Bab 4

"Ah ya ampun. Baru sehari tinggal di rumah ini saja udah sial. Tadi tangan, sekarang matakupun sudah tercoreng, nggak suci lagi... Kualat nih kayaknya gara-gara aku nggak nurut sama kakak," gumam Adelia. Ia menggedik ngeri jika ingat apa yg baru saja terjadi di kamar tersebut.

" Gara-gara koper sia alan emang. Tadi aja di buka susahnya minta ampun. Eh sekarang langsung bisa," gerutunya sambil mengacak -acak isi kopernya mencari piyama tidurnya.

Tiba-tiba, Adelia menghentikan kegiatannya sejenak, tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa panas merona. Tatapan intens Varel kepadanya tadi sukses membuat jantungnya berdegub sangat kencang.

Dan gerakan bibir pria itu yang semakin mendekat ke bibirnya secara alamiah tadi membuat aliran darahnya terasa membeku. Jika saja ia tidak menendang aset berharga milik pria itu, mungkin saja sesuatu sudah terjadi diantara mereka. Mungkin saja ia akan kembali merasakan hangatnya bibir pria itu seperti beberapa tahun yang lalu.

"Ya ampun. Mikirin apa sih, ngeres banget nih otak. Ingat, Del, dia udah nikah, jangan jadi pelakor deh!" Adel menoyor kepalanya sendiri.

Adelia segera mengambil piyamanya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk memakainya.

🌻🌻🌻

"Gila tuh cewek emang, main tendang aja. Ngilu gini rasanya. Awas aja kalau sampai gue nggak bisa berkembang biak gara-gara tendangan mautnya tadi. Nggak berubah emang dari dulu, nyebelin, ngeselin! Dasar bocil!" Varel masih saja mengomel karena pisang Ambonnya masih terasa ngilu sampai sekarang.

Ia mengambil remote televisi lalu menyalakannya. tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat nama penelepon, Varel langsung mengangkatnya.

"Halo," ucap Varel.

"Sayang, tadi pagi aku telepon kok nggak di angkat sih? Mas lagi sibuk ya?" ucap seorang wanita cantik dari seberang telepon.

"Iya, tadi pagi aku bangun kesiangan dan buru-buru ke kantor soalnya ada meeting penting jadi tidak sempat angkat telepon kamu. Nggak marah kan?" sahut Varel.

"Enggaklah. Masa marah sih. O ya aku kangen...Pengin cepat balik, di sini membosankan. Coba kalau mas Varel ikut ke sini, pasti aku nggak bosan," ucap gadis itu manja.

"Maaf, aku sibuk jadi nggak bisa menemani kamu ke rumah nenek," timpal Varel.

"Nggak apa-apa, mas. Nanti kalau mas ada waktu bisa datang ke sini lagi sama aku, sekalian kita liburan. Di sini udaranya enak banget, mirip suasana di rumah mas Varel, banyak pohonnya jadi asri," cerita gadis itu riang. Rumah neneknya memang di kelilingi pepohonan besar meski terletak di kota.

Varel tersenyum tipis menanggapi celotehan gadis tersebut, meski gadis di seberang telepon tersebut tak melihatnya.

"Bagaimana keadaan nenekmu? Kapan kau kembali?" tanya Varel kemudian.

"Emm. Nenek sudah membaik, tapi mungkin aku masih harus di sini agak lama buat nemenin nenek, om sama tante masih di luar negeri soalnya. Kenapa? Mas rindu ya sama aku? Baru seminggu aku di rumah nenek, udah ada yang kangen nih romannya. Hayo ngaku kalau udah rindu Andini..."

"Andini, aku..."

"Eh itu nenek manggil aku, aku tutup dulu teleponnya ya, nanti aku telepon lagi," potong gadis bernama Andini tersebut.

"Hem," Varel mengangguk.

"I love u," ucap gadis itu sebelum akhirnya menutup teleponnya.

Varel mengembuskan napasnya lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

Tiba-tiba, selembar kertas tersodor di depannya. Ia mendongak, ternyata Adel yang menyodorkan kertas tersebut.

"Dia habis telepon siapa? Istrinya?" batin Adel penasaran.

"Apa ini?" tanya Varel tanpa ekspresi dan terkesan dingin.

"Baca!" ucap Adel menyerahkan kertas yang ada di tangannya tersebut. Ia lalu duduk setelah varel menerimanya.

Varel mengerutkan Keningnya saat membaca isi dalam kertas tersebut, " Surat perjanjian selama tinggal satu atap?" gumamnya lalu menatap Adel.

"Hem," Adel mengangguk.

Varel melanjutkan membaca, "Surat perjanjian ini di buat secara sadar oleh kedua belah pihak tanpa ada unsur paksaan apapun. Baik pihak pertama (Adelia Safitri) & dan pihak kedua(Varel Adi Pradana?) telah sepakat untuk mematuhi isi surat perjanjian di bawah...," Varel menjeda kalimatnya. Ia kembali menatap Adelia.

" Kenapa pakai begini? Ribet!" Protes Varel.

" Ya harus dong, di sini aku sebagai perempuan pasti akan banyak di rugikan nantinya,"

"Rugi bagaimana? Kita cuma tinggal satu atap doang, bukannya nikah kontrak. Nggak perlu pakai perjanjian segala,"

"Justru itu om, harus ada batasan yang jelas. Aku nggak mau ada salah paham nantinya. Apalagi fitnah,"

"Tenang, nggak bakalan aku apa-apain kamu, nggak usah Geer, Udah bukan tipeku lagi!"

Deg!

Adel merasa sakit saat mendengar kata terakhir yang di ucapkan Varel.

"Yaudah sih, semuanya biar jelas aja. Cepat baca dan tanda tangan!" ucap Adel.

"Malas!" tolak Varel dengan wajah jutek.

"Ck, dasar! Biar aku aja yang baca, om cukup dengar lalu tanda tangan, di larang protes!"

"Serah!"

Adel mencebik. Ia lalu membaca poin demi poin perjanjian yang baru saja ia buat.

"Pertama, rumah di bagi menjadi dua wilayah, lantai atas sepenuhnya daerah kekuasaan pihak pertama alias aku," Adel. Menunjuk dirinya sendiri.

"Sedangakan lantai dua milik pihak kedua, yaitu om... Pihak ke dua dilarang menginjakkan kaki di lantai dua kecuali atas seijin pihak pertama sementara pihak pertama bebas menginjakkn kaki di lantai bawah... "

Varel langsung mendelik protes, baru poin pertama saja sudah tidak adil.

" Di larang protes! Aku nggak mungkin kan naik ke lantai atasnya loncat, harus lewat lantai satu dong. Dan juga, karena di lantai satu ada dapur, dan itu nggak begitu berguna buat aku karena aku nggak bisa masak. Jadi adil kalau aku memilih lantai atas dannom lantai bawah,"

Varel tak menyahut, ia hanya diam dengan ekspresi masa bodoh.

" Dengerin lagi, aku lanjut baca... Poin kedua, baik pihak pertama maupun kedua dilarang terjadi kontak fisik dalam bentuk apapun. Kalau sampai terjadi, pihak kedua wajib bayar denda.."

Lagi-lagi Varel menatap Adel, saat hendak bicara untuk protes, Adel langsung memotong, "karena kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, yang paling di rugikan aku sebagai perempuan," ucapnya.

Adelia kembali ke kertas yang ada di tangannya "Ketiga...ini yang paling penting. Demi kesejahteraan bersama, di larang keras memberi tahu kakak maupun kakak ipar kalau kita di sini tinggal satu rumah. Bisa kena SK nanti kalau ketahuan. Lebih parah bisa di kawinin aku nggak mau jadi istri kedua om,"

Varel mengernyit, istri kedua? Apa maksud wanita ini. Namun, ia tak berniat menjelaskan soal statusnya saat ini karena tidak penting lagi.

"Untuk urusan kebersihan rumah menjadi tanggung jawab masing-masing di area kekuasaan masing-masing. Tapi, kalau luar rumah, menjadi tanggung jawab bersama. Untuk listrik dan lainnya di tanggung pihak kedua yang uangnya lebih banyak... Sekian dan terima kasih. Sementara ini dulu, kalau ada hal lain bisa di tambahkan nanti. Ayo tanda tangan!"

Varel bergeming, ia tak mau menanda tangani perjanjian konyol yang jelas-jelas tidak adil tersebut.

"Ih, om! Atau om mau angkat kaki dari sini?"

"Kenapa nggak kamu saja yang angkat kaki dari sini?"

"Nggak bisa! Sini tangannya, susah amat cuma tanda tangan doang!" Adel menarik tangan Varel lalu memberikan bolpoin.

"Dasar,. Tukang maksa!" ucap Varel. Ia justru menarik tangan Adel supaya duduk dekatnya, ia mengusap paksa bibir hadis tersebut menggunakan jempolnya lalu mengecapkannya di atas materai tersebut.

"Ck, denda. Di bilangnya nggak ada kontak fisik!" ucap Adel cemberut seraya memyentuh bibirnya.

"Perjanjiannya belum mulai!" sahut Varel santai.

"Di sini juga, jadi nanti aku simpan satu om satu," Adel menyerahkan satu lembar kertas lagi. Namun ia langsung menutup bibirnya menggunakan tangannya supaya adegan mengusap bibir tidak terulang lagi.

Varel hanya memicingkan matanya dengan air muka seolah bilang 'aneh' lalu kembali mengecapkan jempolnya yang masih ada sisa lipstik Adel yang menempel.

"Oke deal, ya. Makasih!" Adel segera beranjak setelah berhasil mendapatkan tanda tangan Varel.

Adel berhenti sejanak, lalu tersenyum tipis setidaknya untuk urusan bayar listrik, air dan lainnya ia tak perlu repot memikirkannya karena ia harus berhemat mengingat ia baru akan membuka usaha butik. Nmun, di balik senyumnya, tersirat raut kesedihan di wajah cantiknya.

Sementara Varel menatap lekat ibu jarinya yang ia gunakan untuk mengusp bibir Adelia tersebut lalu menggenggamnya erat dengan ekspresi datar.

Terpopuler

Comments

🍁 ¢ᖱ'D⃤ ̐Nuyy ☕🏠⃟🌹

🍁 ¢ᖱ'D⃤ ̐Nuyy ☕🏠⃟🌹

wakkk

2024-10-25

0

nobita

nobita

perjanjian konyol... tinggal satu atap yg sangat meresahkan...

2024-07-04

1

Alivaaaa

Alivaaaa

hahaha kamu pinter Del, bikin perjanjian yg tak mau dirugikan sama sekali 🤣🤣🤣

2023-10-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Chapter 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98 (End)
99 Bab 99 ( bonchap 1)
100 Bab 100 (bonchap 2)
101 Bab 101 (bonchap 3)
102 Novel Sebatas Ibu Pengganti
103 Bonchap 4
104 Bonchap 5
105 Bonchap 6
106 Bonchap 7
107 Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Chapter 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98 (End)
99
Bab 99 ( bonchap 1)
100
Bab 100 (bonchap 2)
101
Bab 101 (bonchap 3)
102
Novel Sebatas Ibu Pengganti
103
Bonchap 4
104
Bonchap 5
105
Bonchap 6
106
Bonchap 7
107
Jenna (Pengasuh Ceo Lumpuh)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!