Di dunia modern.
Seorang wanita kira-kira berusia 25 tahun dengan penampilan rapi, tampak tergesa-gesa berjalan keluar dari dalam rumahnya, masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya.
Dia adalah Agata Moan, seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit ternama. Selain itu dia juga memiliki sebuah klinik pribadi yang buka ketika dia tidak sedang bertugas di rumah sakit. Sebagai seorang dokter umum, Agata memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Namun demikian dia tetap memiliki waktu libur seminggu sekali untuk melepaskan kepenatan dari rutinitas yang dia jalani.
Agata terlahir sebagai seorang yatim piatu. Ayahnya seorang tentara yang gugur ketika dia masih ada dalam kandungan ibunya, sedangkan ibunya meninggal ketika melahirkannya. Agata kecil tinggal dan dibesarkan oleh neneknya di sebuah kampung terpencil. Neneknya yang berprofesi sebagai terapis akupuntur membuatnya tertarik mempelajari ilmu kesehatan.
Selain seorang terapis akupuntur, nenek Agata juga seorang ahli pengobatan yang memakai tenaga dalam dan teknik pernapasan. Sebagai orang terdekatnya, Agata mewarisi semua ilmu yang dimiliki oleh sang nenek. Agata juga keturunan terakhir keluarga bermarga Moan yang merupakan keturunan pendekar hebat di masa lampau.
Nenek Agata meninggal ketika Agata bersia 16 tahun. Sebelum meninggal dia mewariskan sebuah kitab yang dijaga secara turun temurun oleh leluhurnya. Kitab itu di tulis dengan huruf kuno, beruntung Agata pernah belajar dari neneknya dan menyalin huruf-huruf itu ke dalam versi modern.
Dari kitab itu, Agata mempelajari teknik-teknik pemurnian qi, pengadaptasian tubuh untuk menerima energi alam, dan penempaan tulang agar menjadi kuat. Banyak sekali jurus-jurus dan teknik mengolah ilmu tenaga dalam yang tertilis di sana. Butuh waktu sekitar sembilan tahun bagi Agata untuk menguasai seluruh isinya. Tepat di hari ini waktu 9 tahun itu berlangsung.
Kitab yang dipelajari oleh Agata adalah Kitab Sembilan Naga bintang tiga.
Agata tidak pernah tahu jika leluhurnya telah memberi mantra pada kitab itu, di mana membuat pemegang kitab yang mempelajarinya dengan sungguh-sungguh harus rela menyerahkan jiwanya untuk menyatukan kembali sembilan kitab yang tercerai berai.
Drrttt ... drrttt ... drrttt!
Ponsel milik Agata bergetar beberapa kali yang menandakan adanya sebuah panggilan masuk.
Agata yang sedang menyetir mencoba mengabaikannya karena saat ini dia sedang berada di jalanan yang tidak memungkinkannya untuk berhenti.
Telepon itu terus berdering membuat Agata merasa perlu untuk mengankatnya. Setir mobil dia kendalikan dengan satu tangannya dan tangannya yang lain merogoh ponsel dari dalam tasnya. Agata merasa kesulitan mengambil ponsel itu. Saat berhasil mengeluarkannya, ponsel itu malah terjatuh. Agata meraih ponsel dan menggapai-gapai dengan tangannya sambil menyetir. Laju mobil Agata menjadi oleng karena dia tidak fokus melihat ke jalanan.
Duuaarrrr! Boomm!
Mobil Agata menabrak pembatas jalan lalu terus meluncur menghantam pagar jembatan.
Dalam kecelakaan tunggal itu Agata meninggal di tempat.
Agata merasa jiwanya seperti tertarik ke dalam sebuah lubang hitam yang sangat dalam dan terjatuh ke dalamnya.
Di dalam kematiaanya itu, Agata tidak merasakan sakit ataupun terluka. Dia hanya merasa seperti sedang bermimpi dan menghuni alam bawah sadarnya. Sepenuhnya dia masih mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
****
Di Kekaisaran Benua Timur.
Tubuh Fang Yin yang sudah meninggal tersangkut di sebuah batu besar pada aliran sungai dangkal di bawah tanah yang melintasi sebuah goa.
Agata merasakan jiwanya masuk kembali ke dalam tubuhnya dan di sambut dengan hawa dingin yang menyelimuti di sekujur tubuhnya.
Perlahan-lahan dia membuka mata dan mencoba untuk mellihat ke sekelilingnya. Kepalanya terasa berat dan hidungnya terasa perih ketika dia mengambil napas.
"Uhukk ... uhukk!" Agata terbatuk dan mengeluarkan air yang tertahan di hidung, telinga, dan mulutnya.
Untuk beberapa saat, Agata belum menyadari apa yang terjadi dengan tubuhnya karena masih sibuk mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Matanya terbelalak ketika melihat bajunya menjadi aneh, tubuhnya menjadi lebih kecil, dan banyak lagi perubahan fisik yang tidak dia mengerti.
"Ini ... ini ... arrgh!" Agata berteriak karena merasa frustasi saat melihat tubuhnya.
Pandangannya kemudian melihat ke sekeliling tempat dia berada sekarang.
'Goa? Aku berada di dalam goa? Bagaimana bisa? Bukannya aku tadi mengalami kecelakaan di sebuah jalan?'
Agata mencoba berdiri namun tubuhnya terasa begitu sakit. Dia melihat luka lebam di sekujur tubuhnya dan baju yang robek di beberapa bagian. Tulang punggungnya juga terasa remuk seperti habis terbentur benda yang keras.
Dengan susah payah Agata bangun dan berjalan tertatih untuk melihat tempat di mana dia berada sekarang.
Semua terasa sangat membingungkan baginya, tubuh baru, lingkungan baru, semua terasa asing baginya.
Agata berjalan dengan berpegangan dinding goa dengan bantuan cahaya temaram yang masuk ke sana melalui celah di langit-langit goa. Untuk menemukan pintu keluar dia menebaknya dari aliran udara yang berhembus. Menurut perkiraannya, goa itu tidak terlalu dalam dan panjang mengingat sirkulasi udara di dalamnya terasa segar dan keadaannya juga tidak begitu gelap.
Tebakan Agata benar. Setelah berjalan beberapa langkah dia melihat cahaya terang dan mulut goa. Hatinya merasa lega. Agata berharap bisa segera bertemu dengan orang yang dikenalinya di tempat itu.
"Akhirnya aku bisa keluar dari tempat yang gelap itu." Agata bernapas lega dan tersenyum.
Namun senyum itu segera memudar ketika sejauh matanya memandang yang terlihat hanyalah hutan belantara yang sangat lebat.
"Aku di mana? Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak! Tidak! Aku tidak mau di sini!" Agata terus berteriak sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Rasanya percuma dia berteriak karena tidak ada satu orang pun yang akan mendengarnya. Di dalam terang kini dia bisa melihat dengan jelas tangan, kaki, dan penampilannya dengan jelas. Dia merasa aneh dengan baju yang melekat di tubuhnya.
Kaki Agata gemetar mendapati tubuh yang dia tempati saat ini benar-benar bukan tubuhnya sebelumnya.
'Lalu siapa dia? Apa yang terjadi padanya?'
Setelah merasa sedikit tenang, Agata berjalan mendekati sungai untuk melihat wajah barunya. Dia berdiri di tempat yang dia anggap aman dan bisa melihat pantulan wajahnya dengan jelas. Agata terkejut melihat bayangan putri cantik di dalam air dengan usia yang masih sangat belia.
Tiba-tiba tubuhnya terpental ke belakang dan kepalanya terasa sakit. Melintas ingatan tentang siapa gadis itu dan bagaimana kehidupan yang dia alami sebelumnya. Satu persatu rekaman kehidupannya muncul di pikiran Agata seperti sebuah film dokumenter yang di putar di dalam otaknya.
Semua ingatan itu direkam dengan jelas oleh Agata dan membuatnya memiliki dua ingatan dari dua kehidupan yang berbeda. Dengan bekal ingatan yang dimiliki oleh gadis yang dia ketahui bernama Gu Fang Yin itu, Agata bisa memahami kehidupan yang ada di hadapannya saat ini. Sulit baginya untuk menerima kenyataan ini namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain menjalaninya.
Agata juga mulai berempati dengan tragedi yang dialami oleh Fang Yin menjelang kematiannya. Sekarang Fang Yin adalah dirinya dan dirinya adalah Fang Yin. Sepertinya takdir sudah tidak bisa dirubah lagi dan mau tidak mau Agata harus meneruskan perjuangan Fang Yin untuk membalaskan dendam dan membersihkan nama baik ibunya.
Agata tahu jika itu tidak akan mudah, apalagi saat ini tubuh Fang Yin masih berusia sekitar 13 tahun. Usia yang belum cukup matang untuk bisa melakukan hal yang besar di dunia kultivasi yang kejam. Entah apa rencana Dewa yang membuatnya terjebak di dalam dunia kuno yang sangat jauh berbeda dengan kehidupannya yang sebelumnya.
Dari ingatan Fang Yin, dia tinggal di sebuah gubuk di tengah hutan dan memiliki beberapa barang yang dia simpan di sana. Baju yang dia kenakan saat ini harus segera di ganti, namun untuk mencapai ke sana dia harus memulihkan tenaganya terlebih dahulu. Sebagai Fang Yin yang baru harus bermeditasi dan berkultivasi untuk melakukan perbaikan jaringan meridiannya yang rusak. Dengan begitu dia bisa menyerap energi alam di sekitarnya agar bisa kembali pulih dari luka fisiknya.
Mulai saat ini, Agata membuang identitasnya sebagai dirinya yang lama dan menghapus nama Agata Moan menjadi Gu Fang Yin.
Fang Yin mengambil posisi dengan melipat kaki dalam posisi duduk seperti sikap Budha. Perlahan dia mengatur napasnya dan mengosongkan pikirannya dari hal-hal yang bisa merusak konsentrasinya. Aliran energi qi dari dalam tubuhnya mulai terasa dan menyebar melalui jalur meridian yang sudah terbentuk.
Di alam bawah sadarnya, Fang Yin melihat beberapa bagian dari struktur aliran meridiannya masih tertutup. Tidak perlu terburu-buru untuk membukanya karena yang terpenting saat ini adalah memperbaiki yang rusak terlebih dahulu. Mengagumkan. Tubuh Fang Yin sangatlah cepat dalam menerima respon.
Tidak butuh waktu lama tubuh Fang Yin sudah bisa kembali menyerap energi alam tanpa kendala. Mungkin juga itu pengaruh dari jiwa Agata yang telah menguasai pengendalian energi dari Kitab Sembilan Naga yang dipelajarinya. Yang jelas, Fang Yin merasa tubuhnya lebih baik saat ini.
****
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
monkey D Luffy
moan?.... like ... 'ahhh' this kind of moan?
2023-11-12
1
K4k3k 8¤d¤
semangat semangat terus semangat thor lanjutin update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-05-07
1
art
Oi
2023-04-23
0