaian kesukaan mereka di tempat penyimpanan pakaian Fang Yin yang berisi pakaian yang juga merupakan pemberian mereka sebelumnya. Mereka berempat sangat yakin jika rencana kali ini pasti akan berhasil.
Sore hari, Fang Yin langsung bergegas untuk mengambil gantinya sebelum pergi mandi sepulang dari mencari tanaman obat.
"Bersiaplah, Niu, Lian! Permainan kedua kita akan segera dimulai," ucap Mao Chen.
Niu dan Lian mulai memainkan dramanya dengan berpura-pura kebingungan mencari pakaiannya yang hilang.
Liwei yang hendak pergi untuk beristirahat, merasa terganggu dengan tangisan putri kembarnya.
"Ada apa ini?" tanya Liwei ketika dia membuka pintu kamar Niu.
Niu mengadukan apa yang terjadi pada Liwei, ketiga saudaranya yang lain ikut menimpali dan memberikan bumbu penyedap untuk memperkeruh masalah ini.
Liwei mendengarkannya dengan seksama lalu tersenyum dengan lembut pada kedua anak gadisnya.
"Mengalahlah sedikit pada Xiao Yin! Kasihan dia sudah tidak memiliki keluarga. Mungkin dia hanya ingin meminjamnya sebentar saja."
Jawaban Liwei membuat tubuh mereka berempat seakan mati lemas karena kecewa. Lagi-lagi usaha mereka untuk menyingkirkan Fang Yin harus gagal.
Fang Yin yang sudah selesai mandi dan mendengar semua percakapan mereka dari luar kamar itu sejak tadi, namun mereka tidak menyadarinya. Merasa ada yang tidak beres, Fang Yin berpikir untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Terlalu dini baginya untuk menyimpulkan jika keempat saudara angkatnya itu tidak menyukainya.
Fang Yin pura-pura tidak tahu apa-apa dan bersikap biasa lalu segera masuk, ketika Liwei dan kedua anak lelakinya sudah pergi dari kamar yang dia tempati bersama Niu dan Lian.
Niu dan Lian berpura-pura sudah tidur ketika Fang Yin masuk ke dalam kamar. Mereka menunggu Fang Yin tidur untuk pergi keluar dan melakukan diskusi bersama kedua kakak lelakinya. Melihat Fang Yin sudah tidak bergerak dan tidur dengan nyenyak, mereka berdua mengendap-endap keluar dari kamarnya.
Diam-diam Fang Yin yang sebenarnya belum tidur mengikuti mereka berdua di belakang. Ternyata benar dugaannya, empat bersaudara itu bersekongkol untuk menjebaknya. Fang Yin juga baru tahu dari percakapan mereka jika sebelumnya mereka merusakkan tananan obat demi memfitnah dirinya.
Mao Zhan ternyata juga sedang mencuri dengar dari tempat yang berbeda dengan Fang Yin.
Tanpa sengaja tangan Fang Yin menyenggol sebuah guci besar yang ada di sisinya. Walaupun guci itu tidak pecah namun menimbulkan suara keras yang mengundang perhatian keempat bersaudara itu. Mereka keluar dari tempat mereka berkumpul.
"Rupanya ada penguping di sini!" seru Chen.
Bukannya merasa bersalah, mereka malah menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada Fang Yin.
"Jadi kalian ...." ucapan Fang Yin terpotong ketika melihat tangan Chen terangkat untuk mengisyaratkan agar dia terdiam.
"Iya, benar. Kami tidak menyukai kehadiranmu di sini. Tidak untuk hari ini, besok dan seterusnya, Gadis buruk rupa!" seru Chen.
Mereka tidak tahu jika wajah Fang Yin di balik cadarnya sangatlah cantik.
Fang Yin terdiam menunduk mendengar kata-kata Chen. Setelah itu, semuanya bergiliran mengungkapkan ketidaksukaannya pada Fang Yin. Fang Yin akhirnya mengalah dan berjanji pada mereka untuk pergi dari sana malam itu juga tanpa membawa apa-apa.
Keempat bersaudara itu juga melarang Fang Yin berpamitan dengan kedua orangtuanya agar meninggalkan kesan buruk bagi mereka. Fang Yin tidak dapat menolak. Mungkin ini memang jalan terbaik untuknya karena selama tinggal di tempat itu dia tidak dapat berkultivasi.
Di tempat yang tersembunyi, Mao Zhan mendengar semuanya. Sebenarnya dia sangat ingin menahan Fang Yin yang merupakan aset berharganya, namun itu tidak dia lakukan. Dia tidak ingin anak-anaknya berbuat yang lebih nekat lagi untuk menyakiti Fang Yin di luar pengawasannya.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
Ni Ketut Patmiari
Duh kasihan Fang Yin, di istana kena fitnah... baru ktemu keluarga baik eh malah kena fitnah lagi...
2023-11-04
4
K4k3k 8¤d¤
🙏❣❣❣❣❣🙏
2023-05-07
0
K4k3k 8¤d¤
mantab thor lanjut terus update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-05-07
0