Tanpa terasa, Fang Yin sudah berbulan-bulan tinggal di Hutan Bintang Selatan. Kini dia sudah mulai terbiasa menjadi orang rimba dan beralih dari kehidupan sebelumnya yang sangat kontras. Rasa bosan dan kesepian seringkali menghinggapi perasaannya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain terus menjalani hidupnya.
Pagi ini, Fang Yin ingin mengembangkan kemampuannya untuk berburu unggas liar sebagai santapan. Fang Yin membuat senjata sederhana dari rotan yang dibentuk melengkung menjadi busur. Sebagai dawai busurnya, Fang Yin membuatnya dari serat rumput liar yang dipilinnya hingga menyerupai dadung.
Sebagai anak panahnya, Fang Yin mencari pohon bambu dan membelah-belahnya menjadi bagian-bagian kecil. Setelah dihaluskan permukaannya dan diperuncing ujungnya, anak panah dari potongan bambu itu cukup membahayakan bagi korbannya. Fang Yin membuat banyak sekali anak panah sebagai persediaan dan memasukkannya ke dalam keranjang rotan kecil hasil anyamannya.
Sebagai seorang yang telah menamatkan kuliah kedokteran, tentu saja Agata memiliki banyak sekali keterampilan dan pengalaman. Semua ingatan Agata yang terbawa bersama jiwanya, membuat Fang Yin yang baru berusia 14 tahun terlihat begitu hebat. Dia mampu melakukan apa yang seharusnya belum bisa dilakukan oleh anak seusianya.
Fang Yin berjalan berkeliling menyusuri kedalaman hutan untuk mencoba senjata barunya. Dia memasang telinga dan untuk mendengar suara hewan buruannya. Matanya yang jeli terus mengamati setiap gerakan sekecil apapun yang terlihat.
Senyuman Fang Yin mengembang di balik cadarnya, di kejauhan terdengar suara orang sedang bercakap-cakap. Setelah sekian lama, akhirnya hutan itu didatangi oleh manusia juga. Namun Fang Yin tidak ingin terlalu senang dulu, dia harus berhati-hati terhadap orang baru yang belum dikenalnya.
Fang Yin melompat ke atas pohon besar yang sangat tinggi untuk bersembunyi. Dia harus tahu dulu dan melihat dari dekat siapa orang yang datang ke sana. Bisa fatal akibatnya jika yang datang adalah seorang kultivator yang masih mencarinya.
Seorang pria dan seorang wanita paruh baya berjalan mendekat ke arah tempat persembunyian Fang Yin. Jika dilihat dari penampilannya, mereka bukanlah seorang pendekar. Mereka menggendong sebuah keranjang rotan yang berisi beberapa jamur dan tanaman obat di belakang punggung mereka.
Setelah melihat itu Fang Yin yakin jika mereka bukan pendekar, melainkan seorang alkemis atau tabib.
Fang Yin menyembunyikan hawa kehadirannya dan menyamarkan langkahnya sebelum dia muncul untuk menampakkan diri di hadapan kedua orang itu. Kemunculan Fang Yin dia buat sealami mungkin agar keduanya tidak terkejut dengan kehadirannya. Perlahan Fang Yin turun lalu berlari sambil membawa panahnya seolah-olah dia sedang berburu.
"Paman, Bibi, apakah Anda berdua melihat seekor ayam hutan yang terbang kemari?" Fang Yin mencoba bertanya untuk menunjang aktingnya.
Dua orang yang di panggil oleh Fang Yin itu saling berpandangan. Mereka terlihat bingung ketika mendapati seorang gadis berada di tengah hutan sendirian. Wajah mereka terlihat pias ketakutan karena menyangka Fang Yin adalah seorang siluman. Apalagi wajah Fang Yin tidak begitu jelas karena tertutup oleh cadarnya.
Mereka mundur perlahan ketika Fang Yin berjalan mendekatinya.
"Paman, Bibi, jangan takut. Aku manusia juga seperti kalian." Fang Yin berusaha meyakinkan keduanya.
"Ba-ba-ba-gaimana mungkin seorang gadis kecil sepertimu bisa berada di hutan ini sendirian?" Pria paruh baya itu memberanikan diri untuk bertanya pada Fang Yin. Sedangkan sang wanita bersembunyi di balik punggungnya dengan wajah yang terlihat ketakutan.
Fang Yin berpura-pura menampakkan wajah sedihnya dan menjatuhkan tubuhnya duduk di sebuah akar pohon besar.
Kedua pencari tanaman obat itu merasa heran.
"Aku tersesat di hutan ini entah sudah berapa lama karena aku tidak bisa berhitung. Aku pergi ke sini mengikuti para pencari tanaman obat dan terpisah dari rombongan." Fang Yin mengarang cerita yang masuk akal agar mereka percaya.
Setelah mendengar cerita Fang Yin, akhirnya kedua pencari tanaman obat itu tidak lagi ketakutan dan percaya jika Fang Yin adalah seorang manusia seperti mereka.
"Apa rombonganmu tidak mencarimu lagi, Nak? Tempat ini tidak terlalu jauh dari pinggiran hutan dan desa yang kami tinggali." Wanita paruh baya itu mulai berani mendekati Fang Yin.
Fang Yin menggeleng.
Dalam hati Fang Yin berpikir, seharusnya sejak tadi dia berjalan dan menemukan jalan keluar dari hutan ini. Dari tumbuhan dan hewan-hewan yang dia temui di sekitar tempatnya berada, harusnya Fang Yin tahu jika mereka berbeda dengan apa yang dia temui di kedalaman hutan yang sebelumnya.
"Kasihan sekali. Siapa namamu, Nak?" tanya wanita itu lembut.
Fang Yin hampir saja menyebutkan nama aslinya, untung saja dia bisa berpikir sangat cepat dan mengurungkannya. Percuma saja dia menyamar jika dia sampai keceplosan menyebutkan nama aslinya yang tentu akan mengundang rasa penasaran orang yang mendengarnya. Di Negeri itu, sangat tabu untuk memiliki nama yang sama dengan anggota keluarga kekaisaran karena nama mereka dianggap sakral.
"Namaku Xiao Yin." Fang Yin asal membuat nama untuk penyamarannya.
"Nama yang cantik. Kenapa kamu memakai penutup wajah?" Wanita itu terlihat sangat ingin tahu.
"Aku tidak percaya diri dengan wajah saya yang buruk rupa, Bibi. Aku lebih suka menutupinya seperti ini agar orang lain tidak jijik melihatnya."
"Baiklah, bibi mengerti. Namaku Liwei dan ini suamiku Mao Zhan." Wanita itu memperkenalkan dirinya dan suaminya pada Fang Yin.
"Aku senang bertemu dengan kalian di sini. Sejak orang tuaku meninggal, aku hanya mengikuti ke mana langkah kakiku melangkah. Bisakah, Paman dan Bibi membawaku keluar dari hutan ini?" tanya Fang Yin penuh harap.
Mao Zhan dan Liwei terlihat saling berpandangan. Mungkin itu cara Liwei berkomunikasi dengan suaminya untuk menanyakan pendapatnya tentang permintaan Fang Yin. Semua keputusan ada di tangan Mao Zhan, meskipun dia sangat ingin membawanya keluar namun Liwei tidak berhak melakukannya.
"Kamu boleh ikut kami pulang dan tinggal bersama kami." Ucapan Mao Zhan membuat Liwei dan Fang Yin merasa senang.
"Xiao Yin mengucapkan banyak terimakasih pada Paman dan Bibi." Fang Yin menyatukan kepalan tangan kanan dan telapak tangan kirinya untuk memberi hormat.
Mengingat hari masih siang, Mao Zhan masih ingin mencari beberapa tanaman obat lagi. Mereka sangat senang karena Fang Yin yang telah tahu seluk beluk hutan itu, membantu mereka mendapatkan beberapa jenis tanaman obat langka yang mereka cari-cari. Pasangan itu merasa kagum melihat kemampuan Fang Yin dalam menghafal dan mengidentifikasi dengan cermat tanaman-tanaman obat yang mereka temui.
Setelah di rasa cukup, mereka bertiga berjalan keluar dari hutan sebelum hari gelap. Akan banyak harimau liar dan beberapa hewan buas lainnya yang sering berkeliaran di pinggiran hutan untuk mencari mangsa. Fang Yin merasa lega, akhirnya dia bisa keluar dari dalam hutan dan kembali keperadaban manusia.
Pasangan itu membawa Fang Yin menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah perkampungan.
Di sana berjajar rumah-rumah penduduk bergaya arsitektur kuno yang sangat indah. Perkampungan itu terbilang cukup padat meskipun terletak di pinggir hutan. Mungkin desa ini memiliki daya tarik atau potensi yang menarik orang-orang untuk tinggal di sini.
Setiap penduduk yang mereka temui, menatap Fang Yin heran. Liwei memegang tangannya saat melihat Fang Yin merasa risih dengan tatapan penduduk. Mereka segera mempercepat langkahnya agar segera sampai di kediaman mereka.
****
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 408 Episodes
Comments
Oi Min
akhirnya keluar dari hutan h
juga di Fang Yin
2023-11-02
2
K4k3k 8¤d¤
❤❤❤❤❤❤❤❤❤
2023-05-07
0
K4k3k 8¤d¤
semangat semangat terus semangat thor lanjutin update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-05-07
0