Adel langsung melangkah mundur satu langkah begitu mendengar Andini memperkenalkan diri sebagai calon istri Varel.
"Ma-maaf?" Adel sangat berharap ia salah mendengar meskipun kini jantungnya sudah sangat cepat berdetak karena terkejut.
"Namaku Andini, aku tunangan Varel, pria yang tinggal di rumah ini, dan kamu...?" sekali lagi Andini memperkenalkan diri dengan tenang meski hatinya juga bertanya-tanya kenapa ada wanita lain di rumah tunangannya tersebut.
Seketika tubuh Adel lemas, Rasanya ia seperti kehilangan pijakan kakinya saat ini. Seakan semua tulang-tulangnya lolos begitu saja fsri tubuhnya. Bak di sambar petir di siang bolong, dan juga seperti ada ribuan anak panah yang menancap tepat di hatinya saat ini juga secara bersamaan.
Bunga-bunga yang sejak kemarin bermekaran dihatinya layu seketika. Bahkan, ponsel di genggamannya hampir saja jatuh jika tidak segera di sadarkan oleh Andini.
"Kau baik-baik saja?" Andini mendekati Adel dan menyentuh pundak wanita tersebut.
Ia menatap Adel dengan perasaan aneh dan sedikit... Curiga melihat sorot mata Adel yang tidak bisa berbohong betapa shocknya dia saat ini.
"Eh, i..ya. Aku baik-baik saja, kok. Aku cuma sedikit kaget aja karena tiba-tiba ada orang di rumah. Aku Adelia, adiknya kak Syafira, bisa di bilang saudara Varel, iya saudara, jadi kau jangan salah paham karena aku di sini," ucap Adel berusaha setenang mungkin meski hatinya kini sudah hancur.
Saudara?
Hah, Memang itu kan yang bisa ia katakan? Tidak mungkin ia mengatakan jika dirinya adalah mantan kekasih tunangan wanita di depannya tersebut. Lagian, dia tidak berbohong, bukankah antara dirinya dan Varel memang tak pernah ada komitmen sebagai pacar dulu?
Lihatlah!
Bahkan mengajui sebagai mantan saja, Adel tak berhak karena memang bukan. Betapa menyedihkannya wanita tersebut.
"Oh adiknya Mas Bara dan mbak Syafira ya? Salam kenal ya, aku calon istrinya mas Varel," Andini mengulurkan tangannya. Ia sengaja mengatakn kalau dia calon istri Varel sekali lagi demi melihat ekspresi wajah Adel yang langsung berubah sejak pertama ia bilang tadi.
Dengan berusaha mengatur napasnya yang terasa tercekat di tenggorokan dan sekuat tenaga menekan rasa gemetarnya, Adel mengggerakkan tangannya untuk membalas jabat tangan Andini dan tersenyum.
" Maaf ya kalau aku buat kamu kaget. Sampai tangan kamu dingin begini. Aku biasanya langsung masuk saja soalnya bawa kunci cadangan rumah ini. Maaf ya, pasti mengagetkan kamu. Lagian mas Varel tidak ngasih tahu kalau ada kamu di sini, jadi aku pikir rumah kososng tadi, karena mas Varel baru akan sampai malam ini," lanjut Andini ramah.
" Oh begitu," hanya itu yang bisa Adel katakan. Bahkan wanita di depannya ini memiliki akses bebas masuk ke rumah tersebut. Tentu saja, karena dia calon istrinya! Adel tak tahu lagi harus bagaimana menyembunyikan rasa sesak di dadanya saat ini yanh semakin menjadi.
"Kau sedang apa?" tanya Adel berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dengan bersikap ramah.
"Oh aku sedang masak, udah lama aku nggak masakin mas Varel karena aku lagi di tempat nenek dan baru pulang hari ini," jawab Andini dengan ceria.
"Mau bantu?" lanjut Andini bertanya.
"A-aku...tidak bisa masak. Aku cuma mau ambil minum saja tadi, silahkan di lanjut masaknya," ucap Adel berbohong, ia meletakkan ponselnya di samping dispenser dan langsung mengambil air putih lalu pergi dari sana dengan tergesa.
Adel menghentikan langkahnya di depan pintu, ia menoleh, menatap punggung Andini yang kembali meneruskan masaknya.
Adel menggenggam erat gelas di tangannya, matanya yang terasa panas sejak tadi memejam dan...
Tes...
Cairan bening itu menetes di pipinya mewakili betapa sakitnya hatinya saat ini.
Adel segera berlari menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia langsung mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Andini menoleh, ia merasa ada yang aneh dengan Adel, apa mungkin wanita itu akan seterkejut itu tadi saat melihatnya. Bahkan saat ia memperkenalkan diri sebagai tunangan Varel wanita itu bukannya terlihat lega tapi justru sebaliknya.
"Mungkin hanya perasaanku saja," ucap Andini dalam hati seraya menghela napasnua dalam. Ia melanjutkan masaknya dengan semangat karena ia yakin tak lama lagi Varel akan sampai rumah. Ia sengaja tak memberi tahu Varel jika sudah kembali karena ingin memberi kejutan untuk pria berstatus sebagai tunangannya tersebut.
🌻🌻🌻
Sementara itu, Varel yang sebentar lagi akan sampai ke rumahnya tersenyum melihat paper bag berisi nasi goreng yang tadi sengaja ia beli saat melewati restauran langganannya. Daripada nanti harus masak untuk makan malam, ia memilih membeli saja untuk makan malamnya dan Adel nanti.
Membayangkan Adel yang saat ini pasti sedang kelaparan, pasti akan sangat senang sekali saat tiba-tiba ia pulang dan membawakan makanan. Karena Varel sengaja tak memberitahu Adel kepulangannya malam ini. Ia hanya memberitahu Andini kalau ia akan ke Jakarta selama dua hari kemarin saat Andini meneleponnya dan Andini mengatakan jika dirinya juga belum akan pulang, masih betah di rumah neneknya. Sehingga wanita tahu kalau Varel akan pulang malam ini. Sementara Adel, tak tahu sama sekali jika ridak di beritahu oleh Andini tadi.
Varel tak sabar ingin segera sampai rumah dan memberi kejutan untuk Adel dengan kepulangannya tersebut.
"Bocil! Tunggu aku, sebentar lagi sampai," gumamnya dalam hati.
🌻🌻🌻
"Bodoh! Bodoh bodoh! Bagaimana bisa kau terlalu percaya diri dengan berpikir kalau dia masih jomblo dan menunggumu, Adel. Buka matamu! Do bawah sana ada seorang wanita yang berstatus sebagai tunangannya," rutuk Adel ada dirinya sendiri.
"Kenapa kau begitu naif, Del. Bagaimana mungkin seorang pria yang pernah kau sakiti, kau harapkan masih mau mencintaimu dan rela menunggumu selama enam tahun. Kau terlalu naif!" Adel meremat kuat bantal gulingnya untuk meluapkan rasa sakitnya.
Adel mengambil boneka kecil yang dulu pernah Varel berikan untuknya, bonek yang selalu Adel bawa kemana-mana karena ukurannya yang mini.
"Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal kalau kau sudah punya calon istri? Kenapa? Kalau kau mengatakannya aku tidak akan banyak berharap dan jatuh cinta lebih dalam lagi sama kamu, bahkan sialnya lebih dalam dari dulu!" Adel bicara kepada bonek mininya itu seolah boneka tersebut adalah Varel.
"Tidak, bukan salahmu, tapi aku yang terlalu bodoh dan naif!" Adel tak bisa lagi membendung air matanya. Hatinya terlalu sakit mendapati kenyataan ini.
Dari awal memang Adel tak berharap Varel masih mencintainya. Lebih tepatnya tak berani berharap hingga ia memutuskan untuk menghindar, namun takdir berkata lain, mereka kembali di pertemukan.
Adel yang sudah menyerah akan cintanya, kembali memilik harapan saat ia mengira Varell masih sendiri. Perasaannya semakin kuat terhadap terhadap pria tersebut, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
"Kenapa kamu terlalu percaya diri kalau Dia masih menunggu kamu, Del. Kenapa?" lirih Adel dengan perasaan yang sudah hancur.
🌻🌻🌻
Varel yang sudah sampai langsung membuka pintu dengan tergesa. Samar-samar ia mendengar suara di dapur.
"Apa yang dia lakukan di dapur? Belajar masak? lagi?" gumamnya lirih yang mengira Adellah yang berada di dapur.
Sambil kakinya melangkah masuk ke dapur, Varel berseru, "Udah nggak usah masak, nih aku bawain..." Varel tak menyelesaikan kalimatnya saat menyadari kalau bukan Adel yang berada di depannya.
"Andini...?" gumamnya dengan tubuh yang seketika mematung di tempat.
Andini menoleh dan tersenyum, "Bawain apa? Hemm?" tanyanya lembut seraya tersenyum. Detik kemudian ia berjalan cepat mendekati Varel dan langsung memeluk pria tersebut, "Aku kangen, mass," ucapnya lembut.
Sekian detik Varel tak membalas pelukan Andini, tubuhnya terasa kaku seketika. Tangganya menggantung bebas dengan tetap menenteng paper bag berisi nasi goreng tadi.
"Mas Varel nggak kangen sama aku?" tanya Andini yang merasa Varel tak menyambutnya dengan baik karena tak membalas pelukannya.
Mendengar pertanyaan Andini, perlahan Varel mengangkat tangannya dan melingkar di belakang tubuh Andini, "Iya, kangen," ucapnya kemudian setelah berhasil menguasai diri.
Mendengarnya, Andini tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya, "I miss you more!" ucapnya.
Si al, pemandangan tersebut terekam jelas oleh mata Adelia yang hendak mengambil ponselnya yang tertinggal sejak tadi, matanya berkaca-kaca, terasa panas kembali. Ia hanya bisa berdiri mematung, menyaksikan pria yang ia cintai tersebut memeluk tunangannya dengan perasaan yang semakin hancur, dan kini ia semakin yakin pernyataan Andini tentang statusnya tadi bukanlaj bualan melainkan kenyataan.
Adel melangkah mundur dengan langkah gamang sebelum Andini dan Varel menyadari keberadaannya. Namun, ternyata Andini lebih duku melihatnya, "Adel...?" gumamnya.
Mendengar nama Adel di sebut, Varel langsung melepas pelukannya lalu menoleh. Melihat Adel dengan wajah yang tidak bisa ia artikan, Varel hanya bisa diam dengan perasaan tak karuan.
"Maaf ganggu, a... Aku cuma mau ambil ponselku yang tertinggal,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Jaspit Elmiyanti
Farel harus tegas , kasihan adel dan Andini, sama sama tersakiti
2024-12-13
0
Alivaaaa
ikut sakit hatiku 💔🤧
2023-10-30
1
AR Althafunisa
sakitttt... Dari luka yang tak berdarah 💔😭😭😭
2023-10-18
0