Kepribadian ganda yang dimiliki Zya adalah keturunan dari kakeknya. Secara tidak langsung ia adalah penerus dari kakeknya. Kakeknya mengincar Jimin, karena Jimin adalah anak laki-laki. Ia yakin Jimin adalah penerusnya. Namun, tanpa ia ketahui, penerusnya adalah anak perempuan dari putrinya itu. Zya memiliki aura yang kuat jika ia sedang berada diluar. Zya mampu mengendalikan dirinya sendiri. Ini adalah salah satu ciri khas keluarga bangsawannya. Zya tidak pernah tau bahwa ini adalah kebangsawanannya.
Zya kecil yang tertidur pulas. Hari sudah cerah. Gadis itu bangun dari tidurnya yang lelah. Ia haus. Gadis itu melihat sekelilingnya, udara yang penuh dengan asap membangunkan pikirannya. Ia harus keluar dari hutan itu. Ia berharap orang-orang suruhan ayahnya sudah pergi dari hutan itu. Ia bangun memapah dirinya. Kakinya yang terasa sakit, sepertinya tidak sengaja terkilir semalaman. Gadis itu terus berjalan. Disisi lain ia terasa haus, ia segera mencari mata air terlebih dahulu. Hutan ini sudah terlihat sepi, menyisakan banyak tanaman-tanaman yang sudah menjadi abu. Gadis itu sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Ia haus dan lapar. Meskipun begitu, ia terus menyusui Zya kecil. Ia berharap ada pertolongan disini.
Sayup-sayup terlihat tidak jelas ada seseorang yang menghampirinya sebelum gadis ini pingsan. Ia sudah pasrah dengan keadaannya. Jika orang yang menghampirinya ini adalah orang baik, maka kemungkinan besar ia akan selamat. Namun, jika orang yang menghampirinya ini adalah orang-orang suruhan ayahnya, ia sudah pasti tidak bisa bertemu dengan suami dan putra putrinya.
Gadis itu bangun melihat atap-atap yang putih terang benderang. Ia memegang kepalanya yang pusing. Ia juga melihat selang ditangannya. Ada seseorang yang menunggu disampingnya, orang itu tengah tidur. Kemudian ia mengingat Zya.
"Zya? Dimana putriku?" Gadis itu berkata sedikit teriak. Hingga membangunkan seorang paruh baya disampingnya.
"Anakmu? Ada disamping sana." Orang itu memberitahu keberadaan anaknya yang sedang tertidur pulas. "Tadi ia menangis, sepertinya minta susu. Aku buatkan susu formula." Ucapnya lagi.
Gadis itu memandang orang yang ada disampingnya. Siapa orang ini, ia tidak mengenalnya.
"Perkenalkan namaku Maya, kamu bisa panggil saya bu Maya. Saya pemilik Yayasan ini. Kamu aman disini." Kata orang itu menjelaskan.
"Bagaimana kamu bisa tau saya?" Tanya gadis itu.
"Tidak, saya tidak tau kamu. Tapi saya lihat kamu sedang ketakutan." Katanya lagi.
"Terima kasih." Gadis itu merasaka lega dan kembali beristirahat.
Lambat laun kesehatan gadis itu tak kunjung membaik, sementara Zya kecil sudah diasuh oleh bu Maya. Gadis itu berpesan pada Bu Maya agar mencarikan pengadop untuk Zya. Gadis itu ingin Zya hidup bahagia nantinya. Bu Maya pun mencarikan pengadop yang sesuai dengan permintaan gadis itu. Akhirnya Bu Maya bertemu dengan seorang Ibu yang terlihat tulus menginginkan anak perempuan. Bu Maya coba mempertemukan Ibu itu dengan gadis ini. Kemudian gadis ini setuju. Ia sudah tau bahwa waktunya sudah tidak lama lagi. Gadis ini memberikan barang-barang nya kepada Ibu yang akan mengadopsi Zya. Serta buku diary nya untuk petunjuk. Gadis ini berpesan agar memberikan buku diary itu setelah Zya tumbuh remaja. Gadis ini berharap Zya dapat menemukan kembali keluarga utuhnya.
Sekarang Zya sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik sama seperti ibunya dulu. Momy melihat Zya seperti melihat Ibunya dulu yang sudah tak berdaya hanya bisa berbaring di ranjangnya. Momy mengayangi Zya seperti ia menyayangi anaknya sendiri. Bahkan terkadang rasa sayangnya melebihi dari ia menyayangi Jin, abangnya. Momy tau bagaimana rasanya menjadi Ibu Zya yang rela memberikan putrinya untuknya. Walau begitu, Momy tidak tau banyak tentang Ibunya Zya. Ia hanya mendengar sedikit cerita saja dari ibunya Zya, sebelum pada akhirnya ibu Zya meninggal. Waktu begitu cepat ia rasakan. Padahal ia sudah sangat dekat dengan ibunya Zya, namun takdir berkata lain. Ia pun masih teringat saat terakhir kali ibu Zya mengucapkan Selamat tinggal padanya dan Zya kecil.
"Momy, Zya pergi dulu ya." Momy dengan cepat menghapus air mata nya dan menetralkan suaranya.
"Mau kemana sayang?" Tanya Momy.
"Ada janji sama temen mom." Ucap Zya sembari memasang sepatunya.
"Oh ya udah. Pulangnya jangan kemaleman ya." Kata momy mengingatkan.
"Siap mom." Zya mencium tangan momy nya yang sudah mulai terlihat keriput.
Violet mengajaknya untuk menonton bioskop. Hari ini ada film bioskop kesukaan Violet. Zya juga mulai suka film itu, ketika Violet memperlihatkannya. Sebelum kebioskop, Zya akan pergi kerumah Violet dulu untuk menitipkan sepedanya. Dan ia akan naik mobil bersama Violet. Violet lebih dekat dengan Zya, karena Stella tidak pernah bisa untuk keluar malam. Stella sudah sibuk dengan butik mamanya.
Zya sudah sampai. Violet sudah menunggunya sejak tadi, ia memberitahu Zya agar memarkirkan sepedanya di garasinya. Rumah Violet tidak sebesar rumah Zya, namun Violet juga memiliki garasi pribadi. Untuk ukuran rumah yang sedang, bersih, dan rapi membuat Zya juga betah dirumah ini. Ada Ac alami dari udara yang masih terjaga kehijauannya.
Mereka pun berangkat bersama menggunakan mobil Violet. Dimobil Violet memutarkan lagu kegemarannya dan Zya. Mereka bernyanyi bersama dan bersenang-senang. Ditengah-tengah canda tawa mereka, Violet membuka pembicaraan.
"Zya." Panggil Violet.
"Iya?" Jawab Zya masih dengan senyumannya.
"Gue boleh ngomong sesuatu?" Tanya Violet kembali.
"Ngomong apa? Ngomong aja." Pandangan Zya masih kedepan.
"Kita jujur-jujuran ya." Zya mengangguk. "Apa beban hidup lo yang terberat?"
"Beban hidup? Gue masih sekolah kok Vi, jadi gak ada beban dihidup gue. Semuanya enjoy-enjoy aja." Jawab Zya santai.
"Ada." Zya diam memikirkan pertanyaan Violet. "Gue tau lo berusaha tegar Zya. Gue tau ada yang lo sembunyiin di diri lo sendiri." Zya makin bingung ketika Violet berbicara. Zya tidak mengerti maksud Violet.
"Maksud lo?" Tanya Zya yang mulai tidak mengerti arah pembicaraan ini.
"Lo lagi nyari keluarga lo kan?" Zya tersentak kaget, benar-benar kehabisan kata-kata. Zya diam. Violet menggenggam tangan Zya. "Gue selalu ada buat lo Zya, tapi gue gak pernah lihat lo sedih. Lo gak pernah ngeluh, lo selalu happy."
"Lo tau dari mana Vi?" Zya langsung melontarkan pertanyaan yang ada dikepalanya.
"Buku lo." Zya ingat Violet pernah mengembalikan buku diary ibunya. "Foto itu, foto keluarga lo kan? Gue gak baca semua, gue cuma lihat foto itu." Zya mengangguk paham. "Maaf ya Zya kalau gue lancang."
"Gak papa kok Vi, lo udah tau sekarang. Tapi gue minta please jangan bilang kesiapa-siapa termasuk Stella." Zya dan Violet melingkarkan jari manis nya sebagai tanda janji.
"Oke. Gue ada pencerah buat lo. Difoto itu gue pernah lihat bapak-bapak itu." Zya mendengarkan dengan semangat.
"Dimana Vi?" Tanya Zya dengan senyum lebarnya.
"Gue gak tau pasti Zya. Itu udah dulu banget pas gue masih kecil juga. Dia tinggal disebelah rumah gue. Tapi sekarang dia udah pindah Zya. Pindahnya pun udah lama." Zya kembali meredupkan matanya. Sepertinya tidak mudah. "Setau gue bapak itu pindahnya gak jauh kok, gak sampek keluar kota juga. Berarti masih dikota ini dong." Lanjut Violet kembali.
"Lo tau dari mana kalau pindahnya gak jauh dari kota ini?" Tanya Zya dengan kebingungannya.
"Dulu gue akrab banget sama bapak itu Zya. Gue tau dia gak mungkin ingkar dalam berbicaranya. Sebelum pindah, gue masih inget dia bilang pindahnya gak jauh dari kota ini." Zya kembali mengangguk. Zya menghembuskan nafas panjangnya.
"Vi, seandainya lo liat bapak-bapak itu. Lo kabarin gue ya." Kata Zya tertunduk lesu.
"Tenang aja Zya, gue bakal coba tanyak ke orang tua gue. Mungkin mereka tau sesuatu." Kata Violet mencoba menghibur Zya kembali yang terlihat sedih.
"Makasih ya Vi." Zya memeluk Violet, air matanya sudah hampir jatuh. Tidak kebayang dipikirannya kalau ia akan segera bertemu dengan keluarganya lagi. Zya sudah berjanji pada Momy nya bahwa ia akan mencari keluarganya sesuai dengan permintaan terakhir ibunya. Dan apabila Zya sudah bertemu dengan keluarganya, Zya juga tidak akan melupakan Momy nya yang selama ini merawat Zya dengan penuh kasih sayang sampai Zya sebesar ini.
"Zya kita udah nyampek nih. Gue beli tiket dulu ya, lo bisa beli popcron?" Violet memberi arahan.
"Oke siap." Ucap Zya.
----*----
Hari ini kelas Zya sedang olahraga, tapi Zya tidak bisa mengikuti pelajarannya karena ia lupa membawa baju olahraga nya. Zya duduk ditepi lapangan, memerhatikan teman-temannya yang sedang asik mengoper bola. Zya sudah melakukan hukumannya yaitu lari 20putaran. Sekarang dia lelah, ingin duduk sebentar lalu kekelasnya. Seseorang melambaikan tangan kepada Zya. Itu Jungkook. Jungkook menghampiri Zya setelah lambaiannya dibalas senyuman oleh Zya.
"Lo kok gak ikut olahraga?" Jungkook ikut duduk disamping Zya.
"Iya, gue gak bawa baju olahraga." Ucap Zya dengan pandangan kedepan. Jungkook mengangguk.
"Nanti lo ada waktu gak?" Zya berpikir sejenak.
"Kenapa?" Tanya Zya dulu.
"Gue mau ngajak lo keluar, nyari kado buat abang gue." Kata Jungkook.
"Abang lo ulang tahun?" Zya ingat bahwa abangnya pernah bilang kalau Jungkook ini adalah adik temannya.
"Iya. Gue bingung mau ngasih kado apa." Jungkook tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmm kenapa lo ngajak gue?." Tanya Zya bimbang.
"Lo gak mau ya? Kalau gak mau, gak papa kok gue gak maksa." Zya merasa tidak enak ketika Jungkook mengatakannya.
"Bu- bukan gitu. Maksud gue abang lo kan laki-laki, lo gak mau pergi sama temen cowok lo aja gitu." Zya menjeda perkataannya sebentar. "Oke deh gue temenin."
"Kalau lo terpaksa juga gak papa kok Zya, gue bisa pergi sendiri." Ucap Jungkook lagi, tidak mau perempuan disebelahnya ini merasa terpaksa.
"Nggak nggak, gue temenin lo. Mau pergi jam berapa?" Tanya Zya langsung agar Jungkook yakin dengannya. Ini kali pertama Zya begini kepada laki-laki lain.
"Sore aja gimana? Sekitaran jam 4." Jawab Jungkook.
"Ok." Ucap Zya sembari tersenyum.
"Lo nanti mau bawa sepeda Zya? Bareng gue aja ya? Gue jemput." Zya bingung akan menjawab apa. "Rumah lo sebelah mana?"
"Ee ee itu."
"Nanti share lok ya kegue." Ucap Jungkook langsung tanpa menunggu Zya berbicara.
'Mampus gue.' Jika Jungkook tidak ada disampingnya, mungkin Zya sudah menepuk jidatnya. Zya tidak berpikir bahwa Jungkook yang akan menjemputnya. Bagaimana kalau sebenarnya Jungkook tau rumah abangnya. Dan Zya pun tinggal disana. Zya memutar otaknya supaya bisa berpikir jernih.
"Zya, kok bengong?" Jungkook melambaikan tangannya didapan wajah Zya.
"A ah nggak kok. Lo kok bisa ada diluar?" Tanya Zya. Untungnya Zya cepat mencari topik pembicaraan.
"Iya, kelas gue lagi kosong." Ucap Jungkook sembari menaruh tangannya dibelakang untuk menopang tubuhnya.
"Enak dong bisa santai." Ucap Zya sedikit bercanda.
"Iya, lo juga lagi santai kan?" Zya hanya membalasnya dengan senyuman.
Tidak ada yang seberuntung Zya saat ini. Bisa duduk lama disamping Jungkook, melihat keindahan wajahnya yang begitu sempurna dari dekat. Perpaduan wajah yang manis, cute, dan tampan menjadi satu. Banyak siswi-siswi yang iri pada Zya ketika melewati mereka, namun Zya tidak memperdulikan tatapan itu.
"Eh iya, lo suka baca buku ya?" Tanya Jungkook seketika.
"Iya gue suka. Kalau lo?" Jawab Zya.
"Sebenarnya gak terlalu suka sih. Lo sering ketoko buku itu?" Tanya Jungkook lagi. Jungkook penasaran dengan Zya. Karena sebelumnya Jungkook tidak pernah bertemu dengan perempuan yang seperti Zya. Ketika Zya berbicara dengan Jungkook, Zya sering memalingkan wajahnya ke arah lain tidak seperti perempuan pada umumnya yang sering Jungkook temui.
"Hmm gak sering sih, cuma sesekali aja pas gue lagi males dirumah." Jungkook mengangguk paham.
"Gue punya buku novel yang menurut gue itu bagus banget. Judulnya magic hour." Disini Zya mulai menatap ke arah Jungkook. Jungkook tau kalau Zya menatap kearahnya tapi pandangan Jungkook tetap kedepan dan melanjutkan ceritanya. "Lo tau? Disitu menceritakan tentang percintaan yang penuh pengorbanan dan persahabatan." Jungkook memalingkan pandangannya ke arah Zya, namun Zya segera melihat kedepan lagi. Jungkook tersenyum akan tingkahnya.
"Gue tau novel itu. Gue udah baca 1 buku, lo punya kelanjutannya?" Tanya Zya melihat Jungkook sebentar tanpa menoleh.
"Gue punya. Nanti gue bawa buat lo." Ucap Jungkook yang merasa senang. "Lo naik apa kesekolah?"
"Gue? Naik motor." Ucap Zya santai.
"Kok gak naik mobil aja?" Tanya Jungkook yang baru mngetahui. Pemikiran Jungkook salah, ia mengira Zya suka naik mobil.
"Gue males, enakan motor cepet sampe." Kata Zya santai. "Eh gue kekelas dulu ya, bentar lagi udah ganti jam pelajaran. Gak enak gue kalau disini terus."
"Oh ya udah. Gue juga mau kekelas." Zya berdiri lebih dulu lalu disusul oleh Jungkook.
Zya berjalan lebih dulu, Jungkook masih berdiri memperhatikan Zya. Tidak ia ketahui bahwa ada seorang guru dibelakangnya dan mencubit telinganya.
"Kamu ini yaa. Ini masih jam pelajaran kan? Kenapa kamu bisa disini?" Zya mendengar itu dan membalikkan badannya. Melihat Jungkook yang sudah dijewer telinganya oleh salah satu pak guru disekolahnya.
"Aduh duh pak, Kelas saya kosong jadi saya duduk dulu disini sebentar." Kata Jungkook sembari memberi kode pada Zya agar tidak menghampirinya. Zya mengerti kode itu, tapi Zya bingung harus menurut atau tidak. Akhirnya Zya tetap berdiri ditempat.
"Banyak alasan kamu ya. Kenapa gak ngerjain tugas aja." Kata Guru itu sembari menarik telinga Jungkook agar berjalan.
"Udah selesai pak." Jungkook berpapasan dengan Zya dan memberikan tanda ok ditangannya.
"Ah masa, mana saya mau lihat." Mereka sudah berlalu dari Zya. Zya tersenyum kecil seperti ada rasa bahagia di hatinya.
"Iya lepasin dulu pak." Jungkook berjalan dengan rengekannya.
"Ntar di kelas kamu." Kata Guru itu.
Zya melanjutkan langkahnya menuju kelas. Senyuman kecilnya menghiasi wajahnya disepanjang jalan. Sampai dikelas, ia ingat bahwa ada satu masalah lagi. Akhirnya Zya menepuk jidatnya dan mulai berpikir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments