A-aku harus pergi sekarang! batin Afra sambil berusaha menggerakkan tubuhnya, tetapi….
"K-kenapa aku tidak bisa bergerak!" ucap Afra sambil terus berusaha melangkahkan kakinya. Namun, tubuhnya tetap tidak bisa bergerak. Tubuhnya hanya bisa terdiam dan terus bergetar, tetapi tidak bisa digerakkan.
KHUAAA
Teriakkan monster itu mulai terdengar semakin keras dan semakin dekat.
Aku harus pergi! Aku harus berlari! Kalau aku tidak lari—
"Kau akan mati di sini!"
"Akh!" teriak Afra seketika langsung terbangun dari tidur yang sesungguhnya. Ya, Afra masih berada di kamarnya dan sedang terbaring di kasurnya … dengan gadis bermata merah yang sedang berdiri menghadap ke arah jendela dan melihat matahari terbenam.
"Ah, kau sudah bangun ya, Afra? Setelah mimpi nyata mu itu?" tanya gadis bermata merah itu tanpa menoleh ke arah Afra.
Afra hanya melihat gadis itu dengan tatapan terkejut dan masih merasa ketakutan. Mimpinya itu … terasa sangat nyata. Afra ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu, tetapi….
A-aku … tidak tau … harus mengatakan apa, batin Afra sambil menundukkan kepalanya dengan perlahan.
Gadis bermata merah itu menoleh ke arah Afra yang terlihat masih ketakutan. Tubuhnya masih terlihat gemetar. Namun, gadis bermata merah itu malah tersenyum menyeringai melihat Afra.
"Ada apa? Apa kau … ingin melihatnya lagi? Atau mungkin, ingin mengalaminya lagi? Sama seperti malam itu?" tanya gadis itu dengan nada jahatnya dan tertawa.
"A-aku … tidak tau…," jawab Afra dengan lirih dan semakin menundukkan kepalanya.
Gadis bermata merah itu lalu berjalan menghampiri Afra yang masih duduk di tempat tidurnya. Gadis itu lalu tersenyum menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke telinga Afra dan menghembuskan nafasnya di sana.
"Kalau begitu tidurlah lagi, dan bangunlah di tengah hutan itu lagi, Afra!" bisik gadis itu dengan nada kejamnya dan tersenyum menyeringai, "aku akan ada dengan mu saat itu juga, sepertinya."
Hihihi
Gadis itu tertawa-tawa dan langsung menghilang tanpa jejak. Seakan-akan angin dan cahaya matahari terbenam menyerapnya dan membawanya pergi … meninggalkan Afra.
Afra hanya diam dan tetap menundukkan kepalanya setelah mendengar perkataan gadis itu. Afra … tidak merasakan apa-apa. Yang ia rasakan hanyalah … pertanyaan-pertanyaan nya yang masih belum bisa ia jawab sendiri. Ya, walaupun Afra mengingat dengan jelas perkataan gadis itu yang selalu menjawab pertanyaan tanpa sadar, ia masih tidak bisa mengerti dan memahaminya.
Semua perkataan gadis itu … Afra masih belum bisa memahaminya.
Ya dan ya. Mungkin aku akan menjelaskan apa saja yang dikatakan gadis bermata merah itu yang sebenarnya adalah aku yang menceritakan kisah tokoh utama ini. Ya, akan ku per singkat saja.
Awalnya, gadis itu adalah sesosok hitam yang selalu muncul di dalam mimpi Afra. Kadangkala, dia juga membisikkan sesuatu pada Afra. Apa yang dia bisikkan? Ya, tentang dunia luar. Afra adalah gadis yang dari kecil hanya bisa menikmati dunia di dalam rumahnya saja, atau lebih tepatnya di dalam kamarnya. Afra tidak pernah keluar kamar sampai umurnya delapan tahun.
Ya, dan saat umurnya delapan tahun itulah ia mendapatkan mimpi anehnya. Mimpi tentang sesosok hitam itu. Di umurnya yang delapan tahun itulah ia pertama kali melihat dunia luar. Tetapi, di saat itulah Afra mendapatkan bisikkan lagi dari sesosok hitam itu. Bisikkan untuk keluar di malam hari.
Walau sebenarnya ini bukanlah hal yang perlu dijelaskan lagi, tapi ini adalah hal yang mungkin akan menjadi permasalahan. Karena, tokoh utama ini karakter nya benar-benar kosong.
Ah, sudahlah! Lanjutkan saja! Ini adalah awal yang baru bagi tokoh utama ini.
Matahari sudah benar-benar terbenam sekarang, dan ini bukanlah mimpi. Walau begitu, sepertinya Afra masih berpikir bahwa mimpinya itu nyata dan benar-benar terjadi. Atau mungkin, akan menjadi kenyataan. Sepertinya.
Afra kini masih duduk di kasur nya dan sama sekali belum menggerakkan tubuhnya. Ya, walaupun Afra bisa bergerak, tetapi rasanya … ia tidak ingin melakukan sesuatu. Afra masih terbayang-bayang dengan mimpinya itu. Namun, yang membuat Afra semakin merasa ketakutan bahkan tidak bisa apa-apa adalah….
Perkataan nya … apa itu semua benar?
Kenapa … aku merasa seperti ini? Merasa … seperti bersalah? Atau mungkin … kebingungan?
Aah … aku … benar-benar tidak mengerti….
Aku … benar-benar tak tau apa-apa….
Tapi kenapa …! Kenapa aku merasa seperti ini!
Kenapa … aku selalu mengingat kejadian malam itu? Kenapa!
Padahal aku tidak mau mengingatnya! Aku tidak ingin memikirkan nya lagi! Aku tidak boleh memikirkan nya! Aku harus mendengarkan perkataan—
"Ya, Afra. Kau harus mendengarkan perkataan ku ini, Afra Afifah!" bisik gadis bermata merah itu kembali muncul, dan kini gadis itu muncul di depan Afra, dan bukan di belakangnya.
Setiap kali Afra berbicara dalam diam, gadis itu pasti selalu muncul dan memotong perkataan nya. Ya, gadis itu selalu muncul dan akan mengatakan hal-hal yang membuat Afra semakin bertanya-tanya dengan semuanya. Dengan semua apa yang ia alami.
Gadis itu berdiri tepat dihadapan Afra yang sedang duduk di kasurnya. Namun, Afra sama sekali tidak merespon kehadiran gadis itu dengan tatapan nya yang selalu terkejut. Ya, Afra memang sedikit terkejut ketika gadis itu memotong ucapan batinnya dan muncul dihadapannya. Namun, itu hanya sedikit. Afra hanya menatap gadis itu dengan tatapan kosong.
Entah kenapa, pikiran Afra tiba-tiba terasa kosong dan sudah tidak ingin memikirkan apapun lagi. Semuanya seakan berhenti sendiri. Setelah gadis itu muncul.
Heeh
"Apa kau masih ingin jadi mayat hidup, Manusia!" tanya gadis itu dengan nada tegas, tetapi itu tidak membuat Afra bergerak dan terkejut. Afra benar-benar diam dan tak bisa apa-apa. Hanya bisa melihat gadis itu dengan tatapan kosong dan juga dengan pikirannya yang benar-benar hampa.
"A … aku …," ucap Afra dengan nada lirih sambil berusaha untuk berbicara dengan gadis dihadapannya itu. Ya, tentu saja Afra masih bisa berbicara dan mendengar perkataan gadis itu, tetapi tubuhnya dan pikiran nya terasa kosong. Benar-benar kosong.
"Diam dan jangan mengatakan apapun," ucap gadis itu dengan nada lirih, dan itu membuat Afra benar-benar berhenti berbicara. Ya, Afra sekarang bagaikan boneka bagi gadis bermata merah itu.
Gadis itu lalu berjalan dan naik ke atas tempat tidur Afra. Ya, gadis itu mulai mendekati Afra dan menatap mata Afra yang masih menatapnya dengan tatapan kosong.
"Kau … benar-benar lemah," gumam gadis itu dengan nada yang terdengar lembut di telinga Afra.
Gadis itu lalu mendekatkan dirinya lagi agar lebih dekat dengan Afra dan … mulai menutupi kedua mata Afra dengan tangan kanan nya. Sedangkan tangan kirinya menutup telinga kanan Afra. Afra hanya bisa diam dan membiarkan gadis itu menutup kedua matanya dan satu telinga nya.
Setelah kedua mata dan satu telinga Afra ditutup, gadis itu lalu mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Afra dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Terlahir bersama dengan jiwa lain, kau hidup sebagai seorang gadis manusia. Hidup dengan kepolosan, kau tak tau apa-apa. Sementara jiwa yang terlahir dengan mu itu sangatlah berbeda dengan mu,"-gadis itu menghembuskan nafasnya lagi di telinga Afra-"dan jiwa itu adalah aku, Afra!"
Afra pun seketika langsung mendapatkan kesadarannya, atau lebih tepatnya Afra dapat merasakan pikiran nya yang mulai kembali. Afra dapat merasakan pikiran nya yang mulai bergemuruh dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan juga, perasaan yang dirasakan oleh Afra hanyalah … rasa ingin tahu. Dan tidak ada apapun selain itu.
Perasaan dan pemikiran kosong nya itu kini … sudah kembali dan mulai terisi dengan pertanyaan-pertanyaan.
Gadis itupun mulai menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangannya yang menutup mata dan telinga Afra. Gadis itu lalu tersenyum tipis melihat ekspresi Afra yang sudah tidak terlihat hampa itu. Afra melihat gadis itu dengan tatapan bertanya-tanya dan sedikit heran.
Kenapa dia tersenyum pada ku? batin Afra terkejut dan penasaran.
"Yah, kurasa ini lebih baik," gumam gadis itu dengan nada yang terdengar sangat nyaman di telinga Afra. Ucapan nya tidak terdengar sangat sombong, kejam, apalagi menakutkan. Yang terdengar dari perkataan nya itu adalah nada yang lembut dan penuh pengertian.
Sangatlah berbeda dengan karakter gadis bermata merah itu yang sejatinya selalu kejam dan menakutkan.
"A-apa yang baru saja … kau katakan padaku? A-apa artinya itu? A-aku ingin tau!" ucap Afra dengan sedikit terbata-bata dan masih merasa aneh dengan dirinya dan juga gadis itu.
Padahal aku selalu takut dengannya, tapi kenapa … aku seperti sudah terbiasa dengannya? batin Afra bertanya-tanya dan merasa heran.
"Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Kita hidup dalam satu tubuh yang sama, dan kaulah yang sekarang mengendalikan tubuhnya. Walau begitu, aku masih bisa menggunakan setengah tubuh ini sehingga aku bisa muncul dihadapan mu," ujar gadis bermata merah itu menjelaskan dengan wajah yang terlihat lebih tenang.
"A-aku adalah kau … dan kau adalah aku?" ucap Afra sedikit kebingungan dengan kalimat pertama yang dikatakan gadis berambut hitam kemerahan itu.
"Ya, dan kita berada dalam satu tubuh yang sama karena batu permata itu, Afra," ucap gadis itu menjelaskan lagi pada Afra, tetapi….
Bruk
Gadis itu tiba-tiba saja langsung jatuh ke tubuh Afra dengan wajahnya yang terlihat pucat. Afra pun terkejut dan tak percaya dengan apa yang terjadi dengan gadis itu, sampai….
Gadis itu menggerakkan tangannya dan mulai menutup kedua mata Afra dengan kedua tangannya. Afra semakin terkejut dan tak bisa apa-apa. Afra hanya bisa terdiam dan membiarkan gadis itu menutup matanya, lagi. Dan … Afra kembali merasa kalau dirinya harus membiarkan dan menurut dengan gadis bermata merah itu.
"Sekarang … dengarkan dan ikuti kata-kata ku, Afra Afifah!" ucap gadis itu mulai kembali dengan karakter sejatinya. Ya, dia mengatakannya dengan nada jahatnya dan itu membuat Afra hanya bisa terdiam dan mengiyakan permintaannya.
"Aku adalah kau, kau adalah aku."
"A-aku adalah kau, kau adalah aku."
"Kita hidup dalam satu tubuh yang sama."
"Kita hidup … dalam satu tubuh yang sama."
Afra benar-benar tak bisa apa-apa. Ia hanya bisa mengikuti perkataan gadis itu, meski Afra berusaha untuk tidak mengikuti nya.
"Dan karena AI (ai) inilah takdir kita bersatu."
"Dan karena A … A…," ucap Afra tidak bisa mengatakan apa yang dikatakan gadis itu.
Gadis itu lalu menghembuskan nafasnya di telinga Afra, "ikuti saja semua yang aku katakan padamu, Afra!"
"A-aku…," ucap Afra tidak bisa mengatakan kata-kata itu.
"Dan karena AI (ai)," bisik gadis itu seketika membuat Afra seperti benar-benar dikendalikan. Pikirannya seperti sudah dipaksa untuk mengatakan nya, dan….
"D-dan k-karena AI (ai) inilah …," ucap Afra berusaha untuk tidak mengatakannya. Perasaan Afra benar-benar merasa aneh dan tidak menginginkan mulutnya tuk mengatakan kata-kata yang dikatakan gadis bermata merah itu. Namun, sepertinya ini sia-sia saja.
"Ku rasa ini sudah cukup,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Yen Lamour
Silence hadir beri dukungan kak ❤️🥰 semangat ya 💪🤗
Msh dicicil dulu bacanya 😊
2022-04-18
1