Part 8

Zya baru keluar dari perpustakaan membawa sebuah buku ditangannya. Ia sedang memakai sepatu sekarang sementara buku itu, ia taruh disampingnya. Tiba-tiba ada tangan yang mengambil buku itu. Zya mendongak keatas dengan wajah polosnya.

"Ini buku lo?" Tanya seseorang yang sudah memegang buku Zya.

"Iya, sini." Zya mencobanya untuk tidak terlalu peduli.

"Kayaknya gue pernah liat lo, tapi dimana ya." Orang itu, dengan wajahnya yang terdapat bekas pukulan. Zya sudah pasti tau siapa orang ini.

"Nggak, gue gak kenal lo." Ucap Zya sembari mencari alasan supaya orang ini mau mengembalikan bukunya.

"Eh bentar gue kan kakak kelas lo, harusnya manggil kak dong." Katanya.

"Iya kak, gue kenal lo." Zya mencoba bersabar dan mengulang kalimatnya.

"Dimana ya?" Orang itu masih mencoba berpikir.

"Percuma kak, gue beneran gak kenal lo." Zya berkata dan langsung mengambil bukunya yang ada ditangan kakak kelas itu. Beruntung genggamannya tidak terlalu kuat memegang buku itu, jadi Zya bisa lebih mudah menariknya.

Zya segera pergi meninggalkan kakak kelas itu sendirian berpikir disana. Zya harap ia tidak ingat atas kejadian yang lalu. Untungnya waktu Zya masuk kerumah kayu itu, ia sempat melepaskan kacamatanya. 'Apa ia sedikit sadar waktu itu' . Zya tidak mau ambil pusing dan tidak mau memikirkan hal ini sekarang. Karena bel masuk sudah berbunyi, Zya mempercepat langkahnya. Lagi-lagi Zya menabrak seseorang.

"Duh maaf maaf. Maaf banget." Zya segera meminta maaf dengan wajah yang masih tertunduk, kemudian mulai melihat siapa yang tidak sengaja ia tabrak.

"Iya gak papa. Lo gak papa." Zya kaget saat tau bahwa Jimin lah yang ia tabrak, ini sudah kedua kalinya mereka bertabrakan tanpa disengaja.

"Nggak gue gak papa." Dengan malu Zya menjawab pelan.

"Nih buku lo. Ya udah gue masuk kelas dulu." Zya menerima bukunya yang ia sendiri tidak tau sejak kapan ada ditangan kakak kelasnya itu. Diakhir kalimat yang kakak kelas itu ucapkan, ia terlihat tersenyum dan Zya melihatnya sekilas. Zya menyesal tidak melihatnya dengan jelas. Zya terus membayangkan, mencoba mencari-cari senyuman itu dalam ingatannya tapi tidak bisa. Karena Zya hanya melihatnya sekilas dan tidak jelas baginya. Akhirnya Zya memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kelasnya yang sebentar lagi akan dimulai jam pelajarannya.

----*----

Zya sedang berbaring di kamarnya ditemani dengan laptop dihadapannya. Layar laptop menampilkan tugas sekolahnya yang belum selesai ia kerjaan. Zya terbiasa dengan mengerjakan tugas sekolahnya sambil mendengarkan musik bila ada dirumahnya. Dengan begitu suasana nyaman ia buat untuk dirinya sendiri. Zya bisa lebih fokus ketika ia mendengarkan musik keinginannya.

Setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya, ia bergeliat melemaskan tangan-tangannya yang sedari tadi menari diatas keyboard laptopnya. Zya pun kembali berbaring dan menutup matanya, mencoba untuk beristirahat sejenak. Karena ia tau sebentar lagi waktunya makan malam, dan Zya harus turun untuk makan malam bersama keluarganya.

Zya menutup matanya menikmati lagu yang terus berputar menemaninya. Tiba-tiba terlintas senyuman itu. Senyuman yang katanya mirip dengan senyuman Zya. 'Ia memiliki senyuman yang sama dengan Zya' kata-kata itu sontak membuat Zya terbangun dan membuka matanya. Ia kembali mengingat seseorang. 'Siapa dia sebenarnya, apa dia kakak laki-lakiku. Bagaimana caranya agar aku tau. Aku satu sekolah dengannya, tapi bagaimana caranya agar aku bisa tau kalau dia adalah kakak laki-laki yang dimaksud ibu.' Zya berpikir keras, sehingga ia tidak mendengarkan namanya dipanggil dari balik pintu kamarnya.

"Nak ayo turun, makanan dibawah udah siap nih. Nak kamu kenapa? Kamu sakit ya. Kenapa pintunya terkunci. Kamu gak papa kan. Zya." Momynya memanggilnya dari balik pintu kamarnya tapi tidak ada sahutan apa-apa.

"Mom gak dibuka juga?" Jin datang dengan rambut yang sedikit acak-acakan.

"Nggak, Momy jadi khawatir nih." Ucapnya sambil memgang dadanya.

"Perlu didobrak gak Mom?" Tanya Jin sedikit tidak yakin.

"Kamu yakin?" Jin diam sebentar.

"Hmm." Ucap Jin ragu. Ia mencari cara agar tidak usah mendobrak pintu. Jin coba mendekatkan telinganya ke pintu kamar Zya. "Didalem ada suara musik kok Mom."

"Yang bener kamu." Kata Momynya heran.

"Woy dek, buka pintunya. kalau nggak gue dobrak nih pintu biar lo gak punya pintu kamar!!" Jin mengeluarkan suara emasnya yang dapat menggema dirumah ini. Momy nya pun menutup telinganya, karena Jin sudah memberi kode kepada Momy untuk menutup telinganya rapat-rapat.

"Apaan sih bang. Eh ada Momy, ada apa Mom? Zya keluar dengan sedikit kesal campur kaget setelah ia lihat ada Momy dan bang Jin disana. Zya segera membetulkan nada bicaranya ketika melihat Momy nya.

"Ada apa ada apa. Ada lu yang mulai budek." Jin mulai menampakkan wajah kesalnya.

"Santai kalik bang." Zya berusaha untuk tidak memperpanjang masalah ini dengan abangnya.

"Udah udah yuk makanan udah siap dibawah. Kita makan malam bareng sekarang." Momy membuat mereka berhenti memulai perdebatan sengitnya.

"Oh iya Mom." Ucap Zya kalem dan tersenyum.

Jin dan Zya berjalan dibelakang mengikuti Momy nya menuruni anak tangga. Momy mendengar suara-suara kecil yang ribut dibelakangnya. Ia langsung menoleh, namun Jin dan Zya segera tersenyum manis bak anak kecil yang meminta permen. Momy menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sudah tidak heran lagi jika keduanya sudah memulai percakapan sengit, hanya Momy nya lah yang mampu memberhentikan keduanya. Dan itu juga senjata Zya agar bisa menang dan lepas dari tikaman mulut si Jin.

Mereka duduk ditempat masing-masing untuk mulai makan malam.

"Zya kamu gak papa?" Tanya Dady dengan suara lembutnya.

"Gak papa kok Dad." Ucap Zya tersenyum.

"Kalau ada masalah cerita ya sama Dady atau Momy." Kata Dady memberi Zya saran.

"Iya nak, Momy jadi khawatir tadi pas kamu gak bukain pintu. Padahal tadi ada bi Iyem juga yang udah minta kamu turun. Tapi kamunya gak turun-turun." Zya melongo mendengar penjelasan Momy nya. Sudah berapa lama ia berpikir tadi.

"Zya gak papa kok Mom Dad." Ucapnya sembari tersenyum.

"Lagian ngapain sih lo, pakek kunci-kunci pintu kamar segala." Jin mulai berceloteh.

"Yee biarin aja, suka-suka Zya lah." Zya masih tidak terima dengan celotehan Jin.

"Kalau mau ngunci itu dari luar aja." Kata Jin sembari menyendok nasinya.

"Kenapa harus dari luar, kalau gitu Zya gak bisa keluar kamar dong." Kata Zya sedikit kesal.

"Biar gak ribet manggil lo nya." Ucap Jin singkat.

"Lo tau privasi gak sih. PRIVASI." Zya sengaja menekankan kalimat terakhirnya.

"Lo pikir lo doang yang punya privasi. Gue juga punya kalik, tapi ya gak usah dikunci juga. Lagian siapa sih yang bakal masuk kamar lo." Jin mulai menceramahi Zya dengan rapnya.

"Siapa tau kan, elo gitu." Kata Zya pelan.

"Gak doyan gue sama lo." Ucap Jin yang tetap mendengar Zya berbicara walaupun suaranya ia kecilkan.

"Ishh abanggg!!" Zya teriak menahan malu.

"Eh udah udah kita makan dulu aja ya, debatnya dilanjut nanti aja oke." Momy mencoba melerai mereka lagi kali ini.

"Abang nih Mom." Zya mulai mengadu kepada Momy nya.

"Lah kok gue?" Jin tidak terima dengan pengaduan adiknya.

"Ya lu ngomongnya kemana-kemana." Zya melototkan matanya pada Jin.

"Lagian lo udah tau mau jam makan malam juga, masih aja kupingnya gak dipakek." Ucap Jin enteng.

"Lu pernah ngrasain sendok masuk mulut gak?" Tanya Zya yang mulai kesal campur gemas.

"Pernah. Nih." Jin memasukkan nasi kemulutnya dengan sendoknya dan memperlihatkannya pada Zya sambil mengunyah makanan.

"Aaa abangg." Zya kehabisan akal menghadapi Jin.

"Jiinn udah deh jangan ganggu adek kamu terus. Jangan jadi syaiton kamu." Ucap Dady kepada Jin.

"Bener nih syaiton nih." Kata Zya lagi berusaha menyudutkan Jin.

"Terus kalau gue syaiton, lo adeknya syaiton gitu? Kuntilanak." Ucap Jin yang masih mengejek adiknya.

"Serah deh." Kata-kata inilah yang mampu Zya ucapkan ketika ia sudah kehabisan kata-kata. Dan Jin senang dengan kemenangannya. Momy dan Dady nya hanya bisa menyimak dan tersenyum geli ketika kedua anaknya ini sudah mulai berdebat dengan hal-hal yang konyol.

Dua adik kakak inilah yang membuat suasana rumah ini menjadi nyaman, tentram, dan ramai. Tanpa Jin tidak akan ada yang teriak-teriak mengusili Zya dan tanpa Zya pula tidak akan ada Jin yang seperti ini. Momy nya ingat saat dulu Jin meminta adik padanya. Jin sangat menginginkan teman dirumah ini, terutama adik cewek. Sekarang Momy nya tau, kenapa Jin ingin adik cewek saat itu.

----*----

Pagi yang cerah.Dinginnya udara yang menembus hingga kedalam kulit. Embun yang terlihat diudara menambah sensasi dinginnya pagi ini. Matahari yang mulai menampakkan dirinya, memancarkan sinarnya untuk kehangatan.

Zya membuka tirai jendelanya. Ia melihat indahnya awan dan sejuknya udara ini. Hari ini sekolahnya libur karena ada penanggalan merah dikalendernya. Untung saja semalam keluarganya sempat membahas penanggalan merah ini. Kalau tidak, Zya mungkin akan bersiap-siap sekarang untuk kesekolahnya. Sahabatnya juga tidak ada memberitahunya tentang hari ini yang libur. Zya mulai mengambil handphonenya dan membuka layar kuncinya. Zya menulis pesan digrup sahabatnya.

Zya menunggu sebentar, tidak ada jawaban dari Violet. Zya bangkit dan turun untuk sarapan. Dibawah, ia melihat abangnya yang sedang memotong kukunya.

"Bang, Momy Dady kemana?" Tanya Zya yang melihat sekelilingnya sepi. Padahal ini kan hari libur, harusnya Momy dan Dady nya ada sekarang.

"Belanja." Ucap Jin singkat.

"Kemana?" Tanya Zya lagi.

"Moll." Jin masih dengan kegiatan asiknya yaitu memotong kuku dibagian kakinya.

"Kok gak ngajak-ngajak?" Tanya Zya lagi, membuat Jin berhenti memotong kukunya dan menatap Zya.

"Ngapain ngajak lu? Emang lo mau ngangkat-ngangkat barang belanjaannya?" Jin merasa percakapan ini tidak sesingkat yang ia bayangkan.

"Abang mah gak pengertian banget." Rengek Zya sedikit manja.

"Lo tuh yang gak pengertian. Momy sama Dady kan jarang-jarang keluar bareng. Biarin ajalah mereka bareng-bareng tanpa gangguan dari lo." Kata Jin menjelaskan.

"Yee emang gue setan." Ucap Zya meledek.

"Lo kan adeknya setan." Jin menjawabnya dengan enteng.

"Serah deh." Zya menyerah.

"Sarapan lo ada dimeja tuh." Jin memberi isyarat melalui matanya.

"Udah makan semua?" Tanya Zya.

"Udah." Jawab Jin singkat.

"Kok gak bangunin Zya. Pintu kamar udah gak dikunci loh." Zya ingat semalam tidak lagi mengunci pintu kamarnya.

"Lo tidurnya pules banget, jadi Momy gak jadi bangunin lo." Kata Jin.

"Oo." Zya berjalan kemeja makan dan membuka penutup makanan. Zya makan dengan lahap, karena perutnya memang sudah minta diisi.

Selesai makan Zya menghampiri abangnya.

"Bang, gak mau lari pagi?" Zya berpikir apa yang akan ia lakukan pagi ini.

"Gak ah. Males." Kata Jin sembari mengambil remot tv dan menghidupkannya.

"Pantesan tambah gemoy." Zya mencubit pipi abangnya hingga merasa puas. "Bang gue mau jalan-jalan dulu ya, lo jaga rumah disini."

"Yaudah sono." Kata Jin sambil meringis memegang pipinya yang dicubit Zya tadi.

Zya siap-siap dengan baju yang selaras cocok untuk lari-lari kecil pagi ini. Zya keluar dari kamarnya bersiap untuk olahraga kecil pagi ini.

Zya sekali lagi pamit kepada Jin dan Jin mengiyakan. Zya keluar dari gerbang rumahnya dan mulai memasang headset di sebelah telinganya. Zya sudah tau rute mana yang akan ia lewati sehingga nantinya akan sampai rumah tanpa berputar arah.

Zya sampai disebuah taman. Banyak anak-anak yang bermain disana. Ada yang bermain sepeda, berkumpul dengan keluarganya. Zya mulai membayangkan seandainya ia bisa kembali ke masa kecilnya dulu dan keluarganya yang masih utuh. Pasti sangat bahagia rasanya. Zya masih diam melihat-lihat anak yang sedang main itu. Ada beberapa anak yang tersenyum padanya dan Zya pjn membalas senyumannya.

"Lucu ya mereka?" Tiba-tiba ada seseorang yang berbicara disampingnya.

"Lo siapa?" Tanya Zya memandang laki-laki itu. Zya tau betul, ia pernah menolong laki-laki ini.

"Lo gak inget gue?" Zya terdiam, seakan-akan ia kehabisan kata-katanya.

"Gue kakak kelas lo." Zya masih diam. Pandangannya tetap lurus ke anak-anak yang sedang main ditaman itu.

"Dulu gue pikir, gue pengen cepet gede karena sepertinya lebih mengasikkan. Gue bisa kerja, gue bisa punya uang sendiri buat senang-senang. Tapi setelah gue gede gini, gue jadi pengen kayak mereka lagi. Yang gak tau apa-apa tentang kondisi disekitarnya." Katanya bercerita.

"Lo kenapa ada disini." Tanya Zya lagi, mengalihkan pembicaraannya.

"Kenalin gue V." Laki-laki itu mengulurkan tangannya tapi Zya tidak menggapai tangan itu. "Gue lagi menghirup udara segar aja. Udah lama gue gak jalan-jalan gini."

"Oo kalau gitu, gue balik dulu." Kata Zya sembari meninggalkannya.

"Eh tunggu, gue belum tau nama lo." Laki-laki itu berteriak namun Zya tidak menghiraukannya. Zya terus berlari sampai jauh. Meninggalkan bayangannya di pikiran laki-laki itu.

Zya bersyukur bisa pergi dari laki-laki itu. Kalau tidak salah, Zya ingat laki-laki itu adalah teman dekat abangnya. Tapi untuk apa ia berada disekitar sini. Zya tidak pernah melihatnya sebelumnya. Zya ingin memastikan dan menghubungi abangnya. Menanyakan apakah ada teman-temannya yang kerumahnya sekarang.

Terpopuler

Comments

Yulia Wati

Yulia Wati

cerita nya sebener bagus tp Krn nm tokoh2 pemeran nya jadi bingung maaf ya Thor masak nm Korea tp jajanan batagor, somai dll khas sini. maaf ya semoga bs jd masukan

2022-04-08

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!