Gadis Manusia

'Sepertinya, kau itu … manusia, ya?'

"Apa maksudnya itu?" pikir Afra berusaha mencerna pertanyaan yang dilontarkan orang di dalam mimpinya itu. Kata-kata itu terus muncul di dalam benaknya.

Dan juga, hal yang membuat Afra semakin bingung dan penasaran adalah siapa sebenarnya orang itu. Sebenarnya, ketika orang itu mengatakan pertanyaan aneh itu pada Afra, Afra tidak mengingat jelas suara orang itu. Hanya kata-katanya saja yang terus muncul di pikirannya.

Kini Afra masih duduk bersandar di ranjangnya karena masih merasa sedikit pusing. Tubuhnya juga terasa sedikit sakit dan susah untuk digerakkan.

"Apa aku, harus memberitahu ayah?" pikir Afra sambil menatap ke arah pintu kamar nya. Pintu kamarnya yang tak pernah ia buka sama sekali.

Bahkan, ia tak pernah mengingat kapan terakhir kali keluar dari kamarnya karena pintu kamar nya sendiri itu. Pintu kamarnya benar-benar dianggap sebagai pembatas baginya untuk keluar. Seperti sangkar burung yang hanya bisa dibuka dari luar dan tak bisa dibuka dari dalam, apalagi disentuh. Sangkar yang membuat dirinya tidak merasakan kebebasan.

Afra menggelengkan kepalanya. Tak mungkin dirinya untuk mengatakan hal itu pada ayahnya. Memangnya ayah akan mendengarkan ku? Kenapa aku harus memberitahukan nya? Batin Afra.

"Lebih baik aku tidur lagi saja—" gumam Afra sambil membaringkan tubuhnya di kasurnya, namun tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Afra pun terkekeh karena sadar dirinya belum makan dari pagi.

Afra pun bangun dari kasurnya dan melihat ke arah jendela. Cahaya matahari terlihat sudah mulai terbenam. Angin sepoi-sepoi berhembus masuk ke dalam kamar Afra. Afra tak menyangka dirinya bisa tidur sampai senja tiba.

Kruuk

Perut Afra kembali berbunyi lagi. Sudah terdengar jelas bahwa dirinya sudah benar-benar lapar. Bagaimana tidak lapar? Sejak pagi saja hanya melihat pemandangan diluar kamarnya saja dan tidak mau keluar kamar. Bahkan dirinya tidak ingat apakah ayahnya sudah menawarkan diri nya untuk makan.

"Sepertinya aku harus makan sekarang," gumam Afra sambil menoleh ke arah pintu kamar nya, namun seketika pandangan Afra langsung terhenti oleh makanan yang sudah ada di meja. Meja itu berada di samping kasurnya, tepatnya disebelah kanannya sekarang.

Afra terkejut karena sebelumnya tidak ada makanan di mejanya itu. Afra lalu menghampiri dan melihat makanan yang ada di mejanya lebih dekat. Ada secarik kertas dengan tulisan disana.

" 'Afra sayang, maafkan ayah karena belum bisa mengijinkan mu untuk keluar rumah. Ayah punya alasan sendiri kenapa tidak mengijinkan mu keluar. Ini juga demi kebaikanmu, demi kebaikan kita. Namun ayah mengerti apa yang kamu mau. Besok ayah akan memberikan mu hadiah sebagai gantinya, ya? Hari ini ayah semakin khawatir karena tidurmu yang terlalu lama sehingga lupa untuk makan. Ini juga salah ayah. Ayah sudah menyiapkan makanan untuk mu di meja. Ayah berjanji akan mengijinkan mu keluar besok.

Ayah akan menjadi ayah yang baik untukmu, Afra anakku.' "

-----------------------------------------------------------------------------------------

"Ah, kenyangnya," ucap Afra membaringkan tubuhnya di kasurnya. Afra lalu melirik ke arah piring makannya yang terbuat dari kayu, atau lebih tepatnya ke secarik kertas yang ada di sebelahnya.

Afra memandangi kertas itu dengan tatapan tajam. Terus dan terus ia tatap dan perhatikan dengan seksama. Afra pun langsung melepaskan pandangannya dari kertas itu dan berbaring membelakangi piring makan dan secarik kertas yang ada di meja tempat dimana Afra selalu makan. Ya, semenjak Afra mempunyai keinginan untuk keluar rumah, Afra menjadi takut keluar kamarnya sehingga ia selalu makan di kamarnya.

Mungkin terlihat aneh jika seseorang mempunyai niat untuk mendapatkan kebebasan, namun malah memilih untuk terkurung selamanya. Karena memang itulah kenyataannya. Apa yang dipikirkan, dan apa yang dilakukan oleh Afra … memang selalu berlawanan. Baginya, jika ayahnya tidak mengijinkannya, maka … ia takkan pernah bisa melawannya. Walaupun hatinya benar-benar menginginkan raga nya tuk melakukannya.

"Apa … ayah akan menepati janjinya?" gumam Afra pada dirinya sendiri. Afra pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu menatap ke langit-langit kamar.

"Ah, sudahlah! Aku tidak mau memikirkan nya lagi! Aku tidak mau peduli dengan hal itu lagi!" keluh Afra dengan lantang dan kembali berbaring menghadap meja makannya, dengan pandangannya yang mengarah ke jendela kamar nya.

Matahari sudah benar-benar terbenam, dan langit malam sudah terlihat jelas di luar jendela. Tidak ada yang terlihat indah ketika malam. Hanya warna hitam gelap yang terlihat. Hanya cahaya bulan yang terlihat menyinari gelapnya malam, dan juga lampu pelita kamarnya yang cahayanya saja tidak seterang cahaya bulan itu.

Afra tiba-tiba langsung meneteskan air matanya. Walaupun dirinya merasa sedikit kesal karena ayahnya yang tak pernah mengijinkan nya keluar, namun dirinya juga merasa sedih. Entah kenapa … Afra tiba-tiba saja merasa sedih dan ingin terus menangis. Dirinya merasa seperti bersalah karena selalu mengatakan hal yang sama pada ayahnya. Hal yang tak mungkin dikabulkan ayahnya itu.

"Sudahlah, aku tidak mau memikirkan nya lagi," gumam Afra sambil menarik selimutnya sehingga menutupi seluruh tubuhnya. Air mata tetap menetes keluar dari mata Afra, walaupun ia berusaha untuk tidak menangis.

Hiks … hiks

"Kenapa … kenapa, Ayah? Kenapa aku tidak boleh keluar?" rintih Afra disela-sela tangisannya. Afra benar-benar sudah tak bisa menahan tangisannya lagi. Suara tangisannya sampai terdengar dari luar kamar.

Ya, suara tangisan Afra sudah sampai terdengar di telinga sang ayah. Sang ayah ternyata sedari tadi sedang duduk bersandar di pintu kamar Afra. Ayahnya benar-benar sudah mendengar semua perkataan Afra sebelumnya. Ayahnya hanya bisa diam saja sambil menundukkan kepalanya.

"Maafkan ayah mu ini, Afra," gumam ayahnya itu dengan lirih, "ayah akan menepati janji ayah kali ini."

Sang ayah lalu bangun dan pergi menjauh dari kamar Afra. Sang ayah tak sadar kalau ternyata Afra mendengar perkataannya itu. Suaranya masih bisa didengar Afra dengan jelas, walaupun ayahnya hanya bergumam saja.

"Terserah ayah saja!" ucap Afra dengan lirih sambil menghapus air matanya yang sudah membasahi wajahnya.

-------------------------------------------------------------------------------------- 

Kehidupan itu terus berjalan. Tak peduli jika nasib tak pernah berubah. Tidak ada yang tau … apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagai burung yang terkurung di dalam sangkar, dan tak pernah tau tentang dunia luar. Ia hanya bisa berkicau dan berharap … untuk bisa terbang bebas di angkasa.

Cahaya rembulan semakin terang, namun awan gelap mulai menyelimuti malam dan menutupi bintang-bintang. Suara burung hantu terdengar begitu menyeramkan. Di lain tempat, kunang-kunang terlihat berterbangan dan mengeluarkan cahayanya yang berkilau terang. Namun dibalik itu semua … selalu tersimpan rahasia yang tidak diketahui orang.

Tidak, bukan orang. Melainkan makhluk hidup yang tidak bisa disebut sebagai manusia, walaupun tubuhnya terlihat seperti manusia. Dan makhluk itu terlihat sedang berada didepan nya saat ini. Makhluk itu lalu menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan sedih.

"Dirimu … benar-benar indah." kata orang itu dengan nada lembut. Namun seketika senyuman seringai tercipta di bibirnya, "sampai-sampai aku … menginginkanmu, Afra!"

Terpopuler

Comments

Elwi Chloe

Elwi Chloe

Ayahnya misterius

2022-06-19

2

lim woo

lim woo

ayahnya sus bngtt

2022-06-18

1

Kall.

Kall.

Ku curiga ada sesuatu yang di sembunyikan oleh sang ayah, beliau seperti mencoba melindungi walau sebenarnya ia tau anaknya ingin keluar/ kebebasan🤔 Di tambah dengan makhluk misterius yg ingin memiliki Afra...hm menarik lanjutkan terus thor

2022-04-10

1

lihat semua
Episodes
1 Awal Mula
2 Gadis Manusia
3 Melihat Dunia
4 Pertama Kali
5 Di Siang Hari
6 Sampai Akhirnya
7 Penasaran
8 Dengan Malam
9 Mimpi Aneh
10 Kebenaran
11 Tentang Dunia
12 Tanpa Manusia
13 Manusia?
14 Siapa Aku?
15 Manusia
16 Alter Ego
17 Dengan AI
18 Bersamanya
19 Memulai Awal
20 Yang Baru
21 Tentang AI
22 Dengan Monster
23 Semuanya
24 Baru Dimulai
25 Sekarang
26 Saatnya
27 Permulaan
28 Dunia
29 Pertemuan
30 Dengannya
31 Dan Ingatan
32 Yang Hilang
33 Akademi
34 Arknest
35 Kelas Pertama
36 Duel Antarkelas
37 Tantangan
38 Di Luar Duel
39 Pengenalan
40 Teman
41 Mati
42 Sabit Putih
43 Kebangkitan
44 Kota
45 Empat Kerajaan
46 Kenapa
47 Aku Tidak Bisa
48 Mengerti?
49 Para Senior
50 Tokoh Utama
51 Dua Surat
52 Assassin
53 White And Black
54 Dua Siluman
55 Tanda Bintang
56 Kepercayaan
57 Menghidupkan
58 Pertanyaan
59 Tanpa Jawaban
60 Waktu Malam
61 Yang Salah
62 Lupakan Saja
63 Kembali
64 Kepadamu
65 Es dan Lava
66 Memulai Ulang
67 Waktu
68 Untuk Manusia
69 Buku Dunia
70 Aura
71 Gadis Penyihir
72 Sosok Hijau
73 Iylasvi
74 Pergi
75 Dari Sini
76 Kita Mulai
77 Afra Afifah
78 Iliya Viely
79 Terjerat
80 Rantai
81 Berdarah
82 Tujuan
83 Rasa Baru
84 Kota Sihir
85 Hanya
86 Penampilan
87 Bentuk AI
88 Sia-sia
89 Janji
90 Sosok Biru
91 Gadis Biru
92 Sira Siveria
93 Wilayah
94 Perbatasan
95 Perpustakaan
96 Pengunjung
97 Hilang
98 Lyvie
99 Tidak Bisa
100 Jujur
101 Pagi Biru
102 Pagi Biru (2)
103 Pagi Biru (3)
104 Hari-harinya
105 Denganku
106 Kau Ingin Aku?
107 Pendamping
108 Pohon
109 Beringin
110 Bercahaya
111 Sentuhan
112 Bibir
113 Ciuman
114 Hal Biasa
115 Rencana
116 Bertanya
117 Istana
118 Kembali Lagi
119 Berkumpul
120 Demi
121 Diri-Nya
122 Kejadian
123 Terlupakan
124 Bercerita
125 Tentang Akhir
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Awal Mula
2
Gadis Manusia
3
Melihat Dunia
4
Pertama Kali
5
Di Siang Hari
6
Sampai Akhirnya
7
Penasaran
8
Dengan Malam
9
Mimpi Aneh
10
Kebenaran
11
Tentang Dunia
12
Tanpa Manusia
13
Manusia?
14
Siapa Aku?
15
Manusia
16
Alter Ego
17
Dengan AI
18
Bersamanya
19
Memulai Awal
20
Yang Baru
21
Tentang AI
22
Dengan Monster
23
Semuanya
24
Baru Dimulai
25
Sekarang
26
Saatnya
27
Permulaan
28
Dunia
29
Pertemuan
30
Dengannya
31
Dan Ingatan
32
Yang Hilang
33
Akademi
34
Arknest
35
Kelas Pertama
36
Duel Antarkelas
37
Tantangan
38
Di Luar Duel
39
Pengenalan
40
Teman
41
Mati
42
Sabit Putih
43
Kebangkitan
44
Kota
45
Empat Kerajaan
46
Kenapa
47
Aku Tidak Bisa
48
Mengerti?
49
Para Senior
50
Tokoh Utama
51
Dua Surat
52
Assassin
53
White And Black
54
Dua Siluman
55
Tanda Bintang
56
Kepercayaan
57
Menghidupkan
58
Pertanyaan
59
Tanpa Jawaban
60
Waktu Malam
61
Yang Salah
62
Lupakan Saja
63
Kembali
64
Kepadamu
65
Es dan Lava
66
Memulai Ulang
67
Waktu
68
Untuk Manusia
69
Buku Dunia
70
Aura
71
Gadis Penyihir
72
Sosok Hijau
73
Iylasvi
74
Pergi
75
Dari Sini
76
Kita Mulai
77
Afra Afifah
78
Iliya Viely
79
Terjerat
80
Rantai
81
Berdarah
82
Tujuan
83
Rasa Baru
84
Kota Sihir
85
Hanya
86
Penampilan
87
Bentuk AI
88
Sia-sia
89
Janji
90
Sosok Biru
91
Gadis Biru
92
Sira Siveria
93
Wilayah
94
Perbatasan
95
Perpustakaan
96
Pengunjung
97
Hilang
98
Lyvie
99
Tidak Bisa
100
Jujur
101
Pagi Biru
102
Pagi Biru (2)
103
Pagi Biru (3)
104
Hari-harinya
105
Denganku
106
Kau Ingin Aku?
107
Pendamping
108
Pohon
109
Beringin
110
Bercahaya
111
Sentuhan
112
Bibir
113
Ciuman
114
Hal Biasa
115
Rencana
116
Bertanya
117
Istana
118
Kembali Lagi
119
Berkumpul
120
Demi
121
Diri-Nya
122
Kejadian
123
Terlupakan
124
Bercerita
125
Tentang Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!