Fang Yin mengakhiri kultivasinya dan beranjak dari duduknya. Nyeri yang semula dirasakannya telah sepenuhnya menghilang. Begitu juga dengan luka dalam yang sebelumnya membuat sulit bergerak, kini sudah tidak terasa. Hanya tinggal luka luar berupa lebam dan beberapa goresan.
"Arrghh! Tempat macam apa ini? Pohonnya besar-besar sekali. Atau tubuhku yang terlalu kecil? Ah, sudahlah!" Fang Yin berjalan meninggalkan tepian sungai dan goa tempatnya terdampar sebelumnya.
Dia tidak tahu jam berapa sekarang. Saat melirik pergelangan tangannya dia tidak menemukan arlojinya. Lagi-lagi dia lupa jika saat ini dia berada di jaman yang tidak mengenal jam tangan. Lebatnya pepohonan di hutan itu juga membuat Fang Yin tidak bisa melihat matahari dan memperkirakan waktu.
Tangan kanannya dia letakkan di keningnya dan melakukan pijatan ringan sambil terus berjalan. Itu akan membuatnya sedikit relaks saat menghadapi kesulitan. Sungguh, kehidupan barunya ini membuatnya tertekan dan berharap untuk bisa kembali ke dunia sebelumnya.
Setelah berjalan cukup lama dengan menahan perih kakinya yang berjalan tanpa alas kaki, akhirnya gubuk Fang Yin terlihat juga.
"Huhh! Semoga tidak ada binatang buas di hutan ini. Aku paling jijik kalau melihat ular." Fang Yin berbicara sambil mengusap-usap lengannya.
Fang Yin terus melihat ke sekelilingnya. Berjaga-jaga jika ada binatang buas atau sesuatu yang mengancam nyawanya. Dia juga harus memperhatikan jalan yang mungkin saja ada duri tajam di sana.
"Astaga! Tempat macam apa ini." Fang Yin melangkah tidak bersemangat mendekati gubuk yang akan menjadi tempat tinggalnya.
Kriieett!
Suara pintu berderit ketika dia membukanya. Dia harus memeganginya karena salah satu daunnya seperti akan copot dan menimpa tubuhnya.
"Hiks! Aku ingin pulang. Rumahku, mobilku, kasur nyamanku, aku merindukannya."
Belum ada sehari Agata berada di tubuh Fang Yin dia sudah merasa tidak tahan. Jika ini sebuah pilihan maka dia tidak ingin berada di dunia aneh yang membuatnya terjebak di tengah hutan belantara seorang diri. Fang Yin terduduk lesu bersandar pada dipan yang menjadi tempat tidurnya saat ini.
Di dalam gubuk sempit itu terdapat sebuah dipan, tempat memasak, dan sebuah meja rotan yang berada di dalam satu ruangan tanpa sekat.
Fang Yin berjalan mendekati sebuah bejana dan membukanya. Ada masakan yang mungkin di masak oleh pemilik tubuhnya sebelumnya. Masakan itu ternyata belum basi, Fang Yin ingin memanaskannya namun tidak tahu bagaimana menyalakan api.
"Apa aku pakai tenaga dalam saja, ya? Sepertinya itu keren," ucap Fang Yin tersenyum.
Fang Yin membuka telapak tangannya dan mengeluarkan api energi untuk memanaskan bejana yang terbuat dari tanah liat itu. Menyenangkan. Setidaknya itu sedikit memberinya hiburan.
Tidak ada piring atau sendok di sana, hanya ada sebuah mangkuk porselen dan sepasang sumpit. Tanpa pikir panjang, Fang Yin segera menuang masakan yang dipanaskan tadi ke dalam mangkuk. Aroma jamur dan tanaman itu kelihatan aneh, Fang Yin berharap rasanya tidak buruk.
Demi perut yang lapar, Fang Yin mulai menyantap makanan itu. Hambar. Hanya ada rasa manis dari jamur dan sedikit getir dari tanaman yang dimasak bersamanya. Fang Yin tetap memakannya daripada malam ini dia kelaparan karena di luar sudah mulai gelap dan dia tidak mungkin keluar untuk mencari makan.
Entah efek dari makanan yang dia makan atau tubuhnya yang terasa lelah, Fang Yin terus menguap dan tertidur di lantai.
Suara binatang hutan saling bersahutan menyanyikan orkestra malam.
Di tempat yang tidak jauh dari gubuk Fang Yin muncul binatang roh yang sudah berumur ratusan tahun. Binatang itu berwujud seekor naga berwarna putih. Dia muncul di sana setelah mencium energi murni yang dikeluarkan oleh Fang Yin untuk memanaskan bejanannya.
Di dalam Hutan Bintang Selatan ada beberapa binatang roh yang tinggal di sana. Binatang-binatang itu hanya muncul sesekali saja karena takut diburu oleh para kultivator dan menjadi budak mereka. Sebagian diantara mereka di bantai dengan sadis dan diambil darah energinya saja.
Naga putih itu berjalan mendekati gubuk Fang Yin dan menggerakkan kepalanya untuk mencari celah yang bisa membuatnya bisa melihat ke dalam gubuk. Kepalanya yang besar membuatnya kesulitan untuk mendekati gubuk itu. Suara napasnya pun terdengar sangat jelas dan membuat Fang Yin terbangun.
'Suara apa itu?' Fang Yin bangun dari tidurnya dan bersikap waspada.
Menurut ingatannya, cincin yang dipakainya saat ini adalah alat penyimpanan berbagai macam senjata dan barang pribadi yang memiliki kapasitas tak terbatas.
Fang Yin memejamkan matanya dan berkonsentrasi untuk melihat isi cincin penyimpanannya. Kali ini dia tertarik pada sebuah tombak yang memiliki ukiran berwarna emas. Dalam sekejap tombak itu sudah berada di tangannya.
'Kelihatannya menyenangkan!' Meskipun belum sepenuhnya menerima kehidupan barunya, namun Fang Yin mulai menikmati hal-hal di luar nalar yang membuatnya tertantang.
Darah Moan yang mengalir di tubuh Agata membuatnya memiliki jiwa petarung. Saat di dunia modern, dia tidak bisa bebas berekspresi dengan kekuatan yang dia miliki karena terbentur masalah hukum dan undang-undang. Lain halnya dengan dunianya saat ini yang bebas untuk menggunakan kekuatannya dan membunuh siapa saja yang menghalanginya.
Fang Yin berjalan mengendap-endap mendekati pintu dan melihat ke luar melalui celah. Suasana malam yang gelap membuatnya kesulitan untuk melihat makhluk apa yang ada di depan gubuknya itu.
'Andai aku punya kekuatan yang bisa membuat mataku bisa melihat di dalam gelap.'
Gubuk Fang Yin bergetar ketika makhluk itu bergerak. Tidak ingin gubuknya rusak, akhirnya Fang Yin memilih untuk keluar dari sana dan memancing makhluk itu untuk menjauh.
Fang Yin terkejut ketika membuka pintu dan buru-buru menutupnya kembali.
"Astaga! Naga!" jantung Fang Yin berdegup sangat kencang melihat binatang bersinar putih itu.
"Keluarlah, Anak Muda!" Suara berat seperti seorang kakek tua terdengar menggelegar hingga membuat dinding gubuk itu bergetar.
Wajah Fang Yin menjadi kaku, saat ini dirinya sedang diselimuti rasa ketakutan. Di kepalanya terlintas berbagai macam bayangan buruk yang bisa saja terjadi. Tempatnya berada saat ini adalah dunia yang penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal dan penuh misteri.
"Jangan sembunyi! Keluarlah! Atau aku robohkan rumahmu ini!" ancam suara itu.
Mendengar ancaman itu, nyali Fang Yin menciut. Dia mengumpulkan keberaniannya dan kembali membuka pintu. Tangannya memegang tombak dengan gemetar dengan kaki yang terasa berat untuk melangkah.
"Hemh! Seorang anak kecil rupanya," ucap naga itu dengan tatapannya yang tajam.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Fang Yin dengan gemetar.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kamu lakukan di sini, Anak Kecil?" Naga itu sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Aku ... aku ...." Fang Yin memutar otak untuk membuat alasan yang tepat.
"Aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang." Fang Yin berharap dengan bicara seperti itu naga itu akan merasa iba dan melepaskannya.
Sepertinya harapannya itu sia-sia, naga itu malah mengibaskan ekornya hingga membuat tubuh Fang Yin terlempar dan menabrak sebuah pohon.
Tubuh Fang Yin terjatuh ke tanah namun dia berusaha bangkit dan berdiri dengan tombaknya.
'Aku harus menggunakan jurus yang aku pelajari dari kitab warisan nenek. Aku tidak ingin mati untuk yang kedua kali. Aku juga harus membalaskan dendam untuk pemilik tubuh ini.' Fang Yin mulai berdiri dengan benar dan mengatasi rasa takutnya.
Naga itu kembali ingin menyerang Fang Yin, namun untuk kali ini Fang Yin lebih siap. Saat ekor naga itu mulai bergerak mendekat dan hampir menyabet tubuhnya, Fang Yin melompat ke atas lalu kembali turun dengan cepat dan menancapkan ujung tombaknya. Tombak itu berhasil mengenai ekor sang naga dan menancap di sana.
Naga itu berteriak kesakitan.
Fang Yin menghindar pergi menjauhi ekor naga yang terus bergerak-gerak ke kanan dan kiri. Darah naga itu terus keluar mengeluarkan aroma anyir yang menyeruak. Sepertinya tombak Fang Yin mengandung racun, menilik dari efek yang ditimbulkannya.
Naga itu terus berteriak dan mengumpat Fang Yin, tetapi dia tidak bisa lagi menyerang. Tubuhnya seakan mati rasa dan menjadi lemah seketika, bahkan untuk mengangkat kepalanya saja dia tidak berdaya.
Fang Yin berjalan mendekati kepala naga itu dan memeriksa keadaannya, masih bernapas atau tidak. Naga itu telah mati. Akhirnya Fang Yin bisa bernapas lega.
Pandangan matanya menyapu seluruh tubuh naga yang bersinar putih itu. Meskipun sudah mati tetapi naga itu masih tetap bersinar. Fang Yin mencoba mengingat ulang ingatan tentang binatang roh dan cara mengambil kekuatannya.
Sekilas melintas kembali isi Kitab Sembilan Naga bintang 1 yang diwariskan oleh Kaisar Gu melalui mantra yang dia kirim sesaat sebelum dia meninggal. Di sana tertulis cara mengambil energi binatang roh dan mengambil darahnya. Sayangnya, darah naga itu tidak bisa diambil karena sudah bercampur dengan racun tombak milik Fang Yin.
Tangan Fang Yin melakukan sebuah gerakan untuk mengalirkan energi dengan jenis yang berbeda dari kedua telapak tangannya. Di tangan kanannya mengalir energi berwarna kuning emas sedangkan di tangan kirinya berwarna putih susu. Kedua energi itu disatukan dan membentuk sebuat bunga teratai putih berwarna perak.
Di dalam kitab itu jurus menyatukan dua energi Cahaya Emas dan energi Awan Salju dikenal dengan jurus Teratai Es. Jurus ini awal mulanya hanya dikuasai oleh suku Es saja namun Kaisar Gu merangkumnya ke dalam Kitab Sembilan Naga yang dipegangnya. Suku Es merupakan tempat asal Selir Shi, ibu dari Fang Yin.
Bunga teratai perak itu bergerak dari tangan Fang Yin melayang-layang di atas kepala naga roh. Fang Yin melakukan pengendalian jarak jauh hingga teratai energi itu berputar semakin cepat dan turun menyentuh kepala naga. Teratai perak itu melebur dan masuk ke dalam tubuh naga roh.
Pyaarr!
Tubuh naga itu menghilang seperti gelembung sabun yang pecah.
Fang Yin tersenyum senang ketika melihat sebuah benda bersinar tepat di mana kepala naga itu berada di sana sebelumnya.
Kristal energi berwarna hijau kini menjadi milik Fang Yin. Kristal itu bisa mempercepat seseorang untuk meningkatkan kultivasinya dalam waktu singkat. Semakin banyak kristal energi yang dimiliki seseorang, maka dia akan semakin cepat untuk mencapai ranah kultivasi yang lebih tinggi.
Setelah menyimpan kristal itu, Fang Yin masuk kembali ke gubuknya dengan langkah yang ringan. Dia sudah tidak sabar untuk segera bermeditasi dan menyeimbangkan energi tubuhnya lalu menyerap energi alam sebanyak-banyaknya. Tentunya semua itu dia lakukan dengan bantuan kristal energi yang baru saja dia dapatkan.
Saat masuk ke dalam alam bawah sadarnya, Fang Yin melihat jiwanya sendiri dan melihat wajah dan tubuhnya yang masih sama seperti ketika dia hidup di dunia modern sebagai Agata.
Fang Yin melihat aktifitas yang dilakukan olehnya ketika diam-diam mencuri baca Kitab Sembilan Naga dari ruang baca ayahnya. Fang Yin juga melihat dirinya sebagai Agata yang juga mempelajari kitab yang sama dengan tingkat yang berbeda selama sembilan tahun. Sampai di situ dia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, hingga kitab yang pernah mereka pelajari itu datang melayang-layang di atas kepalanya dan menjelaskan apa yang tertulis di sana melalui energi yang terpancar darinya.
Rupanya jiwa Agata dan Fang Yin memang sudah terhubung sejak mereka pertama kali membaca dan mempelajari kitab itu. Seharusnya Agata mempelajari Kitab Sembilan Naga di mulai dari bintang satu yang sekarang sudah dipegangnya juga.
Kesalahannya dalam mempelajari kitab langsung pada bintang 3 membuatnya harus kehilangan jiwanya dan menempati tubuh baru orang yang mempelajari kitab Sembilan Naga yang mati muda.
Ketika seseorang mempelajari kitab Sembilan Naga berarti dia telah setuju jika jiwa mereka menyatu dengan kitab itu.
Agata akhirnya mengerti alasannya sampai di alam kultivasi. Dan mulai saat ini dia harus menerima dirinya sebagai Fang Yin untuk selamanya karena Kitab Sembilan Naga telah mengunci jiwanya di sana.
****
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
Sefira Arrum
astaganaga/Curse//Hammer/
2024-11-11
0
kutu kupret🐭🖤🐭
astaganaga 😂
2024-01-15
0
Rika_Faris
aku bingung membayangkan naga berjalan
2023-10-16
3