Bab 3

Adel tampak mondar-mandir di dalam kamar. Jantungnya yang sejak tadi berdetak dengan cepat belum juga stabil.

Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut dalam situasi seperti ini.

"Ya ampun, dunia sempit sekali sih. Jauh-jauh ke sini karena mau menghindari dia eh sia-sia, gagal total!" gumamnya.

Adel duduk di tepi ranjang, "Kalau dia tinggal di sini, terus dimana istri sama anaknya? Apa... Mereka tinggal di sini juga? Atau... Di Jakarta dan dia di sini cuma karena pekerjaan aja? Iya kan? Buktinya cuma nyewa rumah aja, kalau sama anak istri harusnya di kasih rumah yang layak dong, nggak ngontrak?" Adel terus berpikir. Ia sempat ingin menyerah dan pergi saja rasanya tidak akan kuat jika harus ketemu terus dengan pria yang sampai saat ini masih menempati ruang di hatinya tersebut.

Tapi, ia ingat tujuannya ke kota tersebut, selain untuk menghindari Varel. Namun juga untuk memulai usaha. Ya, Adelia akan membuka butik di sana. Segala sesuatunya sudah ia persiapakan sejak masih berada di luar negeri. Memiliki usaha sendiri adalah cita-citanya sejak dulu. Tak heran jika saat kuliah Adel memanfaatkan otaknya yang pintar dengan mengambil dua jurusan sekaligus di dua kampus yang berbeda yaitu jurusan bisnis dan fashion designer.

Setelah tamat kuliah, Adel bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang mode selama dua tahun. Dan sekarang ia akan membangun sebuah butik dari hasil tabungannya selama bekerja.

"Aku harus hemat sekarang, nggak bisa keluar uang lebih banyak lagi buat sewa rumah lainnya yang mungkin lebih mahal harganya," gumam Adel mengingat kebutuhannya setelah ini akan lebih banyak untuk modal usahanya nanti.

Sebenarnya ia bisa saja minta kepada kakak iparnya yang kaya raya, tapi Adel tak mau melakukannya. Sudah terlalu banyak yang Bara lakukan untuknya, sudah waktunya ia mandiri.

"Ah nggak bisa! Kalau harus keluar dari sini, dia dong harusnya bukan aku, ngapain juga aku harus ngalah, aaarrgghh om Varel nyebelin emang, dari dulu nggak berubah!" gumamnya frustrasi.

Daripada pusing memikirkannya, Adel memilih mandi. Mungkin dengan mandi, pikirannya bisa sedikit lebih fresh.

Sementara Varel, pria itu sejak tadi hanya diam duduk di sofa ruang tamu. Sesekali ia melirik ke lantai atas. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.

Varel menghela napasnya dalam lalu berjalan menuju lantai atas. Ia berniat untuk membersihkan diri karena badannya terasa gerah. Ia membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.

"Aaarrgghh!" teriak Adel yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya. Rambutnya yang basah ia gulung ke atas menggunakan handuk sehingga leher jenjang dan putih miliknya terlihat sangat jelas.

Varel langsung melotot lalu tanpa sadar ia menelan salivanya melihat pemandangan indah di depannya. Belum juga hilang keterkajutannya tadi, kini di tambah lagi shock teraphinya.

"Balik badan!" teriak Adelia dengan mata melotot. Tangannya ia silangkan di dada.

Varel langsung memutar badannya membelakangi Adel.

"Om ngapain ke sini? Mau mesum ya?" tuduh Adel.

"Eh sembarangan kalau ngomong. Ini kamarku, kamu yang ngapain di sini?" sahut Varel dengan tetap membelakangi Adel. Jantungnya berdebar kencang. Kalau saja Adel melihatnya menelan ludah susah payah, pastilah wanita itu akan semakin murka.

Adel mencebik, ia merutuki kebodohannya yang tak mengunci pintu kamar tadi.

"Om keluar dulu, aku mau pakai baju!" usir Adel.

"Aku mau mandi, gerah!" Tak mengindahkan permintaan Adel, Varel langsung berjalan miring, melewati Adelia tanpa berani menoleh.

"Eh mandinya kan bisa di kamar lain!" teriak Adel namun terlambat, Varel sudah melesat masuk ke dalam kamar mandi.

"Ck, dasar mas um!" Adel meneriaki Varel yang baru saja menutup pintu kamar mandi.

Sekitar lima belas menit kemudian, Varel keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya karena ia pikir Adel sudah selesai dengan urusan ganti bajunya dan sekarang wanita itu berada di luar kamar.

Namun, ternyata wanita itu masih belum memakai bajunya, wanita itu terlihat sibuk dengan kopernya sambil menggerutu tak jelas.

"Ngapain kamu?" tanya Varel sambil berkacak pinggang.

Adel menoleh, ia menelan salivanya spontan saat melihat Varel bertelanjang dada dengan rambut setengah basah.

"Stop! Jangan mendekat!" teriaknya membuat langkah kaki Varel langsung terhenti.

Adel kembali fokus kepada kopernya, tangannya terus mengotak-atik koper tersebut, "Duh, gimana ini. Kok susah banget bukanya, perasaan udah benar kodenya. Kok tetap nggak bisa di buka sih," gumamnya.

Varel hanya melihatnya sambil bersedekap," Butuh bantuan?" tanyanya tanpa ekspresi.

"Nggak!" Jawab Adel cepat.

Varel yang melihat Adel terus menggerutu karena kopernya tak kunjung terbuka, akhirnya mendekat berniat membantu.

Tesss!

Setetes air jatuh ke tangan Adel yang sedang mengutak-atik koper. Ia menoleh dan memdapati Varel sudah berdiri di sampingnya.

Adel langsung bereaksi, ia langsung berdiri, "Mau ngapain?" ucapnya sambil berdiri dan berjalan mundur. Namun sayang, ia kehilngan keseimbangan karena kakinya kepentok ranjang. Tak ingin jatuh, Adel meraih apapun yang bis ia raih untuk pegangan, dan ternyata yang ia tarik adalah handuk yang melilit pinggang Varel.

BRUK!!!

Adel tetap terjatuh di atas ranjang dan...

"Arrrgggghhh," teriak mereka bersamaan. Varel langsung menutup aset masa depannya dengan menggunakan kedua tangannya, sementara Adel menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Napas keduanya memburu seperti habis lari maraton.

"Dasar, me sum! Keluar cepat! Keluar!" teriak Adel histeris.

"Kau yang me sum! Kenapa menarik handukku?" Varel tetap tak mau di salahkan.

"Keluar!" teriak Adel tanpa membuka wajahnya.

Varel berdecak, ia mengambil handuknya dan kembali melilitkannya di pinggang. Tetap berusaha terlihat santai, padahal hatinya tak karuan.

Duk!

Saat Varel melangkah hendak pergi, kakinya justru kesandung kaki Adel yang menjuntai ke lantai. Tak ingin jatuh tersungkur ke lantai, Varel memilih menjatuhkan diri di ranjang yang empuk, pikirnya cepat.

Namun, Bukan kasur yang ia timpa, melainkan tubuh Adelia.

Adel membuka wajahnya, karena merasa berat dan tetap saat itu juga ia melihat wajah Varel yang sedang berada di atasnya. Sesaat ia terpaku pada wajah yang ia rindukan di depannya, pun dengan Varel yang kini menatapnya lekat. Terutama pada bibir merah Ade. Masih teringat jelas di kepalanya bagaimana rasa bibir wanita tersebut.

Melihat jakun Varel yang naik turun karena menelan salivanya, Adel langsung memukul dada pria tersebut.

"Aaaarrgghhh! Dasar, me sum!" teriak Adel.

Duk,

"Awww!"

Varel meringis sambil memegangi tongkatnya yang baru saja di tendang oleh Adelia.

"Jahat! Ini aset masa depan gue!" teriak Varel di sela-sela rasa linunya.

Terpopuler

Comments

🍁 ¢ᖱ'D⃤ ̐Nuyy ☕🏠⃟🌹

🍁 ¢ᖱ'D⃤ ̐Nuyy ☕🏠⃟🌹

astaga malah pada geluddd 🤣🤣🤣

2024-10-23

0

Uthie

Uthie

seru 👍😁

2024-06-29

1

Rini Musrini

Rini Musrini

🤣🤣🤣🤣🤣mau menghindar malah ngantuk satu rumah bahkan satu kamar

2024-05-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Chapter 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98 (End)
99 Bab 99 ( bonchap 1)
100 Bab 100 (bonchap 2)
101 Bab 101 (bonchap 3)
102 Novel Sebatas Ibu Pengganti
103 Bonchap 4
104 Bonchap 5
105 Bonchap 6
106 Bonchap 7
107 Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Chapter 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98 (End)
99
Bab 99 ( bonchap 1)
100
Bab 100 (bonchap 2)
101
Bab 101 (bonchap 3)
102
Novel Sebatas Ibu Pengganti
103
Bonchap 4
104
Bonchap 5
105
Bonchap 6
106
Bonchap 7
107
Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!