Menjelang sore hari, Adel merasa sesuatu telah menindih tubuhnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Apa ini?" gumamnya saat tangannya menyentuh sesuatu.
Di angkatnya sesuatu yang ia sentuh tersebut, ia langsung mengerjapkan matanya demi memperjelas penglihatannya. Sontak matanya langsung membulat, "Kaki?" gumamnya lagi. Ia menyingkirkan kaki yang menindih tubuhnya tersebut. Pria tersebut melenguh lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Adel.
Adel menoleh ke belakang dengan tangan meraba-raba, ia semakin terkejut saat menyentuh sesuatu di balik boxer seseorang dan....
Aaaarrrrgghhhh!!!
Adel langsung bangun dan menutup wajahnya, "Ya ampun apa yang barusan aku pegang itu?" gumam Adel, tubuhnya langsung bergetar merinding membayangkan sesuatu yang kental, yang baru saja ia sentuh tersebut.
Setelah menarik napas beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya, Adel menunduk dan meneliti tubuhnya dengan meraba-rabanya, takut jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya.
"Masih lengkap, aman kan ya? Aku nggak di Pera wanin kan ya?" gumamnya sambil terus meraba dada dan sekitarnya hingga ke bawah, "Masih aman, nggak sakit, katanya kalau habis di gituan kan sakit," gumamnya lagi sedikit lega.
Lalu, pandangan Adel kembali tertuju pada pria yang kini sedang tidur di ranjangnya tersebut.
"Heh. Bangun! Kenapa kamu bisa tidur di kamarku?" ucap Adel. Namun, pria yang kini tidur membelakanginya tersebut tak tak bangun.
"Ih dasar! Kebo nih orang. Woi bangun!" Adel menabok pria kurang ajar yang berani tidur di kamar bahkan satu ranjang dengannya tersebut dengan bantal.
"Bangun woi! Siapa yang nyuruh kamu tidur di kamarku, berani sekalu kamu!" Adel terus memukul pria tersebut dengan bantal.
"Apa sih, berisik banget? Ganggu orang tidur aja, lagian kenapa emang kalau aku tidur sini? Kamar kamar gue! Suka-suka guelah!" ucap orang tersebut . Ia mengusap-usap telinganya sambil bangun dan duduk dengan kesadaran yang belum sempurna, matanya masih setengah terpejam.
"Astaga!" Adel menutup mulutnya yang seketika terbuka begitu menyadari siapa pria yang ada di depannya tersebut. Jantungnya langsung berdegub sangat kencang.
Pun dengan pria tersebut, yang tak lain adalah Varel. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali demi memastikan kalau dirinya tidak salah lihat atau sedang berhalusinasi.
"Kamu?!" ucap mereka secara bersamaan saat mereka menyadari satu sama lain siapa orang yang kini sedang berada di depan mereka.
🌻🌻🌻
Varel dan Adel kini tengah duduk di ruang tamu dengan menjaga jarak dan masing-masing memasang wajah dingin. Yang jelas perasaan mereka sama-sama syok karena setelah sekian tahun mereka tak bertemu dan saling memutus komunikasi apapun antara mereka dan kini tiba-tiba mereka bertemu dengan cara seperti ini.
Di depan mereka berdua duduk sepasang suami istri pemilik rumah tersebut.
"Jadi ini bagaimana? Kenapa kalian menyewakan rumah ini kepada orang lain sementara saya sudah memperpanjang kontrak rumah ini dua tahun ke depan," ucap Varel menatap seasang suami istri tersebut.
"Aku juga udah bayar uang sewanya," Adel tak mau kalah karena memang ia sudah membayar uang sewa rumah tersebut sejak ia masih berada di luar negeri.
Varel menatap Adel, dari sorot matanya terlihat pria itu menyimpan benci, dendam dan rindu yang menjadi satu. Wanita yang pernah mengisi hatinya tersebut langsung melengos, tak berani membalas tatapannya.
" Begini tuan, nona. Sepertinya terjadi kesalahpahaman. Istri saya tidak tahu jika tuan memperpanjang kontrak rumah ini, jadi dia membuat iklan di Internet untuk menyewakan rumah ini," jelas pria berbadan gempal dan tak begitu tinggi itu.
"Iya tuan. Saya tidak tahu," imbuh sang istri yang kini tengah hamil tua tersebut.
"Bagini saja... Nona, uang nona akan saya kembalikan,dan nona bisa mencari rumah lain untuk di sewa,"
"Tapi, uangnya udah aku pakai sayang, buat booking rumah sakit satu lantai buat lahiran anak kita," potong istrinya cepat. Pria tersebut langsung mengusap wajahnya kasar demi menahan kekesalannya karena sang istri yang sok sultan, ingin melahirkan seperti para artis yang bayarannya em-eman perbulan tersebut.
"Lagian saya juga nggak mau uang itu di kembalikan, udah deal ya deal, saya bakal sewa rumah ini setahun!" kekeh Adel.
"Kalau begitu, uang tuan saja yang saya kembalikan, bagaimana?" pemilik rumah beralih menatap Varel.
"Oh tidak bisa! Saya menyewa rumah ini sudah empat tahun lebih, dan ini balasan kalian? Biar dia saja yang keluar dari sini, toh uang dia hanya separoh dari uang sewa saya, dia cuma setahun kan sewanya?" Varel menunjuk Adel. Gadis itu langsung melotot ke arahnya.
"Nggak bisa gitu dong, om! Aku juga udah keluar banyak buat sewa dan ini tuh rumah impian aku dari dulu, om tahu itu kan?" ucap Adel ngegas.
"Nggak tahu!" sahut Varel cepat.
Adel mencebik, jelas-jelas dulu mereka sering membahas dan browsing lihat model-model desain rumah. Mungkin pria ini sudah melupakan semuanya tentang mereka, pikir Adel.
"Om yang ngalah kenapa? Om kan ada uang banyak, kenapa harus berdebat hanya karena uang yang nggak seberapa buat om. Om bahkan bisa beli atau bangun rumah yang lebih bagus dari ini, bahkan istana!," ucap Adel.
"Kamu juga, sekian tahun kerja di luar negeri, masa uang segitu aja bikin kamu miskin. Percuma ke luar negeri!" ledek Varel.
"Bukan soal uangnya, tapi ini rumah impian aku dari dulu! Aku udah mimpi tinggal di sini sejak lama, om ngertiin dong!"
"Nggak! Aku juga udah nyaman tinggal di sini, malas kalau harus cari tempat lain, kamu aja yang keluar dari sini!" kekeh Varel.
Adel yang kesal berdiri dan menatap Varel tajam. Pria itu tak mau kalah, ia juga berdiri dan balas menatap wanita tersebut.
"Nggak berubah! Keras kepala!" ucap keduanya bersamaan.
Entah ada dendam apa dua manusia yang sama-sama keras kepala ini sehingga kini malah mereka saling perang dingin seperti ini. Selasa suami istri pemilik rumah tersebut terlihat bingung melihat perdebatan sengit keduanya. Padahal perkara sepele, uang mereka akan di kembalikan salah satu dan salah satunya bisa menyewa tempat lain. Namun, mereka sama keras kepalanya tidak ada yang mau mengalah.
" Jadi, ini bagaimana? Uang siapa yang harus saya kembalikan?" tanya pemilik rumah di sela-sela perang dingin kedua orang tersebut.
"Dia!" ucap Varel dan Adel bersamaan sambil menunjuk wajah satu sama lain. Membuat pemilik rumah serba salah.
"Dasar keras kepala! Nggk berubah!" hardik Varel.
"Bodo!" balas Adel jutek.
"Tuan, nona," panggil pemilik rumah.
"Apa?" tanya keduanya sewot. Pemilik rumah langsung diam.
"Aduh!" pekik istri pemilik rumah tiba-tiba seraya memegang perut besarnya.
"Eh itu istrinya kenapa?" tanya Adel yang melihat istri pemilik rumah meringis kesakitan.
"Sayang, sepertinya aku mau melahirkan. Perut aku mules karena mendengar mereka bertengkar. Sepertinya anak kita syok karena mereka!" ucap istri pemilik rumah. Yang mana membuat Adel dan Varel saling pandang lalu mengernyit bersaan.
"Gara-gara om. Nih. Kan ibunya jadi kontraksi. Anaknya takut tuh dengar suara om," tuduh Adel.
"Enak aja, gara-gara kamu tuh, anaknya migrain dengar suara cemprengmu kamu!" Varel tak mau di salahkan.
"Cukup!" teriak pemilik rumah dengan keras. Membuat Adel dan Varel langsup mengatup.
"Istri saya mau melahirkan, kalian malah sibuk bertengkar! Bisa-bisa anak saya lahir di sini gara-gara kalian!" ucap pemilik rumah ngegas.
Varel mengernyit, kenapa jadia galakan pemilik rumah, jelas-jelas mereka yang salah, pikirnya.
"Saya mau bawa istri saya ke rumah sakit, kalau kalian tidak ada yang mau mengalah, lebih baik kalian tinggal bersama di sini, permisi!" ucap pemilik rumah yang sebenarnya panik kerena istrinya akan melahirkan anak pertama mereka yang sudah mereka nantikan bertahan-tahun.
Varel dan Adel hanya bisa melongo melihat kepergian pemilik rumah sembari memapah istrinya. Kemudian mereka saling menatap.
"Pokoknya aku mau tetap tinggal di sini, titik!" ucap Adel.
"Aku juga! Titik titik titik!" Varel tak mau kalah.
Adel menghentakkan kakinya lalu memilih pergi meninggalkan Varel.
Varel menatap punggung Adel, ada perasaan yang aneh menghimpit dadanya saat ini, "Kenapa kau kembali?" batinnya bertanya.
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
andy pranata
udh pernah baca,tp pengen ngulang baca lg😀
2025-01-08
0
Dewa Rana
selasa apa sih Thor
2024-11-29
0
Dewa Rana
kok bisaa...???
2024-11-29
0