Suara di telfon
"Halo."
"Iya bos."
"Dipersimpangan lampu merah kamu ikuti mobil berwarna merah. Jaga dia jangan sampai kenapa-kenapa dijalan."
"Siap!!"
Telfon diputus.
----*----
Zya sedang berjalan sambil memutarkan gantungan kunci di telunjuk jarinya. Hari ini ia akan ke supermarket membeli beberapa camilan. Hari ini hari libur jadi Zya ingin menghabiskan waktunya dengan membaca novel atau bersantai dirumah.
Zya membuka pintu supermarket dan langsung memasukinya. Zya mengelilingi supermarket itu dengan membawa keranjang di depannya. Satu-persatu ia masukkan ke keranjang itu. Setelah dirasa cukup, Zya pergi kekasir dan membayarnya. Zya keluar dari supermarket dengan tas belanjaannya ditangannya. Zya kembali memakai earphone nya disatu telinga dan memutarkan musik kesukaannya.
Tak lama kemudian, Zya seperti mendengar seseorang memanggil namanya.
"Zya Zya Zya." Seseorang sedang berlari ke arahnya.
"Violet?" Zya terheran anak ini bisa ada disini tanpa kendaraannya. Padahal rumah Violet lumayan jauh dari sini. "Lo ngapain? Mobil lo mana?" Tanya Zya langsung setelah Violet sampai pada dirinya.
Violet menarik napas nya karena ngos-ngosan mengejar Zya yang sedari tadi tidak mendengarkan panggilannya. "Ada tuh disana." Zya melihat sekelilingnya.
"Mana? gak ada tuh?" Ucap Zya khawatir. Karena ia ingat semalam Violet pulang sendirian.
"Ada dirumah kakek gue. Kebetulan rumah kakek gue deket disini." Ucap Zya menjelaskan. "Lo kok gak bawa sepeda? Ini kan lumayan kalau dari rumah lo."
"Iya, gue sekalian olahraga aja."
"Olahraga tapi bawa camilan begini." Violet mengangkat sebelah alisnya, terheran-heran.
"Heee. Gue pengen jalan kaki aja Vi. Olahraga dikit." Zya cengengesan. Karena motornya baru saja ia cuci jadi sayang kalau dipakek hari ini cuma ke supermarket.
"Ya udah deh terserah lo aja." Kata Violet menyerah.
"Lo mau kemana Vi? Kenapa ngejar gue?" Zya memberikan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan.
"Oh iya gue inget. Gue mau cerita-cerita ke lo." Violet mengingat sesuatu.
"Cerita apa?" Tanya Zya penasaran. "Gak bisa besok aja apa? Emang penting banget?"
"Yaa mumpung ada lo sih disini. Lagian juga gue suntuk dirumah kakek gue, gak ada komputer." Jelas Violet.
"Ya udah kita ketaman dekat sini aja. Ceritanya sambil duduk-duduk yuk." Ajak Zya yang langsung disetujui oleh sahabatnya itu.
Mereka berjalan lagi berdua, menyusuri jalanan yang sedikit ramai. Hari ini matahari tidak terlalu terik dan tidak pula mendung. Daun-daun yang berjatuhan dijalanan membuat pinggir jalanan terlihat kotor ditambah lagi angin yang berhembus mampu memindahkan dedaunan ini ketengah jalanan.
"Disitu aja Vi." Zya menunjuk salah satu tempat ditaman itu. Mereka berdua duduk sambil meminum es yang tadi mereka beli dijalan. "Mau cerita apa Vi?"
Violet menarik nafasnya. "Zya semalem lo tau kan kalau gue pulang malam sendirian." Violet mengingatkan kejadian semalam setelah mengantarkan Zya pulang.
"Iya ingat. Lo kan orangnya gak takutan." Ucap Zya santai.
"Iya. Tapi semalem itu gue ngrasa ada yang ngikutin gue Zya." Violet mulai bercerita.
"Terus lo gimana? Lo diapain?"
"Gak kenapa-kenapa sih. Cuma kok gue rasa dia nglindungin gue ya. Soalnya pas waktu itu ada tiga motor yang mau ngehimpit mobil gue Zya. Lo tau kan tempat yang ada dipinggir jalan Kenanga yang banyak banget cowok-cowoknya nongkrong disana." Zya mengangguk pelan. "Gue rasa orang yang mau nghimpit mobil gue itu orang dari sana. Soalnya jalanan bener-bener sepi waktu itu. Dan tiba-tiba ada satu motor lagi nih yang gue rasa ngebantuin gue. Dia langsung ngedeketin mobil gue dan ngehalangin motor-motor yang mau nghimpit mobil gue. Gue lihat sedikit di kaca sepion gue, ada yang sampe jatuh dari motornya Zya. Pokonya gue gak berhenti Zya, gue terus jalan. Gue takut banget. Untung nyampek rumah dengan selamat. Dan motor yang tadinya nyelamatin gue itu masih ngikutin gue sampe rumah." Ucap Violet dengan perasaan lega.
"Makanya lain kali kalau mau pulang malem jangan malem-malem banget deh. Soalnya kan lo cewek, untung aja gue ---" Zya menghentikan ucapannya, mengingat sesuatu.
"Gue apa Zya?" Tanya Violet penasaran.
"Oh gue --- doain lo biar selamat." Ucap Zya sedikit gugup.
"Oo. Tapi gue penasaran deh Zya, siapa ya yang bantuin gue waktu itu. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, dari caranya dia ngendarain motornya, dan dia sendirian lo Zya kok bisa ya berani bantuin gue." Violet berucap sambil
membayangkan kejadian semalam.
"Atau jangan-jangan orang yang nolongin lo itu temen mereka lagi." Celetuk Zya agar Violet tidak penasaran dengan cowok semalaman.
"Gak mungkin lah Zya. Gue lihat kok motor dia itu beda. Dan gue yakin dia itu udah ngikutin gue sebelum kejadian itu." Ucap Violet meyakinkan.
Zya menyandarkan tangannya kejidatnya. Ia tidak berpikir bahwa Violet akan menjawab seperti itu.
"Eh iya Zya. Rumah lo kan gak begitu jauh dari sini. Ajak gue kerumah lo dong." Perkataan Violet sukses membuat Zya kaget sekaligus kebingungan. Gak mungkin kan Zya menolaknya, sementara dirumahnya masih ada abangnya yang juga sedang membereskan pakaiannya untuk hari-hari kedepan.
"Eee gimana ya?" Ucap Zya bingung.
"Ayolah.." Kata Violet merayu.
"I iya deh bo ---" Zya menghentikan ucapannya.
Nada dering dari hp Violet berbunyi. Violet segera mengangkatnya.
"Halo. Iya pah?"
"Lagi ditaman pah sama temen Violet nih si Zya."
"Oh ya udah deh Violet kesana sekarang."
"Iya. Violet mampir ke supermarket dulu ya. Papah mau nitip-nitip?"
"Ya udah deh. Violet balik sekarang." Violet menutup telfonnya.
"Kenapa Vi?" Tanya Zya kemudian.
"Papah gue nyuruh gue balik sekarang Zya. Soalnya nenek gue udah siapin makanan enak disana." Violet menjelaskan.
"Oh ya udah. Lo mau balik sekarang?" Tanya Zya lagi.
"Iya Zya. Sorry ya gue gak bisa mampir kerumah lo dulu." Ucap Violet merasa tidak enak.
"Iya gak papa. Lo mau gue anterin gak pakek motor gue, tapi gue ambil dulu dirumah." Zya mencoba menawarkannya, mengingat mereka sudah berjalan agak jauh dari supermarket.
"Gak usah deh gak papa. Gak terlalu jauh juga dari sini." Jawab Violet pasti.
"Hmm ya udah deh."
"Kalau gitu gue duluan ya. Bye." Violet melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Zya.
"Bye." Zya melihat Violet yang terlihat semakin menjauh dari pandangannya. Zya menghembuskan nafasnya keras lalu beranjak pergi juga dari tempatnya.
Zya sampai dirumahnya, ia membuka pintu dan menaruh belanjaannya tadi dimeja kemudian menjatuhkan dirinya di sofa. Zya diam sebentar. Terdengar langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga dibelakangnya.
"Dek lo udah datang?" Tanya Jin yang menyadari Zya sudah duduk disofa.
"Iya bang." Ucap Zya singkat.
"Baru aja mau gue jemput. Takutnya lo lagi istirahat di pinggir jalan." Kata Jin yang sudah bersiap-siap dengan kunci motornya Zya.
"Gue masih kuat kalik, jalan segitu doang." Zya menjawabnya sedikit sewot. Zya melihat abangnya memainkan kunci motornya di jari telunjuknya. "Bang?"
"Apa?" Jin yang sedang berjalan melalui Zya pun terhenti.
"Mau kemana? Kan gue udah disini." Tanya Zya lagi.
"Mau keluar bentar." Jin tidak memberi tahu kemana ia akan pergi.
"Itu kan kunci motor gue." Ucap Zya yang sedikit kebingungan.
"Pinjem bentar. Lagian gue udah lama nih gak motoran. Bosen banget pakek mobil mulu." Kata Jin sembari mengimutkan wajahnya untuk merayu Zya agar bisa memakai motornya.
"Terserah deh." Zya bangun dan membawa tas belanjaannya tadi pergi kekamarnya.
"Boleh nih?" Tanya Jin memastikan.
"Iya. Jangan lupa isi bensinnya." Kata Zya sembari menaiki anak tangga.
"Oke bos!!" Ucap Jin dan langsung berlari keluar.
Zya tidak terlalu memperdulikan ucapan abangnya. Ia terus menaiki anak tangga itu dan masuk ke kamarnya. Zya ingin membersihkan dirinya yang terasa lengket dibadannya. Karena sejak tadi pagi ia belum membersihkan dirinya dan langsung ke supermarket yang membuatnya sedikit berkeringat juga. Setelah Zya selesai membersihkan dirinya ia kembali berbaring di kamarnya yang empuk kemudian menutup matanya dan hilang dibawa alam mimpi.
----*----
Jin pergi ke sebuah pondok taman di panti. Jimin sudah menunggunya disana. Hari ini ada bazar yang diadakan dipanti ini. Masyarakat sekitar pun ikut meramaikannya. Bazar ini akan selesai pukul lima sore nanti. Jin memarkirkan sepeda motornya ke tempat yang sudah disediakan. Jin masuk untuk mencari Jimin terlebih dahulu.
"Jimin!!" Jin melambaikan tangannya pada seseorang yang sedang memegang boneka dan diarahkan ke anak kecil didepannya. Jin segera menghampiri Jimin setelah Jimin membalasnya.
"Gue pikir lo gak bakal datang. Acaranya sudah berlangsung sejak tadi." Kata Jimin.
"Iya maafin gue. Tadi habis beres-beres dulu." Ucap Jin menjelaskan.
"Ya udah gak papa." Jimin tersenyum sambil memukul pundak Jin pelan.
"Stand lo mana? Udah siap?" Tanya Jin kemudian.
"Udah tuh." Jimin menunjuk kebelakang Jin.
Dibelakang Jin ada banyak anak-anak yang sedang bermain capit boneka. Mereka harus memasukkan koin untuk mencapit boneka. Siapa yang dapat mencapit dan membawanya kelubang didalam sana, ia akan mendapatkan boneka itu. Banyak anak-anak yang kelihatan bahagia setelah mendapatkan boneka yang ia inginkan.
"Wahh Min kayaknya seru deh. Gue boleh ikutan main gak?" Ucap Jin sambil melihat keanak-anak itu dan tersenyum.
"Main aja, asal lo ikutan antri ya kayak mereka jangan main serobot aja." Jimin memperbolehkan Jin main dengan ikut aturannya yaitu antri satu persatu.
"Siap!!" Jin langsung memberikan selembar uang kertas pada Jimin dan langsung digantikan uang koin oleh Jimin.
"Kalau gue dapet banyak, bakal gue bagi-bagiin ke mereka." Ucap Jin lalu pergi mengikuti barisan anak-anak itu.
Jimin tersenyum melihat tingkah Jin ketika ikut bermain capit boneka. Ketika sudah tiba waktunya Jin yang bermain, anak-anak itu memberi semangat kepada Jin.
"Ayo kak , ayo, ayo, kakak pasti bisa, yang itu kak, itu bagus kak, ayo kak, kekiri kekiri, geser dikit, geser lagi. Yaaahhh!!!" Seru suara teriakan anak-anak itu menggema disana. Ketika capitannya tidak dapat menahan boneka yang akan dibawa kelubang bawah dan jatuh ditempat mereka akan berteriak kecewa tapi setelahnya akan bersemangat kembali.
"Yeeee dapaatttt!!!" Teriakan anak-anak itu ketika Jin dapat mengeluarkan boneka itu dari dalam kaca. Jin masih melanjutkan permainannya sampai koinnya habis. Ia telah mendapat lima boneka dikoin terakhir. Akhirnya boneka itu ia bagi-bagikan kepada anak-anak tadi yang terus menyemangatinya. Meskipun permainan ini sederhana tapi ia sangat menikmatinya dan menyukainya.
"Jin!!" Panggilan dari Jimin yang berjalan mendekatinya. "Makan yuk."
"Ayok! Gue udah laper ini." Jin mengiyakan ajakan Jimin. Setelah bermain capit boneka yang cukup melelahkan dan butuh konsentrasi penuh, rasanya perutnya sudah minta diisi. "Kita makan yang mana?" Tanya Jin sembari berjalan disamping Jimin. Disini juga banyak makanan yang dijajakan dari makanan ringan, gorengan, bakso, mie, dan lain-lain.
"Cari bakso aja." Ucap Jimin yang dijawab anggukan oleh Jin. "Disini aja yuk."
Jimin dan Jin duduk ditempat duduk yang sudah disiapkan oleh salah satu anak panti disini.
"Lo bukannya gak suka bakso ya." Tanya Jin kepada Jimin. Yang Jin tau, Jimin jarang makan bakso dan hampir tidak pernah.
"Bukan gak suka, cuma lebih ke gak terlalu suka aja."
"Terus, kenapa sekarang makan bakso?" Tanya Jin lagi.
"Gak papa, pengen aja. Udah lama juga gak makan." Jimin menjawabnya dengan santai. "Lo gak bawa mobil kesini? Tadi gue lihat gak ada mobil lo."
"Makasih dek." Ucap Jin ketika baksonya sudah datang. "Iya gue bawa sepeda motor kesini." Lanjut Jin menjawab pertanyaan dari Jimin tadi.
Jimin hampir tersedak pentol yang akan ia makan, ia kaget ketika mendengar Jin membawa sepeda motor. Karena Jimin tidak pernah melihat Jin naik motor sejauh ini.
"Biasa aja kalik gak usa sampe keselek gitu juga. Minum geh!" Jin menyodorkan minuman kepada Jimin dan diminum kemudian oleh Jimin.
"Habisnya lo gak pernah naik motor selama ini. Gue pikir lo naik taxi tadi." Ucap Jimin setelah reda dari tersedaknya.
Mereka menghabiskan baksonya masing-masing lalu kemudian kembali lagi ke stand Jimin. Saat ini stand Jimin makin rame dikunjungi anak-anak. Boneka yang ada didalamnya pun semakin sedikit.
"Lo tunggu sini ya, gue mau ambil boneka-boneka dulu di mobil."
"Ok." Jin menyanggupi permintaan Jimin.
Jimin mengambil banyak boneka yang sudah ia siapkan didalam mobilnya. Ia masukkan boneka itu kedalam karung lalu membawanya kedalam lagi untuk mengisi boneka-boneka distand nya.
"Permisi ya anak-anak kakak mau isi dulu bonekanya." Kata Jimin meminta agar anak-anak itu mundur sedikit.
"Iya kak."
Bazar hari ini berlangsung ramai dan lancar sesuai harapan. Uang bazar yang terkumpul akan disumbangkan kepada panti-panti terdekat dan panti jompo nantinya.
Jimin memang suka membantu acara-acara seperti ini, selain itu Jimin juga pernah dibesarkan oleh bunda Risa yang merupakan pemilik panti Mangrove ini. Disaat kedua orangtuanya tengah sibuk mengurus pekerjaannya keluar kota sehingga Jimin harus dititipkan dipanti ini. Dan saat itu pula mama Jimin sedang mengandung adiknya.
Tiba saatnya dipenghujung acara, sebentar lagi bazar ini akan ditutup. Hari sudah mulai gelap, Jimin dan Jin membantu yang lainnya membersihkan area sekitar agar tidak ada sampah yang mengganggu pemandangan indah ditempat ini. Hari mulai makin gelap saat ini. Jimin dan Jin berpamit pulang kepada bunda Risa yang telah mengucapkan terimakasih kepada kedua laki-laki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Dinda Febrianti
semangat terus berkarya Kaka☺️🙌
2022-12-22
1
Febry Awan
supermarket mulu yang di bahas
2022-12-07
1