Adel tersenyum banggga melihat hasil masakan di meja makan. Bangga karena dia yang telah membantu pria Varel hingga tersaji beberapa menu makanan yang begitu menggodanya untuk segera menyantap mereka.
Varel datang dengan membawa mangkuk besar yang berisi nasi merah. Adel hanya berdiri tanpa berani untuk duduk sebelum Varel menyuruhnya.
"Duduk! Nggak mau makan?" tanya Varel.
"Ah iya!" jawab Adel dan ia langsung duduk.
"Ini nasinya nggak ada yang putih?" tanya Adel dan Varel menggeleng.
"Makan yang banyak, biar nanti nggak ada alasan kehabisan tenaga pas bersih-bersih," ucap Varel yang tak mengindahkan pertanyaan Adel.
"Baik," sahut Adel tanpa protes. Dengan semangat ia mengambil nasi dan beberapa menu makanan.
"Ya ampun, emang kayaknya aku nggak ada bakat masak deh, sama ini rasanya beda jauh bagai langit sama bumi. Aku emang di takdirkan untuk makan doang sepertinya bukan untuk masak," gumam Adel merasa prihatin dengan dirinya sendiri.
Varel hanya tersenyum tipis mendengarnya," Jangan sambil bicara terus, nanti tersedak," peringatnya.
Adel hanya tersenyum dan manut. Dalam hati ia merasa senang sekali karena kali ini mereka makan berdua tanpa ada orang ketiga. Adel jadi membayangkan kalau mereka seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah, sweet sekali, pikirnya.
🌻🌻🌻
Seperti rencana sebelumnya, selesai makan mereka berdua mulai untuk membersihkn halamn rumah. Varel tampak sedang merapikan tanaman yang tinggi dengan memotong sebagian rantingnya. Sementara Adel tengah mencabuti rumput liar meskipun terlihat kaku karena tak terbiasa melakukannya.
Sesekali Varel meliriknya dan menggelengkan kepala melihat Adel yang terus meringis sambil mengusap-usap tangannya yang kotor lalu kembali mencabut rumput.
"Aaarrrgghh!" tiba-tiba, Adel berteriak saat tangannya tak sengaja mencabut rumput bersamaan dengan cacing tanah. Ia langsung melemparnya dan berlari menyembunyikan wajahnya di punggung Varel sambil kakinya terus di hentakkan ke tanah karena merasa geli dan merinding.
Varel menoleh, "Kenapa?" tanyanya.
"Itu, ada cacing!" tangan Adel menunjukk ke arah ia melempar cacing tadi tanpa menoleh, ia tetap menyembunyikan wajahnya di punggung Varel.
Varel berdecak, "Cacing doang, nggak akan gigit kamu," ucapnya seraya tersenyum tipis.
"Ish kan geli, om. Jijik juga, hiii!" Adel menggedikkan bahunya merasa merinding.
"Enam tahun di luar negeri benar-benar buat kamu berubah ya? Dulu aja mainnya di sawah, waktu di kampung uwak. Sekarang lihat cacing aja takut," ucap Varel.
Adel terdiam, apa benar dia berubah. Bukankah Varel yang berubah, pikirnya.
"Baju aku kotor!" ucap Varel.
Adel langsung melepas tangannya yang memegangi kaos putih milik Varel, "Maaf, nanti aku cuciin!" ucapnya.
Varel tak menyahut, ia berjalan untuk mengambil sapu dan serok sampah lalu menyerahkannya kepada Adel, "Ini!" ucapnya.
"Apa?"
"Sapu, bisa nyapu kan? Jangan bilang nggak bisa!"
"Bi-bisa dong! Masa nyapu aja nggak bisa!" seru Adel tak mau di remehkan. Ia langsung mengambil sapu lidi dari tangan Varel.
"Nyapi doang masa ngak bisa!" gumam Adel memberengut sambil menyapu. Namun, rumput yang yadi ada cacingnya ia hindari.
Saat Adel menyapu agak jauh darinya, Varel memanggilnya, "Ini!" ia menunjuk daun-daun yang baru saja ia potong.
Adel mendekat dan menyapunya, saat hendak pergi ke tempat lain, Varel kembali memjatuhkan daun, "Ini masih!" ucapnya iseng.
Tanpa protes, Adel menyapunya lagi. Namun, Varel selalu melakukan hal yang sama yang mana lama-lama membuat Adel kesal sendiri.
"Iseng banget sih, capek tahu! Dari tadi di suruh mondar mandi sana sini! Ini juga sengaja kan jatuhin daunnya terus makanya nggak bersih-bersih! Nih, om. Aja yang nyapu, capek!" Adel meletakkan sapu yang ia pegang, lalu duduk.
"Baru segitu aja udah ngeluh!" ucap Varel. Ia mengambil alih sapu lalu tak berselang lama halaman sudah terlihat bersih.
"Om kenapa menyusahkan diri sendiri sih, kalau untuk bayar pembantu sama tukang kebun aku kira nggak bakal buat om bangkrut. Kenapa memilih melakukan semuanya sendiri? Kayak kurang kerjaan aja!" ucap Adel seraya meluruskan kaki putihnya lalu memukul-mukulnya karena pegal.
Varel tak menyahut, ia memilih berjalan mengambil selang untuk menyiram tanaman.
"Ish nggak di jawab!" cebik Adel karena kesal.
"Sepertinya kau hanya ingat dengan mimpimu yang lain dan melupakan mimpimu yang satu ini," batin Varel. Ia masih ingat jika dulu Adel pernah bermimpi memiliki keluarga bahagia dengan rumah impian dimana kelaurga kecilnya sendiri yang merawat rumah tersebut. Ia pernah mengatakan jika ingin menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga yang baik, yang akan tetap mengurus keluarganya sendiri dengan kedua tangannya.
Varel tersenyum kecut mengingatnya. Ia kini menyadari waktu memang dapat merubah segalanya. Ia menoleh saat Adel tengah melamun, entah apa yang wanita itu pikirkan saat ini.
"Bantuin sini, malah melamun!" dengan isengnya, Varel menyemprot Adel menggunakan selang di tangannya.
"Ih, iseng banget sih, om!" Adel berdiri lalu mendekat.
"Awas ya!" Adel merebut selang dari tangan Varel lalu membalas menyemprot pria tersebut.
"Hah, kok balas sih!" seru Varel.
"Biarin, biar impas! Masa aku doang yang basah!" adel terus menyemprot Varel sambil tertawa.
"Awas ya kamu!" Varel berusaha merebut selang dari tangan Adel , namun wanita itu memyembunyikan selang tersebut di belakanganya.
"Siniin nggak! Aku mau nyiram tanaman!" ucap Varel.
"Nggak! Coba ini ambil kalau bisa!" tantang Adel.
"Kamu!" Varel maju mendekat dan menarik pinggang Adel hingga menempel dengannya. Tentu saja hal itu membuat Adel membeku hingga tak sadar saat Varel mengambil selangan dari tangannya.
"Yes dapat! Rasain ini, haha!" Varel berhasil mengambil selangnya dan kembali menyemprot Adel.
Alhasil bukan tanaman yang menjadi basah karena si siram, melainkan baju merka yang basah kuyup. Sejenak lupa dengan masalah diantara keduanya akibat masa lalu, Varel dan Adel tampak bahagia bermain air berdua seperti anak kecil.
"Sini dong gantian!" teriak Adel berusaha mengambil selang dari tangan Varel yang sengaja di naikkan ke atas kepala.
"Ini coba ambil kalau bisa, makanya tumbuh ke atas!" ledek Varel.
"Ish, body shaming tuh nggak boleh!" Adel berjinjit-jinjit untuk meraih tangan Varel namun ia justru kesanding selangnya dan jatuh di dada Varel. Spontan, tangan kanan Varel langsung melingkar di pinggang Adel dengan tangan kiri yang masih di atas kepala dengan selang yang mengeluarkan air seperti air mancur.
Adel hendak mundur, Namun Varel malah semakin menarik pinggangnya sehingga semakin menempel di tubuhnya.
Adel mendongak, matanya terus mengedip karena tersiram air tanpa sadar jika Varel ternyata sedang menatapnya lekat dalam diam. Saay menyadarinya, Adel mematung dan membalas tatapan Varel. Sesaat mereka hanya saling memandang dalam diam. Terlihat dengan jelas dari sorot keduanya yang saling merindukan sebenarnya.
Adel langsung menelan salivanya dengan susah payah ketika Varel mulai menundukkan wajahnya perlahan.
Adel langsung melengos, berusaha menghindar. Namun, Varel menarik dagu wanita tersebuy hingga kembali menatapnya.
Adel meremat kuat celana training yang ia kenakan saat perlahan bibir mereka semakin dekat. Jantungnya sudah berdegub sangat kencang dan ia yakin Varel bisa merasakan detak jantungnya tersebut.
Namun, saat bibir mereka nyaris menempel satu sama lain, terdengar suara mobil masuk ke halaman, yang mana membuat keduanya tersadar dan langsung jaga jarak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Enung Samsiah
wiiiihhh,,, ada iklan lgi,, ,
2024-02-05
1
🎀⍣⃝ꉣꉣNurrul P.❀∂я
wkwkwk 🤭😂
2023-10-04
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
ayo pandang2an ....
ntar malem sama2 gak bisa tidur lhoh .... 😅😅
2023-08-02
0