Ternyata … ini menyenangkan, batin Afra.
Afra pun mulai melangkahkan kakinya menuruni setiap anak tangga dengan percaya diri dan mendahului sang ayah. Sang ayah tersenyum melihat Afra yang benar-benar senang dan kembali ceria itu, "ini memang pilihan yang terbaik untuknya."
Setelah berjalan menuruni anak tangga, Afra akhirnya menginjakkan kakinya di tanah untuk pertama kalinya. Afra tersenyum senang setelah berhasil menuruni tangga dan dapat melihat banyaknya pepohonan diluar. Angin sepoi-sepoi pun berhembus dan daun-daun yang gugur berterbangan layaknya kupu-kupu. Afra benar-benar senang sekali.
Sedangkan sang ayah yang masih berada di tangga hanya bisa tersenyum melihat Afra yang melambaikan tangannya padanya.
"Ayah, kesini!" panggil Afra sembari terus melambaikan kedua tangannya. Sang ayah tersenyum mendengar perkataan Afra itu lalu ia berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri Afra yang masih melambaikan tangannya.
Afra tersenyum melihat sang ayah lalu memeluknya dengan erat.
"Terimakasih, Ayah," ucap Afra sambil memeluk sang ayah.
Sang ayah pun tersenyum dan mengelus-elus rambut anaknya itu. Afra lalu melepaskan pelukannya dan mengarahkan pandangannya ke rumah nya yang ternyata adalah rumah pohon.
Ya, rumah pohon. Afra benar-benar tak menyangka rumahnya bisa menyatu dengan pohon yang besar. Pohon besar yang menjadi bagian dari rumahnya itu tumbuh tegak lurus, dengan rumahnya yang berada dibawah dedaunan pohon besar itu. Benar-benar rumah yang indah.
Afra lalu membalikkan badannya dan melihat pepohonan hutan yang ada di depan nya.
"Yuk, kita jalan-jalan!" ajak Afra sambil menarik tangan sang ayah dan berjalan masuk ke dalam hutan itu. Sang ayah pun ikut berjalan mengikuti kemana Afra ingin berjalan.
Di setiap langkah, Afra selalu melihat ke sekelilingnya. Ada banyak pohon-pohon yang tumbuh tinggi dengan daunnya yang berwarna hijau. Rerumputan dan semak-semak juga ikut tumbuh di dekat pohon-pohon itu. Cahaya matahari pagi yang bersinar terang memberikan kesan yang semakin menyenangkan untuk Afra.
"Ayah, lihat pohon itu!" tunjuk Afra ke arah pohon besar yang terlihat berbeda dari pohon disekelilingnya.
"Pohon itu punya rambut yang tumbuh menggantung, tapi daunnya tumbuh seperti mangkuk terbalik!" ujar Afra menjelaskan mengenai pohon itu pada ayahnya. Sang ayah tertawa kecil mendengar penjelasan anaknya itu.
Afra keheranan melihat ayahnya yang tertawa setelah mendengar perkataan nya, "kenapa ayah tertawa?"
"Itu namannya pohon beringin, Afra. Dan yang menggantung itu bukan rambut, melainkan akar pohonnya. Kalau daunnya tumbuh seperti itu agar bisa digunakan untuk tempat berteduh," kata sang ayah menjelaskan tentang pohon itu, "kau tidak salah kok, hanya lucu saja."
Afra menggembungkan pipinya mendengar jawaban ayahnya itu.
"Ayo, kita berteduh dibawah pohon beringin itu!" ajak sang ayah sambil mengangkat tubuh Afra dan berjalan menuju pohon beringin itu. Afra sedikit terkejut karena ayahnya mengangkat tubuh nya tiba-tiba, namun Afra merasa senang sekali.
Afra dan sang ayah lalu duduk bersandar di bawah pohon beringin itu. Rasanya sungguh menyegarkan. Seakan-akan hangatnya sinar mentari menyandingi sejuknya angin sepoi-sepoi. Semuanya menyatu dan memberi kesan yang menenangkan, begitulah yang dirasakan Afra saat ini.
Waktu terus berjalan, dan menteri terlihat sudah berada di atas kepala. Setelah beristirahat sejenak dan menikmati sejuknya berteduh dibawah pohon beringin, sang ayah mengajak Afra untuk pulang. Namun, Afra tentu saja tidak mau dan ingin melihat-lihat lagi.
"Ah, Ayah! Kenapa harus pulang sekarang? Aku kan masih ingin melihat-lihat lagi!" rengek Afra berusaha meyakinkan sang ayah agar tidak mengajaknya pulang ke rumah.
Sang ayah tentu terkejut mendengar perkataan Afra itu. Ia juga tidak mau jika kebahagiaan Afra hanya sebatas ini saja. Setelah berpikir sejenak, ia pun mulai memikirkan hal yang bisa membuat Afra senang.
"Bagaimana kalau kita main permainan menebak pohon?" usul sang ayah yang langsung direspon oleh sang anak dengan tawa.
"Menebak pohon? Ayah, aku ini kan sudah tau banyak nama-nama pohon dari cerita yang ayah bacakan!" ujar Afra dengan nada sombongnya.
Sang ayah pun membalas jawaban anaknya itu dengan tawa, "begitukah? Bukankah tadi kamu tidak tahu nama pohon ini?"
Wajah Afra memerah mendengar perkataan sang ayah itu.
"I–itukan tadi, Ayah!" ujar Afra dengan nada tinggi, "baiklah, kita akan main permainannya!"
Sang ayah kembali tertawa kecil melihat tingkah Afra yang masih kekanak-kanakan itu, walaupun sebenarnya umurnya masih delapan tahun yang seharusnya sudah mengetahui hal-hal sederhana ini.
"Baiklah!"-sang ayah bangun dari duduknya-"kita mulai sekarang, Afra!"
Sang ayah dan Afra pun berjalan-jalan lagi di hutan sambil menunjuk pohon-pohon yang ada dan menyebutkan nama pohon yang ditunjuk itu. Ada pohon Agatis, pohon Jati, pohon Benda, pohon Baru-baru, pohon kayu putih, dan masih banyak lagi. Semuanya disebutkan oleh sang ayah, dan Afra bahkan tidak bisa menyebutkan dengan benar nama-nama pohon itu. Hanya sebatas karakteristik kasarnya saja. Itu saja masih sama seperti saat menyebutkan karakteristik pohon beringin, dan itu membuat sang ayah tertawa kecil setiap Afra menyebutkan karakteristik pohon yang disamakan dengan bentuk-bentuk benda yang ada di rumah.
Ya, wajar saja karena Afra memang tidak pernah keluar dari rumah dan juga … ia tidak tau bagaimana bentuk asli dari setiap pohon yang disebutkan ayahnya ketika membacakannya cerita. Hanya tau namanya saja.
Tak disangka, ternyata ada banyak nama-nama pohon yang Afra tidak ketahui. Kalau sang ayah tidak mengusulkan permainan ini, mungkin dirinya tidak akan mengetahui nama-nama pohon itu. Sebelumnya, Afra sempat merasa sedikit aneh dengan dirinya. Atau lebih tepatnya sikapnya yang tiba-tiba terasa berbeda. Dan dirinya seperti sudah terbiasa dengan sikapnya yang sepertinya lebih berani untuk menjawab daripada sebelumnya, yaitu sikapnya yang selalu diam dan hanya menurut saja.
Kenapa … aku bisa berpikiran dan bersikap seperti ini, ya? pikir Afra dalam benaknya sembari berjalan bersama sang ayah kembali pulang ke rumah.
-------------------
Rumah … adalah tempat dimana seseorang dapat kembali. Sebuah tempat untuk berpulang. Sebuah tempat … awal mulanya seseorang berpergi dan akhir dimana orang itu akan kembali.
Langit terlihat mulai berwarna jingga, dan matahari mulai menghilangkan dirinya. Kini Afra sudah berada di rumah, dan melihat cahaya matahari terbenam dari jendela kamarnya dengan perasaan bahagianya. Ya, Afra akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya berada di luar rumahnya. Impian nya untuk melihat dunia luar sudah ia rasakan sesuai dengan janji ayah nya. Dan itu membuatnya semakin senang.
"Ayah … benar-benar menepati janjinya, aku senang!" gumam Afra lalu tersenyum senang, "ya, walaupun aku tidak boleh keluar saat malam sebagai gantinya."
Sebelumnya….
"Nah, ayo kita masuk, Afra!" ajak sang ayah sambil mengelus rambut anaknya itu. Kini mereka berdua sudah sampai di rumah tepat saat cahaya matahari membuat langit di angkasa berwarna jingga.
Afra yang sedari tadi masih diam sembari melihat ke arah rumah pohonnya itu lalu menoleh ke belakang dan melihat hutan yang sebelumnya dia lihat bersama sang ayah.
"Ayah!" panggil Afra dengan lantang.
Sang ayah lalu berjongkok dan menyelaraskan posisi nya agar sama dengan Afra, "ya? Mau ayah gendong?"
Afra menggelengkan kepalanya, "tidak, Ayah! Aku … ingin meminta sesuatu…," ucap nya dengan wajah malu.
"Afra mau minta apa? Ayah janji akan menepati nya lagi!" kata sang ayah dengan tulus dan lemah lembut.
Afra hanya diam sambil menundukkan kepalanya mendengar perkataan ayahnya itu. Ia sedikit malu mengatakannya.
"Apa … aku boleh keluar lagi besok? Dan … untuk seterusnya … bolehkan, Ayah?" pinta Afra dengan wajahnya yang memerah karena malu.
Sang ayah tertawa kecil mendengar permintaan Afra itu, "tentu saja boleh dong, Afra sayang. Kamu sudah boleh keluar rumah sekarang!" jawab sang ayah dengan nada lembut sambil mengelus rambut anaknya yang berwarna hitam kebiruan itu.
Afra terkejut dan merasa sangat senang mendengar jawaban ayahnya itu, "be–benarkah? Ayah!"
"Ya, Afra. Tentu saja benar," jawab sang ayah lagi, "tapi…."
"Hah? Tapi?" Afra terkejut karena tiba-tiba sang ayah berkata tapi sambil menyentuh hidungnya dengan jari telunjuknya.
"Tapi … kamu hanya boleh keluar saat matahari masih bersinar ya! Kamu tidak boleh keluar saat malam hari! Mengerti?" kata sang ayah menjelaskan pada Afra dengan penuh kasih sayang.
"Ya, tentu saja!" jawab Afra dengan percaya diri setelah mendengar penjelasan ayahnya itu. Afra benar-benar bahagia karena sudah bisa keluar rumah mulai dari sekarang, walau dirinya tidak diperbolehkan untuk keluar saat malam hari … itu bukanlah masalah baginya.
"Yang terpenting, aku bisa keluar rumah dan melihat-lihat pemandangan indah. Itu sudah cukup untuk ku sekarang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Ryoka2
Saya kembali hadir Thor 👍
2022-05-23
2
Setyo purbo
ayah yang sangat baik hati
2022-04-09
2
Setyo purbo
Afra di episode ini berumur berapa?
2022-04-09
1