Chapter 18

Sementara di tempat lain, Andini masih tak bisa tidur. Ia memikirkan sesuatu, "Kenapa mas Varel bohong? Itu bukan suara Rasel, tapi... Perempuan," desahnya dalam hati. Pasalnya, jelas tadi ia mendengar yang memanggil pria yang ia cintai itu adalah seorang wanita.

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Andini. Ia segera turun dari ranjang lalu membuka pintu.

"Nenek?... "

"Nenek lihat kamarmu masih terang, dan ternyata benar kamu belum tidur. Kenapa? Apa ada masalah?" tanya sang nenek setelah masuk ke dalam kamar.

"Tidak, nek. Andini hanya kangen sama mas Varel," sahut Andini tersenyum.

"Ngomong-ngomong soal Varel, kapan kalian akan menikah? Nenek akan tenang jika kalian sudah menikah, jadi ada yang jagain kamu,"

"Selama ini mas Varel juga jagain Andin dengan baik, nek," jawab Andini.

"Bukan begitu Andin, maksud nenek. Nenek sudah tua, nenek akan tenang jika suatu saat nenek menyusul ibu dan ayahmu jika kamu sudah menikah. Ada yang menjaga dan merawat kamu, nenek takut nenek sudah pergi dari dunia ini sebelum melihat kalian menikah," ucap nenek.

"Nenek jangan ngomong begitu, nenek harus panjang umur, biar bisa melihat Andin menikah dan punya anak. Lagian, siapa tahu nanti Andin duluan kan yang menyusul ibu sama ayah?" ucap Andini begitu saja.

"Jangan bicara begitu, Andin! Jika ada yang harus pergi duluan itu nenek yang sudah tua, bukan kamu," ucap nenek.

"Tapi kan nenek tahu kalau Andin..."

"Sudah jangan di bahas lagi, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang tidurlah, sudah malam," ucap nenek yang langsung berubah sedih.

"Iya, nek. Nenek juga istirahat, ya? Angin malam tidak baik untuk nenek," andini tersenyum, ia tahu kekhawatiran yang di rasakan oleh neneknya. Karena itu juga menjadi ketakutannya selama ini.

Sang nenek mengangguk.

Andini mengantar nenek sampai ke pintu.

"Kalau kamu merindukannya, pulanglah. Nenek sudah sembuh, di sini juga ada pelayan, jangan khawatirkan nenek. Sudah tua begini, wajar kalau sering amsuk angin, jangan terlalu pikirkan nenek. Pikirkan juga kesehatanmu, Andin," ucap Nenek saat Andini mengantar sang nenek keluar sampai pintu kamarnya.

Lagi, Andini mengangguk," Andin akan jaga kesehatan Andin, nek," ucapnya.

"Obatmu juga harus selalu di minum, jangan lupa," pesan nenek.

"Pasti," jawab Andini.

🌻🌻🌻

"Adel mana sih, kok nggak keluar-keluar, udah jam beraa ini?" gumam Rasel.

Varel yang sedang memainkan ponselnya hanya melirik sahabatnya itu, lalu melihat jam di tangannya. Memang sudah siang, tapi Adel belum juga bergabung dengan mereka untuk sarapan.

"Gue samperin ke kamarnya aja deh, khawatir gue!" ucap Rasel namun langsung di cegah oleh Varel," Biar gue aja, lo makan aja duluan!" ucapnya dan langsung beranjak pergi.

Varel mengetuk pintu kamar Adel berkali-kali barulah pintunya di buka. Terlihat wajah Adel yang masih kusut dengan rambutnya masih acak-acakan.

"Udah jam berapa ini, kenapa belum gabung buat sarapan?" tanya Varel.

Adel bukannya menjawab, tapi malah memegangi perutnya sambil meringis sakit.

"Kamu kenapa?" tanya Varel.

"Aku nggak enak badan, perutku sakit," jawab Adel.

"Ini jadwalmu datang bulan?" tanya Varel langsung menebak. Ia tahu betul, dulu bagaimana kondisi wanita di depannya tersebut saat tamu bulanannya datang. Dan ternyata masih sama sampai sekarang.

Adel mengangguk, "Aku lupa kalau udah waktunya, pantas dari kemarin pingganggku udah pegal-pegal sakit, ternyata karena mau datang bulan, tahu gini kemarin aku nggak ikut ke sini," ucap Adel dengan keringat dingin membasahi keningnya.

"Bagaimana bisa melupakan jadwalmu. Kau seharusnya lebih memperhatikan diri sendiri. Bagaimana selama ini kamu hidup di luar negeri sana!" ucap Varel setengah mengomel dan itu membuat Adel tersenym senang.

"Bawa pembalut?" tanya Varel dan adel sedikit mendelik mendengar Varel yang tanpa canggung menyebutkan benda yang kadang-kadang perempuan akan malu mengatakannya di depan pria. Tapi ini malah secara gamblang dan jelas di sebutkan.

Adel menggeleng, "Nggak bawa," ucapnya. Padahal biasanya ia selalu sedia satu di dalam tasnya kemana-mana, namun entahlah kali ini ia tidak membawanya. Terakhir kali ia mengambil pembalut yang ada di dalam tasnya waktu masih di luar negeri.

Varel mengembuskan napasnya kasar," Masuk dulu, aku akan minta buatkan teh panas dan air hangat," Varel melingjarkan tangannya di pundak Adel dan mendorongnya supaya masuk ke dalam kamar.

Setelah menyelimuti kaki Adel, Varel langsung menelepon Rasel.

"Belikan pembalut yang bersayap. Beli yang ukuran panjang...Oya, sekalian sama kirantii!" ucap Varel to the poin.

"Eh bujuk! Lo datang bulan Rel?" tanya Rasel.

"Bukan buat gue, tapi Adel! Cepat beliin nggak pakai lama!"

"Kenapa nggak lo aja sih yang beliin, kenapa mesti gue? Beli gituan lagi, mau lah gue!"

"Perut Adel sakit, gue nggak mungkin ninggalin dia! Gue mau kompres pakai air hangat. Udah cepat! Kirantiinya jangan lupa!" Varell langsung menutup teleponnya.

"Ah resek, yang nggak enak aja nyuruh gue, lo kebagian yang enak, bisa meraba-raba perut Adel. Dasar!" decak Rasel namun tetap pergi mencari apa yang Varel minta.

🌻🌻🌻

Varel menyentuhkan botol berisi air hangat ke perut Adel. Ia melakukannya dengan menelusupkan botol tersebut ke perut Adel tanpa menyingkap apalagi membuka kaos yang Adel kenakan. Tidak seperti yang Rasel pikirkan tentunya.

"Apa masih sering seperti ini kalau datang bulan?" tanya Varel dan Adel mengangguk.

"Kata kakak, nanti setelah menikah biasanya akan berkurang rasa sakitnya atau malah sembuh," ucap Adel.

Adel merasa senang meski dengan sikap yang masih dingin, namun Varel masih perhatian dengannya. Pria itu masih begitu aham apa yang dulu ia lakukan saat Adel datang bulan.

Tak lama kemudian, Rasel datang membawa pesanan Varel.

"Terima kasih," ucap Adel setelah memakai pembalut dan juga meminum kirantinya.

"Hem, istirahatlah dulu. Sarapanmu biar di bawa ke sini. Kita kembalinya nanti setelah kamu membaik," ucap Varel.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok, kita bisa segera pulang," sahut Adel.

"Kau yakin?" tanya Rasel dan Adel mengangguk.

"Baiklah kalau begitu, kami keluar dulu!," ucap Varel.

"Gue nggak nyangka, datang bulan aja bisa buat perempuan sakit begini. Dan lo kayak yang udah paham banget gitu sama urusan beginian. Gue curiga lo.... Nggak pernah datang bulan kan, Rel?" tanya Rasel.

Varel hanya menatap Rasel dengan tatapan membunuh.

"Bercanda, santai. Lo kayak yang udah paham banget sih ngurus Adel. Gue curiga..."

"Berisik lo! Perasaan curiga mulu kerjaan lo! Ayo sarapan, lapar gue. Kalau lo ngoceh terus bisa-bisa elo yang gue makan, Sel!"

Adel yang samar-samar mendengar perdebatan dua pria tersebut hanya bisa tersenyum. Bagaimana tidak hapal, dulu seyiap kali Adel datang bulang, pasti Varel yang sibuk mengurusnya. Soal. Membeli pembalu dan kirantii tentu saja ia sudah khatam karena sering melakukannya. Bahkan pria itu juga yang akan kena imbas mood Adel yang suka naik kalau sedang datang bulan.

🌻🌻🌻

Terpopuler

Comments

christo arindito

christo arindito

raseel ..

2023-08-17

2

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

Raseeeelllll .... 🤣🤣🤣🤣

2023-08-02

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

sakit parah ?

2023-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Chapter 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98 (End)
99 Bab 99 ( bonchap 1)
100 Bab 100 (bonchap 2)
101 Bab 101 (bonchap 3)
102 Novel Sebatas Ibu Pengganti
103 Bonchap 4
104 Bonchap 5
105 Bonchap 6
106 Bonchap 7
107 Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Chapter 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98 (End)
99
Bab 99 ( bonchap 1)
100
Bab 100 (bonchap 2)
101
Bab 101 (bonchap 3)
102
Novel Sebatas Ibu Pengganti
103
Bonchap 4
104
Bonchap 5
105
Bonchap 6
106
Bonchap 7
107
Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!