Fang Yin selalu mengingat kata-kata Tetua An, di mana dia harus menyembunyikan kemampuannya dalam memainkan jurus-jurus dari Kitab Sembilan Naga yang dikuasainya.
Sebelum mengikuti pelatihan, Fang Yin juga menelan pil yang mampu menekan kekuatannya agar tidak menampakkan aliran Qi di tubuhnya dan jenis energi yang dia miliki. Walaupun seorang guru ahli sekalipun tidak akan mampu mendeteksi tingkatan kultivasi yang dimiliki oleh Fang Yin karena pil itu punya kemampuan mengontrol delapan titik meridian di tubuh Fang Yin.
Ketika malam tiba dan semua orang terlelap dalam mimpinya, Fang Yin mengendap-endap pergi ke luar akademi untuk membuat pil-pil yang dia butuhkan. Di dalam cincin penyimpannya banyak sekali persediaan tanaman obat yang dia ambil dari Hutan Bintang Selatan. Dia sangat bersyukur karena menyimpannya dalam jumlah yang banyak sehingga dia tidak kesulitan lagi untuk mencarinya.
Tidak jarang Fang Yin memakai cara licik agar aksinya tidak diketahui oleh teman sekamarnya. Fang Yin menaruh serbuk obat yang mampu membuat orang tertidur dalam waktu singkat melalui lentera yang ada di kamar itu. Asap yang tercium dari serbuk yang terbakar akan langsung bereaksi.
Hari-hari yang di lalui Fang Yin di akademi itu membuatnya semakin merasa tidak nyaman. Dia mendapatkan perlakuan yang berbeda dari para murid yang lainnya. Terutama dalam hal fasilitas.
Sering kali Hao Yu membantunya dengan meminjamkan peralatan mandi dan yang lainnya. Namun, Fang Yin tidak pernah menerima bantuannya. Termasuk juga dalam makanan, Fang Yin tidak pernah mengeluh meskipun dia tidak mampu membayar untuk makanan tambahan seperti teman-temannya yang lain.
'Sungguh diskriminasi yang sangat terasa. Aku tidak menyangka di jaman ini ternyata tidak jauh beda dengan jaman modern. Sama-sama kejam pada yang lemah dan menjunjung yang kuat.' Fang Yin menatap nanar makanan di hadapannya.
Selama sebulan berada di akademi itu, tidak ada perubahan yang berarti bagi Fang Yin. Rasa bosan mulai menghinggapi hatinya. Berpura-pura menjadi orang lemah dan selalu ditindas membuat kebencian dan dendam di hatinya kian berkobar.
Tidak hanya murid-murid saja, para tetua dan pengurus akademi juga sering berlaku tidak adil. Mereka selalu mengutamakan putra bangsawan yang lebih tinggi kedudukannya dan mengabaikan kesalahan mereka. Fang Yin sering kali terabaikan dan jarang sekali mendapatkan perhatian ketika mereka berlatih secara serentak.
'Aku lelah dengan semua keadaan ini. Aku seperti seekor lalat yang menjijikkan saja bagi mereka.' Fang Yin berjalan mondar mandir di dalam kamar malam itu.
Sudah lama dia tidak mengasah jurus yang dia miliki. Fang Yin berpikir untuk mencari cara yang aman untuk bisa pergi diam-diam dari akademi itu. Malam ini juga dia harus menemukan cara.
Kali ini Fang Yin tidak pergi mengendap-endap lagi. Dia berjalan santai sambil berpura-pura melihat keindahan malam. Dia memberi hormat dan menyapa siapa saja yang ditemuinya.
Langkahnya terhenti ketika dia sampai di taman belakang yang ternyata berbatasan langsung dengan kamarnya. Fang Yin menyentuh tembok yang ada di depannya, masih kokoh. Rasanya mustahil jika dia membuat jalan tikus dengan melubangi tembok itu. Tembok itu juga terlalu tinggi dan pasti akan terlihat dari kejauhan ketika dia melompatinya.
Fang Yin kembali berjalan hingga tanpa sengaja kakinya menginjak sebuah tanah berlubang. Kelihatannya lubang itu digunakan untuk mengalirkan air keluar di musim hujan. Lubang itu memang terlihat kecil dan hanya muat seekor babi saja. Tetapi memungkinkan baginya untuk memperbesar lubang itu dan memakainya sebagai jalan keluar.
Mata Fang Yin mengedarkan pandangannya melihat keselilingnya. Sepi. Merasa tidak ada orang yang melihatnya, Fang Yin ingin segera menjalankan aksinya. Pertama-tama dia menyamarkan keberadaannya dengan menyembunyikan hawa kehadirannya.
Qi Awan Salju mulai mengalir di tangan kanan Fang Yin. Perlahan dihantamkannya ke tanah hingga membuat tanah itu membeku. Sebagai langkah akhir, Fang Yin memusatkan Qi Cahaya Emas di kaki kirinya lalu menghentakkan kuat-kuat.
Getaran dari kekuatan itu cukup terasa dan mungkin akan memancing para tetua untuk mencari sumber dari getaran itu.
Dengan gerakan cepat Fang Yin masuk ke dalam lubang yang dibuatnya dan kembali menutupinya dengan tanah dan tanaman liar yang semula dia bekukan. Tidak lupa dia menghapuskan jejak energinya dengan Jurus Nafas Naga. Jurus rahasia dari Kitab Sembilan Naga yang jarang diketahui oleh khalayak umum.
Kaki Fang Yin masih terus menghentak untuk membuka jalan dan menurunkan permukaan tanah agar dia bisa menerobos keluar. Jalan ini bisa dia gunakan sewaktu-waktu saat dia ingin keluar dari akademi secara diam-diam. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di luar tembok dan seperti dugaan Fang Yin, aura energi para tetua terlihat sangat dekat dengan keberadaannya.
Fang Yin mengikuti saluran air tempatnya berpijak saat ini. Dia memerlukan tempat yang sepi untuk berlatih dan berkultivasi. Menurutnya Qi yang tersedia di alam sekitar akademi ini sangat memadai. Mungkin itulah yang menjadi alasan bagi para tetua Akademi Tujuh Bintang memilih lokasi ini untuk membangun sekolah walaupun tempatnya terpencil.
Mata Fang Yin berbinar senang ketika dia sampai pada sebuah sungai berbatu yang diapit oleh dua buah tebing yang tinggi. Air sungai itu tampak berkilau memantulkan cahaya bulan yang bersinar. Suasana hati Fang Yin yang semula kacau kini terasa lebih tenang saat berada di alam bebas.
Sebuah batu besar yang berada di tengah sungai menjadi pilihan Fang Yin untuk bermeditasi. Sebelum dia benar-benar masuk ke dalam alam bawah sadarnya, dia menelan pil pengikat Qi yang mampu membuatnya berkultivasi lebih cepat. Masih banyak hal yang harus dia lakukan setelah ini, dia masih harus melatih jurus-jurus yang telah dikuasainya agar lebih matang.
Malam itu, Fang Yin memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan baru kembali ke akademi ketika waktu hampir dini hari.
Terpaksa dia masuk ke kamarnya lewat pintu belakang yang berhubungan langsung dengan ruang baca.
'Untung saja aku belum menguncinya tadi.' Fang Yin bernapas lega, segera saja dia masuk dan berjalan mengendap-endap ke tempat tidurnya.
Sejak menemukan jalan rahasia itu, Fang Yin selalu bangun kesiangan dan mendapatkan hukuman dari para tetua yang mengajar kelompoknya. Terkadang Fang Yin tidak boleh mengikuti pelatihan dan diminta mengerjakan tugas yang tidak masuk akal seperti mengangkat air untuk mengisi seluruh bak mandi para tetua atau membersihkan seluruh taman. Fang Yin hanya tersenyum sinis sambil menatap jengah para budak dunia itu.
Hari ini ada seorang keluarga salah satu murid di akademi yang mengunjungi putranya. Dia membawa oleh-oleh berupa makanan yang sangat banyak untuk di bagi-bagikan. Dia melirik ke arah Fang Yin yang duduk menyendiri di bawah pohon. Orang tua murid itu berjalan mendekatinya untuk memberikan makanan yang dibawanya.
"Tidak usah, Ayah! Dia orang yang sangat aneh. Makanan dari temannya sendiri pun dia tolak, apalagi dari kita. Benar tidak Hao Yu?" tanya murid itu pada Hao Yu yang duduk tidak jauh dari Fang Yin.
'Kamu benar. Aku tidak akan sudi menerima makanan dari orang sombong sepertimu,' batin Fang Yin.
Melihat Fang Yin tidak makan, Hao Yu pun berjalan mendekatinya dan bermaksud untuk membagi makanan miliknya. Walaupun Fang Yin berkali-kali menolak pemberiannya, itu tidak menyurutkan niatnya untuk memberi.
"Kamu makan saja. Aku tidak biasa memakan makanan orang kaya. Aku takut perutku mulas." Fang Yin menolak makanan itu.
"Baiklah jika kamu tidak ingin memakannya maka aku juga tidak." Hao Yu berjalan menghampiri seorang murid senior dan memberikan bagiannya.
Dia tidak ada kapok-kapoknya mendekati Fang Yin meskipun Fang Yin selalu mengacuhkannya. Menurutnya Fang Yin adalah gadis yang unik. Di tengah para pria tampan dan kaya dia tidak pernah minder menjadi satu-satunya murid wanita. Sebenarnya jika dia mau, dia bisa memanfaatkan kebaikan Hao Yu yang selalu memperhatikannya.
Menjelang sore hari, para murid mulai kembali ke kamarnya masing-masing setelah menikmati oleh-oleh dari bangsawan Yao.
Saat malam menjelang, keanehan mulai terjadi. Semua orang yang memakan makanan dari bangsawan Yao mengalami gejala-gejala penyakit yang aneh. Tubuh mereka gatal-gatal dengan perut mual dan muntah-muntah. Para tetua mengerahkan kekuatannya dan meminta para koki di akademi untuk membuat minuman herbal.
Fang Yin masih terdiam dan enggan bertindak. Rasa sakit hatinya masih menghalanginya untuk berbuat baik dan menolong mereka. Siapa tahu minuman herbal yang dibuat oleh koki akademi itu benar-benar manjur, jadi dia tidak perlu repot-repot membantu pengobatan mereka.
"Xiao Yin. Teman-teman yang memakan makanan dari bangsawan Yao jatuh sakit," ucap Hao Yu pada Fang Yin yang bersikap akan tidur.
"Aku tidak ada urusan dengan mereka. Aku mau tidur," jawab Fang Yin sambil pura-pura memejamkan matanya.
Hao Yu mengikuti apa yang dilakukan oleh Fang Yin karena dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu para murid yang sakit.
****
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
Rika_Faris
makin lama bosan aku baca novel mu thor.... ga ada yg menantang... g ada yg buat penasaran, malah makin jengah dgn sifat fang yin
2023-10-16
1
Rika_Faris
hmmm..... padahalsebelumnya si fang yin ini sempat kayak orang bodoh karena menganggap apa yg terjadi dihadapannya g pernah terjadi di dunia modern sekarang malah bilang g ada bedanya du ia kuno dgn modern.
2023-10-16
1
Rika_Faris
emg kmn uang dikumpulkan fang yin sblm dia keluar dr istana thor???
2023-10-16
0