"Ah ya ampun. Baru sehari tinggal di rumah ini saja udah sial. Tadi tangan, sekarang matakupun sudah tercoreng, nggak suci lagi... Kualat nih kayaknya gara-gara aku nggak nurut sama kakak," gumam Adelia. Ia menggedik ngeri jika ingat apa yg baru saja terjadi di kamar tersebut.
" Gara-gara koper sia alan emang. Tadi aja di buka susahnya minta ampun. Eh sekarang langsung bisa," gerutunya sambil mengacak -acak isi kopernya mencari piyama tidurnya.
Tiba-tiba, Adelia menghentikan kegiatannya sejenak, tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa panas merona. Tatapan intens Varel kepadanya tadi sukses membuat jantungnya berdegub sangat kencang.
Dan gerakan bibir pria itu yang semakin mendekat ke bibirnya secara alamiah tadi membuat aliran darahnya terasa membeku. Jika saja ia tidak menendang aset berharga milik pria itu, mungkin saja sesuatu sudah terjadi diantara mereka. Mungkin saja ia akan kembali merasakan hangatnya bibir pria itu seperti beberapa tahun yang lalu.
"Ya ampun. Mikirin apa sih, ngeres banget nih otak. Ingat, Del, dia udah nikah, jangan jadi pelakor deh!" Adel menoyor kepalanya sendiri.
Adelia segera mengambil piyamanya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk memakainya.
🌻🌻🌻
"Gila tuh cewek emang, main tendang aja. Ngilu gini rasanya. Awas aja kalau sampai gue nggak bisa berkembang biak gara-gara tendangan mautnya tadi. Nggak berubah emang dari dulu, nyebelin, ngeselin! Dasar bocil!" Varel masih saja mengomel karena pisang Ambonnya masih terasa ngilu sampai sekarang.
Ia mengambil remote televisi lalu menyalakannya. tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat nama penelepon, Varel langsung mengangkatnya.
"Halo," ucap Varel.
"Sayang, tadi pagi aku telepon kok nggak di angkat sih? Mas lagi sibuk ya?" ucap seorang wanita cantik dari seberang telepon.
"Iya, tadi pagi aku bangun kesiangan dan buru-buru ke kantor soalnya ada meeting penting jadi tidak sempat angkat telepon kamu. Nggak marah kan?" sahut Varel.
"Enggaklah. Masa marah sih. O ya aku kangen...Pengin cepat balik, di sini membosankan. Coba kalau mas Varel ikut ke sini, pasti aku nggak bosan," ucap gadis itu manja.
"Maaf, aku sibuk jadi nggak bisa menemani kamu ke rumah nenek," timpal Varel.
"Nggak apa-apa, mas. Nanti kalau mas ada waktu bisa datang ke sini lagi sama aku, sekalian kita liburan. Di sini udaranya enak banget, mirip suasana di rumah mas Varel, banyak pohonnya jadi asri," cerita gadis itu riang. Rumah neneknya memang di kelilingi pepohonan besar meski terletak di kota.
Varel tersenyum tipis menanggapi celotehan gadis tersebut, meski gadis di seberang telepon tersebut tak melihatnya.
"Bagaimana keadaan nenekmu? Kapan kau kembali?" tanya Varel kemudian.
"Emm. Nenek sudah membaik, tapi mungkin aku masih harus di sini agak lama buat nemenin nenek, om sama tante masih di luar negeri soalnya. Kenapa? Mas rindu ya sama aku? Baru seminggu aku di rumah nenek, udah ada yang kangen nih romannya. Hayo ngaku kalau udah rindu Andini..."
"Andini, aku..."
"Eh itu nenek manggil aku, aku tutup dulu teleponnya ya, nanti aku telepon lagi," potong gadis bernama Andini tersebut.
"Hem," Varel mengangguk.
"I love u," ucap gadis itu sebelum akhirnya menutup teleponnya.
Varel mengembuskan napasnya lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
Tiba-tiba, selembar kertas tersodor di depannya. Ia mendongak, ternyata Adel yang menyodorkan kertas tersebut.
"Dia habis telepon siapa? Istrinya?" batin Adel penasaran.
"Apa ini?" tanya Varel tanpa ekspresi dan terkesan dingin.
"Baca!" ucap Adel menyerahkan kertas yang ada di tangannya tersebut. Ia lalu duduk setelah varel menerimanya.
Varel mengerutkan Keningnya saat membaca isi dalam kertas tersebut, " Surat perjanjian selama tinggal satu atap?" gumamnya lalu menatap Adel.
"Hem," Adel mengangguk.
Varel melanjutkan membaca, "Surat perjanjian ini di buat secara sadar oleh kedua belah pihak tanpa ada unsur paksaan apapun. Baik pihak pertama (Adelia Safitri) & dan pihak kedua(Varel Adi Pradana?) telah sepakat untuk mematuhi isi surat perjanjian di bawah...," Varel menjeda kalimatnya. Ia kembali menatap Adelia.
" Kenapa pakai begini? Ribet!" Protes Varel.
" Ya harus dong, di sini aku sebagai perempuan pasti akan banyak di rugikan nantinya,"
"Rugi bagaimana? Kita cuma tinggal satu atap doang, bukannya nikah kontrak. Nggak perlu pakai perjanjian segala,"
"Justru itu om, harus ada batasan yang jelas. Aku nggak mau ada salah paham nantinya. Apalagi fitnah,"
"Tenang, nggak bakalan aku apa-apain kamu, nggak usah Geer, Udah bukan tipeku lagi!"
Deg!
Adel merasa sakit saat mendengar kata terakhir yang di ucapkan Varel.
"Yaudah sih, semuanya biar jelas aja. Cepat baca dan tanda tangan!" ucap Adel.
"Malas!" tolak Varel dengan wajah jutek.
"Ck, dasar! Biar aku aja yang baca, om cukup dengar lalu tanda tangan, di larang protes!"
"Serah!"
Adel mencebik. Ia lalu membaca poin demi poin perjanjian yang baru saja ia buat.
"Pertama, rumah di bagi menjadi dua wilayah, lantai atas sepenuhnya daerah kekuasaan pihak pertama alias aku," Adel. Menunjuk dirinya sendiri.
"Sedangakan lantai dua milik pihak kedua, yaitu om... Pihak ke dua dilarang menginjakkan kaki di lantai dua kecuali atas seijin pihak pertama sementara pihak pertama bebas menginjakkn kaki di lantai bawah... "
Varel langsung mendelik protes, baru poin pertama saja sudah tidak adil.
" Di larang protes! Aku nggak mungkin kan naik ke lantai atasnya loncat, harus lewat lantai satu dong. Dan juga, karena di lantai satu ada dapur, dan itu nggak begitu berguna buat aku karena aku nggak bisa masak. Jadi adil kalau aku memilih lantai atas dannom lantai bawah,"
Varel tak menyahut, ia hanya diam dengan ekspresi masa bodoh.
" Dengerin lagi, aku lanjut baca... Poin kedua, baik pihak pertama maupun kedua dilarang terjadi kontak fisik dalam bentuk apapun. Kalau sampai terjadi, pihak kedua wajib bayar denda.."
Lagi-lagi Varel menatap Adel, saat hendak bicara untuk protes, Adel langsung memotong, "karena kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, yang paling di rugikan aku sebagai perempuan," ucapnya.
Adelia kembali ke kertas yang ada di tangannya "Ketiga...ini yang paling penting. Demi kesejahteraan bersama, di larang keras memberi tahu kakak maupun kakak ipar kalau kita di sini tinggal satu rumah. Bisa kena SK nanti kalau ketahuan. Lebih parah bisa di kawinin aku nggak mau jadi istri kedua om,"
Varel mengernyit, istri kedua? Apa maksud wanita ini. Namun, ia tak berniat menjelaskan soal statusnya saat ini karena tidak penting lagi.
"Untuk urusan kebersihan rumah menjadi tanggung jawab masing-masing di area kekuasaan masing-masing. Tapi, kalau luar rumah, menjadi tanggung jawab bersama. Untuk listrik dan lainnya di tanggung pihak kedua yang uangnya lebih banyak... Sekian dan terima kasih. Sementara ini dulu, kalau ada hal lain bisa di tambahkan nanti. Ayo tanda tangan!"
Varel bergeming, ia tak mau menanda tangani perjanjian konyol yang jelas-jelas tidak adil tersebut.
"Ih, om! Atau om mau angkat kaki dari sini?"
"Kenapa nggak kamu saja yang angkat kaki dari sini?"
"Nggak bisa! Sini tangannya, susah amat cuma tanda tangan doang!" Adel menarik tangan Varel lalu memberikan bolpoin.
"Dasar,. Tukang maksa!" ucap Varel. Ia justru menarik tangan Adel supaya duduk dekatnya, ia mengusap paksa bibir hadis tersebut menggunakan jempolnya lalu mengecapkannya di atas materai tersebut.
"Ck, denda. Di bilangnya nggak ada kontak fisik!" ucap Adel cemberut seraya memyentuh bibirnya.
"Perjanjiannya belum mulai!" sahut Varel santai.
"Di sini juga, jadi nanti aku simpan satu om satu," Adel menyerahkan satu lembar kertas lagi. Namun ia langsung menutup bibirnya menggunakan tangannya supaya adegan mengusap bibir tidak terulang lagi.
Varel hanya memicingkan matanya dengan air muka seolah bilang 'aneh' lalu kembali mengecapkan jempolnya yang masih ada sisa lipstik Adel yang menempel.
"Oke deal, ya. Makasih!" Adel segera beranjak setelah berhasil mendapatkan tanda tangan Varel.
Adel berhenti sejanak, lalu tersenyum tipis setidaknya untuk urusan bayar listrik, air dan lainnya ia tak perlu repot memikirkannya karena ia harus berhemat mengingat ia baru akan membuka usaha butik. Nmun, di balik senyumnya, tersirat raut kesedihan di wajah cantiknya.
Sementara Varel menatap lekat ibu jarinya yang ia gunakan untuk mengusp bibir Adelia tersebut lalu menggenggamnya erat dengan ekspresi datar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
🍁 ¢ᖱ'D⃤ ̐Nuyy ☕🏠⃟🌹
wakkk
2024-10-25
0
nobita
perjanjian konyol... tinggal satu atap yg sangat meresahkan...
2024-07-04
1
Alivaaaa
hahaha kamu pinter Del, bikin perjanjian yg tak mau dirugikan sama sekali 🤣🤣🤣
2023-10-29
0