Varel menoleh ke arah Adel dan Gema sebelum ia masuk, "Kemarin Rasel, sekarang siapa lagi itu, dasar genit!" ucapnya dalam hati.
"Dengar Molly, kamu jadi perempuan harus punya prinsip, jangan suka merayu pria, jangan genit! Contoh mommimu, dia tidak pernah macam-macam," ucap Varel kepada kucing berjenis ke lamin peremouan tersebut. Ia menahan sesutu yang ia sendiri tak tahu itu apa. Yang jelas, kini hatinya terasa mengganjal tak enak.
"Meooooww," Molly mengeong, seolah ia tahu apa yang di katakan oleh Varel.
"Pintar!"
"Bermainlah tapi awas jangan buat rumahku berantakan, kau tahu aku paling tidak suka kekacauan. Dan juga, jangan naik ke lantai atas, di sana tempat terlarang, ingat Molly, TER.. LA...RANG!" ucapnya sebelum melepas Molly dari kandangnya yang di bawa dari apartemen Andini.
Varel bergegas ke dapur untuk mencuci tangan dan mengambil minum.
Sekembalinya dari dapur, Varel duduk di sofa ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Ia menyibak sedikit gordyn untuk melihat dua manusia berbeda jenis kelamin itu masih asyik mengobrol.
"Enam tahun di luar negeri buat kamu berubah, dulu kamu nggak segenit itu," batin Varel. Padahal yang di bilang genit hanya mengobrol biasa saja di luar sana.
Gema yang melihat jika Varel mengintip dari celah Gordyn menjadi tidak enak.
"Apa sebaiknya saya pamit saja? Sepertinya kakak kamu sedang capek, takut ganggu," ucap Gema.
"Tidak apa-apa, kak. Nggak ganggu siapa-siapa kok, kan nggak ribut-ribut kita, nggak bikin huru-hara. Lagian dia bukan kakakku," sahut Adel.
"Lalu dia..."
"Saudara! Iya saudara, bisa di bilang kakak juga sih. Intinya masih keluargalah. Kakak iparnya juga kakak ipar aku," ucap Adel cepat sebekum Gema salah paham.
"Udah nggak usah di pikirkan, nggak penting kok. Lanjut saja ngomongin pekerjaannya, abaikan yang tidak bersangkutan," lanjut Adel.
Mereka pun kembali mengobrol ngalor ngidul membahas butik yang akan di buka di selingi candaan-candaan kecil yang membuat mereka sesekali tertawa. Tanpa sadar tawa mereka membuat pria di dalam sana merasa kepanasan meski ac ruangan tersebut sangat dingin.
🌻🌻🌻
Malam hari...
Saat Adel kembali sibuk dengan beberapa desain gaun pengantinnya, tiba-tiba ada seekor kucing masuk ke dalam kamarnya karena pintunya tidak tertutup dengan rapat.
"Meooow!" Molly bejalan masuk.
Adel menoleh ke suara, "Eh kok ada kucing, lucu sekali!" ia menghampiri kucing tersebut lalu membopongnya.
"Lucu banget sih, lembut banget bulu kamu," Adel mengintip ke luar kamar, siapa tahu ada yang mencari kucing tersebut, pikirnya.
Adel membawa Molly ke ranjang. Sejak dulu ia memang menyukai kucing, berbeda dengan Varel yang tidak menyukai binatang menggemaskan tersebut.
" Kok kamu bisa nyasar ke sini sih, nanti pemilik kamu nyariin. Kita main-main sebentar ya nanti baru aku cariin pemilik kamu," ucap Adel. Ia sedikit merasa aneh karena rumah tersebut terbilang jauh dari tetangga. Tapi mungkin saja kucing itu main kejauhan hingga nyasar, apalagi ini sudah malam, pikirnya.
Adel terus mengajak Molly bermain, kucing itu sangat menggemaskan dan selalu nurut dengannya padahal ini kali pertama mereka bertemu.
Sementara di lantai bawah, Varel sedang kebingungan mencari kucing yang baru sore tadi ia bawa pulang tersebut.
"Ya ampun Molly, kamu dimana sih?" gumamnya mencari di setiap kolong ruang tamu yang ada.
"Jangan-jangan Molly pergi keluar lagi, aduh ini kan udah malam. Kalau sampe hilang, bisa-bisa Andini marah. Nggak, dia nggak pernah marah sama aku, tapi pasti dia akan menangis tiga hari tiga malam nggak berhenti kalau sampai Molly hilang," Varel merasa frustrasi.
Varel keluar rumah dan mencari di sekitar rumah namun tak kunjung ketemu. Akhirnya ia memutuskan kembali mencari di dalam. Setiap sudut rumah tak luput dari pencariannya, mulai dari ruang kerja, tempat gym, dapur dan toilet. Namun tak juga ketemu kucing berbulu putih bersih tersebut.
"Apa mungkin dia ke atas?" Varel mendongak, menatap lantai du rumah tersebut.
"Ayo, kita cari siapa pemilik kamu. Meskipun aku menyukai kamu dan pengin kamu tetap di sisni jadi teman aku, tapi pemilik kamu pasti lagi bingung nyariin kamu,"
Varel baru melangkahkan kakinya di beberapa anak tangga, suara Adel terdengar semakin mendekat.
"Om? Ngapain di sini? Mau naik? Ingat peraturannya," ucap Adel saat mereka berpapasan.
"Siniin si Molly!" Varel mengambil Molly dari dekapan Adel.
"Kucing ini punya om?" tanya Adel.
Varel tak menyahut, ia sibuk meneliti tubuh Molly, "Kau baik-baik saja kan? Dia tidak menyakitimu kan?" ucap Varel kepada Molly seraya melirik Adel.
"Ck, aku nggak gigit kucing kali, om yaelah!" cibir Adel memutar bola matanya malas.
"Lain kali kalau mau bawa Molly bilang, jangan main ambil aja!" ucap Varel.
"Dia datang sendiri ke kamar aku tadi, bukan aku yang nyulik! Ini beneran kucing om?" tanya Adel lagi.
"Bukan urusan kamu," sahut Varel. Ia memutar badan dan melangkah menuruni anak tangga smbil mendekap Molly.
"Sejak kapan om suka kucing? Perasaan dulu om tidak suka kucing," tanya Adel.
Varel menghentikan langkahnya lalu menoleh, "Waktu yang terlewatkan bisa saja merubah segalanya," ucapnya penuh arti dan kembali menuruni tangga.
"Lain kali jangan naik ke atas, aku kan udah bilang dilarang ke atas, kenapa kamu bandel?" Varel menasehati Molly, kucing itu langsung mengeong, entah mengiyakan ucapannya atau menolaknya karena sepertinya ia menyukai Adelia.
Saat Adel hendak kembali ke kamar, bel pintu berbunyi, namun rupanya Varel sudah membuka pintu terlebih dahulu.
"Permisi, pesanan atas nama Adelia, benar ini alamatnya?" rupanya seorang driver goo food yang datang.
"Iya benar," sahut Varel.
"Pesanan atas nama Adelia ya pak? sebentar pak, saya ambil uangnya!" seru Adel, Varel langsung menoleh. Adel segera berlari ke kamarnya untuk mengambil uang karena ia mesan makanan Via Cod.
Beberapa saat menunggu, Adel tang kunjung kembali. Pada akhirnya Varel yang membayarnya," Berapa, pak?" tanya Varel.
"Seratus lima belas ribu, Mas,"
Varel merogoh kantong celananya,"Ini, kembaliannya buat bapak saja," ucap Varel.
"Terima kasih, mas. Permisi!"
Varel mengangguk lalu masuk ke dalam.
Sekembalinya Adel dari mengambil uang, ternyata makanannya sudah berada di meja dan drivernya sudah menyalakan sepeda motornya hendak pergi.
"Pak tunggu, uanganya!" seru Adel buru-buru.
"Sudah di bayar sama suaminya neng barusan," sahut Abang drivernya.
Adel menoleh ke dalam, Varel hanya diam melintas dari dapur menuju ke sofa.
"Tapi dia bukan..." ah nggak penting juga menjelaskan. Ia tak jadi melanjutkan kalimatanya.
"Oh ya udah, makasih ya, Pak!" ucap Adel lalu menutup pintu.
💕 Like dan komemnya jangan lupa, vote juga boleh banget.. Salam hangat author 🤗❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
sherly
hadew hati ngk bisa boong kalo msh ada rasa... sementara varel dah ada Andini...
2023-12-11
1
Musyarofah Salim
tinggal serumah bukan muhrim semoga tidak ada syaithon ya
2023-10-01
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
ada yg lagi panas kebakaran .... ❤️🔥❤️🔥❤️🔥
😁😁
2023-08-01
0