Zya melampiaskan emosinya dengan motornya dijalan. Mengendarainya dengan kecepatan penuh. Semua mobil yang ada di jalanan mampu ia dahului. Zya bagaikan pembalap di jalan raya yang penuh dengan kendaraan lain. Tidak ada yang bisa menghalangi dirinya, bahkan lampu lalu lintas pun setiap ia akan lewat pasti berwarna hijau.
Zya melihat segerombolan geng motor didepan. Tanpa ragu Zya pun melewati mereka dengan kecepatan penuhnya. Tanpa Zya ketahui pula bahwa aksinya itu memancing mereka untuk mengejar Zya. Zya melihat di kaca spionsnya. Zya mengulas senyum dibibirnya. 'Sepertinya ada yang mau main-main sama gue.'
Zya sengaja memberhentikan motornya ditempat yang tidak banyak dilalui orang. Dengan percaya dirinya Zya turun dari motor menunggu para geng motor tadi sampai dihadapannya. Zya juga tidak membuka helm nya. Zya berdiri dengan melipat tangannya didada.
"Nah ini dia, cari mati ni anak." Ucap salah satu dari mereka.
"Udahlah sikat aja." Kata teman satunya lagi.
Mereka semua turun dari motornya. Seseorang yang berada dibagian depan sendiri seperti ketua bagi mereka. Menghentikan anak buahnya yang hendak maju.
"Sebelumnya lo buka dulu helm lo, biar kita tau lo cowok atau cewek. Kalau cowok kita habisin dia tapi kalau cewek, boleh lah main sebentar." Katanya menunjukkan senyuman yang menjijikkan bagi Zya.
"Hahhahaha." Mereka semua tertawa riang. Zya diam dan mengisyaratkan untuk maju saja.
"Kayaknya nantangin tuh bos." Ucap salah satu dari mereka.
Seseorang yang terlihat sebagai ketua mereka, menyuruhnya untuk maju. Zya sudah bersiap sejak tadi. Awalnya Zya hanya memancing mereka sebagai pemanasan. Dengan mudah beberapa dari mereka sudah rubuh. Tersisa satu orang lagi, yaitu ketua dari mereka. Zya melihat jelas wajah ketua itu, sedikit bingung dan tak percaya bahwa anak buahnya yang berjumlah enam orang ini bisa dikalahkan dalam sekejab.
Zya tersenyum sinis didalam helm nya., Zya segera membuka helm nya dan mengibaskan rambutnya yang panjang dan sedikit begelombang. Lagi-lagi ketua itu tercengang melihat Zya yang membuka helm nya. Yang lainnya pun bangun dan segera pergi ketempat bosnya berdiri sembari memegang bagian yang sakit.
"Cewek bos." Ucap salah satu dari mereka.
"Iya gue tau, gue juga liat." Kata si ketua tadi.
Zya tidak banyak pikir, ia segera pergi kemotornya dan kembali akan memakai helmnya.
"Tunggu!" Kata seorang ketua ingin memberhentikan Zya, namun Zya tidak menghiraukannya dan terus naik ke motornya. Sekilas Zya menoleh kearah belakang untuk melihat mereka kemudian Zya menjalankan motornya lagi.
----*----
"Ngapain bang?" Tanya Zya yang sampai diatas loteng dan melihat Jin yang sedang rebahan disana sembari melihat langit.
"Lagi mikirin lo." Jawab Jin dengan enteng.
"Gue? Kenapa?" Zya ikut rebahan disamping Jjn dan melihat kearah langit.
"Sejak kapan lo pintar ngdeketin cowok?" Tanya Jin tiba-tiba.
"Apa?" Zya melihat kearah Jin, namun Jin tetap melihat langitnya.
"Gue lihat V suka sama lo, tapi lo lebih milih Jungkook. Kenapa?" Tanya Jin lagi.
"Lo tau?" Tanya Zya balik, sedikit heran. Tapi Zya segera menampis itu. Tidak heran jika Jin tau, ia pintar menebak raut wajah orang.
"Gue bisa lihat dari wajah saja." Kata Jin.
"Gue sebenarnya gak bermaksud gitu kok." Kata Zya bingung menjelaskan.
"Terus?" Tanya Jin lagi.
"Gue ---" Zya belum selesai berbicara tapi langsung dipotong oleh Jin.
"Gue kasih tau lo ya. V dan Jungkook itu adik kakak yang saling menjaga, mereka gak pernah berantem selalu bersama. Jadi gue cuma mau ingetin lo, jangan sampai mereka berantem cuma gara-gara cewek." Zya terdiam mendengar perkataan Jin. "Lo suka sama siapa?"
"Ha?" Zya bingung dengan pertanyaan Jin.
"Lo suka sama Jungkook atau V?" Tanya Jin lagi menjelaskan
"Nggak gue gak suka. Gue cuma lebih nyaman aja berteman." Jawab Zya.
"Tapi expresi lo ketika sama Jungkook dan V itu berbeda Zya." Kata Jin lagi.
"Gue gak nyaman sama V." Ucap Zya jelas.
"Kenapa?" Tanya Jin yang penasaran.
"Hmm gak nyaman ajalah pokoknya." Kata Zya.
"Gue boleh mintak agar lo adil?" Perkataan Jin mengandung arti yang tidak bisa Zya cerna.
"Maksudnya?" Tanya Zya bingung.
"Kalau lo bisa baik sama Jungkook, lo juga harus bisa baik sama V." Kata Jin melihat Zya.
"Kenapa harus gitu?" Tanya Zya lagi.
"Karena V juga mau berteman sama lo." Zya terdiam dan berpikir sejenak. "Apa salahnya sih lo sama-sama baik dengan mereka." Lanjut Jin.
"Gak salah kok, gue usahain deh." Jawab Zya.
Hening. Mereka larut dengan pikirannya masing-masing. Mungkin abangnya benar, Zya harus sedikit baik pada V tapi tidak usah terlalu akrab juga.
----*----
Zya sedang berjalan-jalan menikmati indahnya suasana sore hari. Zya dengar hari ini ada pasar sore di seberang jalan utama. Zya akan pergi kesana mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tau apa. Yang jelas Zya ingin membeli makanan atau cemilan untuknya. Dijalan, Zya bertemu dengan Dani, mereka pun berjalan bersama. Dani adalah bawahan Zya yang amat setia dan cukup dekat dengan Zya. Dani adalah bawahannya yang termuda dan memiliki anak buah yang cukup bisa diandalkan disaat-saat genting. Zya memiliki beberapa bawahan yang sudah cukup senior, dan tidak terlalu terikat dengan Zya. Beberapa bawahannya mempunyai kehidupannya masing-masing, ada yang sebagai juara umum MMA, pemilik perusahaan Tuan Muda, Mafia yang cukup terkenal, dan masih banyak lagi. Zya sengaja menyembunyikan identitasnya, sehingga tidak banyak yang tau kalau sebenarnya mereka adalah bawahan Zya. Namun ketika Zya mendapat masalah besar, mereka pasti akan datang untuk Zya.
Zya dan Dani berbincang-bincang dijalan sembari melangkahkan kakinya pelan.
"Dan, lo udah mutusin mau kuliah dimana?" Meskipun Dani lebih tua daripada Zya tapi Zya sudah terbiasa memanggilnya dengan namanya saja.
"Belum." Katanya.
"Ini kan udah satu tahun lo gak lanjutin kuliah. Apa lo masih terkendala dana?" Tanya Zya lagi. Zya tau Dani bukan dari kalangan orang yang berada tapi kegigihannya membuat Zya yakin bahwa Dani bisa melakukan apapun.
"Nggak kok, kayaknya gue gak tau bakal kuliah kapan." Kata Dani.
"Kehidupan lo harus tetap berjalan sesuai keinginan lo." Ucap Zya mengingatkan Dani yang sepertinya ada beban yang ia rasakan.
"Iya gue tau." Kata Dani lagi. Menurutnya, Zya adalah orang yang bisa membuat Dani menemukan jalan yang benar.
"Jangan karena lo bawahan gue, jadi lo bakal kayak gini terus. Lo gak bakalan kehilangan kesenangan dan orang-orang yang selama ini ada buat lo." Dani diam mendengarkan Zya. "Apa yang lo cita-cita kan harus tetap tercapai."
Mereka terus berjalan, sampai pada akhirnya Zya melihat seseorang seperti ditindas. Zya menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Dani yang heran.
"Lo liat orang itu?" Zya menunjuk seseorang yang dihadang oleh dua preman dan sepertinya mereka memanas disana.
"Orang itu? Dia yang waktu itu ada dirumah kayu. Lo yang nyelamatin dia." Kata Dani yang berniat mengingatkan Zya.
"Iya gue tau. Sekarang apa lagi yang di buat." Kata Zya.
"Lo kenal?" Tanya Dani lagi.
"Gue kenal tapi gue berusaha untuk tidak mencampuri kehidupannya." Kata Zya dan diterima anggukan oleh Dani.
"Lo mau, gue nolong dia?" Dani melihat orang itu sudah dipukuli dibagian perutnya oleh dua preman tadi. Zya diam tidak menjawab. "Gue jalan, kalau ada perintah dari lo."
"Lo tolong dia, habis itu tinggalin dia biar gue yang urus nanti." Zya akhirnya membuka suaranya.
Dani segera menghampiri mereka dan mencoba meredam pertengkaran itu, namun sepertinya tidak mudah. Akhirnya Dani pun turun tangan menghajar kedua preman itu. Setelah dirasa cukup dan kedua preman itu tadi sudah beranjak pergi, Dani pun ikut pergi meninggalkannya.
"Hey tunggu!" V mencoba berdiri sembari memegang perutnya.
Zya datang dan membantu V berdiri. V kaget karena tiba-tiba Zya memegang pundaknya.
"Duduk disitu dulu." Zya memapah V dengan hati-hati.
"Makasih ya." Kata V merintih.
"Lo kenapa sih? Lemah banget." Celetuk Zya setelah V duduk.
"Jadi lo suka cowok yang gak lemah?" Zya hanya diam dan mengalihkan pandangannya. "Kayak Jungkook?" Lanjutnya.
"Oh iya, gue telfonin Jungkook biar jemput lo kesini." Tiba-tiba Zya teringat sesuatu.
"Lo punya nomer nya ya?" Tanya V, namun Zya tidak mengubrisnya.
"Udah lo diem aja." Zya mengutak atik ponselnya.
"Gak usah. Gue bisa sendiri kok." V menutup layar ponsel Zya dengan tangannya.
"Kenapa? Lo sama dia kan adik kakak." Kata Zya kesal.
"Biarin aja. Jungkook lagi sibuk latihan." Ucap V sembari menatap kedepan.
"Latihan?" Tanya Zya bingung.
"Iya." Jawab V singkat.
Sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan lagi yang ingin Zya tanyakan tentang pernyataan V tadi. Tapi Zya berpikir ulang dan mengurungkan niatnya.
"Lo kok bisa ada disini?" V tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Gue lagi jalan-jalan aja." Jawab Zya simple.
"Serius?" Tanya V memastikan.
"Iya." Kata Zya.
"Berarti gue beruntung dong bisa ketemu lo pas lo lagi nyantai." Zya hanya diam mendengarkan. "Lo tuh kalau disekolah cuek ke gue tapi kalau sama Jungkook nggak." Ucap V terang-terangan.
"Udah ya gue pergi dulu." Zya sudah berdiri dan ingin pergi dari sana tapi V memegang tangan Zya, sehingga Zya tidak jadi melangkah.
"Eh mau kemana? Lo gak mau nemenin gue yang lagi sakit nih?" Kata-katanya sangat manis bila didengarkan oleh seorang cewek yang menyukai V.
"Kan tadi udah mau gue telfonin adek lo tapi malah di halang sama lo. Gimana sih?" Ucap Zya sedikit kesal.
"Gue maunya ditemenin lo dulu." Kata V seperti memohon.
"Gue gak mau. Gue masih mau kesana." Kata Zya menunjuk arah dimana pasar sore itu berada.
"Ya udah bareng gue." Zya menghembuskan nafas panjang. V sangat bandel kali ini.
"Terserah lo aja deh." Zya mulai berjalan pelan. V bangun dan mengikuti Zya sampai langkah mereka berjajar.
Zya sebenarnya tidak ingin V ikut. Zya merasa ia tidak akan leluasa nantinya. Zya memutar otaknya berfikir agar V tidak jadi mengikutinya.
"Lo gak ada kerjaan apa?" Tanya mencari-cari alasan agar V mau pergi.
"Gak ada." Jawab V tenang.
"PR?" Tanya Zya lagi.
"Gak ada juga." Jawabnya. V tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan Zya, sepertinya ia tau kalau Zya menginginkannya untuk pergi.
"Perut lo masih sakit kan? Gimana kalau lo periksa dulu deh. Yaa takutnya infeksi atau apa gitu." Zya mencoba pakai cara ini.
"Nggak kok udah mendingan." Lagi-lagi Zya menghembuskan nafasnya dengan kasar, seolah-olah tidak ada cara untuk si bandel ini. "Lo tumben perhatian ke gue?"
"Nggak b aja." Kata Zya tanpa expresi.
"Tapi gue suka." Kata V sembari tersenyum lebar.
"Syukur deh." Ucap Zya dengan pandangan tetap lurus.
Tiba-tiba Zya mendengar seseorang yang memanggil namanya. Zya mencari orang itu. Suaranya tidak asing bagi Zya, tapi Zya masih tidak bisa menebak siapa orang itu.
Jungkook melambaikan tangan pada Zya. Ia ada diseberang lampu merah. Tepat saat lampunya berubah warna merah, Jungkook segera menyebrang dan menghampiri Zya. Jungkook juga tau kalau disitu ada abangnya, V. Awalnya ia ragu-ragu tapi Jungkook berusaha agar bersikap biasa saja.
Jungkook sudah tiba dihadapan Zya.
"Hey." Kata Jungkook menyapa.
"Kok lo ada disini?" Ucap Zya kaget.
"Iya, habis pulang latihan. Nih buku buat lo." Jungkook mengeluarkan sebuah buku didalam tasnya dan memberikannya pada Zya.
"Waah makasih ya. Ini kan buku novel terbaru yang bakal jadi film itu kan." Zya menerima buku itu dengan senang. Begitu cepat senyumannya terulas. V dapat melihat itu. V juga sadar, Zya lebih banyak senyum pada Jungkook ketimbang pada dirinya.
"Iya, gue rasa lo pasti suka." Ucap Jungkook sembari tersenyum lebar.
"Makasih ya, gue pasti suka. Nanti gue baca." Kata Zya masih dengan senyuman manisnya.
"Bang lo ada disini juga?" Jungkook mencoba mengambil percakapan dengan V.
"Eh iya, lo anter abang lo deh ya." Belum sempat V membalasnya, Zya sudah buka suara.
"Kenapa?" Tanya Jungkook bingung.
"Abang lo habis dipukul orang tadi, gak tau tuh kenapa." Ucap Zya. Zya sama sekali tidak memberi ruang agar V bisa berbicara.
"Oh ya udah. Kita pulang bang?" Tanya Jungkook memastikan.
"Ya udah ayo." Ucap V seketika yang terlihat lemas.
Zya tersenyum senang mendengar jawaban dari V. Mereka pun berpisah. Zya akhirnya dapat membuat V pergi tanpa harus berpikir yang aneh-aneh. Zya melanjutkan perjalanannya, sementara V sudah bersama Jungkook yang juga melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.
"Bang ada yang sakit gak? Yang mana?" Ucap Jungkook memberikan perhatiannya.
"Udah mendingan kok, cuma perut aja." Kata V seketika memegang perutnya.
"Lo ada masalah bang?" Tanya Jungkook memastikan. Jungkook sudah pasti akan membantu abangnya agar tidak lagi-lagi disakiti orang seperti ini.
"Nggak. Cuma orang iseng aja tadi." Ucap V berusaha menenangkan Jungkook.
"Oo ya udah. Syukur deh." Jawab Jungkook.
"Kita mau jalan nih?" Tanya V yang seketika membuat Jungkook bingung.
"Terus?" Tanya Jungkook.
"Naik taxi aja yuk." Usul V.
"Kooki gak bawa uang bang." Kata Jungkook polos. V mulai berpikir apakah uang yang dibawa Jungkook ia belikan buku tadi. Karena Jungkook tidak pernah melupakan uang sepersen pun.
"Lo irit banget sih. Untung gue bawa uang. Cukup nih buat berdua." V mengeluarkan uang yang tersisa di celananya.
"Ya udah ayok." Jungkook tertawa kecil melihat abangnya yang mengeluarkan uangnya.
Mereka pun menunggu taxi yang sudah dipesan. Beberapa cewek yang lewat menyapa mereka dengan memberikan senyuman terbaiknya, ada pula yang sedikit genit tapi semua itu tidak mempan untuk V dan Jungkook. Awalnya V akan senang jika disapa seperti itu dan juga akan membalasnya dengan senang hati, namun akhir-akhir ini sepertinya ada sedikit perubahan di sikap itu. Jungkook bisa merasakan itu, tapi ia tidak mempermasalahkan itu. Mungkin karena perutnya sedang sakit, jadi V tidak seperti biasanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments