Bab 13

Varel terus berjalan menuju kamarnya. Ia berhenti sejennk di depan kamar lalu menghela napasnya dalam. Ia menoleh,"ini demi kebaikanmu," ucapnya dalam hati.

Bukannya Varel tak menghargai usaha adel, namun menurutnya usaha wanita itu belum maksimal. Masih banyak yang harus di perbaiki. Jika ia tidak jujur, maka pasti Adel akan berpikir jika masakannya sudah oke dan mungkin wanita itu tidak merasa harus memperbaikinya.

Varel tak ingin berbohong hanya untuk menyenangkan hati Adel sementara saja. Karena jika wanita itu tahu masakannya di puji padahal kenyataannya tidak enak sama sekali, pasti tak hanya semakin sedih tapi juga malu.

Sedangkan Adel hanya diam menatap sendu masakannya yang ada di depannya. Dengan ragu ia mengambilnya dan memakannya. Memang ia akui, rasanya tidak enak sama sekali.

"Ini lumayan kok untuk yang baru belajar masak, enak. Jangan berkecil hati namanya juga baru belajar, saya suka kok!" ucap Gema mencoba menyenangkan hati Adel.

"Tidak usah dimakan, Kak. Ini tidak pantas di makan. Nanti kak Gema malah sakit perut," ucap Adel namun Gema tetap memakannya.

"Tidak akan sakit perut, kamu sudah berusaha, jadi saya harus menghargainya, ini benar-benar tidak seburuk itu," ucap Gema tersenyum.

Adel hanya tersenyum kecut. Kenapa Varel tak bisa seperti Gema yang memikirkan perasaannya. Tapi, Entah kenapa ia lebih menyukai ucapan Varel yang jujur meskipun terdengar menyakitkan.

"Udah,kak. Jangan dimakan lagi!" ucapnya sambil mengambil piring di depan Gema.

"Maaf kak, bukannya mengusir. Tapi aku ingin istirahat lebih awal," ucap Adel sebelum ia pergi ke dapur membawa piring bekas makan Gema.

"Baiklah, besok saya tidak bisa jemput kamu karena saya harus ke luar kota beberapa hari," ucap Gema.

"Tidak apa-apa, kak," sahut Adel.

"Saya permisi, nanti kalau saya sudah kembali akan saya kabari!" pamit Gema.

"Hem," Adel mengangguk.

🌻🌻🌻

Setelah Gema pergi, Varel keluar dari kamarnya. Ia pergi ke dapur dan melihat Adel sedang membereskan dapurnya yang berantakan.

Tanpa bicara, Varel membantu Adel membersihkan dapur. Adel hanya melirirknya sekilas, "Tidak perlu di bantu, aku bisa kalau cuma membereskan dapur," ucapnya tanpa menoleh. Ia masih merasa sedih karena tadi Varel tak berusaha menutupi kekurangannya di depan Gema.

"Aku cuma tidak tahan melihat dapurku berantakan lebih lama," sahut Varel, juga tanpa menoleh kepada Adel.

Mereka membersihkan dapur tanpa bicara.

"Aku mengatakannya demi kebaikanmu," ucap Varel tiba-tiba di tengah keheningan.

Adel berhenti sejenak dari kegiatannya mengelap meja dapur, "Aku mengerti!" ucapnya legowo.

Dan suasana kembali hening.

Setelah mereka selesai membersihkan dapur, mereka duduk, tak di sangka perut mereka sama-sama bunyi. Baik Adel maupun Varel sama-sama menahan tawa mendengar bunyi perut mereka masing-masing.

"Aku akan buat mie," ucap Adel berdiri lalu mulai merebus air.

Varel yang memperhatikan Adel hanya akan memasak Mie tanpa tambahan sayur dan lainnya langsung berdiri.

"Biar aku saja!" ucap Varel.

"Tidak usah, kalau masak mie instan doang aku bisa!" sergah Adel.

Varel tak menyahut, ia berjalan mendekati kulkas dan mengambil sayuran dan juga telur untuk tambahan membuat mie.

Adel hanya diam memperhatikan apa yang Varel lakukan.

"Mau di kasih cabe?" tanya Varel menoleh.

"Ah! Iya boleh!" karena melamun, tanpa sengaja tangannya menyenggol panci untuk merebus mienya. Ia langsung mengibaskan tangannya yang panas.

Varel mengembuskan napasnya, ia menutup kulkas dan meletakkan bahan-bahan tambahan yang barusan ia ambil di samping kompor lalu menarik tangan Adel ke wastafel.

"Aku tidak apa-apa!" Adel hendak menarik tangannya yang di pegang oleh Varel di bawah guyuran kran wastafel. Namun, Varel menahannya, "Biarkan tiga sampai lima menit!" ucapnya yang langsung melepas tangan Adel dan mulai memasak mie karena air sudah mendidih.

Betapa malu dan canggungnya Adel karena mungkin pria itu mendemgar detak jantungnya yang berdetak kencang tadi.

Adel hanya melihat Varel sambil terus merutuki kebodohannya yang sama sekali tak bisa apa-apa kalau soal urusan dapur.

Dan malam itu mereka berdua terpaksa makan mie instan untuk mengganjal perut mereka.

🌻🌻🌻

Hari-hari berikutnya, Adel masih kekeh ingin belajar memasak di waktu senggangnya. Kadang pulang dari butik yang masih on proses atau kadang pagi buta sebelum bersiap berangkat. Namun, Varel selalu menggelengkan kepalanya saat mencicipi hasil masakan Adel, tanda jika masakannya masih belum enak dan Adel hanya bisa mendesah kecewa di buatnya.

Adel sempat hampir menyerah, tapi jika ingat kata-kata Rasel kalau Varel mengidamkan wanita yang bis masak, Adel selau kembali tersulut semangatnya untuk belajar memasak.

Hingga weekend tiba, Adel kembali sibuk di dapur padahal hari masih gelap, "Masa iya sih aku nggak bisa," gumamnya yang pantang menyerah.

"Masih usaha?" tanya Varel tiba-tiba dengan wajah khas bangun tidurnya. Namun tetap terlihat tampan.

"Iyalah, masa aku kalah sama om sih. Harusnya bisa dong kalau cuma masak aja, kemarin-kemarin pasti ada kesalahan teknis!" ucap Adel semangat. Varel tersenyum tipis, wanita itu memang selalu berambisi dari dulu, tidak berubah. Belum mau menyerah kalau belum mendapat apa yang ia mau.

Tapi sayang, justru ambisinya itu membuat kisah asmara mereka kandas seblum di mulai, hingga meninggalkan luka dan kekecawaan yang mendalam bagi Varel juga penyesalan pada diri Adel.

"Biar aku saja!" Varel menarik lengan Adel supaya mundur.

"Aku tidak yakin kamu bisa. Kamu cukup perhatikan saja dulu!" sambung Varel. Dengan cekatan ia mulai mengiris wortel dan lainnya. Adel yang memperhatikannya menjadi merasa malu sendiri.

"Aku boleh bantu?" tanyanya menawarkan diri.

Varel menoleh, "Hem," ia mengangguk.

"Cuci ini!" Varel meminta Adel untuk mencuci sayur yang baru saja ia potong. Dengan senang hati Adel melakukannya dengan sesekali ia melirik pria itu yang sedang serius memasak.

"Ya ampun, Adel. Kenapa dulu kamu sia-siakan dia?" batin Adel menyesal.

"Kenapa?" tanya Varel yang menyadari di perhatikan oleh Adel.

"Ah tidak," sahut Adel cepat.

"Om, dulu perasaan tidak bisa masak. Kok sekarang jadi pandai masak begini?,"

Varel tak menyahut, membuat Adel mencebik karen lagi-lagi diabaikan. Perasaan dulu tak sedingin ini orangnya, pikirannya kembali melayang ke masa lalu. Dimana Varel adalah pribadi yang menyebalkan sekaligus menyenangkan.

"Hari ini rencana mau kemana?" tanya Varel tiba-tiba.

"Nggak kemana-mana kayaknya. Kenapa?" tanya Adel.

"Bantu aku bersih-bersih halaman!" pinta Varel.

Adel tersenyum, "Baik!" ucapnya senang. Ia langsung menutup mulutnya karena malu ketahuan terlalu senang. Bagaimana tidak senang. Akhir-akhir ini mereka lebih sering bicara satu sama lain meski masih canggung dan sedikit kaku.

Varel yang mendengarnya hanya bisa menyembunyikan senyumnya, "Ck, dasar!" gumamnya lirih.

Terpopuler

Comments

Enung Samsiah

Enung Samsiah

hadeeeh kalian bikin gregettt ajeee,,,,

2024-02-05

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

deeeuuu Vareeellll ...
padahal elu juga seneng kaaan ?? 🤪🤪

2023-08-01

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

takapaaaah .... mie instan pake telor dan sayur mah sehaaattt .... 😅😅😅

2023-08-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Chapter 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98 (End)
99 Bab 99 ( bonchap 1)
100 Bab 100 (bonchap 2)
101 Bab 101 (bonchap 3)
102 Novel Sebatas Ibu Pengganti
103 Bonchap 4
104 Bonchap 5
105 Bonchap 6
106 Bonchap 7
107 Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Chapter 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98 (End)
99
Bab 99 ( bonchap 1)
100
Bab 100 (bonchap 2)
101
Bab 101 (bonchap 3)
102
Novel Sebatas Ibu Pengganti
103
Bonchap 4
104
Bonchap 5
105
Bonchap 6
106
Bonchap 7
107
Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!