Part 17

Disekolah, Zya pergi ketoilet menemani Violet mengganti bajunya. Sementara Stella menunggu dilapangan sembari membawa absensi kelas. Setelah selesai Zya dan Violet pergi kelapangan sekolah. Betapa terkejutnya Zya ketika melihat anak-anak kelas XII juga ada disana, mereka mengenakan baju olahraga juga. Setelah diperhatikan, itu adalah kelas abangnya. Zya juga melihat Jin dan teman-temannya berkumpul disana.

"Jadwal pelajarannya tabrakan ya?" Tanya Violet yang sadar melihat ada beberapa kakak kelas yang juga memakai baju olahraga.

"Sepertinya begitu." Jawab Zya singkat tidak mau berpikir panjang.

Zya segera masuk kebarisan kelasnya.

'PRRIIIIITTTTT' Suara peluit guru olahraga berbunyi. Semuanya bersiap mengatur barisannya masing-masing.

"Sepertinya jadwal kita bertabrakan. Okelah selagi gurunya sama-sama saya, jadi kalian bergabung jadi satu." Guru itu memberi isyarat dan segera mengabsen murid-muridnya.

"Oke, sekarang kita akan belajar mengenai bola voli. Diakhir materi, kalian bisa bertanding."

Sorak tepung tangan dari kedua belah pihak pun terjadi. Semuanya bersemangat, kecuali Zya. Rasanya ia ingin sekali meninggalkan baju olahraganya lagi dirumahnya agar ia tidak mengikuti pelajaran ini.

Setelah materi diberikan, para murid laki-laki disuruh untuk mengambil beberapa bola lagi digudang. Jin dan Jhoope berangkat mengambil bola, sementara yang lainnya menunggu. Setelah bola datang, mereka membagikan bola itu agar adil. Ada sekitar 3 bola yang diambil untuk latihan sementara.

Kelas Zya bermain dengan serius, begitu juga kelas sebelahnya. Kebanyakan para cewek yang suka main atau latihan, untuk yang laki-laki hanya menonton saja menunggu ada bola yang tidak terpakai. Toh kalau hanya voli, menurut mereka gampang saja.

Jin dan teman-temannya duduk ditempat yang teduh. Melihat permainan-permainan yang dimainkan oleh para siswi.

"Seru juga ya kalau digabung kayak gini." Jhoope memulai percakapannya.

"Iya. Tapi kita gak kebagian bola nih." Kata Jimin mendengus.

"Betul tuh. Selalu ada kata-kata lady first." Ucap Namjoon tidak mau kalah.

"Lagian kan cuma voli aja mah kecil." Jin menimpali.

"Jangan anggap remeh dulu. Walaupun mereka adik kelas, bisa aja kan skill nya lebih bagus dati pada kita." Suga mengingatkan temannya.

"Setuju." Ucap Namjoon kemudian.

"V lo liatin apaan?" Tanya Jimin, yang melihat V fokus dengan pandangannya.

"Liat mereka main, kayaknya seru juga." Jin tau betul siapa yang V liat, namun ia enggan berkomentar.

"Cewek mah gitu, suka heboh." Balas Jimin setelah melihat apa yang V lihat.

Zya bermain voli bersama teman-teman sekelasnya. Ia tidak mempedulikan seseorang yang sedari tadi melihat kearahnya. Zya tau ia sedang dilihat oleh V, namun Zya tidak mau terlihat salah tingkah disini. Zya berusaha mengusir kegugupannya. Setelah capek bermain, Zya duduk di tepi lapangan. Sahabatnya dan temannya masih belum puas, jadi hanya Zya sendiri yang duduk disana.

Tiba-tiba seseorang mendatanginya dan duduk disampingnya.

"Jungkook?" Zya melihat ke samping sebentar.

"Iya. Capek ya, nih gue bawain minuman." Jungkook menyodorkan botol minum yang ia bawa tadi.

"Makasih ya." Ucap Zya lalu membuka tutup botol itu dan segera meminumnya. Zya memang kehausan sejak tadi tapi ia malas ke kelasnya.

"Sama-sama." Ucap Jungkook tersenyum. "Udah capek mainnya?"

"Iya." Kata tersenyum.

"Tadi gue liat seru banget." Zya tersenyum malu. "Eh iya, gue ada sesuatu buat lo."

"Apa?" Jungkook mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

"Nih, hadiah buat lo." Jungkook memberikan jepit rambut kecil berbentuk pita warna putih.

"Buat gue?" Tanya Zya memastikan dan menerima jepit itu.

"Iya, karena lo udah bantuin gue nyiapin kado ulang tahun buat abang gue. Abang gue suka banget sama kadonya." Kata Jungkook senang.

"Oh ya? Syukur deh kalau gitu." Zya pun ikut senang mendengarnya.

"Ini gue beli pas kita ke moll. Pas di accesories gue liat ini, kayaknya cocok ke lo." Kata Jungkook.

"Gue pakek ya?" Jungkook mengangguk. Zya menyelipkan jepit rambut itu pada poninya yang sudah hampir menutupi matanya.

"Bagus, kalau gitu kan lo gak repot lagi sama poni lo." Jungkook dan Zya tertawa kecil.

"Makasih ya." Kata Zya tersenyum.

"Eh ada pak Mamang, gue pergi dulu ya. Sekarang pelajarannya dia." Jungkook berdiri lalu berlarian kecil.

"Oke." Zya pun melihat pak guru itu yang baru keluar dari ruang guru. Zya tersenyum mengingat tingkah Jungkook yang takut dengan guru itu. Mungkin Jungkook punya kenangan pahit dengan guru itu. Ah Zya baru ingat kalau Jungkook pernah dijewer sembari berjalan sampai kelasnya.

"Zya kayaknya lo akrab banget ya sama dia?" Violet menghampiri Zya yang masih duduk.

"Kenapa Vi?" Tanya Zya. Belum sempat Violet membalasnya, Stella sudah datang dan memotong pembicaraan mereka.

"Ciee dikasih hadiah nih." Stella memperhatikan jepit rambut yang ada dikepala Zya.

"Zya lihat dong." Violet sudah lupa dengan pertanyaannya tadi. Zya melepas jepit rambut itu dan memberikannya kepada Violet. Stella pun ikut melihatnya.

"Bagus Zya." Kata Stella.

"Gue kapan ada yang ngasih beginian." Rengek Violet.

"Emang siapa yang mau ngasih ke lo?" Stella menaikkan sebelah alisnya.

"Gak tau. Nasib jomblo La." Violet bersandar sedih pada Stella.

"Gue juga jomblo kalik." Zya mengambil kembali jepitnya dan ia pasang kembali.

"Tapi kayaknya lo udah gak lama lagi deh jomblonya." Kata Violet.

"Apaan si Vi." Jawab Zya malas.

"Tuh kan pipi lo merah, ngaku lo suka sama dia kan?" Zya menutup mulut Violet yang mulai berbicara keras. Setelahnya mereka tertawa kecil.

"Jangan keras-keras Vi, mulut lo ember banget." Kata Zya kemudian.

"Pokoknya kalau lo udah jadian sama dia, pajak jadian traktir kita ke cafe cemara." Ucap Stella setengah berbisik.

"Setuju." Violet terlihat bersemangat.

"Ih gak jelas banget." Jawab Zya membuang muka.

Ada sesuatu yang membuat Zya senang ketika Jungkook menghampirinya. Zya tau V memperhatikannya sejak tadi, dengan begitu V pasti tau kalau Zya dekat dengan Jungkook sehingga V akan tau batasannya. Zya melirik sebentar kearah V, tanpa ia duga ternyata V masih memperhatikannya. Zya pikir V akan berhenti melihat dirinya, namun sepertinya hal itu salah. Zya menghembuskan nafasnya panjang, sebelum pada akhirnya guru olahraganya meminta mereka untuk berkumpul. Ini adalah tanda pertandingan akan segera dimulai.

----*----

Jhoope melihat Jungkook berlari kearah lapangan. Jhoope menepuk bahu Jimin memberi isyarat padanya kalau ada Jungkook. Mereka melihat kearah Jungkook.

"Jung --- kook." Jimin baru saja akan berteriak memanggil Jungkook kemudian memelankan suaranya.

"Dia nyamperin siapa?" Tanya Namjoon yang penasaran. Tidak ada yang menjawabnya.

Mereka fokus melihat pada Jungkook.

"Itu cewek kan?" Ucap Jhoope sembari menuding.

"Kayaknya iya." Kata Jimin.

"Aiissh anak itu sudah besar rupanya." Kata Namjoon mengacak rambutnya dari belakang kedepan.

"Dia cuma beda satu tahun sama gue." Ucap V yang masih memperhatikan gerak gerik Jungkook dan Zya.

Teman-teman nya mengangguk kecuali Jin. Jin tau situasi ini. Jin pun sesekali melihat Jungkook dan V. Ada perasaan kesal di wajah V. Jin sudah berpikir jangan sampai mereka bertengkar hanya karena perempuan.

"Eh eh Jungkook ngasih apa tuh?" Kata Jimin tiba-tiba.

"Waa kayaknya jepit rambut." Ucap Suga.

"Waah gak bisa dibiarin nih, adik bontot udah mendahului kita." Ucap Namjoon serius.

"Emang lo mau pacaran Joon?" Tanya Jimin disusul tawa Jhoope dan dirinya.

"Gue cari yang smart kayak gue." Ucap Namjoon pasti.

"Gue bodo amat." Kata Suga.

"Asal jangan cari yang ceroboh ye bang?" Jimin menggoda Namjoon. Namjoon pun tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Eh eh Jungkook pergi tuh." Jhoope memberi isyarat.

Jungkook melewati mereka, menyapa sebentar lalu pergi.

"Hmm pantesan Jungkook lari, ada pak Mamang tuh." Kata Suga memperhatikan ruang guru. Kata-kata Suga dengan cepat di setujui oleh teman-temannya.

Ada perasaan mengganjal di hati V, rasanya seperti ada yang sakit. V melihat Zya senang jika bersama Jungkook. Zya selalu tersenyum kepada Jungkook. V tidak pernah mendapat senyuman tulus itu dari Zya. V juga merasa cewek yang Jungkook maksud semalam adalah Zya. V terlalu larut dengan lamunannya hingga ia tak mendengarkan suara peluit dari gurunya. Jin menyadarkan V yang sudah ia duga kalau V pasti sedang berkecamuk dengan hatinya.

Mereka berbaris dikelas masing-masing. Guru itu memberi aba-aba agar setiap kelasnya membentuk kelompok. Agar mempersingkat waktu jam pelajaran yang sudah tidak sedikit lagi, didalam kelompok itu harus berisikan tiga perempuan dan tiga laki-laki.

Zya dan Stella memilih tidak mengikuti pertandingan ini. Zya lebih baik menonton saja, sementara Violet sangat bersemangat mengikuti pertandingan ini.

Zya melihat abangnya dan Angel mengikuti pertandingan ini, selebihnya Zya tidak kenal dengan yang lainnya. Zya dan Stella menyemangati Violet, teman-temannya pun ikut menyemangati kelasnya. Sorak sorai dari kedua belah pihak sangat bersemangat untuk menyemangati masing-masing kelasnya.

Zya sudah tidak heran dengan abangnya. Postur tubuhnya yang tinggi dan keahliannya bermain bola voli sangat sulit untuk dilawan. Jin beberapa kali menyetak skor untuk kelasnya, sementara kelas Zya tertinggal jauh. Zya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka permainan bola voli ini, Zya lebih suka permainan basket.

Tiba saatnya di ronde kedua, mereka bergantian tempat. Kali ini yang ada didepan Zya adalah kelasnya sendiri. Zya pun melihat Jin yang mundur dan digantikan dengan temannya.

"Kali ini si tukang pencetak skor nya udah mundur. Semoga aja kelas kita bisa ngejar." Ucap Zya pelan pada Stella.

"Iya bener. Itu cowok pinter banget mainnya bikin gue klepek-klepek." Zya menatap Stella dengan emoticon ingin muntah. Zya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Seseorang mendatangi Zya lagi. Zya kaget ketika orang itu adalah V. Zya tidak mengucapkan apa-apa, sengaja menunggu orang itu yang berbicara duluan. Lagian V juga langsung duduk saja disampingnya tanpa permisi.

"Gue mau nanyak sesuatu boleh?" Kata V tanpa melihat kearah Zya, Zya pun begitu.

"Apa?" Jawab Zya ketus.

"Lo pacaran sama Jungkook?" V mencoba untuk bertanya. Pertanyaan ini yang sedari tadi mengelilingi pikirannya.

"Nggak. Kenapa lo nanyak gitu?" Tanya Zya balik dengan kesal. Zya merasa V telah mencampuri urusan pribadinya.

"Ya gak papa sih. Tapi tadi gue lihat kayaknya lo seneng banget pas sama dia." Kata V menatap Zya yang masih tidak melihat kearahnya.

"Gue cuma akrab aja sama dia. Lagian apa urusannya sama lo? Mau gue pacaran sama dia kek, suka-suka gue dong." Jawab Zya.

"Jadi lo suka sama dia?" Tanya V lagi. V sangat ingin Zya bilang tidak.

"Zya, gue kekelas dulu ya." Stella memotong sementara percakapan mereka. Stella merasa tidak enak seperti ada diposisi yang tidak tepat. Stella melihat raut wajah Zya yang tidak senang ketika kakak kelasnya itu datang. Tentu saja Stella bingung akan berbuat apa. Sementara Stella tidak tahu-menahu urusan pribadi Zya. Setelah tau betul Zya tidak suka jika urusan pribadinya ada yang mencampuri.

"Bareng gue aja sekalian." Zya melihat kearah Stella dengan serius.

"Tapi Zya ---" Belum selesai Stella berbicara, Zya kembali memotong ucapan Stella dengan melanjutkan pembicaraannya dengan kakak kelas itu.

"Gue mau suka atau enggak ke Jungkook, itu terserah gue dan lo gak perlu tau." Zya berdiri menarik tangan Stella dan akan meninggalkan V disana. Baru dua langkah Zya mendengar V berbicara dengan menaikkan suaranya.

"Tapi kalau gue suka sama lo gimana?" Zya menghentikan langkahnya, sementara Stella melihat bola yang akan melayang ke arah Zya. Stella pun tidak terlalu fokus dengan apa yang diucapkan oleh kakak kelasnya tadi.

"Zya awas Zya!!" Teriak Violet.

Bola Voli yang dilemparkan oleh Angel hampir mengenai kepala Zya. Zya sudah menutup matanya, namun bola itu tak kunjung sampai. Zya membuka pelan matanya.

"Balik ke kelas sekarang." Zya kenal dengan suara ini. Ia berbisik pelan pada Zya. Zya segera membuka matanya dan benar saja ini adalah Jin, abangnya yang menghalau bola itu dengan tubuhnya. Sehingga bola itu mengenai punggungnya. Zya dengan cepat melangkah pergi. Stella pun mengikutinya.

Zya dan Stella pergi ketoilet untuk mengganti baju olahraganya dengan seragamnya.

"Zya kayaknya lo banyak kenalan ya sama kakak kelas kita." Ucap Stella ditengah-tengah ia sedang mengganti bajunya.

"Nggak juga." Jawab Zya.

"Terus tadi apaan?" Tanya Stella lagi masih berusaha agar Zya mau bercerita.

"Udah lah La, gak usah dibahas lagi." Kata Zya malas.

"Lagian sebenarnya lo ini ada apa sih, kok kayaknya akhir-akhir ini ada aja yang bikin masalah sama lo." Kata Stella lagi.

"Gak tau La." Ucap Zya singkat.

"Lo gak mau cerita ke gue?" Tanya Stella, mencoba mencari kenyamanan Zya.

"Gue bingung yang mau cerita." Ucap Zya yang terlihat raut wajahnya yang memang sedang kebingungan menanggapi pertanyaan Stella.

"Ya cerita dari awal dong Zya, masa dari tengah." Kata Stella sembari tertawa kecil. Zya pun ikut tersenyum.

"Gue pikir-pikir dulu deh." Kata Zya kemudian.

"Ya udah, gue juga gak maksa kok." Ucap Stella. Stella tau, ia harus menunggu sampai mood Zya kembali normal.

Setelah selesai mengganti baju dan sudah terlihat rapi. Stella dan Zya segera keluar. Kemungkinan pertandingannya sudah usai dan akan banyak murid yang lainnya juga berganti baju nantinya. Stella dan Zya keluar dengan tawa kecil mereka. Sebelum pada akhirnya Zya didorong oleh Angel dari belakang. Untungnya Stella segera menarik tangan Zya sehingga Zya bisa mengontrol tubuhnya.

"Lo pikir lo udah menang dari gue?!" Angel berteriak menantang Zya.

"Gak jelas, udahlah yuk Zya gak usah ladenin nih orang." Kata Stella. Stella berusaha membawa Zya pergi.

"Eh lo siapa? Mau jadi pahlawan buat dia?" Stella menggeleng heran, kakak kelasnya yang satu ini memang suka membuat keributan. Tidak hanya dengan Zya saja tapi dengan adik kelas yang lainnya juga. Mereka sering ditindas bahkan dipermalukan.

"Pinter ya lo deketin cowok-cowok populer di sekolah kita. Pakek pelet apa lo?" Kata Angel kembali.

"Apa sih kak? Gue gak kayak yang lo kira." Akhirnya Zya membuka suaranya. Zya benar-benar tidak tau jika urusannya dengan Angel belum juga selesai.

"Masih ngeles lo! Setelah Jimin terus Jungkook, habis itu abangnya si V, terus sekarang menjalar ke Jin. Lo itu cewek murahan bukan sih?!" Zya mengeratkan genggamannya memegang baju olahraganya. Stella melihat raut wajah Zya yang sudah kesal atas ucapan Angel, namun Zya tak kunjung berbicara.

Stella menarik tangan Zya dan mengajaknya untuk pergi. Angel kembali mendorong Zya berharap ia terjatuh tapi sayangnya Jimin tiba-tiba terlihat didepan Zya dan menangkap tubuhnya.

"Lo gak papa?" Tanya Jimin. Zya segera membetulkan posisinya. Zya menunduk dan tidak menjawabnya.

"Angel, lo keterlaluan banget sih. Nama lo aja yang seperti malaikat tapi hati lo busuk." Ini kali pertama Jimin memaki orang seperti itu. Angel pun kaget ketika mendengar ucapan Jimin. Angel segera membela dirinya.

"Oh jadi lo juga suka ke cewek ini?" Tanya Angel dengan mukanya yang sudah menahan amarah.

"Kalau gue suka kedia, apa urusan lo?" Kata Jimin mantap.

"Lo liat aja, gue bakal bikin peritungan lagi kecewek ini." Ucap Angel lalu berbalik.

"Gue yang bakal ngjamin dia gak bakal kenapa-napa." Angel pergi dengan amarahnya. Angel berteriak dikamar mandi, terdengar frustasi. Murid-murid lain pun yang akan ke kamar mandi mengurungkan niatnya, menunggu Angel dan teman-temannya keluar terlebih dulu.

"Lo gak papa kan? Sorry ya tadi gue ngomong gitu ke Angel. Gue gak bermaksud buat gitu. Gue gitu, biar dia gak gangguin lo lagi. Ini salah gue. Gue yang akan bertanggung jawab atas sikap dia. Maafin gue ya." Jimin berbicara panjang lebar tanpa memedulikan Zya yang ingin menepis semua itu.

"Iya gue gak papa." Zya hanya mampu mengatakan kalimat itu. Disaat Jimin berbicara, Zya melihat ketulusan dimatanya.

"Gue pergi dulu." Kata Jimin lalu meninggalkan Zya dan Stella.

Hari itu sepertinya hari yang berat untuk Zya, setelah menghadapi V ia juga harus menghadapi Angel yang gila dengan cintanya. Zya dan Stella sudah sampai dikelas. Zya langsung duduk dibangkunya dan menelungkupkan kepalanya.

"Hai gaees, kalian ganti pakaian kok gak nunggu gue siiih." Violet datang dan menyapa sahabatnya itu dengan girang. Sepertinya Violet tidak tau kejadian didepan kamar mandi tadi.

"Lo sama gue aja, gue temenin yuk." Stella segera menarik Violet untuk mengganti bajunya.

"Zya kenapa?" Violet sadar akan sikap Zya yang diam saja.

"Nanti gue ceritain." Ucap Stella dan langsung dijawab anggukan setuju oleh Violet.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!