Zya datang kesekolah lebih awal dari biasanya. Ia ada janji dengan Violet pagi ini. Salah satu buku Violet hilang entah dimana ia menaruhnya, dan hari ini ada jam pelajarannya. Zya bergegas ke kantin sekolah karena Violet telah menunggunya disana. Kebetulan sekali Zya belum sarapan dirumahnya. Jadi ia akan menemani Violet menyalin bukunya sementara Zya akan sembari mengisi perutnya.
"Vi udah lama nunggu?" Kata Zya setelah sampai dimeja Violet.
"Nggak kok. Sini buku lo, gue harus cepet-cepet salin materinya." Ucap Violet.
"Iya iya nih." Zya mengeluarkan sebuah buku didalam tasnya lalu menyodorkannya pada Violet. Violet pun bergegas dengan cepat menulis salinan dibuku itu.
"Lo gak haus Vi? Gue beliin minuman ya?" Tanya Zya yang sudah akan berdiri.
"Boleh deh." Violet menjawabnya dengan tangan yang masih menulis dan tanpa mendongak sekalipun.
Zya berdiri dan berjalan menuju Bu Sri yang menjual es buah.
"Bu es nya dua ya." Ucap Zya kepada Bu Sri dan diberi anggukan oleh Bu Sri.
"Kok pagi sekali neng datangnya?" Tanya Bu Sri.
"Iya bu. Buku teman saya hilang jadi harus nyalin materinya dulu sebelum jam pelajarannya." Ucap Zya ramah dan sesekali tersenyum.
"Ini neng." Bu Sri memberikan es buah yang sudah dipesan oleh Zya.
"Makasih bu." Zya tersenyum lalu berjalan ke meja Violet lagi.
"Nih Vi." Zya duduk kembali dan melihat kearah sekitar sambil memakan es buahnya. Zya terdiam saat melihat ada kakak kelasnya yang juga melihatnya dengan tatapan aneh, seperti tidak suka pada Zya.
"Vi??"
"Hm?"
"Vi lo liat deh kakak kelas itu kayaknya ngliatin gue ya? kok gue ngrasa aneh gitu liatnya." Violet melihat kebalakangnya. Memang ada sepasang mata yang tidak mengenakkan disana.
"Udah Zya gak usah dipikirin." Ucap Violet agar Zya sedikit tenang. Violet kembali menulis lagi. Zya pun mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tak lama kemudian, Zya kaget dengan apa yang dilakukan oleh kakak kelasnya ini.
"Heh lo kemaren yang nabrak Jimin kan?!!" Muka Zya basah disiram air dingin oleh kakak kelasnya itu. Zya berdiri dan mengusap wajahnya dengan tangannya.
"Jimin siapa kak? Aku gak tau." Ucap Zya masih dengan nada kalem.
"Lo gak usah pura-pura gak tau deh. Udah jelas-jelas gue lihat lo sma Jimin tabrakan di koridor kemaren!!." Zya mengingat-ngingat kejadian itu.
"Oh itu cuma gak sengaja aja. Lagian ngapain lo marah-marah sama sahabat gue?" Violet jadi ikut angkat bicara.
"Heh lo diem ya! Jimin itu calon pacar gue, gak ada yang boleh deketin dia selain gue! Paham lo!!" Zya didorong hingga ia terduduk kembali.
"Zya lo gak papa?" Violet memindahkan dirinya disamping Zya dan memegang bahu Zya menguatkan.
"Tapi gue beneran gak ada apa-apa sama calon pacar lo itu. Itu cuma gak sengaja aja." Zya masih mencoba untuk memvela dirinya.
"Apa lo bilang? Gak sengaja? Gak sengaja tapi kok kenceng banget nabraknya!!"
"Heh asal lo tau ya Zya juga sakit ditabrak gitu sama pacar lo!" Emosi Violet keluar.
"Diem lo gak usah ikut campur urusan gue!!"
"Kenapa? Zya sahabat gue, jadi gue berhak ikut campur!" Ucap Violet kesal
"Udah Vi, kita kekelas aja yuk. Gak enak nih banyak yang liat." Ucap Zya pelan pada Violet hampir berbisik. Zya baru saja akan berdiri dan mengambil tasnya, namun ia kembali didorong oleh kakak kelasnya itu.
----*----
Jin berangkat kesekolahnya bersama Jimin dan Suga. Setelah sampai Jin langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju kekelasnya. Ia mendengar keributan dikantin.
"Ada apa?" Tanya Jin pada Jimin dan Suga. Mereka saling pandang lalu bergegas kekantin.
Zya duduk dikursi kantin yang sudah ramai orang melihatnya. Kakak kelasnya Angel memarahinya habis-habisan dan menumpahkan gelas yang berisi air ke wajah Zya. Zya duduk menunduk, Violet ada disampingnya memegang Zya.
"Eh eh mau kemana lo." Angel mendorong Zya kembali keduduknya. "Urusan kita belum selesai ya!!" Kata Angel dengan tatapan kejamnya.
"Lo mau apa lagi? Gue bener-bener gak sengaja waktu itu." Jelas Zya lagi.
"Lo pikir gue bodoh? Gue gak buta, gue bisa lihat mana yang sengaja dan mana yang nggak!!" Angel mendekatnya wajahnya ke wajah Zya yang sekarang sedang menunduk. "Lo denger gue baik-baik ya. Sekali lagi gue lihat lo sama Jimin berdua. Gue gak bakal segan-segan bikin lo malu lebih dari ini!" Ucap Angel lirih.
"Ayo Zya!" Violet menggandeng tangan Zya akan membawanya pergi dari sini.
"Tunggu dulu dong. Lo perasaan buru-buru amat." Angel masih mencegah Zya pergi dengan temannya.
"Lo tau Jimin itu orang yang gue suka kan!! Jauhin dia! Lo itu gak pantes sama dia. Ngerti!" Angel masih memberi peringatan sekali lagi pada Zya yang masih menunduk.
"Kak gue udah bilang ya sama lo. Gue gak kenal sama yang namanya Jimin. Jadi lo gak usah takut Jimin lo itu bakal gue rebut." Zya mengepalkan tangannya dibawah meja. Zya sudah tidak tahan dengan perlakuan kakak kelasnya ini.
"Alaahh alasan banget lo!!" Kemarahan Angel terpancing ketika akhirnya Zya berbicara padanya, seolah-olah Angel adalah perempuan yang tidak tau diri.
Jin melihat Angel akan menjatuhkan gelas berisi air diatas rambut Zya. Sebelum itu terjadi, Jin menampis tangan Angel membuat gelas itu jatuh dan pecah. Jin melihat Angel dengan tatapan tajamnya.
"Jin! Lo ngapain?!!" Tanya Angel yang kaget melihat kelakuan Jin.
"Lo yang ngapain!! Lo diapain sama dia?!" Tanya Jin pada Zya yang masih menunduk. "Bangun Lo." Jin mengangkat tangan Zya dan membiarkan Violet yang membawa tas milik Zya. Ia membawanya keluar dari kantin yang semakin ramai orang yang penasaran. sebagian orang yang baru datang atau ada dibagian paling belakang, mungkin mereka akan kaget ketika melihat Jin membawa Zya pergi.
"Jimin. E elo dari tadi?" Angel menyadari kehadiran Jimin didepannya. Angel tau kalau tadi Jin harusnya ada Jimin.
"Ck gue gak suka sama lo. Jadi please stop jadi penghalang jodoh gue." Penolakan secara langsung dari Jimin harusnya membuat Angel menyadarinya.
"Apasih kurangnya gue? Gue baik ke lo. Gue sering ngasih contekan buat lo. Gue selalu dukung lo kalau lo main basket." Angel yang tidak terima ia ditolak mentah-mentah seperti itu.
"Iya maka dari itu, lo terlalu baik buat gue." Ucap Jimin asal.
"Gue bisa jadi jahat." Jimin tertawa salting mendengar ucapan Angel yang ia sendiri tidak tau akan menjawab apa. Akhirnya Jimin memutuskan untuk pergi dan merangkul Suga.
"Kata Jimin kurang jahat Ngel." Teriakan Suga yang semakin menjauh.
"Sialan lo." Jimin berkata lirih seperti berbisik.
"Apanya yang kurang jahat Ga?" Jhope muncul dari belakang mereka.
"Kucing! Sialan lo bikin kaget aja." Suga mengelus dadanya.
"Lagian gue dari tadi disini kalik. Lo aja yang jalan sambil nunduk." Protes Jhope yang melihat kedua temannya jalan merangkul sambil menundukkan kepalanya.
"Lo mau ikut gue gak?" Tanya Jimin kepada Jhope.
"Kemana?" Jhope tersenyum memperlihatkan wajah penasarannya.
"Ke kelaaasss." Jimin dan Suga lari dari kejaran Jhope yang merasa tertipu.
Suasana sekolah makin ramai. Di kantin pun sudah kembali normal setelah kejadian tadi. Ada beberapa siswa/siswi yang masih kekantin sembari menunggu bell masuk, ada pula yang menunggu didepan kelas, dan ada pula yang menunggu didalam kelas sambil mengerjakan PR yang belum tuntas atau hanya menyalin buku teman saja.
"Zya tadi lo bener-bener udah bagus banget ngomong gitu ke si angel-angel kakak kelas itu."
"Angel?" Zya mengangkat sebelas alisnya.
"Iya. Dengan gitu, dia itu udah gak tau malu ngelabrak lo yang gak tau apa-apa sama calon pacarnya yang gak jelas itu." Zya hanya tersenyum sedikit dan tidak berkata apa-apa.
"Halo gaess. Ada berita baru apaan nih? Kok rame perasaan." Stella datang dengan riang.
"Eh lo tau gak tadi ada kakak kelas yang nglabrak kita La." Violet memulai gosipnya dengan Stella yang baru datang.
"Nglabrak? Siapa? Ngapain? Lo punya salah?" Tanya Stella beruntun akibat gosip yang dia dengar sangat mengejutkan.
"Hee bukan gue. Tapi.." Violet menunjuk Zya dengan mengembungkan pipinya kesebelah kanan.
"Lo kenapa Zya?" Tanya Stella penasaran.
"Lo inget pas waktu gue ditabrak sama kakak kelas yang waktu itu?" Zya mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk memulai bercerita dengan Stella.
"Iya inget, kenapa? Bukannya itu orang udah minta maaf ya. Udah clear kan urusannya?" Stella makin penasaran dengan perkataan Zya.
"Bukan itu La. Pacarnya atau calon pacarnya yang nglabrak gue. Ahh pokoknya gue gak tau lah." Zya bingung cara menjelaskannya pada Stella.
"Pacarnya? Calon pacarnya? Lo ngomong apa sih Zya?" Stella makin bingung dengan perkataan Zya.
"Iya pokoknya dia bilang calon pacar gitu." Zya mencoba membuat Stella mengerti.
"Masih calon kan? Protektif banget. Gimana nanti pas udah jadi pacarnya, bisa-bisa satu sekolah kalik dia labrak semua." Ucap Stella heran bercampur kesal.
"Nah makanya itu, gue juga heran." Violet menimpali. "Eh iya Zya, gue tadi lihat kakak kelas yang nabrak lo itu.. siapa namanya? Jimin ya?" Violet coba mengingat-ingat namanya dan memastikan kebenarannya.
"Iya." Kata Zya dengan raut wajah malas.
"Iya itu. Dia ngliatin lo tau. Kalau gue lihat-lihat lo sama dia ada kemiripan deh."
"Dih apaan dah lo? Mau jadi makjomblang kesiangan lo?" Stella langsung menyemprot Violet dengan kata-kata pedasnya.
"Dengerin gue dulu. Dari matanya, senyumnya itu hampir mirip sama Zya." Violet mencoba menjelaskan secara detail.
"Kapan lo liat dia senyum?" Zya tiba-tiba terperanjat mendengar kata senyum.
"Pas dia ngliatin lo tdi dikantin." Violet menjawabnya dengan santai, seakan-akan ia tidak bersalah.
Zya teringat dengan buku yang ditinggalkan oleh almarhumah ibunya. Dibuku itu ibunya menulis bahwa Zya memiliki kakak laki-laki yang ciri-cirinya rambut kecoklatan, matanya agak kebiru-biruan, senyumnya yang mirip dengan Zya dan dilengan kirinya ada tanda sayap yang akan terlihat menyambung dengan tanda sayap yang Zya punya dilengan kanannya.
Secara tidak sengaja Zya menyentuh lengan tangan kanannya. Ia rindu dengan ibunya yang telah meninggalkannya lebih dulu. Saat itu Zya masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya. Momy nya lah yang bercerita padanya secara tertutup. Momy dan Dady nya tau, namun tidak dengan abangnya. Jin sangat menyayangi Zya sebagai adik kandungnya sendiri. Maka dari itu Zya tidak pernah kekurangan kasih sayangnya dari siapapun. Karena Momy dan Dady nya juga abangnya, menyayanginya sepenuh hati. Usia Zya saat ini sudah tidak dini lagi. Zya ingin mengetahui dimana sekarang Ayah kandungnya dan kakak laki-lakinya. Apakah mereka hidup berkecukupan atau sebaliknya. Zya ingin menemukan mereka, namun Zya masih belum bisa mencari mereka sendirian.
"Zya! Lo kenapa? Tangan lo sakit ya?" Zya tersadar dari lamunannya dan segera menurunkan tangannya.
"Oh nggak kok." Ucap Zya pelan.
"Beneran? Gara-gara kak Angel dorong lo ya? Atau gara-gara kakak kelas cowok itu yang narik lo tadi?" Stella kaget bukan kepalang mendengar ucapan Violet yang tidak bisa ia mengerti.
"Tunggu tunggu. Tadi lo bilang apa? Didorong Angel? Ditarik kakak kelas cowok? What happen?" Sebelum Zya menjawab pertanyaan Violet, Stella langsung mengajukan pertanyaannya pada Violet dan Zya.
Zya menggeleng pelan dan menepuk jidatnya melihat kelakuan Violet yang tidak bisa memilah-milah pembicaraan yang membuat Stella kembali makin penasaran.
"Iya jadi tadi itu gue sama Zya lagi disidang nih sama kak Angel. Gue udah mau ajak Zya keluar dari kantin tapi dihadang sama kak Angel. Nah habis itu kak Angel mau nyiram Zya lagi. Terus lo tau gak si La? Ada pangeran dateng La nyelamatin Zya dan ngajak Zya keluar. Tapi menurut gue kasar sih ngajak keluarnya. Ya kalik tangan Zya ditarik paksa gitu. Jadi gitu ceritanya." Violet nyengir diakhir kalimatnya. Stella mendengarkan Violet dengan tatapan julidnya.
"Eh iya Zya, kakak kelas cowok itu siapa sih Zya? Lo kenal?" Tanya Violet kepada Zya.
"Oh ee gak kenal gue." Ucap Zya sedikit gugup.
"Bukan si Jimin itu?" Tanya Stella yang masih dengan julidnya.
"Ih bukan La. Ini tuh lebih tinggi, lebih handsome, lebih menarik menurut gue, pokoknya lebih segala-galanya lah." Violet memberikan gambaran kepada Stella.
"Serah lu deh." Stella berdecak malas membayangkannya.
"Zya lu beneran gak tau?" Tanya Violet pada Zya untuk memastikannya lagi.
"Iya gak tau gue." Zya mencoba untuk tenang menghadapi sahabatnya yang satu ini.
"Kalau tau, kasih gue ya. Tipe gue banget ituh." Violet menyandarkan tangannya kesamping kepalanya mulai membayangnkan kakak kelas yang ia temui tadi.
Zya dan Stella saling pandang melihat Violet yang sepertinya mulai punya idol disekolah ini. Terlebih lagi Zya, karena orang yang Violet maksud adalahnya abangnya sendiri. Justru membuat Zya menahan emot muntahnya. Abangnya yang terkenal handsome disekolah ini tapi tidak dimata Zya. Yang terlihat adalah kebobrokannya jika sedang ada dirumah. Zya menyadarkan Violet yang masih dengan wajah khayalannya agar fokus untuk sekolah. Karena jam pelajaran akan dimulai sebentar lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments