Part 19

"Kooki ajarin gue bela diri kayak lo." V tiba-tiba berbicara ketika Jungkook sedang memukul samsak tinju.

"Hah?"Jungkook berhenti dan melihat kearah V yang sedang duduk-duduk saja. Biasanya V akan menemaninya ketika ia sedang boring atau tidak ada kerjaan.

"Iya." Jawab V pelan.

"Sini maju, pukul gue." Jungkook memberikan isyarat tangannya.

"Yee beneran nih?" V berdiri dan masih tidak percaya kata-kata Jungkook tadi.

"Pukul aja, yang keras ya." Kode Jungkook.

"Ntar lo kenapa-napa lagi." V masih tidak tega dan tidak ingin melakukan itu.

"Mau gak nih?" Tanya Jungkook sembari tersenyum.

"Ya udah. Dimana nih?" Kata V.

"Sini." Jungkook memberikan arahannya.

V mulai bersiap dan memukul perut Jungkook. Satu pukulan, V melihat Jungkook tidak goyah sedikit pun akhirnya ia memukul lagi. Sampai pada akhirnya V merasa cukup.

"Lo gak papa?" Tanya V yang sedikit khawatir.

"Gak papa. Pukulan lo masih standart." Jawab Jungkook santai.

"Ngejek nih." Mereka tertawa kecil.

"Hehe lo mau masuk sanggar?" Tanya Jungkook memastikan lagi.

"Gue --- gak yakin sih." Jawab V penuh kebimbangan.

"Ayo bareng gue. Lo pasti bisa." V diam tidak menjawab. Jungkook menepuk bahu V dan berbisik ditelinganya. "Gue yakin lo pasti bisa, tunjukin ke orang-orang yang sering nyakitin lo kalau lo bisa juga lawan mereka." Seketika semangat V membara.

"Gue ikut." Jungkook tersenyum mendengar jawaban V.

"Bagus. Nanti gue bilangin ke guru gue." V mengangguk paham.

----*----

Hari ini ada jadwal extra pencak silat disekolah Zya. Dulu saat pemilihan, Zya memilih extra ini, namun ia jarang masuk bahkan sepertinya hanya masuk dua sampai tiga kali dalam sebulan. Padahal extra ini dilakukan seminggu dua kali. Setiap penilaian Zya akan masuk. Zya sendiri kenal dengan pelatih-pelatihnya dan mereka pun sudah tau kemampuan Zya, jadi Zya tidak perlu terlalu mengikuti karena Zya sendiri sudah paham.

"Zya lo ada jadwal extra kan sekarang?" Tanya Violet pada Zya.

"Iya." Dijawab anggukan oleh Zya.

"Gak mau masuk lagi nih?" Tanya Violet lagi.

"Kayaknya masuk deh." Ucap Zya mengingat hari dan kegiatan.

"Lo pulang jam berapa Zya?" Tanya Violet lagj.

"Hmm biasanya jam lima sore sih." Jawab Zya.

"Kenapa Vi? Lo mau ajak Zya shopping ya." Tebak Stella dan benar saja.

"Habisnya lo sibuk mulu La." Ucap Violet.

"Ya lo kan tau sendiri butik mama gue kayak gimana. Udah kayak yang paling internasional aja." Kata Stella terlihat letih dengan takdirnya.

"Aminin aja La. Lo harusnya bersyukur dong." Kata Zya mengingatkan Stella agar tidak bersedih akan hal itu.

"Iya sih, tapi gara-gara itu gue jadi gak punya waktu buat main sama kalian." Kata Stella lagi.

"Gak papa mungkin lain kali bisa." Stella menunduk lemas. "Lo mau kemana Vi?" Tanya Zya pada Violet.

"Nanti deh gue pikirin lagi." Kata Violet yang mungkin masih ragu.

"Oke." Jawab Zya dengan senang.

Hari ini adalah hari sabtu. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua murid. Karena hari ini biasanya akan pulang lebih awal daripada hari-hari sebelumnya. Zya memutuskan untuk ikut extra hari ini. Tidak banyak anak perempuan yang mengikuti extra ini. Bahkan sepertinya bisa dihitung dengan jari. Beberapa kelas sebelah mengenal Zya saat mengikuti extra.

"Zya kita pulang duluan ya." Ucap Stella dan Violet.

"Ya udah hati-hati." Jawab Zya.

Bell pertanda sekolah telah usai sudah berbunyi. Banyak yang sudah keluar kejalan utama. Zya masih duduk didepan kelasnya bersama beberapa teman kelas sebelahnya yang mengikuti extra ini.

"Eh hari ini katanya mau ambil penilaian ya." Ucap salah satu teman Zya.

"Iya kah? Duh kok gue jadi deg-degan gini." Kata yang lainnya lagi.

"Kira-kira nanti penilaiannya apa ya." Ucap salah satunya lagi.

"Zya gue liat lo jarang masuk, tapi lo kok bisa sih tampil sempurna pas penilaian." Tanya seseorang yang duduk disebelah Zya bernama Nita.

"Iya Zya gue juga heran deh sama lo." Kata seseorang lagi.

"Gak usah heran, gue udah paham materinya udah lama. Jadi gue gak kaget lagi." Jawab Zya sebisa mungkin.

"Berarti lo jago berantem dong." Kata Nita sembari memberikan gerakan-gerakannya. Mereka tertawa kecil melihat gerakan-gerakan Nita.

"Iya juga ya. Tapi kenapa lo diem aja pas diganggu Angel?" Tanya seseorang lagi.

"Iya kenapa Zya?" Tanya seseorang lagi mendesak Zya agar menjawab.

"Gak papa, gue gak mau aja semua orang tau kalau gue bisa ini itu." Jawab Zya mencari alasan.

"Tapi Angel itu udah keterlaluan loh Zya." Kata Nita.

"Ah biarin aja lah. Gue gak mau ngurus itu." Jawab Zya.

Mereka terus mengobrol hingga tiba waktunya pelatih-pelatih itu datang dan menyapa mereka.

"Siang semua." Kata salah satu pelatih itu menyapa para kerumunan ladies dihadapannya.

"Siang kak." Jawab mereka serentak.

"Wahh pada semangat nih buat penilaiannya." Katanya lagi.

"Jangan yang susah ya kak." Kata salah satu dari mereka.

"Udah kalian tenang aja." Kata si pelatih santai.

"Yang cowok semuanya kumpul disini!" Terdengar suara pelatih kedua yang memanggil anak-anaknya. Semuanya segera berbaris. Ada sekitar 80 orang yang mengikuti extra ini, 15 diantaranya adalah seorang perempuan termasuk Zya. Barisan perempuan dan laki-laki pun dibedakan, serta pelatih untuk perempuan cukup satu orang atau dua orang saja. Sementara untuk laki-laki ada tiga sampai empat orang pelatih. Mereka melakukan penilaian sendiri-sendiri. Biasanya saat pelatihan berlangsung, untuk laki-laki dan perempuan akan dibedakan tempatnya tapi kali ini untuk penilaian akan menjadi satu tempat.

Sebelum penilaian dimulai, semuanya akan diminta agar melemaskan badan dulu atau pemanasan supaya nanti tidak terjadi cedera yang serius. Zya selesai dengan pemanasannya disusul pula teman-temannya. Mereka duduk berselonjor menunggu aba-aba dari sang pelatih.

"Zya." Seorang pelatih yang biasa melatih bagian perempuan memanggil Zya. Zya pun turut berdiri dan menghampirinya. "Gue bawa Dani kesini."

"Kenapa?" Tanya Zya penasaran.

"Dia yang akan jadi bagian dari penilaian hari ini." Jawab pelatih itu. Ia tau kalau Dani adalah bawahan Zya. Ia hanya ingin Dani profesional dalam penilaian ini nanti. Maka dari itu sang pelatih memberi isyarat pada Zya.

"Oke gue ngerti." Zya dengan cepat mengerti yang dimaksud pelatih itu. Zya kenal dengannya saat Zya membantunya melawan musuh-musuhnya yang benci padanya karena suatu hal yang Zya sendiri tidak tau.

Zya segera pergi mencari keberadaan Dani. Zya menemukan Dani yang masih berada diparkiran.

"Dan." Zya memanggil Dani sembari menghampirinya.

"Zya? Lo ikut extra ini?" Tanya Dani heran.

"Iya. Buat kesibukan aja sih, sembari melatih diri." Dani mengangguk setuju. "Gue minta lo tetap profesional nanti."

"Iya gue tau." Jawab Dani.

"Ingat Dan, disini lo bukan bawahan gue tapi lo pelatih gue." Kata Zya lagi mengingatkan.

"Siap! Tenang aja." Jawabnya dengan mantap untuk mengusir keraguan Zya.

"Oke deh kalau gitu gue balik." Dani mengangguk dan Zya langsung pergi kembali ketempatnya.

Setelah dirasa cukup lama, Dani pergi dari parkiran menuju tempat yang sudah diberitahu temannya tadi. Dani datang dan melihat ada banyak sekali yang mengikuti extra ini, tak ketinggalan juga beberapa perempuan termasuk Zya. Dani menyapa temannya yang menjadi pelatih disini.

""Eh Dan udah datang?"

"Iya."

"Kumpul semuanya!"

Seketika mereka memberhentikan kegiatannya yang sedang latihan dan berkumpul bersiap mendengar aba-aba dari sang pelatihnya.

"Kalian sudah latihan dengan cukup, ini saatnya kalian tunjukin kemampuan kalian. Kenalin ini Dani yang akan membantu kalian dalam penilaian." Seorang pelatih memperkenalkan Dani.

"Halo, Kabar baik semua? Oke saya akan memberikan materi yang mungkin kalian butuhkan. Disini kalian butuh strategi yang pas, taktik yang tidak meleset. Kalian harus tau apa yang akan kalian lakukan jika musuh kalian begini, begini atau begitu. Insting kalian harus kuat. Dan jangan pernah ragu untuk melakukannya karena satu kesalahan saja bisa membuat kalian terkunci atau harus mengambil celah kembali." Ucap Dani.

"Siap!" Jawaban serentak dari murid-muridnya.

"Oke tugas kalian cukup mudah. Kalian hanya akan melakukan strategi menghindari serangan. Pelatih akan memberikan 10 serangan dan kalian harus menghindari itu. Paham?" Kata salah satu pelatih memberikan instruksi.

"Paham!" Jawab serentak.

Semuanya segera bersiap. Untuk grup perempuan hanya butuh 2 pelatih saja. Satu untuk melakukan penilaian dan satu untuk menilai dan menulis. Dani diminta untuk menangani grup perempuan terlebih dulu, baru ia bisa bergabung ke grup laki-laki. Karena perempuan lebih sedikit jadi tidak banyak memakan waktu.

Zya adalah murid terakhir yang akan mengambil nilai digrupnya. Sembari menunggu, Zya melihat kemampuan Dani yang terus ada kemajuan. Dani benar-benar profesional tidak ada celah yang ia berikan kepada muridnya, sehingga beberapa dari muridnya ada yang dianggap gagal tidak bisa menangkis serangan Dani minimal 7 serangan. Tiba saatnya giliran Zya. Dani tau Zya sangat lihai dalam hal ini, sebisa mungkin Dani memberikan serangan yang sulit untuk Zya. Akhirnya Zya bisa menangkis semua serangan itu dengan tidak mudah. Zya juga mengakui kehebatan Dani. Tidak sia-sia baginya terus meningkatkan latihannya. Sejauh ini digrup perempuan, Zya lah yang paling unggul.

----*----

Extra telah usai, ini saatnya Zya dan teman-teman yang lainnya untuk kembali beristirahat dirumah. Zya mengambil tasnya dan juga saling berpamitan pada teman-temannya. Zya berjalan kearah parkiran, Zya sengaja berjalan pelan tidak mau bersama teman-temannya tadi. Rasanya Zya kecapekan hari ini.

"Hey tunggu." Seseorang seperti memanggil Zya. Zya pun menoleh kebelakang.

"Lo? Ikut extra ini?" Tanya Zya penasaran.

"Iya." Dia mengangguk.

"Kok gue gak pernah liat lo. Eh kak maksudnya." Kata Zya masih canggung.

"Gue juga baru liat lo tadi." Katanya lagi.

Zya melangkahkan kakinya dengan pelan disusul oleh kakak kelasnya yang bernama Jimin.

"Gak ada yang macem-macem ke lo kan?" Tanya Jimin tiba-tiba.

"Hm?" Zya bingung dengan pertanyaan Jimin tadi.

"Itu --- Angel." Jimin mencoba menjelaskan.

"Oh tenang aja, gak ada kok." Zya jadi ingat perkataan Jimin dulu saat ia sedang bersiteru dengan Angel. Jimin hanya mengangguk untuk memastikan saja.

"Lo pulang bareng siapa?" Tanya Jimin mencoba mencairkan suasana.

"Gue bawa motor kok." Ucap Zya.

"Oh, ya udah kalau gitu hati-hati ya." Jimin tersenyum pada Zya. Yang seketika Zya tertegun.

"Iya." Jawab Zya pelan.

"Gue duluan." Jimin mendahului Zya yang masih melihatnya.

Zya jadi teringat ucapan Violet. Senyumannya benar-benar mirip dengannya. Zya bisa merasakan itu. Zya ingin menghentikan kakak kelasnya itu tapi ia sudah terlalu jauh. Sebenarnya Zya ingin menanyakan banyak pertanyaan tapi Zya bingung akan memulainya dari mana.

----*----

Entah kenapa setiap Jimin dekat dengan Zya seperti ada kedekatan yang amat kuat di dalam dirinya. Jimin ingin menanyakan hal itu tapi ia pun tidak tau harus bagaimana cara mengungkapkannya. Jimin tidak mau membuat Zya salah paham dengan apa yang ia rasakan. Jimin tau kebanyakan cewek-cewek yang mendekati Jimin akan merasa Jimin menyukainya kalau ia mengatakan hal yang terlihat manis.

Jimin ingin sekali menemukan kembali adiknya yang hilang dulu. Ia berharap adiknya masih hidup bersama ibunya. Ayahnya sudah tidak pernah mencari lagi setelah sekian lama dan sudah mulai menua. Ayahnya pun tidak pernah mendekati wanita lain selain berharap ibunya yang datang.

"Ayah." Kata Jimin lembut memanggil ayahnya.

"Kenapa Jimin?" Jawab Ayahnya dan segera berhenti melihat komputernya.

"Jimin boleh cari adik Jimin?" Tanya Jimin pelan.

"Tapi mau dicari dimana?" Tanya Ayahnya bingung.

"Jimin juga gak tau. Mungkin ayah punya ciri-cirinya atau sesuatu yang bisa memberi Jimin petunjuk." Ayahnya menggeleng pelan.

"Adikmu dulu masih terlalu kecil. Sudah pasti sekarang ia sudah remaja kalau masih hidup."

"Ayah jangan bilang gitu. Mereka pasti masih hidup." Kata Jimin lembut.

"Tapi ayah sudah cari kemana-mana bersama bawahan ibumu. Tidak juga ditemukan. Ayah khawatir ibumu sudah bersama kakekmu." Jimin diam kehabisan kata-kata nya. "Ini foto adikmu waktu masih kecil." Ayahnya memberikan sebuah foto pada Jimin. Jimin menaruh foto itu di dompetnya.

"Yah, ada sesuatu yang ingin Jimin tanyakan."

"Apa?"

"Jimin bertemu dengan seorang perempuan disekolah tapi entah kenapa Jimin merasa dekat dengannya." Jimin berhenti berbicara dan mencoba mencerna. Ayahnya hanya diam saja kemudian seperti mengingat sesuatu.

"Adikmu juga punya lambang sayap ditangannya, yang kalau di sejajarkan dengan punyamu akan menjadi sayap yang utuh." Ucap Ayahnya. "Iya juga memiliki senyuman yang mirip sekali denganmu. Sehingga ketika kamu melihat ia tersenyum, kamu juga melihat diri kamu yang tersenyum."

"Ada lagi ayah?" Tanya Jimin sangat bersemangat.

"Selebihnya ayah tidak tau lagi. Nanti kalau ayah ingat, ayah beritau kamu." Kata Ayahnya sembari tersenyum.

"Makasih yah. Jimin bakal berusaha semaksimal mungkin." Kata Jimin senang.

"Apapun yang kamu dapatkan nanti, ayah harap jika itu tidak sesuai dengan harapan kamu. Kamu jangan sedih atau berkecil hati." Kata Ayahnya mengingatkan kembali. Ayah Jimin sudah pasrah dengan keadaannya. Selama 10 tahun ia mencari keberadaan istrinya tapi tak ada satu pun tanda-tanda bahwa istrinya masih hidup.

"Iya yah." Jimin tersenyum.

Senyuman itu mengingatkan ia akan istrinya yang juga selalu tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sedang gelisah atau tidak nyaman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!